Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 251 – Kerisauan Sung Han


__ADS_3

Setelah si kumis lebat itu tersadar, Sung Han segera menginterogasi. Demikian pula dengan delapan anak buahnya yang lain, mereka tak luput dari hujan pertanyaan pemuda itu.


Selama melakukan kegiatan ini, Sung Hwa selalu duduk di pojokan sambil memalingkan muka, dia benar-benar merasa acuh dengan semua itu. Sambil menopang dagu, ia menikmati rasa nyeri dari tamparan suaminya di pipi kiri.


Menurut keterangan mereka yang ternyata hanya berwatak pengecut, akan bicara segalanya begitu diberi sedikit tekanan, mereka berkata jika selama beberapa bulan ini Kekaisaran Jeiji yang terperangkap di wilayah utara memilih untuk menyembunyikan diri. Sama sekali tidak mau tampil karena memang sudah demikianlah rencananya sampai waktu yang ditentukan.


Mereka bilang ini semua akibat ulah dari Raja Dunia Silat generasi kedua di Kota Daun. Betapa mereka berhasil membumihanguskan pasukan pemberontak Chang itu.


Sung Han merasa heran. Selain julukan Raja Dunia Silat yang ternyata sudah muncul di dunia ramai, yang dia sendiri tahu bahwa Raja Dunia Silat itu adalah mereka berlima para pewaris pusaka, Sung Han juga bingung mengapa Kekaisaran Jeiji nampak takut dengan itu? Yang diserang adalah orang-orang Chang, perang di Kota Daun adalah perang saudara, mengapa Kekaisaran Jeiji seolah mengklaim itu sebagai ancaman?


Bukankah akan lebih menguntungkan mereka jika pihak yang dijajah saling perang sendiri? Ketika Sung Han menanyakan hal itu, si kumis lebat menjawab singkat.


"Ini semua sudah diatur. Kaupikir sesederhana itu? Kau masih berpikir bahwa kita berperang antara tiga pihak? Kekaisaran Chang, Kekaisaran Jeiji dan para pemberontak?"


"Apa aku salah?"


"Heh, kau tak salah, hanya sedikit melenceng. Kuberitahu kau satu hal, Kekaisaran Jeiji yang terkurung di utara ini sudah sejak lama bersekutu dengan pangeran itu. Dan sekarang orang-orang pangeran itu sudah pergi ke selatan untuk minta bantuan. Heheh, kalian akan hancur!"


Sung Han mengerutkan keningnya, tangannya terkepal. Orang-orangnya pangeran, kemungkinan besar adalah Serigala Tengah Malam. Ini sudah cukup memusingkannya ketika mendengar cerita Gu Ren yang mengatakan ada sepasukan pendekar misterius yang menembus blokade di kaki gunung Pegunungan Tembok Surga sebelah timur. Dia juga mengatakan bahwa kemungkinan orang-orang Serigala Tengah Malam belum habis.


Ucapan si kumis itu membuktikan segalanya. Semua jadi jelas sekarang, bahwa Kekaisaran Jeiji yang terkurung di utara ini sedang menunggu bantuan dari selatan lewat perantara orang-orang Serigala Tengah Malam.


Ini perkara yang cukup mudah sebenarnya. Tinggal menahan pasukan Jeiji di Pegunungan Tembok Surga, maka semuanya akan selesai. Orang-orang Jeiji di utara tak akan ada kesempatan untuk bergerak.


"Di mana tempat persembunyian kalian?" tanya Sung Han setelah beberapa lama.


"Heheh, kalau itu sih rahasia."


"Craatt!!"


Tangan Sung Han berkelebat dan lepaslah kepala orang itu. Menggelinding sampai menabrak kaki meja. Membuat delapan orang sisanya menjerit ketakutan.

__ADS_1


"Kau bilang ingin melepaskan kami!"


"Kalian tak mau menjawab pertanyaanku yang terakhir," balas Sung Han dingin. Matanya sama sekali tidak menunjukkan raut iba seperti saat dahulu kala sebelum insiden Benteng Mustika Naga.


Agaknya orang-orang ini masih punya kesetiaan dan itu patut dipuji. Melihat pimpinan mereka tewas, walau tambah takut, namun mereka juga tambah marah.


Mereka berteriak-teriak berusaha melepaskan belenggu di tubuhnya. Memandang Sung Han dengan mata melotot penuh dendam kebencian. Sung Han menghadapi itu dengan tenang, sama sekai tidak terguncang.


"Temani ketua kalian!"


"Sraatt-sraatt-sraat!"


...****************...


Sung Han, keturunan keluarga Sung yang masih berdarah petani. Memang petani karena leluhurnya dahulu bernama Sung Lan, tokoh pertanian yang amat tersohor pada masanya. Demikian pula dengan anak cucunya yang lebih menyibukkan diri bekerja di ladang daripada menjadi sarjana untuk kemudian menjabat sebagai menteri. Atau pendekar yang hanya bergelimang sengsara.


Jadi aneh rasanya jika Sung Han menjadi seorang pendekar di mana dia ini merupakan keturunan Sung Lan, seorang petani.


Kutu buku yang sudah amat lama tak menyentuh buku itu kini merasa hampa, kosong, dan sendirian. Sekali dia terjun ke dunia persilatan, seolah tak ada jalan lain lagi untuk keluar. Mata teduhnya itu, perlahan-lahan berubah menjadi sendu. Hingga ia bertemu dengan Sung Hwa.


Namun keceriaan yang lambat laun mulai kembali, lenyap lagi bahkan lebih parah setelah kejadian di Benteng Mustika Naga. Itu adalah kekecewaan dan penyesalan terbesar sepanjang hidup Sung Han. Dan sejak saat itu, dia menjadi terlalu ringan tangan untuk membunuh. Apalagi sejak menjadi murid Tok Ciauw dan mendapat julukan Setan Tanpa Wajah. Terhadap orang-orang yang dipandangnya jahat, dia tak kenal ampun


Setelah insiden di benteng itu, hatinya semakin dingin. Dia hanya merasa hangat kepada Sung Hwa seorang. Walau sifat lemah lembutnya yang dahulu masih tersisa, mungkin tak banyak.


Memikirkan hal itu, kembali penyesalan melanda batin Sung Hwa. Dia sudah membuat suaminya itu kecewa dengan perilakunya yang pura-pura tertangkap untuk mendapat perhatiannya.


Malam hari itu, ketika dalam perjalanan menuju benteng bekas markas Serigala Tengah Malam, Sung Han selalu diam sambil menatap api unggun. Pandangannya kosong.


Diam-diam Sung Hwa merasa khawatir, apakah suaminya itu masih marah? Jika benar, maka sebagai istri dia harus menghiburnya.


"Makanlah suamiku, kau belum makan sejak siang tadi," Sung Hwa berkata sambil menyodorkan sepotong daging panggang dengan sumpit. Jelas sekali sikapnya ini hendak menyuapi Sung Han.

__ADS_1


Sung Han melirik sebentar, sebelum menyambarnya dan memasukkannya ke dalam mulut.


Sung Hwa mengerutkan kening, merasa kecut hatinya. Ia mencoba menyuapi lagi namun kembali mendapat respon yang sama. Sung Han mengambil dengan tangan sendiri dan memakannya.


"Kau masih marah?" akhirnya Sung Hwa bertanya. "Maaf untuk kejadian siang tadi. Aku tak akan mengulanginya ...," kata Sung Hwa sambil menundukkan kepala.


Sung Han menoleh, menatapnya sampai cukup lama. Dia menghela napas beberapa kali lalu memberi jawaban. "Aku tak semarah itu. Walau cukup jengkel."


"Eh?"


"Ada hal lain yang menggelisahkan hatiku. Kau pasti dengar percakapanku dengan orang-orang kasar tadi, bukan? Kiranya keadaan sekarang ini, yang terkesan damai, jauh lebih berbahaya dari biasanya."


Sung Hwa mendengarkan, sama sekali tidak menyahut.


Kemudian pemuda itu melanjutkan. "Pasukan Jeiji menyembunyikan diri di sini seperti kawanan serigala yang sudah siap menerkam mangsanya. Mereka dapat muncul sewaktu-waktu, hanya menunggu saat baik. Benar-benar kacau ...."


Sung Hwa melihat keputusasaan di mata Sung Han dan keletihan luar biasa ketika pundak suaminya itu melorot turun. Suatu sikap yang tak pernah dilihatnya selama satu minggu di Goa Emas.


Sung Han menghela napas beberapa kali, lalu memejamkan mata.


Saat itu, Sung Hwa berpikir mungkin di saat inilah perannya sebagai istri harus dilaksanakan. Sekalian untuk meminta maaf akan kejadian yang tadi, Sung Hwa juga ingin menghibur suaminya.


"Suamiku, di hutan sini sepi dan tempatnya cukup nyaman."


"Maksudmu?"


Sung Hwa tersenyum, lalu menubruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2