Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 249 – Keluar Goa


__ADS_3

"Sudah semua?"


Sung Han menoleh untuk menemukan istrinya yang memasukkan beberapa barang ke dalam buntalan pakaiannya. Dia sedikit mengeluh dalam hati mengapa semenjak menjadi seorang istri, wanita itu terkesan terlalu memerhatikan alat riasnya. Dia juga sering merasa cemburu saat riasan Sung Hwa terlalu tebal, hingga tak jarang mereka harus ribut lebih dulu ketika hendak membeli makanan di desa terdekat.


Sama halnya seperti hari ini, mereka hendak berangkat untuk pergi ke benteng bekas Serigala Tengah Malam menemui tuan putri sesuai janji mereka kepada Gu Ren. Namun, menurut pandangan Sung Han, isi buntalan itu lebih banyak alat rias daripada makanan atau pakaian.


"Sudah!" ujar Sung Hwa sambil tersenyum ketika dia sudah berada di depan Sung Han. Buntalan itu terlalu besar bahkan untuk para pengungsi. "Ayo jalan."


Sung Han memandang dengan tatapan aneh. "Apa isi tasmu?"


"Makanan, pakaian, dan beberapa alat rias. Tentu saja uang juga kumasukkan. Sedangkan pedang gerhana kusisipkan di balik jubah," katanya seraya menyingkapkan jubahnya sedikit. Menampakkan gagang pedang gerhana menyembul di balik dadanya.


"Oh, benarkah? Kupikir alat riasmu yang kebanyakan. Juga, apa tak ada tempat lain untuk menyimpan pedang selain di sana?" nada suara Sung Han mulai tak enak.


Sung Hwa cemberut. "Aku bawa alat rias kan juga demi dirimu. Untuk pedang ini, tak akan ada yang mengira bahwa aku membawa pedang. Memang kausimpan pedangmu di mana?"


"Di sini, seperti biasa," Sung Han menyingkapkan lengan lebarnya dan tampak Pedang Gerhana Matahari yang diikat pada tangannya. "Kalau mau mengambil, mudah saja. Tinggal lekukkan tanganku dan menarik. Tak seperti dirimu yang seperti ingin menggoda orang."


"Apa sih? Aku ini istrimu!"


"Kalau istriku kenapa bawa rias yang banyak sekali? Kita ini pendekar tahu, tak terlalu mementingkan soal penampilan!" sergah Sung Han tajam.


Sung Hwa memalingkan muka, lalu berjalan melewati Sung Han dengan sikap acuh. Dalam hati dia membatin. Padahal aku ingin tampil cantik di depanmu, selalu saja disalah artikan.


"Ayo cepat, ini sudah siang," Sung Hwa berkata ketus.


Sung Han hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kelakuan istrinya. Sayang sih sayang, cinta sih cinta, namun kadang sikap menyebalkannya itu yang membuat ia ingin menampar bibir manisnya.


Sabar ....

__ADS_1


...****************...


Pada hari kedua, mereka akhirnya tiba di salah satu desa yang cukup padat. Tentu saja perhatian orang-orang segera teralihkan kepada sepasang suami istri muda ini. Yang satu wajahnya tak kelihatan, sedangkan yang satu lagi berjalan penuh percaya diri dengan mulut tersenyum.


Sung Hwa meneguk ludah ketika dirasanya tatapan intimidasi dari samping.


"Aku tak berniat menggoda orang kok," gumamnya lirih dengan senyum kecut. "Sungguh ...."


Mereka tiba di salah satu warung nasi makan di sana. Sekalian menghemat perbekalan, mereka makan sekenyangnya agar tidak kelaparan sampai malam nanti.


Setelah selesai membayar, seluruh penghuni warung dikejutkan dengan kehebohan warga di luar kedai. Mereka berteriak-teriak panik dan berlari ke rumah masing-masing. Jalanan makin padat dengan kericuhan itu.


Satu orang memasuki kedai dan berteriak. "Orang-orang brengsek itu kembali lagi. Sembunyi!! Selamatkan istri dan putri-putri kalian!!"


Warung itu menjadi semakin ribut. Ketika sebelumnya orang-orang sudah menduga akan hal itu, semakin panik ketika mendapat kepastian dari seorang yang berteriak itu. Mereka berlari-larian tak tentu arah. Ada yang seenaknya masuk ke ruang dalam, ada yang lompat dari jendela, sembunyi di bawah meja sebelum lari ke luar. Intinya, dalam waktu singkat warung nasi itu kosong melompong menyisakan Sung Han dan Sung Hwa juga pemilik warung yang baru saja menyelesaikan pembayaran.


"Paman, ada apakah?" tanya Sung Han.


"Paman?" panggil Sung Han sekali lagi.


"Mereka ... mereka ... akhir-akhir ini selalu mengacau desa sekitar. Menjarah dan mengambil wanita-wania kami ...."


Sung Han dan Sung Hwa makin penasaran mendengar penjelasan tidak jelas itu. Mereka siapa yang dimaksud?


"Mereka siapa?" Sung Hwa bertanya. Nadanya mendesak dengan mata mendelik. "Cepat katakan!"


"Entah, kami tak tahu dari mana mereka berasal. Namun banyak yang membawa pedang lengkung–waaa, mereka datang! Cepat sembunyi!"


Namjn terlambat sudah, tepat ketika perkataan ini selesai, terdengar derap langkah kaki kuda yang berhenti di depan warung tersebut. Beberapa orang turun dari kuda dan memasuki warung. Sung Han dan Sung Hwa seketika merasa tidak senang hanya dengan melihat wajah mereka. Kasar dan semena-mena.

__ADS_1


"Hahaha, mimpi apa aku semalam? Datang untuk mengenyangkan perut, yang ditemukan justru lain lagi. Bersyukurlah kalian malam ini!"


Terdengar tawa-tawa dari mereka semua setelah mendengar ucapan sang pemimpin itu. Mereka tahu apa maksudnya. Tentu saja wanita cantik dengan sinar mata galak dan buntalan besar itu yang dimaksud. Cantik manis sekali.


Si pemimpin, yang tadi mengeluarkan kata-kata menghina, datang menghampiri Sung Hwa tanpa basa-basi. Sambil senyum-senyum menyebalkan, dia kembali mengeluarkan kalimat kotor.


"Ini suamimu? Katakan padanya apa aku boleh pinjam istrinya selama tiga malam?" bisiknya, namun sengaja dikeraskan.


Kembali terdengar suara tawa anak buahnya. Ini membuat wajah Sung Hwa memerah saking jengkelnya.


"Heh, babi kepala manusia, apa maumu?" bentak Sung Hwa dengan menyentakkan kepalanya, sikapnya menantang sekali. "Tak perlu izin suamiku. Jika kalian mampu membawa aku, satu minggu pun kulayani!"


Giranglah mereka. Terdengar tawa "heh-hah-heh-heh" dengan liur menetes di ujung bibir. Mereka menganggap bahwa wanita itu adalah istri binal yang sama sekali tak penurut terhadap suami. Dan itu memang kesukaan mereka.


Sung Hwa melirik dan sedikit jengkel juga menyaksikan Sung Han yang sama sekali acuh. Bahkan memutar tubuh pun tidak. Masih menghadap meja pemilik warung sambil menurunkan topi capingnya. Sedangkan pria gendut tua pemilik warung itu entah sudah pergi ke mana.


"Itu yang kau mau nyonya manis!" seru pimpinannya dan mencabut pedang diikuti oleh seluruh anak buahnya.


Sekali ini, Sung Hwa tak mau bersikap main-main. Bukan karena waspada kepada musuh yang jelas diremehkannya, namun dengan senjata pimpinan rombongan itu.


Itu adalah pedang katana, pedang kebanggaan para samurai dari Kekaisaran Jeiji. Tak salah lagi, setelah diperhatikan lebih teliti pun, ternyata wajah si pimpinan itu sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Bentuk rahang dan cekungan matanya jelas menunjukkan orang asing.


"Dia orang Jeiji?" batin Sung Hwa bingung. Setelah sekian lama tak menemukan keberadaan mereka, akhirnya kini terbuka kesempatan mendapatkan petunjuk.


Ketika pimpinan menyuruh kedelapan temannya menyerbu, Sung Hwa mendapat akal baik. Sekaligus untuk mengorek informasi dari mereka, juga untuk melampiaskan kejengkelannya kepada Sung Han yang sama sekali acuh.


Dia tersenyum geli membayangkan reaksi pemuda itu nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


*B**ERSAMBUNG*


__ADS_2