
Jengkel sekali rasanya hampir kena peras orang, bahkan itu adalah seorang prajurit. Entah siapa yang tak becus tapi hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan cukup lalai, mengingat kejadian itu terjadi di ibukota kekaisaran.
Pagi harinya, Sung Han tanpa berlama-lama lagi segera pergi meninggalkan ibukota. Ia tadi malam tidur di atas sebatang pohon besar, menahan dingin dan lapar yang menyerang. Maka dari itulah selepas keluar kota, Sung Han menyempatkan diri untuk berburu kelinci dan ayam hutan untuk kemudian dijadikannya makanan sarapan.
Tujuannya sudah jelas, yaitu Lembah Setan. Entah tempat apa itu namun Sung Han yakin pasti lebih mengerikan daripada lembah-lembah kebanyakan. Tak mungkin orang menamai tempat itu dengan Lembah Setan jika memang tidak ada sesuatu.
Menurut keterangan orang-orang di desa yang menjadi tempat singgah Sung Han selama perjalanan, lembah itu dinamai Lembah Setan karena keangkerannya. Konon banyak orang hilang di sana tanpa alasan yang jelas. Mayatnya hilang, sekalinya ketemu pasti sudah terkoyak.
Sung Han bergidik, tapi ia tetap melanjutkan perjalanan menuju utara. Lembah itu katanya terdiri dari banyak sekali jurang-jurang curam yang berbahaya, karena hal inilah salah seorang tukang antar yang kebetulan ditanyai Sung Han berkata.
"Kau cari mati ke sana. Bukannya mendapat apa yang kau mau, justru malaikat mautlah yang datang menyapa."
"Aku sudah menetapkan tujuanku paman, terima kasih angkutannya."
"Maaf saja aku hanya bisa sampai sini mengantar, aku takut. Kau kugratiskan untuk ini."
"Terima kasih!"
Seperginya tukang antar itu, Sung Han memandangi hutan di hadapannya lamat-lamat. Aura mistis terasa jelas sekali terasa dari sini bahkan sebelum dirinya menginjakkan kaki ke tanah hutan itu.
Beberapa hari berlalu dan seharusnya setelah melewati hutan besar ini maka dia akan bertemu dengan tempat yang bernama Jurang Sungai, merupakan pintu gerbang menuju Lembah Setan.
"Sudah sejauh ini, aku tak boleh ragu!!"
Sebenarnya apakah yang dicari Sung Han dengan mendatangi Lembah Setan, tempat di mana Pedang Gerhana Bulan konon ditemukan. Apakah dia termasuk manusia egois yang cukup serakah? Bukankah dia sudah memiliki satu di antara dua pedang gerhana? Lantas?
Sung Han merupakan orang yang tidak percaya pada kutukan pedang gerhana, entah siapa lagi yang berpikiran sama dengan Sung Han, intinya dia menentang hal itu. Sung Han menganggap, kehidupan abadi jika tak bisa menemukan pewaris pedang itu cukup mustahil dan tidak masuk akal. Apalagi soal jodoh jika sepasang pedang itu dimiliki laki dan perempuan, siapa yang mengarang cerita itu?
Tapi entah dorongan atau bisikan setan dari mana, membuat Sung Han lambat laun mulai memercayai hal itu bahkan di luar tahunya. Ia tak sadar jika dirinya sendiri mulai percaya hal yang dianggapnya mustahil itu.
Karena inilah, Sung Han bertekad untuk mendapatkan Pedang Gerhana Bulan untuk kemudian ia kuburkan bersama Pedang Gerhana Matahari. Dalam pemahamannya, pedang itu hanya membawa petaka. Tak ada untungnya.
Jauh memasuki hutan, keadaan kian mencekam dengan adanya pohon-pohon tinggi di sekitar. Sung Han melihat ke sana-sini, keningnya berkerut.
"Hanya hutan biasa, tak ada yang aneh...." katanya perlahan sebelum menunduk memandang tanah, "Lalu kenapa aku merasa ada yang aneh?"
Agaknya rumor mengenai Lembah Setan benar adanya. Sampai-sampai keangkerannya terasa sejauh ini.
Butuh waktu satu hari satu malam untuk keluar dari hutan luas itu. Pagi hari tepat saat terang tanah, Sung Han sampai di penghujung hutan dan tampaklah olehnya sebuah jurang yang panjang sekali. Membentang dari timur ke barat dengan lebar kurang lebih limah puluh meter.
__ADS_1
Sung Han tak terlalu terkejut mengetahui banyak orang di sana. Pastilah mereka ini sudah tahu tentang rumor pedang gerhana itu, maka dari itulah banyak rombongan yang datang ke mari.
"Ada yang datang lagi..." bisik seorang dari berbagi rombongan itu.
Serentak pandangan semua orang tertuju pada Sung Han yang baru datang. Ada tiga kelompok besar, satu kelompok berseragam kuning gelap, satu lagi berseragam biru langit, dan satu lagi hijau cerah yang kesemuanya terdiri dari perempuan.
"Dari partai mana kau?" tanya seorang berbaju kuning gelap, entah dia dari perguruan mana Sung Han tak kenal karena pakaian orang itu tidak ada lambangnya.
"Kau sendiri?" Sung Han balas bertanya, "Juga kalian?" tanyanya kemudian menunjuk orang-orang berbaju biru langit.
"Kami dua kelompok pedagang yang berkeliling ke seluruh daratan." kata orang berbaju biru langit.
"Lalu kenapa datang ke mari? Ingin berdagang?"
"Tidak!" jawab seorang baju kuning yang tadinya menanyakan partai Sung Han, "Hanya pedagang jangan kau kira kami ini tak bisa silat. Kau kenal dengan Rajawali Putih yang sudah lenyap tak berbekas? Kami hampir sama dengan mereka, hanya bedanya kami pedagang mereka jasa antar barang."
"Jadi kalian memiliki banyak ahli silat? Karena itu datang ke mari hendak memburu pedang gerhana itu sesuai rumor?"
"Benar!" jawab serempak kedua perwakilan perkumpulan.
"Kau dari partai mana?" kembali baju kuning itu bertanya.
"Adik kecil." tiba-tiba ada suara halus dari sebelah kanan, sontak Sung Han menoleh untuk menemukan seorang wanita cantik seumuran Yu Ceng. Memakai cadar putih bersih dengan sulaman bunga lotus tepat di bawah mata.
"Adik, tolong pulanglah. Di sini berbahaya sekali." katanya memberi usul.
Sung Han melihat logo di atas dada kanan wanita itu, segera ia dapat menyimpulkan. "Perwakilan Putri Elang? Tak kusangka kalian datang juga."
Wanita itu menjura hormat, "Kami merasa terhormat bahwa seorang muda seperti engkau mengenal kami."
Sung Han balas menjura sebelum bertanya, "Apa maksud nona menyuruhku pulang? Mengusir?"
"Bukan!" jawab wanita bercadar itu cepat, "Tahukah bahaya apa yang menanti di sana?"
"Tidak."
"Ceroboh!!" wanita itu terlihat marah, begitu pula dengan dua perkumpulan lain. Hal ini jelas membingungkan hati Sung Han.
"Lalu, apa kalian juga sudah tahu bahaya apa yang menanti?" tanya Sung Han santai.
__ADS_1
"Kami tahu dan kami masih memiliki rasa takut untuk mendatangi tempat ini. Dan engkau seorang bocah tak tahu apa-apa, dengan santainya datang ke mari. Hei, apakah kau sedang mengejek?" si baju kuning berkata.
"Kami cukup berhati-hati untuk sampai ke sini dan berusaha menyeberang. Melihat ke datanganmu saja sudah cukup mengesalkan hati kami karena engkau seolah sedang memanfaatkan kami." perempuan bercadar itu berkata, "Pulanglah, kami masih punya hati."
"Apa maksudmu memanfaatkan kalian?"
"Bocah muda, tahukah engkau berapa banyak hewan buas yang sudah kami tewaskan di hutan itu. Kau enak-enak datang ke mari setelah jalan sudah dibersihkan oleh darah saudara-saudara kami!!" si baju biru membentak.
"Dan kau tak tahu apa-apa soal bahaya di seberang sana, itu seperti mengejek kami sialan!" lanjut baju kuning.
Sung Han bungkam, memandangi tiga perkumpulan bergatian. Kemudian secara tidak sengaja ia melihat sebuah tali tambang panjang yang menghubungkan kedua sisi jurang, seperti jembatan.
"Saudara-saudara kami sudah banyak yang tewas dan lenyap sampai jasad-jasadanya. Entah itu dimakan monster di hutan sebelumnya, atau jatuh ke bawah jurang." kata si cadar.
"Kalian menggunakan tali tambang itu bukan? Orang-orang di kalangan kita, apa susahnya?"
Pertanyaan Sung Han yang terlampau santai dan tak berpikir ini membuat si wanita mendelik. Wajahnya merah sekali dan tubuhnya gemetaran. Ia lalu menarik paksa tangan Sung Han sambil membentak.
"Adik kecil, coba kau seberangi jurang ini dengan tali itu, agar kau paham!" katanya, "Kami akan menjaga, kau tak akan jatuh. Lihat saja seberapa mengerikannya jurang itu!!"
"Kau ini hendak mencelakakan aku atau mengajak bermain sih?"
Sung Han sampai di pinggir jurang, wanita itu masih memegang tangannya kuat-kuat. Ia melepasnya secara kasar dan menunjuk tali tambang dengan dagunya.
"Seberangi itu kalau memang mudah bagimu!"
Pemuda ini memandang ke bawah jurang, cukup dalam. Sungai yang meliuk-liuk jauh di bawah sana nampak mengerikan, tahulah ia mengapa jurang ini dinamai Jurang Sungai.
Sung Han menatap tiga rombongan besar yang nampak menanti, kemudian ia menghela nafas. Tanpa basa-basi lagi, Sung Han segera melompat ke tengah tali tambang yang membuat mereka semua terkejut bukan main, juga ngeri.
"Aihh!!" wanita bercadar dari Putri Elang itu menutupi mulutnya yang tertutup cadar dengan tangan saking ngerinya. Ingin ia mencekal tamgan Sung Han, tapi pemuda itu sudah terlanjut lompat jauh.
Di tengah tali tambang itu, keadaannya sungguh aneh. Sung Han terombang-ambing tali tambang dalam keadaan tidak wajar. Ia menunduk hampir seperti sujud.
Matanya melebar sempurna dengan nafas sedikit memburu. Tapi sedetik kemudian, ia berhasil menenangkan diri dan berdiri tegak. Sebuah kejadian yang berhasil membuat tiga rombongan itu kembali berseru ngeri.
"Tidak wajar, pantas kalian berkata demikian. Maaf atas kelancanganku, tapi akan kubantu kalian menyeberangi jurang ini." katanya sambil menunduk dalam ke arah tiga rombongan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG