
Yu dan Mi, dua orang saudara seperguruan itu mengarahkan Sung Han ke tempat persembunyian Ki Yuan bukan untuk membunuh si tua itu. Mereka awalnya berpikir kekuatan Ki Yuan jauh melampaui Sung Han sehingga mereka yakin Ki Yuan dapat mengatasinya.
Tujuan awal mereka adalah untuk mengajak Sung Han bergabung dengan Hati Iblis. Hal ini dikarenakan nama marga Sung Han yaitu Sung. Yu dan Mi pikir dengan marga itu, nona mudanya dapat menerima Sung Han begitu pula dengan Jin Yu.
Tapi sungguh di luar dugaan, Sung Han ternyata jauh lebih kuat dari mereka bahkan Ki Yuan sendiri. Dalam beberapa gebrakan saja Ki Yuan telah dibikin mampus dengan mengenaskan.
Sebenarnya apakah hubungannya Sung Han dengan nona muda Hati Iblis? Apakah hubungan nama keluarganya? Mari kita lihat.
Hutan Mati, bertempat di sebelah utara kota raja, berbatasan langsung dengan daerah pesisir. Sekitar satu dua hari perjalanan ke selatan jika dari pesisir, dan tiga empat hari perjalanan jika dari ibukota.
Hutan ini dinamakan hutan karena memang terdiri dari banyak pohon serta rumput-rumputnya. Tapi dinamakan mati karena baik pohon maupun rumput tidak ada yang berdaun. Kecuali hanya daun kering yang sebentar lagi rontok.
Hutan ini tidak seberapa luas, berada di tengah-tengah hutan normal biasa. Entah bagaimana tanah di hutan mati ini sangat buruk sehingga membuat pohon-pohon di sana mati kekeringan. Melihat dari banyaknya pohon, tentu dulunya tempat ini sangat subur. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Di sana, terlihat beberapa buah tenda besar dan kecil. Dilihat sekilas dari kejauhan, pemukiman ini mirip pemukiman para manusia gunung yang memang hidupnya di tempat terpelosok. Tapi tempat itu sama sekali bukan tempat manusia gunung.
Itu adalah markas Hati Iblis, markas yang dibuat seadanya karena tidak memiliki markas utama lagi setelah penyerbuan Rajawali Putih dan Naga Hitam. Jumlah mereka yang tersisa dan dapat dikumpulkan setelah pertempuran itu tak lebih dari tiga puluh orang.
Di tenda paling besar, terdengar bentakan-bentakan nyaring dari sejak setengah jam lalu. Tak ada yang berani masuk ke dalam tenda itu untuk mencari ribut dengan ayah dan anak pimpinan perkumpulan ini.
"Brakk!!" gadis itu yang sudah hilang sabar menendang meja sampai terangkat dan terbalik. Matanya mencorong dan wajahnya memerah, mulutnya terkatup rapat namun memunculkan suara gerengan.
"Sudah kubilang aku tidak mau!! Tak sudi!!" bentak gadis itu yang membuat sosok tinggi besar, dengan penutup mata kiri melotot dan berdiri.
"Lantas mau mu apa? Kau ini keturunan langsung dari nenek moyang Sung Hwa, tokoh Hati Iblis masa lampau yang berhasil hidup setelah Pertempuran Hitam Putih!" bentak Jin Yu.
"Memangnya kenapa? Sung Hwa tidak pernah membangkitkan Hati Iblis sejak saat itu! Aku pun setuju dengan dia, dari awal aku tidak pernah terlibat urusan dengan Hati Iblis. Aku berlatih silat bukan untuk mengurusi perkumpulan busuk ini!" si gadis membantah tak terima.
"Kau membunuhi anggota kita!! Pertempuran gegabah yang kau lakukan melawan Rajawali Putih dan Naga Hitam waktu itu, menghabiskan orang-orang kita yang kau sesatkan!" lanjutnya dengan intonasi makin meninggi, "Kalau saja mereka tidak pernah bertemu denganmu, pasti saat ini masih hidup!!"
"Pemberontak!!" Jin Yu marah sekali dan mengibaskan tangannya melakukan gerakan menampar. Gadis ini bergerak cepat untuk menangkis, tapi tetap saja terpelanting hingga ke sudut ruangan.
"Kau bilang ini bukan perkumpulanmu, tapi selalu saja sejak dahulu kala kau selalu memedulikan mereka. Maksudmu apa!?"
"Mereka sejak awal tak pantas bergabung di sini, itulah yang menyedihkan hatiku!!" ujarnya tanpa rasa takut sedikit pun, "Bertahun-tahun aku menahan perasaan ini, hal itu karena aku takut padamu!! Tapi sekarang sudah tidak lagi, kau bukan ayahku! Kau membunuh ayah ibuku!!"
__ADS_1
"Bocah......!!" Jin Yu menggeram seperti harimau marah, "Aku menghormatimu karena dengan adanya dirimu yang merupakan keturuan Sung Hwa, Hati Iblis punya kesempatan untuk bangkit. Bahkan namamu sama dengan leluhurmu, mengapa kau tak mau menghidupkan perkumpulan ini hah? Kenapa kau selalu membangkang?"
"Ahhhhh!!" gadis itu yang ternyata bernama Sung Hwa, tak menjawab dan seperti orang gila langsung menubruk Jin Yu dengan cakaran ke wajah.
Sambil melesat, mulutnya memekik, "Aku akan mengadu nyawa!!"
"Bajingan!!" Jin Yu mengumpat untuk menghindari serangan ke wajah itu. Kemudian ia angkat kakinya sekaligus mendorong punggung Sung Hwa ke bawah.
"Hughh...aakkhhh!!"
Menggunakan lututnya yang besar, Jin Yu menendang tepat pada ulu hati Sung Hwa yang segera membuat gadis berambut kepang itu jatuh dan meringkuk lemas.
"Kau masih belum apa-apa bagiku!! Kau memang kuat, tapi yang mengajarimu silat adalah aku! Aku sudah tahu gerakanmu gadis bodoh!" cerca Jin Yu dan jongkok untuk memandangi Sung Hwa yang merintih kesakitan. Ia singkap sedikit rambut pada bagian wajah dan mengelusnya perlahan, "Aku tak akan membunuhmu sekarang. Akan kuberi kesempatan bagimu untuk berpikir. Aku harap dalam pertemuan berikutnya, kau berubah pikiran." katanya lalu berdiri.
"Hei!" serunya ke arah pintu tenda. Dua orang segera memasuki tenda. "Bawa nona kalian ini ke kurungan. Jangan lepaskan dia sampai seminggu!"
Dua orang itu memucat ketika mendapat tugas ini. Apalagi ketika melihat nonanya sudah tergeletak pingsan, hati mereka bergetar ngeri. Tapi yang membuat ngeri lagi adalah, tatapan tajam penuh nafsu membunuh dari Jin Yu ketika berkata.
"Aku sudah mengampuni kalian karena matinya Ki Yuan. Lakukan tugas ini dengan baik atau kalian benar-benar kubikin mampus!"
...****************...
"Apakah aku ini ratu? Haruskah kalian bersikap seperti ini?" gadis itu terkekeh geli melihat kelakuan dua orang di luar kurungan itu. Tindakan mereka bisa menjadi hiburan tersendiri bagi Sung Hwa yang merasa jenuh di kurungan.
"Nona sudah menyelamatkan kami waktu itu, membela mati-matian. Tapi inilah balasan kami. Kelak setelah nona keluar, tolong pisahkan kepala kami!" Yu bersujud dan berkata gemetaran.
Seniornya ikut bersujud dan berkata pula, "Tak pernah kami sangka sebelumnya, jika nona muda perkumpulan ini begitu mulia. Kami pikir, anda akan mengurung kami atau lainnya. Tapi anda..."
"Sudahlah." Sung Hwa berkata gusar, "Bangunlah kalian dan aku tak akan membunuh kalian. Untuk apa?"
"Tapi nona..."
"Aku membela kalian waktu itu karena perasanan senang dan terharu yang tak terbendung dalam hatiku ini. Aku tak menyangka jika ada orang yang memiliki marga sama dengan aku, dan dia bukan tokoh Hati Iblis. Aku pikir, sosok Sung Han itu mungkin bisa menolongku keluar dari neraka ini." katanya dengan wajah menunduk dan ekspresi sulit, "Jika kalian mati, siapa yang akan membantuku kelak untuk menacrinya?"
Yu dan Mi tersentak kaget dan saling pandang. Kemudian Mi bertanya, "Anda hendak meninggalkan mereka semua? Bukankah anda sangat menyayangi mereka?"
__ADS_1
"Ya, mereka semua seharusnya tak jadi iblis semacam itu kalau saja tidak ada Jin Yu si keparat!" katanya, "Aku hendak pergi bukan untuk meninggalkan mereka, malainkan sebaliknya. Aku ingin mencari Sung Han untuk membantuku menolong mereka."
"Setelah mereka selamat, apa langkah nona berikutnya?"
"Membebaskan mereka, apa lagi?"
"Setelah itu?"
"Kalian pun akan kubebaskan. Lalu aku sendiri akan berpetualang di dunia luas ini, kalian tak akan terkurung lagi." ujarnya tersenyum.
Mi dan Yu menjadi terharu sekali. Ternyata sosok yang selama ini mereka kira bahkan jauh lebih mengerikan dari seluruh anggota Hati Iblis, malah memiliki hati yang demikian lembut.
"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini nona. Kami akan bantu." Yu berkata semangat. Dibalas tawa ringan oleh Sung Hwa.
"Kalian pikir aku tak bisa menghancurkan kurungan besi ini? Orang itu terlalu ceroboh tidak menotokku."
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang nona, dan cari Sung Han." Mi berujar semangat.
"Tunggu tiga hari lagi." tukas Sung Hwa, "Walaupun aku tak tertotok, tapi tendangan keparat itu kuat sekali. Butuh tiga hari bagiku untuk memulihkan tenaga."
Yu dan Mi mengangguk serempak.
"Nah, sekarang bangunkan penjaga-penjaga yang telah kalian bikin pingsan itu. Jin Yu tahu nyawa kalian masih ada karena perlindunganku, dan dia juga tahu pastinya kalian membela aku. Jika ada yang melihat kalian di sini, keadaan akan makin sulit."
Mereka kembali mengangguk dan Yu bertanya, "Tiga hari lagi."
"Ya, temui aku di sungai sebelah barat sana. Jauh di kedalam hutan di luar Hutan Mati, apakah kalian setuju?"
"Kami setuju nona!"
"Baiklah, cepat kembali dan temui aku di sana tiga hari dari sekarang!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1