
Itu merupakan rencana dari pangeran Chang Song Ci. Entah bagaimana dia menyusun siasat hingga berhasil cukup baik seperti itu. Walaupun tidak bisa dibilang mulus seperti rencana awal, namun ini sudah cukup baik.
Garis besar daripada siasat pangeran adalah, untuk menghilangkan saingannya terlebih dahulu. Dia tidak mau asal bergerak untuk menyerbu istana kota raja karena hal itu sama dengan bunuh diri. Jika hal itu dilakukan, maka kesaksian putri Chang Song Zhu ketika dia mengajak wanita itu memberontak, bisa dianggap kenyataan karena sudah terdapat bukti. Selama ini pangeran itu aman karena tidak adanya bukti kejadian pada hari itu.
Dan sebagai bagian dari rencana menyingkirkan sang putri, bukan berarti dia hendak asal turun tangan membunuh putri itu. Melainkan memfitnahnya dengan berbagai cara agar putri itu dianggap pemberontak dan suatu saat dia sendiri yang membuat jasa melenyapkan Chang Song Zhu.
Kaisar Chang Song Bian marah bukan main mengetahui siapa sosok sebenarnya di balik topeng emas itu. Sebelumnya putrinya itu pernah bilang jika topeng emas adalah pangeran Chang Song Ci, namun kaisar tidak percaya karena tak ada bukti.
Akan tetapi karena yang bicara sang putri, banyak orang istana yang memercayai akan hal tersebut. Namun tetap saja mereka tak bisa bergerak.
Dan kini mengetahui siapa orang sebenarnya di balik topeng emas itu, banyak yang sudah mulai meragukan sang putri Chang Song Zhu. Walau masih cukup banyak yang percaya.
Mereka semua tidak tahu betapa sosok di balik topeng itu adalah palsu belaka, dan yang asli masih tetap menyembunyikan diri sendiri.
Karena dia adalah putri, maka sekali ini kaisar mengampuninya. Namun disertai dengan ancaman keras. Sang putri tak berani membantah, dia hanya sanggup menerimanya.
Kebetulan sekali, pada saat terjadi kegemparan di daerah utara dengan "kebohongan" sang putri, di selatan bukan berarti sedang santai-santai saja.
Di daratan selatan kekaisaran Chang, sedang terjadi ketegangan yang luar biasa tegang. Lebih tegang dari sebelum-sebelumnya. Hal itu dikarenakan kekaisaran Jeiji berhenti melakukan penyerangan dan pengacauan.
Jenderal Hong Ciu menyebar mata-matanya ke segenap penjuru guna menyelidiki hal ini. Namun hasilnya nihil, kalau tidak penyelidik itu hilang, pastilah pulang dalam keadaan tidak waras.
Hal ini tentu saja membuat ketegangan hebat. Kekaisaran Jeiji yang biasanya agresif itu, sekali ini diam seolah mereka tidak memiliki niat untuk mengganggu.
Dan memang demikianlah, pangeran Daijin Nakagi memerintahkan anak buahnya untuk berhenti melakukan pergerakan sementara waktu. Sedangkan dia sendiri menyiapkan pasukan besar untuk menuju ke dataran utara melalui jalur laut.
"Sudah pasti dapat dikonfirmasi paduka, mata-mata kita yang pergi beberapa bulan lalu sudah kembali dan membawa bukti-buktinya."
Daijin Nakagi, sosok pria tiga puluhan tahun yang cukup tampan itu menghentikan alat tulisnya. "Suruh dia masuk dan perlihatkan padaku bukti-bukti itu."
"Baik."
Tak berselang lama, masuklah seorang samurai lain yang membawa sebuah kotak kecil dari kayu.
"Mana bukti itu?"
__ADS_1
"Ini paduka, saya sudah mengambilnya." dia berkata seraya menyerahkan kota kecil itu.
Daijin Nakagi membukanya, dia melihat ke dalam. Nampak air yang cukup jernih berada dalam kotak itu. Namun matanya seketika berbinar begitu melihat benda-benda mirip pasir yang berkilauan.
"Dari mana kau dapatkan ini?"
"Dari sungai yang dekat dengan goa itu, sungai yang menuju ke pantai utara."
"Jadi, benar-benar nyata akan keberadaan goa itu?" pangeran ini nampak girang sekali. Ia mengambil segenggam pasir-pasir berkilau itu dan mengangkatnya tinggi, "Ini benar-benar asli...."
"Saya melihatnya sendiri tuan, walau belum pernah masuk ke sana, namun sungai yang berasal dari dalam goa itu sudah membuktikan semuanya."
Pangeran itu mengerutkan kening, dia memasukkan kembali pasir-pasir berkilau itu ke dalam wadah, "Kau belum masuk? Memangnya ada apa?" tanyanya penuh selidik.
Mendengar pertanyaan ini, wajah pelapor ini pucat seketika dan berdirinya menjadi tidak tenang. Nampak gelisah. Tentu saja hal ini membingungkan pangeran itu beserta satu samurai lain yang tadi menyuruhnya masuk.
"Ada apa?" tegur pangeran itu.
"Paduka....sebenarnya....saya tidak mau membicarakan hal ini kepada siapapun kecuali jika paduka bertanya. Bahkan saya pun tak ada niat untuk memberitahukan paduka. Namun paduka sudah bertanya, maka saya tak ada pilihan lain." kata orang itu setengah gagap dan takut-takut.
Samurai itu menghela napas panjang, lalu dia mulai menanggalkan zirah atasnya satu-satu. Ketika semua pakaian besi itu sudah terlepas, ia buka jubah kainnya sambil berbalik membelakangi pangeran.
Daijin Nakagi, yang melihat punggung orang itu, terbelalak dan wajahnya pucat seketika. Bahkan tangannya yang tadi memegang kotak kayu berisi air dan pasir berkilau, terlepas dan semua isinya tumpah ruah.
Seorang samurai lain yang melihat punggung itu tak mampu berdiri tegak lagi. Bahkan orang ini sampai jatuh terduduk.
"Inilah akibatnya ketika saya mencoba untuk memasuki goa itu. Beruntung dia masih sudi membiarkan saya lolos." kata samurai yang melapor itu dengan takut-takut.
"C-ceritakan sejelasnya!" pinta Daijin Nakagi.
Di goa tempat penyelidikannya itu, terdapat seorang penjaga yang menyeramkan sekali bentuknya. Bahkan dia sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana wujud asli dari orang itu. Hanya melihat ada peti hitam tebal yang pandai terbang.
"Luka ini dibuat ketika saya sudah hendak pergi dan dihadang penjaga itu. Dia berkata, katakan pada tuanmu, bahwa aku Tok Ciauw Iblis Peti Goa Emas, memperingatkanmu untuk jangan pernah berani menginjakkan kaki di sini!!" orang ini berhenti sejenak karena seluruh tubuhnya bergidik, "Dia amat menyeramkan. Selalu bersembunyi di dalam petinya. Sekali dia keluar entah bagaimana luka ini tercipta dan saya jatuh pingsan."
Pangeran Daijin Nakagi memerhatikan luka itu lekat-lekat. Sebuah luka seperti luka tebasan pedang yang amat dalam, namun sudah mengering. Berwarna hitam kemerahan, dengan kulit sekelilingnya sedikit melepuh. Luka yang mengerikan.
__ADS_1
"Tok....Ciauw....?" pangeran itu nampak tidak asing dengan nama ini. Dia terlihat mengingat-ingat.
Lalu tiba-tiba berseru nyaring, "Ahh, bukankah dia itu seorang pendekar besar yang hidup di masa Shuji? Penempa pedang terhebat sepanjang masa dari kekaisaran Jeiji, seorang ahli pedang yang telah menciptakan Sepasang Pedang Gerhana!!"
Dua orang samurai itu makin pucat wajahnya.
...****************...
"Sung Han!"
"Hm...?" pemuda ini menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh. Memandang heran kepada gadis cantik jubah putih lengkap dengan cadarnya itu.
"Sepertinya sudah cukup sampai di sini." kata gadis itu dengan napas yang sedikit tersenggal-senggal. Bagaimanapun juga ilmu meringankan tubuhnya belumlah setinggi Sung Han.
"Cukup apanya maksudmu? Jelaskan sejelasnya!"
Dari tarikan matanya, Sung Han sadar gadis itu sedang memasang seutas senyum. Tak terasa dia tak berkedip memandangnya. Sungguh wajah gadis ini amatlah mempesona.
"Jangan coba menggodaku! Itu tak akan mempan!" sarkas Sung Han yang sejatinya sudah hampir goyah batinnya.
Seketika mulut gadis itu cemberut dan Sung Han juga menyadari ini. Tatapan matanya menajam. Namun hanya sekejap saja sebelum menghela napas beberapa kali dan tersenyum lagi.
"Kau tak perlu menemaniku lagi, itu hanya merepotkan dirimu saja."
Sung Han terbelalak, seketika dia terkejut, "kau sama sekali tidak nerepotkanku!" bantah Sung Han.
Yang Ruan menggelengkan kepalanya, "Tidak, itu tidak benar. Aku benar-benar merepotkanmu dan hanya menjadi pengganggu bagimu. Lebih dari itu, aku hanya beban."
Keduanya lalu terdiam beberapa lamanya, hanya pandangan mereka yang saling bertaut untuk waktu yang tidak sebentar. Hari sudah menjelang senja dan cahaya matahari sudah kemerahan, keadaan di tempat itu mulai remang-remang.
"Apa yang hendak kau lakukan mulai dari sini?"
"Entahlah, aku akan pergi sendiri mencari tempat sembunyi. Kau tak perlu memusingkan diriku lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG