
Pagi hari itu, Sung Han sedang melatih pasukannya di pinggir sungai tepat di bawah tebing tak seberapa jauh dari markas. Dia menjelaskan strategi-strategi kepada pasukan pimpinannya yang mendengarkan penuh perhatian.
"Sebagai pasukan jarak dekat, kita inilah yang siap mati pertama. Maka dari itu maka kita harus menjadi paling kuat agar bisa bertahan lama di tengah kancah pertempuran sekaligus melindungi pasukan-pasukan di belakang kita. Jangan asal maju secara sembrono. Beruntung kita menggunakan taktik perang gerilya yang amat sangat membantu kita." Demikian dia menjelaskan.
Lalu setelah beberapa menit memberi kuliah ini dan itu, mereka mulai mempraktikkan ajaran Sung Han. Menggunakan target batang pohon yang diikat dengan tali merah sebagai perumpamaan tubuh manusia. Sung Han menugaskan mereka untuk menjadi seorang pembunuh profesional. Satu langkah satu nyawa, maksimal tiga langkah harus dapat menorehkan satu sayatan ke pohon bertali merah.
Ini selain melatih kelincahan mereka, juga mengasah ketajaman dan keakuratan serangan. Mereka awalnya disuruh menunggu di beberapa tempat yang sudah disediakan. Begitu aba-aba terdengar, serentak mereka maju dan cepat-cepat menebas batang pohon terikat merah. Sung Han harus dengan jeli mengamati pergerakan mereka.
Beberapa hari telah berlalu dan latihan terus berlanjut dengan keras. Bahkan kini Sung Han ditemani beberapa anggotanya yang berkepandaian paling tinggi, dikeroyok oleh anggota yang lain dengan teknik perang gerilya.
"Kurang cepat!" Sung Han menyikut ke belakang di mana muncul seorang pendekar yang hendak membokongnya.
"Gerakanmu kurang halus," katanya sambil menembakkan tenaga dalam ke atas. Beberapa saat kemudian dia berseru lagi. "Cukup kuat!"
"Desss!"
"Tapi sama sekali tidak cepat!" Sung Han menggerakkan tangan yang kemudian seolah sepasang tangan itu berubah menjadi puluhan. Lelaki tinggi besar yang tadi menyerangnya secara sembunyi-sembunyi itu kewalahan sebelum terpelanting.
Tiga orang lainnya, yang ikut mendampingi Sung Han, juga sesekali memberi masukan akan kekurangan para pengeroyok itu. Mereka berlatih dengan penuh semangat dan tekad membara, membuat keadaan menjadi ramai sekali seolah sedang dalam pertempuran sungguhan.
Tanpa terasa hari sudah senja ketika Sung Han sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil mengipasi wajahnya dengan topi capingnya. Ketika itu, ada salah satu pendekar menghampiri dan menjura.
"Ada apa?" tanya Sung Han.
"Saudara, aku baru saja mendiskusikan masalah ini dengan teman-teman."
"Masalah apa?"
Orang itu tampak sedikit ragu-ragu. Dia melirik ke belakang tempat teman-temannya duduk menunggu, mereka mengangguk memberi semangat. Orang ini menatap Sung Han kembali dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan maksud kedatangannya.
"Strategi untuk membagi kelompok di bawah pimpinan salah satu Raja Dunia Silat memang cerdik sekali. Dengan begitu kita semua mempunyai pasukan yang memiliki keahlian berbeda-beda. Namun satu masalahanya ... kekompakan itu jelas tak akan pernah terwujud bila tak ada pemimpin tunggal," pria itu menghentikan sejenak ucapannya. "Kami takut, jika di antara Raja Dunia Silat malah saling bertikai sendiri."
__ADS_1
Sung Han mengangguk-angguk cepat, seolah sudah sadar akan hal tersebut. "Kau jangan khawatir, kami tak akan saling ribut."
"Kalau begitu, maka akan sulit untuk mencapai kekompakan dan keserasian. Mengingat keahlian per kelompok berbeda-beda."
Sekali ini, Sung Han mengerutkan kening. Benar juga, pikirnya.
...****************...
Pada malam harinya, Sung Han mengabari Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi, meminta mereka untuk berkumpul di kediamannya.
Sung Hwa sudah sejak tadi ribut menanyakan apa alasan Sung Han memanggil mereka malam-malam begini. Dia sudah rewel dengan bibir mengerucut sejengkal, mengatakan tindakan suaminya itu mengganggu malam mereka. Namun Sung Han hanya membalas dengan mengatakan akan membicarakan satu urusan penting.
Ketika tiga orang itu sudah tiba, Sung Han segera mengajak istrinya untuk menyambut.
"Tidak mau!" ketusnya sambil memalingkan muka dan bersedekap tangan. "Kan kau yang memanggil. Kau telah menolak istrimu dan memilih pergi minum bersama mereka. Sana pergi!"
Sung Han memggeleng-gelengkan kepalanya. Inilah satu sikap yang membuat Sung Han ingin menggigit wanita tersebut. Menggemaskan sekali.
Perlahan kepala Sung Hwa bergerak. "Benarkah itu?"
"Kalau aku bohong pun kupikir kau akan percaya. Ayo cepat!" ujar Sung Han buru-buru menarik tangan Sung Hwa dan mengajaknya ke depan pekarangan.
Sung Han segera mengajak mereka ke taman kecil di pekarangan rumah tersebut. Di sebuah pondok kayu yang sederhana namun bersih dan rapi sekali. Amat nyaman digunakan untuk bercakap-cakap.
"Ada apa malam-malam kau memanggil kami. Tak tahukah bahwa kami ingin beristirahat untuk menyiapkan hari esok?" Nie Chi menggerutu.
"Aku setuju denganmu!" Sung Hwa menunjuk wajah Nie Chi. "Aku juga merasa jengkel."
"Oh, istrimu marah," Gu Ren berkomentar sambil menahan kekehannya.
Sung Han menghela napas beberapa kali sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Agaknya hanya Khuang Peng seorang yang berpikir bahwa Sung Han tentu memiliki alasan mengapa dia memanggil mereka secara tiba-tiba. Maka dengan wajah serius, dia berkata.
"Sung Han, ada apa?"
Kembali pemuda itu menghela napas sebelum menjawab. "Ini soal pasukan yang kita pimpin. Aku diingatkan oleh pasukanku tadi sore."
"Memangnya kenapa dengan pasukan kita?" tanya Gu Ren heran. "Tak ada masalah, kan? Jangan bilang usul yang kau berikan, kau sendiri yang meragukannya?"
Cepat-cepat Sung Han menggeleng. "Bukan begitu. Rencana ini memang bagus sekali bagi kita. Membuat pasukan paduka putri menjadi jauh lebih kuat dengan pasukan pendekar ini. Mengingat setiap kelompok memiliki keahlian berbeda-beda, itu bisa membuat kita mendapat nilai lebih di medan tempur."
Tiba-tiba Sung Hwa menghardik. "Lantas kenapa? Hanya itu yang ingin kau katakan? Buang-buang waktu! Ayo kembali ke rumah dan biarkan mereka beristirahat."
Namun entah bagaimana, di telinga Nie Chi ucapan itu terdengar sedikit berbeda. Dia tersenyum-senyum nakal, namun matanya menahan jengkel.
"Enaknya ... punya istri ...."
Sung Han membutuhkan beberapa waktu untuk menenangkan istrinya yang sedang kumat itu. Setelahnya dia mengatakan sesuatu yang sudah mengganjal sejak tadi sore.
"Salah seorang anggota kelompokku bilang, bahwa perbedaan keahlian di setiap kelompok itu memang membuat kita menjadi lebih unggul. Namun juga bisa membuat perselisihan."
"Oh, kau mengkhawatirkan soal itu? Kita keluarga," celetuk Nie Chi.
"Benar. Tapi tetap saja kita harus membutuhkan pemimpin tunggal. Ingat, kita butuh kekompakan. Jika pasukan pendekar memiliki lima pimpinan, lima kepala, lima otak, lantas bagaimana bisa kompak?"
Kini mereka tak ada yang menganggap ucapan Sung Han sebagai perkara remeh. Benar juga, pikir mereka. Jika mereka fokus memimpin pasukan sendiri, bisa-bisa dalam pertempuran kekompakan mereka justru menghilang dan mencelakakan anggota lain.
"Jadi ... kita harus memilih pemimpin tunggal di antara kita?" tanya Khuang Peng yang sudah paham.
Sung Han mengangguk. "Agaknya demikianlah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG