Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 72 – Babi Galak


__ADS_3

"Perlukah aku menyamar seperti waktu itu?"


"Haruskah menuju gudang lagi? Ke komplek Hati Iblis? Atau ke komplek pasukan pemerintah?"


Sung Han berpikir keras sambil tangannya mengelus dagu. Matanya melirik ke atas kanan tanda dia memang sedang benar-benar berpikir. Ia bingung hendak menyamar menjadi anggota Hati Iblis atau pasukan pemerintah.


Pasalnya, sudah sejak tadi dia berputaran dan tidak menemukan apa-apa yang bermanfaat. Kecuali sedikit "pemandangan" yang tanpa sengaja ia lihat di pos pengawasan atas tembok tadi. Bagaimana pun juga si wanita lacur itu cukup cantik juga.


Sung Han menampar kepalanya sendiri. Dan bergumam terus menerus guna meluruskan hatinya.


"Yu Ceng dan Yu Ping lebih cantik....lebih baik....lebih beradap...Yu Ceng dan Yu Ping lebih cantik..." jika tidak begini, bisa-bisa pikirannya terus terfokus pada pelacur itu dan dia menjadi lengah.


Saat ini Sung Han sedang mendekam di atas genteng salah satu bangunan bertingkat. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai, dan dia bersembunyi di atas genteng lantai dua. Sehingga dari bawah tertutup genteng lantai satu.


Kembali Sung Han mengedarkan pandangan dan apa yang dilihatnya cukup membosankan. Orang-orang yang mengadu kecoa di sudut bangunan, atau yang sedang berpibu dan menjadi tontonan di lapangan luas. Melakukan transaksi gelap di pojokan gang, marah-marah dengan palayan gadis serta mencari kesalahan untuk kemudian dapat dibawa ke kamar dengan alasan "menebus dosa". Memang sekumpulan sampah masyarakat. Dan agaknya yang paling mendingan adalah si pengadu kecoa dan pengadu silat di lapangan.


"Para pelayan itu adalah pelayan Perguruan Awan...." gumamnya lirih melihat beberapa pelayan yang berjalan di sekeliling. Ia sedikit menghafal wajah mereka saat dulu masih menyamar sebagai anggota tingkat dua Perguruan Awan.


Ia terkejut dan tersentak ketika melihat satu orang koki berjalan tergopoh-gopoh membawa panci panas. Mulutnya dengan berani membentak kanan dan kiri kepada siapa pun yang menghalangi. Sungguh hebat karena dia telah membentak pasukan pemerintah dan Hati Iblis yang dapat dikatakan sedang menjajah Perguruan Awan.


Sung Han mengenal koki itu.


"Bukankah dia....koki yang ayamnya kucuri waktu itu?" ucapnya mengingat percakapan si koki dan pelayan soal obat Kay Ji Kun yang terlalu harum sekaligus manis.


"Aku bisa mendapatkan peluang untuk mencari informasi!" ucapnya girang dan segera melompat untuk mengikuti ke mana koki itu pergi.


Selang beberapa saat ternyata si koki pergi ke satu gedung besar. Beberapa menit ia di dalam sana dan saat keluar kedua pipinya telah bengkak merah biru. Tapi Sung Han sungguh kagum karena melihat tatapannya, koki itu sama sekali tidak ketakutan. Justru menyiratkan amarah dan dendam.


Sang koki berjalan dengan dada terangkat untuk kembali ke dapur. Orang-orang di sekeliling terus mengejeknya. Tapi si koki gemuk ini selalu mengumpat untuk melawan cacian itu. Tak heran mereka menjulukinya babi galak.


Sung Han tiba di atas genteng dapur bertepatan dengan si koki yang memasuki tempat itu. Setelah memastikan keadaan aman, Sung Han melompat turun dan masuk diam-diam melalui jendela.

__ADS_1


"Mampus kau dasar penguntit sial!!"


Tiba-tiba ada sebuah pisau daging menyambar dari samping kirinya. Sung Han terkejut, cepat ia mundurkan tubuh bagian atasnya sekaligus menselonjorkan kaki kanan untuk menjatuhkan si koki itu.


"Hap!!"


"Hampir saja..." secepat kilat Sung Han menarik kerah si koki yang hampir menubruk tumpukan panci, piring dan wajan. Ia tidak menghendaki keributan.


Si koki melirik tajam, "Mau apa kau mengikuti aku dari tadi, apa kalian masih belum percaya padaku?"


Sung Han cukup kagum dengan ketelitian orang, "Hebat kau bisa tahu aku mengikutimu. Tapi aku bukanlah orang sini."


Lalu dia melanjutkan, "Masih ingatkah beberapa waktu lalu, saat kau selesai bercakap-cakap dengan seorang pelayan yang membicarakan masalah obat tuan Kay Ji Kun. Saat kau kembali ke dapur ayammu hilang satu kan? Nah, itu aku yang curi."


Perkenalan diri yang cukup unik itu berhasil mengagetkan sang koki. Pisau daging di tangannya terlepas dan mulutnya melongo.


Ini soal si pencuri itu, bukan soal daging ayam yang memang sudah sering kecolongan.


Mendengar penuturan Sung Han yang demikian jelas, hal itu membuktikan bahwa pemuda ini sudah pernah datang ke Perguruan Awan dan saat itu memang melihat dia sedang bercakap-cakap. Itulah hal yang mengejutkan hatinya.


"Orang yang membunuh Ki Yuan. Aku sudah pernah menyusup ke mari waktu itu." jawab Sung Han sejujurnya sambil melepaskan kerah baju sang koki. Ia memandang serius, "Aku butuh bantuanmu, kau yang paling berani saat ini, katakan di mana Jin Yu."


Entah dorongan dari mana, tapi tatapan mata Sung Han yang penuh keyakinan, juga ucapannya yang tertata dan halus, membuat sang koki seperti dalam mimpi dan menceritakannya. Entah karena putus asa atau memang sudah memercayai Sung Han, tapi dia tidak menutup-nutupi satu kisah pun.


Dia menangis saat menceritakan satu kejadian yang membuat darah Sung Han mendidih.


"Sebelum tuan besar dan nyonya meninggal, lebih dulu nyonya diperkosa banyak orang. Lebih-lebih lagi...." ia menangis makin sedih, tapi sebisa mungkin ditahannya dengan menggigit celemek kokinya.


"Kenapa? Bagaimana?" Sung Han makin penasaran.


Koki melanjutkan, "Itu dilakukan di atas meja dan di depan tuan besar yang dipaksa untuk melihat. Aku tidak kuat melihatnya...."

__ADS_1


"Kenapa kau bisa ada di sana waktu itu?" Sung Han mengguncang-guncangkan bahu si koki.


"Saat penyerbuan datang, nyonya menyuruh seluruh pelayan dan koki berlindung di kamarnya yang sekaligus ditempati tuan besar. Tapi ternyata musuh berhasil menang dan sampai ke sana. Karena itulah semua pelayan dan koki yang tidak bunuh diri, dibiarkan selamat untuk melayani tuan baru kami."


Mata Sung Han berubah kemerahan, jelas sekali dia sedang marah.


Pangeran Chang Song Ci dan Hati Iblis, persekutuan itu tentu ada apa-apa. Jika memang pangeran itu pasukan pemerintah yang baik, pasti dia memusuhi Hati Iblis yang sudah terkenal kejahatannya. Mengetahui fakta bahwa mereka bersekutu, hal ini hanya menambah keyakinan di hati Sung Han jika pangeran Chang Song Ci memang pemberontak.


"Bedebah sialan....."


Koki itu tiba-tiba berlutut dan memeluki kaki Sung Han, "Tolong kami tuan...tolong perguruan ini...kami tidak tahan lagi...."


"Bangunlah..."


Saat Sung Han hendak menunduk dan mengangkat tubuh si koki, tiba-tiba terdengar nyaring di luar disusul suara hiruk pikuk orang-orang. Refleks Sung Han membalik dengan tangan meraba pedang.


"Kau tetaplah di sini. Jika perlu carilah tempat yang paling aman!" katanya singkat kepada sang koki sebelum melesat keluar.


Ia tak sempat bersembunyi ketika ada serombongan orang lewat di depannya dengan atribut lengkap. Tapi kiranya mereka hanya melirik padanya sejenak sebelum lanjut ke pelataran depan. Kiranya kejadian di sana jauh lebih penting sampai dia sekali pun dianggap sekelompok dengan mereka.


"Memang ada apa sih?"


Sung Han langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan melompat-lompati atap bangunan.


Selang beberapa waktu, ia sudah tiba kembali di gedung tiga lantai tempat Sung Han bersembunyi sebelumnya. Namun kali ini pemuda itu menuju bagian paling atas untuk melihat ke pelataran depan. Memang gedung ini cukup tinggi.


"Hm...siapa itu? Berani benar." gumamnya melihat sosok berjubah putih yang menebar maut di sana. Tangannya hanya sebuah, tapi sungguh hebat sekali ilmu silat orang itu sampai membuat Sung Han terkagum-kagum. Pedang di punggung itu belum tercabut, tapi terlihat sudah lebih lima belas orang yang roboh tewas.


Karena penasaran, Sung Han kembali meloncati atap-atap bangunan untuk melihat lebih dekat. Setelah sampai di gedung terdekat, mulutnya berseru tertahan mengetahui siapa yang datang.


"Su Tek!?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2