
Memang agaknya sudah jadi watak para pendekar, setiap kali ada kejanggalan atau keanehan atau kejahatan dan kelaliman, tangan mereka tentu gatal-gatal jika tak ikut andil. Demikianlah sifat orang-orang gagah.
Begitu pula dengan belasan orang yang mendengar cerita sepasang kekasih beranak itu, mereka sudah merasa penasaran dan marah sekali betapa ada seekor siluman yang menjadi penjaga pohon raksasa di tengah-tengah ladang rumput. Tak ada yang percaya dengan siluman di antara mereka, namun mereka menganggap pastilah ada orang sakti yang berperilaku jahat bagaikan siluman.
Setelah kedatangan Gu Ren, ketua Naga Hitam, semangat mereka berkobar dan tanpa ragu lagi belasan orang itu berangkat menuju ladang rumput yang tak seberapa jauh itu. Dipimpin oleh sepasang kekasih yang hendak merebut kembali anak mereka itu, berangkatlah mereka dengan sikap bagaikan pasukan perang.
Gu Ren pun berpikiran sama seperti yang lain-lain, dia beranggapan tentulah siluman itu merupakan seorang sakti yang menjadi penjaga pohon tersebut. Mana ada siluman?!
Ternyata perjalanan itu sungguhpun dekat, namun tidak terlalu dekat juga. Harus melewati satu bukit kecil dan menuruni jalan yang cukup curam, barulah mereka sampai di ladang rumput luas lereng pegunungan.
Keadaan di sana amat sunyinya, angin semilir berhembus menggerakkan rumput-rumput yang membuat hamparan padang itu seolah bergelombang bagai ombak lautan. Bunga alang-alang yang berwarna putih itu berterbangan terbawa angin siang hari, suara burung mencicit terdengar di sana-sini menambah tenang suasana. Sungguh tempat ini cocok sekali untuk menenangkan diri.
"Di sana itu tempatnya." kata si pemuda menunjuk sebuah titik hitam di kejauhan, kiranya itu adalah pohon besar yang menjadi tempat bersemayamnya siluman itu.
Mereka semua memandang penuh perhatian, ketika sampai barulah terasa oleh mereka betapa tegang keadaan saat ini. Membayangkan adanya silmuan itu, tanpa terasa bulu kuduk mereka meremang dan mereka bergidik. Tak terkecuali Gu Ren sendiri.
"Apa yang kalian takutkan?!" bentak Gu Ren menyadarkan semuanya. "Bukankah sudah terang bahwasannya di sana hanyalah seorang manusia sombong kekanakan yang main sandiwara sebagai siluman?!"
Mendengar teriakan ini, sedikit demi sedikit lenyaplah rasa gentar di hati mereka semua. Api semangat yang tadinya mulai padam kembali berkobar-kobar, mereka berseru-seru panjang pendek.
"Benar!"
"Basmi pengacau!"
"Hanya manusia pengecut yang tak mau mengakui nama sendiri! Bersembunyi di balik kedok siluman!"
__ADS_1
Si pemuda dan wanita saling pandang dan mengangguk bersamaan. Kemudian si wanita menggenggam tangan si pria dan menoleh ke belakang, "Marilah, biar kami berjalan di depan." tanpa menunggu jawaban lagi melangkahlah dua orang ini ke tengah padang rumput itu.
Gu Ren yang khawatir akan bahaya, lekas melangkah maju di samping si pemuda. Tindakannya diikuti seorang lainnya yang segera berjalan di samping kiri si wanita. Maka berangkatlah belasan orang itu ke pohon besar jauh di sana dengan perasaan tegang.
Setelah lama berjalan, kiranya mereka baru mencapai seperempat bagian dari padang rumput luas ini. Sampai di sini hati mereka sedikit lega karena tak merasakan adanya jebakan atau sihir siluman yang mengganggu.
Semua berpikir demikian ketika sepasang kekasih itu berseru nyaring. "Lompat!"
Karena masih bingung, banyak dari mereka yang tak menghiaruakan seruan ini. Namun ada juga yang refleks melompat ketika dirasanya dari bawah ada getaran-getaran aneh.
"Lompat menjauh!!"
Sekali ini teriakan Gu Ren amat berpengaruh. Banyak dari mereka melompat dan...
"Boommm!!"
Ketika telah mendarat, kiranya jebakan tak hanya berhenti sampai di sana. Ternyata setelah kaki masing-masing menginjak tanah, bukan tanah yang diinjak, melainkan sesuatu yang lunak dan lengket. Serentak mereka memandang ke bawah dan terkejutlah hati semua orang.
"Wuahhh!!"
"Badanku masuk ke dalam!!!"
Kiranya itu adalah lumpur hidup! Lumpur itu bergerak-gerak secara aneh ketika badan korbannya bergerak. Makin bergerak makin terhisaplah tubuh mereka. Dan ini membuat mereka panik dan makin banyak bergerak.
"Ugh...sial!" keluh Gu Ren dengan jengkel.
__ADS_1
"Wuahhh, ulaaarr!!" seru seorang yang berada sedikit jauh dari rombongan. Ketika semua orang menengok, kiranya orang itu telah dililit ular besar. Orang itu meronta, namun daya hisap lumpur hidup itu makin kuat dan sebenatar saja hanya dada ke atas yang masih berada di atas tanah.
"Sialann!!" umpat Gu Ren yang juga tiba-tiba muncul ular dari dalam lumpur itu. Cepat ia kerahkan tenaganya dan memukul-mukul kepala ular dengan kepalan tangan. Tindakan ini diikuti oleh semua orang yang segera terbebas dari cengkeram mulut-mulut ular.
Namun karena gerakan melawan ini, tubuh mereka makin terhisap ke dalam. Untuk Gu Ren, orang ini cepat mengerahkan tenaga di kakinya dan menggunakan ilmu meringankan tubuh sehingga bobotnya menjadi jauh lebih ringan. Daya hisap itu melemah dan kesempatan ini digunakan olehnya untuk menjejak bagian dalam lumpur dan melompat naik.
Setelah sedikit usaha dengan tiga kali lompatan, akhirnya dia berhasil mengeluarkan tubuhnya. Hanya sampai sebatas betisnya lumpur itu. Tiba-tiba dia teringat akan keadaan sepasang kekasih. Ketika menengok kiranya mereka sudah lenyap.
"Celaka!"
Namun baru saja dia hendak pergi mencari, ternyata nampak bayngan berkelebat cepat sekali disusul terlempar-lemparnya orang di dalam lumpur hidup. Kiranya sepasang kekasih itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga dapat bergerak secepat itu dan menolong mereka semua.
Gu Ren merasa heran mengapa dua orang itu tak ikut terhisap sungguhpun kakinya masih memijak tanah. Setelah diperhatikan, ternyata dua orang ini memijak di bagian tanah keras sehingga tak ikut terhisap. Karena itulah mereka mampu menyelamatkan yang lainnya.
"Terima kasih, ternyata umurku masih panjang." keluh salah seorang sambil rebah terengah-engah di atas tanah.
Tak ada yang mati dalam kejadian ini, namun mereka semakin percaya akan adanya siluman di pohon itu. Pasti lumpur itu adalah akibat sihir si siluman. Seperti itulah pikiran mereka.
Gu Ren memandang sekeliling dan bersyukur tak ada yang mati. Kemudian dia menghampiri dua orang kekasih dan berkata, "Kalian berdua, bisakah memimpin jalan lagi? Agaknya kalian sudah tahu mana jalan keras dan mana lumpur hisap."
Si lelaki mengangguk, "Kami cukup sering lewat jalan di sebelah pinggir ini, sehingga hafal dengan letak lumpur hidup ini dan jalan yang keras. Namun di sebelah tengah itu...." katanya menunjuk ke tengah padang, "Baru sekali kami lewat sana dan anak kami kena tangkap siluman."
"Kalau begitu kami semua harus merepotkan kalian." Gu Ren berkata dan mempersilahkan keduanya mulai berjalan memimpin. Diikuti oleh belasan orang lainnya, hati mereka makin tegang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG