Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 174 – Perpisahan


__ADS_3

Walau tak cukup lama, namun tidak juga bisa dianggap sebentar. Sung Han dan Yang Ruan telah melakukan perjalanan berdua selama berminggu-minggu. Dan anggap saja itu sudah cukup lama.


Selama itu, Sung Han mendapat kenyataan betapa seru dan menyenangkannya mempunyai teman seperjalanan. Dia mempunyai kawan bicara, teman yang selalu bisa diandalkan untuk saling bahu-membahu jika terancam bahaya, juga teman ribut yang menambah ramai suasana.


Sung Han merasa betapa melakukan perjalanan bersama gadis ini demikian menyenangkan hingga tanpa sadar dia mulai tertarik dengan Yang Ruan. Hatinya merasa amat suka sekali kepada gadis itu yang pendiam dan sedikit bicara. Namun sekali bicara bisa sampai lusinan atau bahkan puluhan kalimat. Sikapnya yang anggun itu sedikit banyak juga memengaruhi dirinya.


Sebagai contoh ketika makan. Sebelumnya selama Sung Han melakukan perjalanan seorang diri saja, ketika dia mau makan tinggal makan, kalau mau minum tinggal minum, semuanya dilakukan sesukanya. Namun dengan adanya Yang Ruan, gadis itu akan ngambek bila rasa daging kelinci atau ayam hutan yang dimakan hambar tanpa rasa. Dia selalu memaksa Sung Han mencari bumbu-bumbu di hutan yang nanti akan digunakan gadis itu untuk menambah cita rasa masakan.


Bahkan seorang Sung Han pun diajari tata cara makan. Sebelumnya jika dia hendak makan, langsung main gigit sana gigit sini sampai habis lalu bakar tulangnya. Seadanya Yang Ruan, cara makan Sung Han lebih teratur dan sopan untuk seukuran pendekar pengembara sepertinya.


Karena itulah tak heran jika dia merasa amat betah dan nyaman sekali terus berdekatan dengan gadis ini. Memang sebelumnya dia sendiri yang berkata kepada Yang Ruan untuk mencari tempat sembunyi karena dia tak ingin gadis ini terlibat dalam pertempurannya melawan Kay Su Tek. Namun kali ini, entah kenapa dia ingin terus-terusan Yang Ruan ikut bersamanya! Ke mana pun itu!


"Yang Ruan, kau jangan bercanda! Aku yakin dengan pimpinan Kay Su Tek, sangat sedikit orang yang di bawah kekuasaannya berani mengganggu seujung rambutmu. Namun, apa kau lupa dengan Serigala Tengah Malam?" Sung Han berkata cemas, memandangi wajah gadis itu yang sama sekali tak nampak perubahan, "Mereka lebih dulu menjagoi dunia hitam persilatan! Banyak perkumpulan sesat yang berada di bawah naungannya, dan belum juga mau tunduk dengan ketua baru yaitu Kay Su Tek."


"Aku tidak takut!! Kalau perlu akan kuhajar mereka. Bukankah mereka itu termasuk dalam musuh-musuhmu?" kata Yang Ruan berapi-api. Dia ini amatlah membenci dengan yang namanya Serigala Tengah Malam. Perkumpulan yang selalu berusaha mencelakakan Sung Han, "Selama perjalananku, aku Ratu Elang akan selalu menentang mereka!!"


"Bukankah kau harus bersembunyi?! Perebutan lima pusaka keramat bukan urusan remeh, bukan sekedar urusan rebutan mainan anak kecil! Ini bisa menjadi pertumpahan darah, kau lihat Kay Su Tek telah bergabung bahkan menjadi pemimpin seluruh golongan hitam. Itu artinya golongan hitam terpecah menjadi dua, golongan Kay Su Tek dan Serigala Tengah Malam!"


Sung Han menghela napas beberapa kali, kemudian melanjutkan lagi, "Rajawali Putih dan Naga Hitam serta Nie Chi telah mewarisi pusaka itu pula?"


"Siapa yang menjadi pewaris dari Rajawali Putih? Dan siapa Nie Chi?"


"Kau tak kenal dengan Pendekar Tongkat Besi dan Pendekar Pedang Darah? Mereka berdua itulah orangnya. Nie Chi telah mewarisi tongkat besi dari Topeng Kuning, sedangkan Pendekar Pedang Darah, yang katanya bernama Khuang Peng, mewarisi pusaka Topeng Merah. Mereka merupakan orang-orang dengan latar belakang kuat!"


"Nie Chi itu, dia tak seperti Gu Ren, Kay Su Tek dan Khuang Peng. Dia pendekar bebas sepertimu. Apa dia bergabung dalam suatu partai?" bantah Yang Ruan.

__ADS_1


Sung Han menggeleng, "Memang benar dia tak bergabung dengan partai manapun, namun dia menggabungkan diri dengan pemerintah bersama Naga Hitam dan Rajawali Putih! Itu merupakan kekuatan yang tidak lemah!"


Yang Ruan memandang dengan kening berkerut, matanya menyinarkan sorot tajam. "Lalu, apa hubungannya denganku?"


Sung Han menjadi gemas sendiri. Dia cepat maju untuk memegang kedua pundak gadis tersebut, "Dengar Yang Ruan, kau telah pergi bersamaku selama beberapa waktu, dan Serigala Tengah Malam telah mengetahui. Mereka pun mengetahui aku adalah pewaris Pedang Gerhana Matahari. Jika orang kenal dirimu yang merupakan Ratu Elang, seorang yang pernah dekat dengan aku, apa kau pikir kau akan aman? Aku tak seperti mereka itu, di belakangku tak ada kekuatan besar yang bisa diandalkan!"


Yang Ruan menepis tangan Sung Han, "Biar, aku tak takut! Kalau begitu makin besar keinginanku untuk tidak bersembunyi!"


"Kalau begitu kau tak perlu pergi, aku tak keberatan terus melakukan perjalanan bersama ini."


"Tidak, aku hanya jadi beban selama ini." Yang Ruan berkata sambil bergerak mundur-mundur, "Maafkan aku Sung Han, namun kita harus berpisah di sini. Tapi jangan khawatir, aku Yang Ruan, Ratu Elang akan selalu berada di pihakmu. Semoga kita bisa berjumpa di lain kesempatan dalam keadaan lebih baik. Aku pamit."


Tanpa menanti jawaban lagi, Yang Ruan membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana secepat kilat. Gerakannya gesit sekali dan sebentar saja lenyaplah bayangannya dari sana.


Akan tetapi sebagai pendekar, dia tak mau larut dalam kesedihannya dan menguatkan hatinya. Dia berharap Yang Ruan terus dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun juga.


Dia mengeraskan hati dan pikirannya, kemudian memilih pergi ke arah sebaliknya dari yang dituju Yang Ruan sebelumnya. Tujuannya adalah ke markas Pedang Hitam yang dijadikan sebagai markas kaum sesat daratan utara Chang. Yang dipimpin oleh Kay Su Tek sendiri.


Tujuannya adalah bertemu dengan Kay Su Tek, untuk memperingatkannya dan kalau perlu menantangnya. Sebelum dia dan Kay Su Tek benar-benar menjadi seorang musuh, lebih dulu dia hendak memberi peringatan terakhir kepada orang itu. Bukan sebagai seorang yang memperebutkan Yang Ruan, bukan sebagai seorang pewaris pedang gerhana, namun sebagai seorang sahabat.


"Kau Su Tek, kau harus dihentikan!"


...****************...


Waktu itu, pada siang hari Kay Su Tek kedatangan seorang tamu utusan yang entah berasal dari mana. Pakaiannya hitam-hitam dengan rambut yang terurai lepas. Dia mengenakan pakaian ringkas khas seorang yang berasal dari dunia persilatan.

__ADS_1


Kedatangannya membingungkan dan menjerikan hati lawan karena begitu tiba, dia hanya berkata.


"Aku ingin bertemu dengan ketua kalian."


Setelahnya hanya diam saja. Begitu ditanya siapa dia dan mau apa datang ke mari, dia terus bungkam tanpa menjawab sepatah kata pun.


Orang ini sudah tua, sudah kakek-kakek, namun sikapnya masih gagah selayaknya orang-orang muda. Matanya mencorong menggetarkan hati lawan, dan sikap berdirinya itu demikian kokoh bagaikan sebuah batu karang penghancur ombak lautan.


Dia ini bukan lain adalah seorang kakek yang berjuluk Burung Walet Hitam. Yang sebelumnya sudah pernah muncul sekali untuk menangkap Nie Chi bersama Khuang Peng.


Dia datang ke tempat markas Pedang Hitam ini untuk menyampaikan pesan ketuanya agar ketua perkumpulan sesat itu mau datang ke tempatnya sebagai sahabat.


Pangeran Chang Song Ci telah merencanakan sesuatu dengan bantuan Kay Su Tek. Dia memang amat licik, menggunakan seorang musuh yang masih segolongan untuk membantu mencapai cita-citanya.


"Kau mau apa kakek tua??!" bentak salah seorang tak sabar dan dia mengayunkan tongkatnya.


Sekali kakek ini menggerakkan tangan, tongkat itu patah-patah menjadi tiga disusul suara pekik nyaring ketika tulang leher orang itu patah.


"Kraakkk..."


"Aku ingin bertemu ketua kalian!" ucapnya lagi namun kali ini dalam suaranya, terkandung hawa sakti yang lebih kuat dari tenaga dalam. Tujuh orang penjaga gerbang itu pingsan seketika. Tubuh mereka malang melintang di tengah jalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2