Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 57 – Kekasih


__ADS_3

"Nona, kau berbaringlah dulu di ujung sana, biar aku yang menjaga." Kay Su Tek berkata khawatir melihat kondisi gadis itu yang terluka parah di sana-sini, "Lukamu tidak ringan."


Setelah berkata demikian, si gadis memandang terbelalak lalu tertawa aneh saat dia berkata, "Lalu bagaimana denganmu? Tanganmu malah hilang sedangkan aku masih utuh."


Disindir seperti itu, Kay Su Tek meringis canggung, "Sudahlah, biar aku yang menjaga di sini." kata Kay Su Tek tak mau berdebat.


Tawa gadis itu makin keras sampai Kay Su Tek dapat melihat bibir dan gigi orang itu yang sungguh indah. "Hahaha, kau menjaga dari siapa? Pintu masuk ke celah ini sudah tertutup rapat oleh tumpukan batu, mana bisa orang masuk sebelum menyingkirkan batu-batu itu?"


Obor dadakan yang berasal dari sobekan jubah Kay Su Tek itu menerangi wajah si gadis dan berhasil membuat pemuda ini sedikit tersipu. Tak dapat dipungkiri, wajahnya memang cantik sungguhpun yang tampak hanya matanya.


Kay Su Tek memalingkan wajah dan tak berminat lagi menanggapi gadis itu. Ia memandang tumpukan batu di mulut celah yang memang padat, hanya ada sedikit rongga untuk udara masuk.


Kay Su Tek meraba-raba tumpukan itu, berharap ada sesuatu yang dapat ia gunakan untuk meloloskan diri. Tapi sadar dengan tindakan bodohnya yang sia-sia, ia menghela napas dan duduk bersandar dengan pasrah.


"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya si gadis begitu melihat Kay Su Tek sudah duduk.


"Ini hanya kemungkinan dan prasangkaku. Yang pertama adalah memulihkan diri sambil menahan lapar berhari-hari. Lalu secara bertahap kita hancurkan batu-batu ini untuk meloloskan diri."


"Yang kedua?"


Kay Su Tek menghela napas berat kemudian menjawab, "Menunggu mati."


"Hah!?"


...****************...


Si topeng emas, tangan kanannya bersama Yu Fei memandang ke bawah, ke arah cekungan jurang yang menjadi ujung jurang itu. Yang sebelumnya membentuk cekungan dalam, sekarang sudah setengah bagiannya tertimbun batu-batu.


"Bo Tsunji, bagaimana menurutmu tentang semua rencana ini?" tanya si topeng emas kepada sosok penyelamat Yu Fei, yang berdiri di sebelah kanan.


Orang ini berpikir sejenak sambil terus memandang ke bawah, "Cukup bagus, tinggal menyebarkan berita saja."


Topeng emas mengangguk-angguk kemudian menatap ke arah kiri, di mana Yu Fei berada. "Kalau menurutmu?"


"Ini sempurna!" katanya yakin dan tegas, "Tidak akan ada yang mengira bahwa kitalah pelakunya." lanjutnya kemudian dengan mata berbinar.


Si topeng emas mengangguk-angguk, nampak puas dengan jawaban dua pembantunya. Kemudian dia berbalik dan menatap sekumpulan orang yang seluruhnya menggunakan topeng, jumlahnya ratusan banyaknya.


Dari balik topengnya, menyorot sinar mata tajam yang memaksa orang-orang itu menundukkan kepala. Kemudian terdengar suaranya yang berat berwibawa seolah menyihir mereka semua.


"Bersihkan barang-barang di sini. Anak panah, perkemahan, bekas api unggun atau apapun yang menandakan ada manusia di sini sebelumnya." tegas orang itu, "Lalu jangan lupa hancurkan bagian pinggir mulut jurang ini agar terkesan lebih masuk akal jika ada orang datang ke mari."

__ADS_1


Serentak mereka semua menunduk hormat diawali oleh Bo Tsunji dan Yu Fei, lantas berkata lantang, "Baik, tuan!"


...****************...


Mereka berdua melakukan meditasi, menyerap hawa sekitar untuk kemudian diolah menjadi tenaga dalam.


Sudah empat hari Kay Su Tek dan Yang Ruan–nama gadis bercadar itu, tinggal di bawah tanah ini dengan ditemani dinding batu yang ketika siang terasa panas dan malam terasa dingin. Empat hari itu pula, keduanya tak makan atau minum.


Dan empat hari itu jugalah atas paksaan dan permohonan Kay Su Tek, Yang Ruan tidak membuka cadarnya kecuali kalau lelaki itu sedang tidur. Mengapa demikian? Hal itu adalah ketika malam pertama keduanya berada di sini, Kay Su Tek berkata.


"Jangan buka cadarnya! Aku tak mau lupa diri!!"


Tentu saja Yang Ruan menjadi malu sekali, tapi di sisi lain juga merasa senang karena secara tidak langsung Kay Su Tek menganggap ia seorang gadis cantik.


Untuk penerangan, mereka tak perlu lagi karena berhubungan dengan ucapan Kay Su Tek pada malam pertama itu. Sehingga mereka hidup dalam gelap, seperti kelelawar.


Sudah cukup dalam mereka berusaha menghancurkan tumpukan batu itu, dan belum juga nampak setitik cahaya matahari. Tangan mereka sudah banyak luka karena terus menggali setiap waktu, dan akan berhenti kalau memang sudah lelah sekali atau pingsan.


Jika keduanya saling melihat wujud masing-masing, mereka mungkin akan terkejut setengah mati. Jubah Kay Su Tek yang sebelumnya berlengan lebar itu terlihat makin lebar, dan pada bagian pinggangnya terlihat kedodoran.


Lalu pakaian Yang Ruan yang sebelumnya agak sedikit ketat pada bagian pinggul dan pundak, kali ini nampak banyak rongga udara di kedua sisi itu.


Tulang di pipi mereka juga nampak menonjol jelas, mata mereka seperti hendak keluar saking kurusnya. Benar-benar memprihatinkan.


Kay Su Tek tak dapat melihat di mana gadis itu berada, tapi ia dapat merasakan Yang Ruan ada di sisi kirinya. Maka ia menghentikan pukulannya dan memandang ke kiri, napasnya terengah-engah.


"Janganlah begitu, sebentar lagi kita akan dapat keluar." bujuk Kay Su Tek.


Yang Ruan mendengus singkat, "Sudah sejak kemarin kau berkata demikian, tapi mana hasilnya? Seberkas cahaya matahari saja belum mampu masuk ke mari." katanya terdengar sebal. Kemudian ia menggosok batu di hadapannya, "Kau teruskanlah menggali kalau mau."


"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" tanya Kay Su Tek heran dan kembali memukul keras, suara nyaring terdengar bergema di ruang sempit itu.


"Aku akan mengambil kemungkinan keduamu." kata gadis itu mantap tanpa keraguan.


Kay Su Tek kembali menghentikan gerakannya. Kali ini matanya melotot lebar dan terdengar seruan tertahan. "Kau gila!" bentaknya kepada gadis itu.


"Siapa bilang aku masih waras? Heheh...." Yang Ruan terkekeh aneh. Kemudian ia merangkak ke belakang, kembali ke tempat biasa ia tidur, "Biarlah aku mati, toh semua orang mungkin sudah menganggap kita mati."


"Jangan bodoh!!" dengan marah Kay Su Tek menghampiri tempat itu. Walaupun gelap gulita, tapi dia sudah hafal dengan sekelilingnya sehingga mudah saja menemukan Yang Ruan.


"Hehehe...mengapa? Memangnya kenapa kalau aku mati di sini? Apa ruginya untukmu? Hei Su Tek, sejak kita semua datang ke mari, tidak ada yang namanya kawan, kita semua berusaha saling bunuh. Kalau aku mati...hahah, bukankah kau untung?" agaknya Yang Ruan sudah gila sungguhan, tawanya itu terdengar amat janggal dan Kay Su Tek tidak terpesona seperti biasa.

__ADS_1


"Apa yang membuatku untung?" tanya Kay Su Tek cepat setelah ucapan gadis itu berhenti.


"Tentu saja, kau itu bodoh atau bagaimana?" Yang Ruan balas mengejek, "Jika ada pencarian harta warisan lagi seperti ini, kalau aku mati setidaknya musuhmu berkurang satu."


Kay Su Tek mengepalkan tangannya erat sampai telapaknya berdarah tertancap kukunya sendiri. Matanya melotot dan giginya beradu sampai menimbulkan suara bergemelutuk.


Sebenarnya, ada yang disembunyikan oleh Kay Su Tek. Atau mungkin keduanya.


Satu perasaan dan debaran aneh setiap kali mereka berdekatan, hal yang wajar terjadi apalagi mengingat kondisi mereka yang diambang hidup dan mati. Lelaki dan perempuan, hidup di ruangan sempit, berjuang untuk melanjutkan hidup bersama. Satu perasaan muncul di hati mereka.


"Aku sudah memutuskannya sekarang...aku sudah menyadarinya setelah beberapa hari kita tinggal bersama di sini...." gumam Kay Su Tek, Yang Ruan memandang bingung.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


Kay Su Tek tak langsung menjawab, tapi lama kelamaan wajahnya merah padam. Dia menundukkan kepala.


"Aku tak peduli lagi dengan pusaka palsu itu, tak peduli lagi segalanya. Yang kuinginkan hanya keluar dari sini dan.....dan...."


"Pusaka palsu?" Yang Ruan sedikit terkejut dengan itu. Tapi ia lebih penasaran dengan kelanjutan ucapan Kay Su Tek, "Dan apa?" tuntutnya.


Tangan Kay Su Tek terkepal makin erat, giginya semakin bergemelutuk. Membuat Yang Ruan penasaran sekali.


Ia memantapkan tekad dan memegang pundak Yang Ruan. Lantas berseru lantang seolah dapat menggetarkan dinding celah sempit itu.


"Dan aku ingin bersamamu, sampai kapan pun!!"


Yang Ruan kehabisan kata-kata.


...****************...


Sepekan lebih tiga hari, pada suatu pagi selepas keadaan hutan berhenti berisik oleh suara kokok ayam.


Tumpukan batu itu menunjukkan keretakan di satu sisi. Makin lama makin besar. Samar-samar terdengar suara "duk–duk–duk." yang juga kian jelas seiring berjalannya waktu.


Hingga tepat seperempat jam kemudian, retakan itu seperti runtuh dan terdengar suara ledakan.


"Boommm!!"


Dua sosok manusia meloncat keluar dari sana. Mereka laki dan perempuan, saling bergandengan tangan. Dengan wajah cerah sumringah, si gadis melepas cadarnya dan mencium pipi kanan si lelaki cukup lama. Kemudian terdengar bisiknya lirih.


"Terima kasih...."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2