Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 108 – Pertempuran [][][]


__ADS_3

Pagi hari itu, rombongan dua ratus orang ini keluar dari satu desa kecil paling dekat dengan Pegunungan Tembok Surga. Mereka adalah rombongan pengungsi yang datang dari arah kota Emas hendak menuju kota raja di utara.


Ketika seorang pria tinggi besar, berkumis tebal dan berwajah angker, berdiri di pinggiran jalan mengawasi rombongan itu yang sedang bergerak keluar desa, dia didatangi oleh seorang pria desa.


"Bung, apa separah itu keadaan di kota Emas sampai sebanyak ini orang yang mengungsi?"


Pria berkumis itu mengangguk, "Benar, bersyukurlah tempatmu jauh dari medan perang."


Setelah orang terakhir keluar desa, pria berkumis ini memberi hormat dan pergi mengikuti rombongan itu. Tapi dia ini dengan cepat menyelinap di antara rombongan untuk sampai di samping kereta kuda, dia berjalan di sisi kereta itu.


Mudah saja dikenali siapa rombongan pengungsi ini, seperti yang sudah dijelaskan di awal, rombongan putri Chang Song Zhu menyamar sebagai orang biasa dan pergi melakukan perjalanan menuju utara. Setiap kota atau desa yang dilewati, mereka pasti mengira rombongan ini adalah rombongan pengungsi.


Ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala, keadaan menjadi redup dan remang-remang. Putri Chang Song Zhu yang melihat cahaya di tirai kereta meredup, ia penasaran dan melihat keluar.


"Tuan putri, kita sudah sampai di Pegunungan Tembok Surga." lapor jenderal Pek Kong yang berada tepat di samping kereta.


Putri ini memandang kagum ke sekelilingnya. Ternyata keadaan di pegunungan legenda ini amat aneh dan indahnya. Pohon yang menjulang tinggi tidak lumrah manusia, terlalu tinggi sampai di atas sana membentuk semacam payung-payung daun. Karena itulah cahaya matahari tengah hari sama sekali tidak bisa menembus.


Namun ketika melihat ke bawah, banyak bunga dan berbagai macam tumbuhan yang beraneka warna. Dilengkapi dengan suasana sunyi yang dihancurkan oleh nyanyian burung liar, menambah kenyamanan di hati semua orang yang sedang tegang itu.


"Aku ingin keluar." kata putri itu yang mengejutkan lima pengawal terdekatnya. Tapi dia sama sekali tidak menunggu respon dan langsung melompat turun dari kereta kuda. Ikut berjalan kaki.


"Wah tuan putri, pakailah kuda ini." kata jenderal Pek Kong yang berlari ke depan dan melepaskan salah satu kuda penarik kereta. Lantas ia berikan kepada tuan putrinya. Jelas ini mengejutkan si kusir yang tidak sadar kalau penumpangnya telah turun.


Chang Song Zhu tak menolak itu dan menunggang kuda pemberian jenderalnya. Dia menjalankan kudanya perlahan mengiringi rombongan lainnya.


Sejak saat itu, putri ini tak mau masuk ke kereta lagi karena ingin menikmati keindahan alam yang jarang dilihat. Tentu saja kereta itu hanya dibawa dalam keadaan kosong.


...****************...


"Bagaimana dengan kisah itu? Bagaimana kalau nyata?"


"Karena itulah, harap tuan putri masuk ke dalam kereta mulai dari sini. Berbahaya!" jenderal Pek Kong memperingatkan.


Putri itu nampak tak acuh, perhatiannya lebih tertarik dengan kupu-kupu yang sedang lewat, "Biarkan saja, mereka juga manusia, asal kita tidak mengganggu."

__ADS_1


"Tapi nona, mereka adalah kaum biadab yang hanya tahu bagaimana cara mengayun senjata."


"Itu kan hanya cerita, cerita dongeng." tukas putri itu tak mau kalah dengan jenderalnya. Perkataan selanjutnya membuat mereka yang sedang istirahat itu khawatir sekali, "Lagipula aku juga penasaran dengan penghuni Pegunungan Tembok Surga."


Setelahnya, putri Chang Song Zhu terus berbantah-bantahan dengan para bawahannya. Namun wanita tiga puluhan tahun yang belum memiliki pasangan itu tetap tak mau kalah dan bersikeras.


"Sudahlah, aku bosan di dalam kereta terus!" kata putri itu ketus. Kali ini tak ada yang bisa membantah. Namun diam-diam jenderal Pek Kong menyuruh beberapa orang untuk mengawasi di depan, khawatir kalau-kalau ada penghadang.


Maka berjalanlah mereka melanjutkan perjalanan. Seharusnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyeberangi Pegunungan Tembok Surga hanya memakan waktu tiga hari, tapi kali ini sampai empat hari setengah.


Pada suatu pagi yang hampir ke siang, putri ini terkejut ketika mendengar teriak-teriakan dari barisan depan. Kiranya yang berteriak-teriak itu adalah bawahannya sendiri.


"Pasti sesuatu yang buruk..." gumam jenderal Pek Kong yang masih dapat didengar oleh Song Zhu. Lelaki tua itu berjalan tergesa-gesa ke barisan depan menghampiri bawahannya yang tadi berteriak-teriak.


"Ada apa?" katanya setelah tiba di depan. Dia terkejut saat melihat orang itu terluka parah. Dipapah dua orang lain yang juga luka-luka.


"Di depan ada peperangan. Di balik bukit ini, sedang terjadi perang hebat. Kawan-kawan lain sudah tewas terkena serangan nyasar." kata si penderita luka paling parah.


Saat itu putri Chang Song Zhu sudah tiba dan bertanya, "Apa maksudmu?"


Orang itu menjawab, "Pasukan manusia gunung sedang bertempur di antara mereka sendiri. Entah apa yang terjadi, tapi mereka saling bertempur."


"Apakah manusia gunung memang suka bertempur antar suku?" tanya putri itu kepada semua orang.


"Dalam cerita yang biasa kita dengar, tidak pernah mengungkit-ungkit masalah itu. Menurut legenda, manusia gunung adalah penghuni Pegunungan Tembok Surga. Selebihnya tidak jelas." kata Pek Kong.


Ketika Chang Song Zhu sedang berpikir hendak ke mana, tiba-tiba terdengar keributan di tengah barisan. Cepat Chang Song Zhu berbalik untuk melihat dan dia terkejut sekali.


"Serangaaann!!" seru kusir kereta yang cepat melompat turun karena kereta itu telah terbakar oleh panah api.


Kejadian ini membuat mereka semua panik dan serentak bergerak menjauh. Kuda penarik kereta yang tinggal satu itu meronta-ronta dan berlari pontang-panting. Membawa kereta yang terbakar itu ke mana-mana dan membuat beberapa prajurit terbakar. Untung mereka cepat melepas pakaian dan menjauh.


"Lepas kuda itu, padamkan apinya!" perintah Pek Kong. Lalu dia memandang ke satu arah dengan mata menyipit. Begitu pula dengan putri Chang Song Zhu yang sedang memandang ke arah yang sama.


"Itu pasukan gunung!" seru salah satu pengawal putri itu dan mencabut pedang. Pek Kong segera memerintahkan untuk bersiap.

__ADS_1


"Lindungi tuan putri!!" serunya lantang.


Dari arah kiri barisan, nampak gerombolan hitam yang dari kejauhan seperti serombongan semut. Jumlah mereka banyak sekali, melihat dari suaranya yang amat berisik itu.


Pakaian mereka terbuat dari kulit-kulit hewan, cukup aneh di mata rombongan pemerintah ini karena memang mereka tak pernah lihat. Tapi yang membikin ngeri, tunggangan mereka bukan kuda, melainkan hewan-hewan hutan.


Macan, singa, citah, banteng, bison. Bahkan beberapa ada yang menunggang gajah atau jerapah. Buaya pun ada.


Putri ini yang baru sekali itu melihat manusia gunung, apalagi dalam keadaan bertempur itu, menjadi gugup juga. Dia tak takut menghadapi manusia-manusia bahkan dari golongan pendekar. Namun orang-orang ini agaknya lain daripada itu.


"Mundur!! Jumlah mereka terlalu banyak!" teriak Chang Song Zhu.


"Tuan putri, anda pergilah lebih dulu!!" jenderal Pek Kong berkata gusar. Pasukan itu makin dekat.


Ketika putri hendak membantah, di barisan sebelah kiri sana sudah terjadi keributan karena pasukan manusia gunung telah menerjang bagai ombak samudra ganas. Sebentar saja barisan terdepan sudah terlempar ke sana-sini tak karuan.


Wajah putri itu memucat.


"Syuuut!!"


"Ahh!!" putri itu berseru tertahan ketika tubuhnya diseret jatuh ke bawah oleh seseorang. Hampir bersamaan dengan itu, satu anak panah lewat di atas kepalanya, di mana tadi akan tepat menancap di lehernya jika dia tidak cepat ditarik jatuh.


"Maaf lancang tuan putri." kata Pek Kong yang sudah berbalik dan menebaskan pedangnya. Kiranya pasukan manusia gunung sudah tiba di tengah barisan.


"Jenderal...gawat, ini tidak mungkin!! Mustahil kita dapat lolos!! Tuan putri....nyawa tuan putri dalam bahaya!!" kata salah satu pengawal tuan putri itu. Sebelum akhirnya dia jatuh terlungkup dan menjadi sasaran tombak, pedang atau pecut.


"Trang-trang-trang!"


Pek Kong menebas tiga kali dan tiga senjata terpental dari tangan si pemilik. Disusul tebasan kuat dan memisahkan tiga kepala mereka.


"Maaf saudara-saudaraku!!!" teriak Pek Kong dan menyambar tubuh putri itu. Ia melompat ke atas kuda dan membedal kudanya pergi dari sana.


Putri itu masih terlalu terkejut dan tidak siap, hatinya terguncang dan tadi ketika dia bertempur dengan beberapa orang, pundaknya terluka terserempet pedang.


Setelah tuan putrinya dibawa pergi, orang-orang di sana merasa sedikit lega dan bertarung mati-matian agar tidak ada pengejar akan nonanya. Namun jelas siapa pemenangnya dari pertempuran itu. Maka sebentar saja, sekitar lima belasan menit, dua ratusan orang itu sudah dibasmi bersih.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2