Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 142 – Kesaksian Nona Han


__ADS_3

Pertarungan itu demikian seru dan menegangkan. Bahkan mata nona Han sampai silau melihat senjata-senjata dua belas orang itu berkeredapan mengincar bagian mematikan di tubuh Sung Han. Namun pemuda itu sama sekali tidak nampak kerepotan, walaupun gerakannya juga cepat sekali.


Dua orang pengeroyok menyerangnya dari kanan kiri dengan golok terhunus. Sedangkan dari depan menusuk sambaran kilat sebatang pedang mengarah dada.


Sung Han tak menjadi gugup, serangan seperti ini dia pandang sebelah mata. Maka dengan mendengus singkat, dia merentangkan kedua lengan memapaki dua sinar golok yang menyerang dari kanan dan kiri. Sedangkan pedang yang meluncur ke dadanya itu ia biarkan saja mengenai sasaran.


"Trang-trang-trang!"


Tiga kali terdengar suara nyaring dan tiga batang senjata itu buntung seketika saat menyentuh tubuh Sung Han. Yang paling terkejut adalah si pemegang pedang. Dia merasa yakin bahwa pedangnya benar-benar mengenai sasaran, namun akibatnya justru senjatanya sendiri yang terpental.


Mereka semua mengeluarkan seruan kaget bercamput takjub. Nanun sebentar kemudian pengurungan di perketat dan Sung Han mulai makin cepat gerakannya.


Makin lama pertempuran berlangsung, makin banyak dan sering terdengar suara berkerontangan senjata. Selang beberapa menit kemudian, senjata-senjata belasan orang itu sudah buntung semua. Ini membuat mereka merasa jeri dan lari kocar-kacir.


"Ah...!" nona Han mengeluarkan seruan tertahan ketika Sung Han melompat dan mengejar mereka semua. Gerakannya demikian cepatnya sehingga ketika dilihat, seperti orang menghilang saja.


Sebentar kemudian, keadaan di sana menjadi sunyi senyap. Tak ada suara apapun kecuali angin senja yang menggerakkan daun-daun pohon membuat suara berkeresakan. Justru hal ini membuat nona Han merinding dan tanpa sadar jatuh terduduk dengan tubuh lemas.


Dadanya naik turun dengan napas memburu.


"Apakah....apakah...apakah kakak Sung Han yang dimaksud Rajawali Merah sebagai orang lihai?" dia bertanya kepada diri sendiri dan tentu saja tidak mendapat jawaban.


Setelah sadar akan situasinya, buru-buru dia bangkit dan mengambil empat embernya yang tadi dia jatuhkan. Cepat dia kembali ke sungai untuk mengambil air, lalu buru-buru pulang ke rumah.


Karena buru-buru saking ngerinya teringat peristiwa tadi, sehingga selama perjalanan, air-air di ember itu banyak yang terbuang sia-sia. Sehingga begitu mencapai rumahnya, air di ember-ember itu hanya sisa setengah.


Kebetulan saat itu Yang Ruan keluar dari pintu belakang hendak membuang potongan sayur yang tidak dipakai. Ketika dia melihat nona Han yang berwajah pucat, dia menjadi kaget dan bertanya.


"Nona, ada apakah?"

__ADS_1


Akan tetapi nona ini tak menjawab dan cepat menerobos masuk ke dalam rumah. Cepat dia pergi ke ruang depan dan napasnya berhenti sesaat.


"Kakak....Sung Han?"


Pemuda ini menoleh, setengah terkejut karena tadi dia sedang memerhatikan keadaan di luar rumah melalui jendela. Dia tersenyum tipis, "Ah nona Han, ada apa?"


...****************...


Han Fu Ji, dialah nama dari nona Han itu. Sedangkan ibunya bernama Han Lan. Mereka ini merupakan primadona di desa itu karena kecantikan keduanya yang tak tertandingi.


Ayah Han Fu Ji tak pernah pulang ketika beberapa tahun lalu diambil prajurit oleh pihak kekaisaran. Lalu beberapa tahun kemudian, mereka menerima surat bahwasannya ayah kepala keluarga Han itu telah meninggal sebagai patriot. Maka keduanya hidup seorang diri di rumah itu.


Umur Han Lan walaupun sudah menginjak kepala empat, namun kecantikannya sungguh di atas rata-rata. Bahkan jika umur kaisar belum terlalu tua, pastilah dia akan mengambil nyonya Han sebagai salah satu selirnya yang berjumlah belasan itu.


Namun karena kaisar Chang Song Bian agaknya tahu diri, sudah tua dan bau tanah, maka dia hanya mengangkat nona dan nyonya Han sebagai pelayan-pelayan istana.


Namun beberapa hari lalu, nyonya Han lenyap entah ke mana. Lalu kedatangan Rajawali Merah yang melemparkan gelangnya itu, disusul oleh Han Fu Ji yang melihat Sung Han bertanding hebat dengan belasan orang, tentu saja membuat hati gadis itu gelisah dan bingung.


Malam hari itu, Han Fu Ji sama sekali tidak dapat tidur. Matanya terus terbuka sungguhpun sudah ia paksa untuk menutup agar terserang rasa kantuk. Namun begitu teringat akan sepak terjang Sung Han sore tadi, rasa kantuk yang datang menyapa seolah terusir pergi jauh-jauh.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar kalau kakak Sung Han yang dimaksud Rajawali Merah?" Han Fu Ji bangkit duduk dan raut wajahnya menunjukkan tanda tanya besar.


Dia meringkuk di ujung pembaringannya, mepet ke dinding. Jendelanya di buka agar dia dapat melihat bulan malam yang bersinar kuning pucat itu.


"Ibu....bagaimana kabarmu...." tanpa terasa dua titik air mata turun membasahi pipinya. Bagaimana pun juga, dari semua penduduk desa, dialah yang paling khawatir akan keselamatan ibunya. Sungguhpun di hadapan orang-orang, ia pura-pura pasang tampang ceria agar mengurangi kecemasan para warga.


Malam hari itu, karena teringat akan keadaan ibunya, Han Fu Ji yang ceria itu menangis dalam diamnya. Meringkuk di sudut kamar sampai akhirnya tanpa terasa dia tertidur dengan sendirinya.


...****************...

__ADS_1


"Belum ketemu, tak ada petunjuk sama sekali." kata Sung Han yang merasa penasaran dan dipermainkan.


"Bagaimana pun juga, lebih baik menghadapi lawan banyak yang bisa dilihat daripada menghadapi ketegangan seperti ini."


"Musuh ingin mempermainkan kita dan membuat kita larut dalam ketegangan." kata Sung Han kemudian menunjuk ke luar, "Lihat, makin lama kita tinggal di sini, para penduduk nampak makin gelisah. Tidak seperti awal kita datang."


Yang Ruan ikut memandang pula dan dia setuju dengan ucapan Sung Han. Memang melihat wajah-wajah para warga, mereka nampak lebih gelisah dari hari kemarin. Walaupun tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa.


Sedang dua orang itu bercakap-cakap, justru Han Fu Ji duduk diam di tempatnya sambil menundukkan kepala. Kemarin lusa dia melihat aksi Sung Han di hutan yang demikian hebat. Lalu sampai hari ini setiap kali dia mengambil air di sungai, dia sama sekali tidak melihat Sung Han lagi.


Hari ini sudah memasuki senja, tiba-tiba dia bangkit berdiri dan berkata, "Aku....aku akan pergi mengambil air untuk kita."


Tanpa menanti jawaban lagi, dia cepat berbalik dan pergi dari sana dengan berlari.


Yang Ruan dan Sung Han saling pandang dengan kening berkerut. Namun karena Han Fu Ji sudah pergi dan terdengar tertutupnya pintu belakang yang menandakan gadis itu sudah keluar rumah, mereka tak terlalu memedulikan lagi dan lanjut mengobrol.


Sampai beberapa lama mereka hanyut dalam obrolan mengenai Rajawali Merah itu. Tiba-tiba Sung Han terhenyak dan berdiri.


"Waduh....kita di rumah orang, hanya berdua lagi."


Yang Ruan yang mendengar ini, baru sadar dan dia hanya menunduk.


"K-kalau begitu, aku pergi dulu mencari informasi mengenai Rajawali Merah itu."


"Ah...baiklah.", dengan gugup Yang Ruan menjawab.


Tubuh Sung Han berkelebat, dan sebentar kemudian lenyaplah bayangannya dari sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2