Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 123 – Wajah di Balik Topeng


__ADS_3

Sung Han bersembunyi di gudang kecil ini setelah merobohkan beberapa penjaga dan disimpannya di dalam gudang pula. Melalui celah-celah jendela, ia mengintip ke luar untuk melihat banyak orang Serigala Tengah Malam yang lari ke sana-sini mencari dirinya. Baik pasukan bertopeng atau pun tidak, jumlah mereka sama-sama banyak.


Sung Han telah memakan ransum tiga orang penjaga itu dan dia memakannya semua. Cukup untuk mengenyangkan perutnya, bahkan sedikit kekenyangan.


Ia duduk bersandarkan tembok dan terhalang dengan meja kecil di depan, sebuah guci rusak di sebelah kanan dan tirai tebal yang menggantung pada tumpukan kursi meja di sebelah kiri. Sehingga jika ada orang masuk, setidaknya dia tak akan langsung bisa melihat Sung Han.


Sung Han memilih untuk bermeditasi, mengisi tenaga dalamnya sekaligus merawat luka-luka baru yang timbul sebagai akibat dari pertarungannya barusan. Bagaimana pun, mereka semua kuat.


Selang beberapa waktu, sekitar satu jam keadaan telah menjadi tenang, tak ada yang mencari-cari Sung Han lagi. Saat itu pemuda ini bisa sedikit untuk menghela napas lega.


Namun satu jam kemudian, kembali keadaan menjadi berisik entah karena apa. Terpaksa Sung Han membuka matanya karena terganggu dengan suara berisik itu. Dia mengintip celah jendela.


Terlihat anggota Serigala Tengah Malam itu lari berbondong-bondog turun ke gerbang utama. Memang markas ini berdiri di sebuah bukit, sehingga letak jalannya miring.


Dapat Sung Han lihat mereka semua lebih terburu-buru ketimbang saat melakukan pencarian dirinya tadi. Jelas hal ini membuat Sung Han bertanya-tanya. Karena penasaran akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti.


Sebelum melompat ke luar, lebih dulu dia memastikan keadaan sekitar aman. Setelah dirasa cukup akan, Sung Han melompat dan bagai burung walet secepat kilat tubuhnya sudah hinggap di satu atap. Terus melompat ke atap lainnya.


Setibanya di sebuah gedung yang tinggi, Sung Han berdiam di genteng paling tinggi untuk memudahkannya melihat ke bawah. Di dekat gerbang sana, banyak sekali anggota Serigala Tengah Malam yang sudah berdiri dalam keadaan rapi. Seperti barisan militer.


Tubuh mereka tak bergerak seperti arca. Dapat ia lihat orang yang bernama Bo Tsunji dan Yu Fei itu berdiri di depan gerbang yang terbuka.


Setelah menunggu beberapa saat, mulutnya berseru, "Itu Topeng emas! Ketua Serigala Tengah Malam!!"


Ia amati sekali lagi bahkan kini dia menggosok-gosok matanya, khawatir jika salah lihat. Tapi orang yang baru masuk dengan iring-iringan puluhan orang itu memang benar si topeng emas yang sama seperti pada malam itu. Topeng emas dengan hiasan batu zamrud di dahinya.


Begitu orang ini masuk, serentak semua orang berlutut penuh hormat. Kecuali Bo Tsunji, Yu Fei dan rombongan puluhan orang pengiring topeng emas itu. Mereka mengantar topeng emas ke satu bangunan.


"Kebetulan sekali, ini berbahaya, tapi aku harus tahu siapa wajah di balik topeng itu. Apa hubungannya dengan pangeran Chang Song Ci si pengkhianat, semua harus kuketahui di sini!"

__ADS_1


Sebelum tubuhnya bergerak, tiba-tiba dia melirik ke bangunan gudang tempat di mana tadi dia bersembunyi. Sung Han tersenyum kecil, "Sepertinya aku harus melakukan itu lagi untuk ke dua kalinya. Ah...bukan, maksudku ketiga kalinya."


...****************...


Topeng emas itu dibawa ke ruangan pertemuan markas ini yang ukurannya cukup luas. Dengan meja berderet panjang yang saling beehadapan, benar-benar seperti ruangan rapat.


Rombongan yang tadi mengiringi kepergiannya mulai merapatkan diri pada sisi-sisi ruangan. Berdiri diam seperti arca, tak bergerak bahkan ketika bernapas pun dada mereka seperti tak bergerak.


Ketika topeng emas duduk di salah satu kursi, Bo Tsunji dan Yu Fei masih tetap berdiri.


"Bagaimana? Lancar?" Topeng emas itu bukan suara.


"Lancar tuan." kata Yu Fei.


"Kurang lancar." kata Bo Tsunji.


"Siapa yang benar?" tanya topeng emas itu lagi yang menjadi bingung juga.


"Saya tuan." jawab keduanya bersamaan. Kembali dua orang itu saling pandang dengan tajam.


"Yu Fei, jelaskan!" perintah ketua mereka si topeng emas itu.


Yu Fei mengangguk singkat dan mulai menjelaskan situasinya, "Putri Chang Song Zhu dan pengawalnya berhasil ditangkap sejak seminggu lalu tuan. Saat ini sedang ditahan."


Topeng emas itu mengangguk, lalu menoleh ke arah Bo Tsunji dan mengatakan pertanyaan yang sama. Pria itu menjawab.


"Tapi selama seminggu ini, putri itu terus keras kepala tak mau menulis pengakuan pemberontakan sesuai perintah anda. Juga pengawalnya, kalau saja tidak ada Naga Bertanduk, gadis liar itu pasti sudah membikin ulah." kata Bo Tsunji geram, "Dia pendekar sejati." katanya menambahkan.


Topeng emas itu terhenyak kaget sambil mencengkeram bantalan kursinya. Dia berkata cepat-cepat, "Kalau begitu pakai cara apapun untuk menarik dia ke sisi kita. Naga Bertanduk merupakan pendekar sejati yang amat besar bantuannya bagi kita, jika ditambah seorang lagi bukankah tambah untung?"

__ADS_1


"Tapi sebelum itu...heheh...." topeng emas itu mendesis aneh, "Bukankah kedatanganku ke mari untuk menjumpainya? Sudah dipastikan jalan menuju kota Daun aman, sebelum berangkat, aku akan bersenang-senang dengannya lebih dulu."


"Jika begitu, kiranya akan semakin sulit untuk menariknya ke sisi kita."


"Pakai racun perampas ingatan!"


Bo Tsunji mengangguk dan berkata lagi, "Kalau begitu tak masalah, Naga Bertanduk sudah meminumkan pil racun pengekang hawa saktinya, sehingga dia tak lebih dari manusia biasa saat ini. Tuan bisa dengan mudah melakukannya."


"Bagus, hahahaha!!!"


Bo Tsunji berkata lagi, kali ini sambil menyerahkan sebatang pedang yang tadi berada di pinggangnya, "Tuan, kami juga menangkap orang yang malam itu mengacau. Sayang sekali hanya berhasil kurampas pedangnya, sedangkan orang itu sudah kabur."


Topeng emas kembali terkejut melihat pedang itu, dan dia cepat-cepat mengambilnya lalu mencabut bilahnya.


"Ini, benar-benar sama persis seperti di malam itu." gumamnya penuh rasa takjub dan tidak percaya.


"Walaupun lolos, tapi jangan khawatir karena kami sudah menghafal wajahnya. Sehingga saat ini akan lebih mudah mencarinya." kata Yu Fei yang terus diam sejak tadi.


Topeng emas kembali tertawa menggelegar, kali ini benar-benar hari beruntung, pikirnya. Ia bangkit dan meminta keduanya mengantar ke tempat Sung Hwa dan Chang Song Zhu berada. Sebelumnya dia sudah meminta untuk membawakan secarik kertas lengkap dengan tinta untuk membuat putri itu menulis surat pengakuan.


Saat di tengah-tengah perjalanan, dia membuka topengnya dan menghela napas, bagaimana pun menggunakan topemg terus menerus membuat dia merasa pengap dan tak nyaman.


Saat itu, tanpa disadari siapa pun, seorang di antara tujuh orang bertopeng itu terhenyak kaget begitu melihat wajah di balik topeng itu. Hampir ia menjerit jika tidak ingat sekarang berada di mana.


"Keparat satu ini....." batin sosok itu yang bukan lain adalah Sung Han.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2