
Menyadari hal itu, Sung Han dan Yang Ruan saling pandang. Kiranya masalah di desa ini tak hanya soal kedatangan Rajawali Merah saja. Karena kalau sampai ibu dari nona Han ini tak pulang, maka hal itu sudah cukup untuk dijadikan alasan pemerintah agar mereka bisa menganggap desa ini sebagai desa pemberontak.
Sung Han memandang ke luar. Nampak para wanita dan lelaki yang kesemuanya cantik-cantik serta tampan-tampan. Memang pantas untuk dijadikan sebagai prajurit tangguh kekaisaran atau dayang-dayang istana.
Saat melamun seperti ini, Yang Ruan sudah membuka percakapan lagi.
"Nona Han, apa yang hendak kau lakukan?"
"Entahlah, menunggu nasib. Memangnya, kenapa kalian para pelancong peduli dengan desa kami?"
"Mana mungkin kami bisa tinggal diam melihat desa patriot ini diganggu pemberontak!?"
Nona Han tiba-tiba memandang ke arah Sung Han yang masih sibuk melamun dengan pandangan entah ditujukan ke mana. Gadis ini berkata, "Ah...kalian pastilah para pendekar. Kemarin bukankah wajah kakak ini tak mempan dengan batu?"
"Hh....kami hanya punya sedikit kepandaian. Tak cukup untuk membuat nama kami disebut sebagai pendekar." balas Sung Han cepat-cepat. Karena mengingat ucapan Rajawali Merah itu, jika ada orang berkepandaian yang mengancamnya. Dia tak mau kalau warga desa menganggap dirinya sebagai orang berkepandaian itu, dan menyerahkannya kepada Rajawali Merah.
"Tetap saja pasti kepandaian kalian lebih tinggi dari para pemuda desa ini." dengan riang nona Han menjawab. Diam-diam Sung Han mengerutkan kening karena bingung terhadap bocah ini. Seolah ancaman Rajawali Merah bukan sesuatu yang pantas diperhatikan.
"Lebih baik kita cari ibumu sambil menunggu kedatangan pasukan penjemput. Aku yakin jika sampai saat itu tiba dan ibumu belum juga ketemu, pasti warga desa akan membelamu!" Yang Ruan mengemukakan pemikirannya yang dibalas anggukan oleh nona Han itu.
...****************...
"Yah....memang itu dia, siapa lagi?"
Orang bertopeng itu duduk di tempatnya. Jubah merahnya dibiarkan terurai sampai menyentuh lantai. Dia inilah yang warga desa kenal sebagai Rajawali Merah.
"Kau takut padanya?" tanya orang yang melihat gambar buronan seseorang itu. Dia tersenyum miring.
"Siapa tidak akan takut!?" kata si topeng itu cepat dengan nada gusar. "Siapa yang tidak tahu, bahwa dia yang telah melarikan diri dari penjara khusus. Yang menjadi pewaris pedang gerhana. Dan yang menyelamatkan putri!"
Orang yang memegang gambar Sung Han itu kembali terkekeh. Dia juga mengenakan topeng. Topeng berwarna perak khas dari Serigala Tengah Malam. Topeng itu menunjukkan bahwa dia bukan merupakan anggota rendahan.
"Aku ada rencana, entah kau setuju atau tidak. Tapi jika ini berhasil, gadis kecil yang dipanggil nona Han itu pasti tak akan tinggal diam. Dia akan bertindak. Bagaimana pun, dia sangat menyanyang ibunya."
Dari balik topengnya, Rajawali Merah mengerutkan kening. Dia bertanya dengan nada sungguh-sungguh. "Apa rencanamu?"
__ADS_1
Mulailah orang bertopeng yang memegang gambar Sung Han itu mengatakan rencananya. Mulai dari awal sampai akhir. Dia menjelaskan dengan sungguh-sungguh dan sama sekali tidak diselingi kekehan menyebalkan itu. Hal ini hanya berarti jika rencana ini benar-benar penting namun juga rawan, sekali gagal habislah mereka.
Tiba-tiba, setelah selesai membicarakan rencananya, Rajawali Merah bangkit berdiri dengan gusar. "Apa maksudmu? Ini sudah melenceng jauh dari rencana awal!!"
Si topeng perak itu masih tetap tenang, dia mengayun-ayunkan tangannya mencoba menyabarkan Rajawali Merah.
"Tenang dan duduklah...kita harus tahu apa yang diprioritaskan oleh ketua."
Setelah Rajawali Merah duduk kembali, dia melanjutkan, "Membuat desa itu sebagai pemberontak, itu hanya akal-akalan ketua agar kekaisaran sedikitnya kekurangan pasokan prajurit muda. Walau mungkin tindakan kita tak begitu berarti, namun jika sampai desa ini dianggap memberontak karena tak mengirimkan nyonya Han yang paling cantik, maka kekaisaran akan makin panik karena berpikir pihak pemberontak telah mulai menguasai desa-desa."
Rajawali Merah mengangguk-angguk, mulai paham dengan rnecana lawan bicaranya.
"Tapi yang datang kali ini Sung Han!! Bersama Ratu Elang pula. Apakah kau lupa, betapa ketua ingin mengambil ilmu-ilmu dari Sung Han ini?"
"Jadi, kau menyuruhku mengirim ancaman untuk rencana ini? Memfokuskan mengambil Sung Han?"
"Waktu itu lain lagi, karena aku berpikir kau tak akan mampu menandinginya, maka kusuruh kau mengirim ancaman itu. Lalu ketika Sung Han berada di sini, dari sisi lain kita menyerbu desa itu. Dengan begitu, ketua bisa mendapat membuat jasa dan memperbaiki namanya di mata rakyat. Beliau telah membasmi desa pemberontak yang tak mau menyerahkan nyonya caniknya."
"Menyerang dengan pasukan pemerintahnya. Begitu maksudmu?"
Rajawali Merah termenung beberapa saat, lalu berkata lagi dengan lirih, "Jadi maksudmu, kali ini kita akan bersekutu dengan desa itu?"
"Tepat sekali. Dan setelah rencana kita berhasil, lalu nona dan nyonya Han dibawa ke kota raja, kita...." tiba-tiba orang itu menghentikan ucapannya.
Hal ini tentu saja membuat Rajawali Merah menjadi bingung. Dia menunggu sampai beberapa lamanya, namun tak kunjung juga orang itu melanjutkan. Dia bertanya tak sabar.
"Kita apa!?"
"Hehehehe....untung tidak keceplosan." kata si topeng lalu bangkit dan menghampiri salah satu pintu. Dia menyentuh pintu perlahan dan...
"Braaakkkk!"
Pintu itu hancur berhamburan disusul pekik seorang wanita yang ketakutan.
"Nyonya Han, tak baik menguping pembicaraan orang. Sekarang tidurlah." kata si topeng itu kepada seorang wanita cantik yang duduk ketakutan. Wajahnya pucat sekali dan nampak bekas air mata di kedua pipi.
__ADS_1
Kedua tangan si topeng begerak, terdengar suara menyanyat lalu robohlah nyonya Han dalam keadaan pingsan.
...****************...
Senja hari telah tiba, seperti biasa bagi nona Han untuk mencari air di sungai dekat desa itu. Karena di rumahnya terdapat dua tamu, maka kali ini air yang diambil tentu lebih banyak.
Sebenarnya Sung Han dan Yang Ruan sudah menolak untuk tinggal di rumah gadis itu. Namun nona Han memaksa dengan mengatakan dia takut sendiri tinggal di rumah saat ibunya sedang diculik. Dia tak tahu kapan Rajawali Merah akan menyerang, namun karena ibunya yang diculik, tak menutup kemungkinan dialah selanjutnya.
Maka dengan terpaksa, dua orang itu tinggal di rumah nona Han.
Sejak siang hari Sung Han belum kembali dengan alasan hendak pergi menyelidiki ke sekitaran desa. Sedangkan Yang Ruan, pergi ke sekeliling desa untuk membeli bahan makanan nanti malam.
Maka nona Han ini pergi ke sungai seorang diri tanpa kawan.
Ketika dia tiba di sungai, cepat ia celupkan embernya dan untuk mengambil air. Sampai empat ember kosong itu terisi penuh lalu diangkatnya dengan pikulan.
Memang luar biasa sekali gadis ini. Walaupun kulit tangannya halus dan tubuhnya seperti tubuh wanita kebanyakan, namun dia sanggup membawa empat ember berukuran sedang dalam sekali waktu menggunakan pikulan!
Akan tetapi saat dia diperjalanan pulang ketika jalan menanjak, tiba-tiba tubuhnya terasa berat dan dia jatuh ke samping, membuat semua airnya tumpah.
Bukan tanpa alasan dia terjatuh, karena tadinya dia merasa ada angin dahsyat menyambar dari arah sampingnya.
Karena penasaran, dia sampai lupa dengan empat embernya dan mendatangi ke arah di mana tadi datangnya angin dahsyat itu. Makin lama didekati, makin jelaslah suara-suara orang sedang bertempur.
Ketika dia sudah tiba di tempat tujuan, segera dia bersembunyi di balik pohon. Apa yang dilihatnya di sana membuat suaranya menyangkut di tenggorokan dan tubuhnya menggigil. Bahkan dia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Nampak di sana, seorang pemuda dengan pakaian abu-abu, sedang dikeroyok oleh belasan orang berjubah hitam-hitam. Walau cuaca sudah remang-remang karena menjelang malam, namun pemuda itu dapat dikenalinya dengan jelas. Walau hanya melihat punggungnya, dia dapat mengenal pemuda itu.
Seorang pemuda yang dikeroyok belasan orang itu sama sekali tak terdesak sedikit pun.
"Kakak Sung Han....?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1