Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 181 – Negosiasi


__ADS_3

Sung Han melihat orang tua itu seperti orang biasa saja. Dengan tubuh tinggi dan postur sedang. Namun sikapnya gagah sekali seperti seekor singa jantan yang sedang menghadapi mangsanya.


Setelah dia menendang tadi, dia lalu bersalto ke belakang dan berdiri tenang dengan dua tangan dilipat di belakang. Dari ekspresi wajahnya seolah dia tidak sedang terkejut oleh suatu hal apapun. Namun sejatinya kakinya itu sedikit gemetar.


Sung Han tahu akan hal ini, namun dia pura-pura tidak tahu karena maklum sedang berhadapan dengan orang sakti. Mendengar ucapannya itu, mau tak mau Sung Han menjadi tertarik. Seorang tokoh yang agaknya dari kaum hitam seperti Burung Walet Hitam ini datang hendak bicara padanya, ini membuatnya penasaran sekali.


"Hendak membicarakan urusan apa? Harap sobat yang berdiri di sana agar segera memberitahukan." Sung Han berkata masih dalam kuda-kudanya. Walaupun sudah tidak sewaspada tadi dan kali ini sedikit mengendur.


Burung Walet Hitam menghembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepala. Luar biasa benar anak ini, selalu waspada dalam keadaan apapun! Pikirnya.


"Aku, telah mengikutimu sejak beberapa waktu lalu." ucapan pembuka dari Burung Walet Hitam.


Ucapan pembuka ini disambut oleh Sung Han dengan mengokohkan kuda-kudanya. Dia menjadi waspada sekali mengetahui selama ini telah dimata-matai orang.


"Aku juga sudah mendengar semua yang kau omongkan dengan tiga orang itu. Semuanya tanpa terlewat sedikit pun juga."


Sung Han makin waspada. Kuda-kudanya makin kokoh kuat dan tenaga dalam tanpa sadar telah bergerak cepat ke seluruh saluran darahnya.


Jika diperhatikan, dari atas sampai bawah orang ini memakai pakaian yang hitam semua. Jubah hitam, ikat pinggang hitam, celana hitam dan sepatu hitam.


Tiba-tiba dia teringat akan penuturan warga soal pembunuh tiga pendekar yang dilakukan oleh "bayangan hitam". Lalu dia mengait-ngaitkan bayangan hitam itu dengan Burung Walet Hitam ini. Jika dilihat-lihat, ciri-cirinya mirip sekali!


"Apakah engkau pula yang telah membunuh tiga pendekar itu?" tanya Sung Han penuh penekanan. Matanya makin mencorong.


Burung Walet Hitam tak langsung menjawab. Dia masih diam dengan sikap seperti tadi seperti orang acuh tak acuh. Orang tua ini mendengus lalu menjawab, "Aku tak menyangkal."


"Wuuutt!!"


Tiba-tiba lelaki tua ini terbelalak ketika tahu-tahu di depan matanya sudah ada kepalan tangan yang siap meninju mata. Secepat kilat dia mengelak dengan miringkan kepala ke samping.


"Braaakk!!"


Pohon besar yang berjarak kurang lebih dua tombak di belakangnya langsung berlubang begitu terkena sambaran angin Sung Han yang entah bagaimana sudah tiba di hadapannya.


"Bocah setan!" Walet Hitam berkelit dan berlocatan ke samping.

__ADS_1


Sung Han mengejar, dengan ilmu meringankan tubuhnya mudah saja baginya untuk mencapai tempat orang itu. Ketika Burung Walet Hitam baru bangun, Sung Han sudah tiba dan dengan kecepatan kilat kembali tangannya memukul.


"Wuuut!!"


Secepat itu pula, kakek ini mengelak seperti tadi. Namun kali ini dia juga membarengi dengan serangan, berupa cengkeraman tangan kiri dan totokan maut dengan tangan kanan.


"Breett...Syutt...."


Saat itu pula, Sung Han melihat serangan ini. Maka dia hendak menarik tangannya namun terlambat sudah. Begitu tangan kanan lawan hendak menotok ulu hati, ia membarengi dengan totokan pula menuju mata kiri.


"Dessss!!"


Angin bertiup di sekeliling mereka begitu serangan itu hendak mecapai tubuh lawan. Namun totokan Burung Walet Hitam tak mencapai sasaran, begitu pula dengan Sung Han. Tepat beberapa senti sebelum mencapai asaran, keduanya sama-sama menghentikan serangan.


Burung Walet Hitam tersenyum sinis sedangkan Sung Han memandang tajam.


"Apa maumu?!" desis Sung Han.


Burung Walet Hitam melepaskan Sung Han dan pemuda ini berjalan mundur beberapa langkah. Mengambil jarak dari si tua itu karena dia tahu orang ini lihainya bukan main.


Sung Han mengerutkan kening dan berpikir sejenak, "Siapa ketuamu? Topeng emas dari Serigala Tengah Malam?"


"Benar."


Sung Han makin tertarik. Mereka itulah yang dikejar-kejarnya dari beberapa waktu lalu. Sejstinya dia mengejar Kay Su Tek yang telah dibawa Serigala Tengah Malam.


"Lanjutkan penuturanmu!" katanya singkat.


"Kami sudah bersepakat akan bekerja sama untuk menghalau kekaisaran Jeiji di utara sana. Lebih tepatnya di Goa Emas yang menjadi tujuan utama kekaisaran itu. Si buntung itu terus keras kepala tak mau terima, namun akhirnya dia setuju juga demi membela tanah air." jelas Burung Walet Hitam.


Sung Han makin heran, bukankah Kay Su Tek dan pangeran terhadap hubungan yang sangat tidak baik? Mengapa kini dia malah membantu mereka? Jika hal itu untuk membela tanah air, hal ini tidak mengherankan. Tapi mengapa Kay Su Tek tidak pergi sendiri bersama pasukannya?


Dia lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pasti Kay Su Tek melakukan kerja sama itu bukan karena ingin, melainkan karena membela tanah air. Dia tak peduli bagaimana jadinya Serigala Tengah Malam di medan tempur nanti, namun dia memanfaatkan perkumpulan lawan untuk memperkuat kedudukan. Pastilah begitu rencana Kay Su Tek! Pikir Sung Han.


"Jadi, apa hubungannya dengan aku?"

__ADS_1


Burung Walet Hitam tersenyum dan mengangguk-angguk. "Hemm....tentu ada hubungannya. Aku hendak mengajakmu untuk ikut bergabung pula, dengan demikian kedudukan kita akan lebih kuat."


"Wuuuss....syuutt!"


Secepat kilat mereka sudah saling todong. Sung Han dengan totokan jari mautnya mengarah dahi, sedang Burung Walet Hitam dengan totokan ampuhnya mengarah ulu hati.


"Apa maksudmu? Jangan kau katakan kau tak tahu siapa pencuri pedangku?" ucap Sung Han dingin


"Heheheh....aku tahu, bukankah itu perbuatan ketua sendiri?"


"Kalau begitu, kau hendak mengajak aku untuk bekerja sama dengan musuh. Apakah itu masuk akal?"


"Kita bukan bekerja sama, tapi pergi bersama. Tujuan kita satu, mengusir pergi kekaisaran Jeiji yang hendak merebut milik kita, Goa Emas!"


Pandangan Sung Han menajam dan saat itu dia mampu merasakan getsran hawa di ujung jari tangan sung Han yang sedang menodong itu.


Melihat ini, cepat-cepat kakek itu melanjutkan, "Jika kau benar orang gagah, maka akan melupakan urusan pribadi dan mementingkan urusan banyak orang! Tak ada sangkut pautnya antara sikap musuh-musuhan kita dan bela negara! Jika negara ini hancur, maka permusuhan kita berakhir dengan hancurnya kita berdua!!"


Setelah berkata seperti ini, Walet Hitam melakukan gerakan mendorong dengan pengerahan tenaga. Sung Han mau tidak mau menjadi kaget karena serangan itu begitu tiba-tiba dan dilakukan di jarak yang dekat sekali. Dia berusaha menangkis namun tidam sempat.


"Dukk...desss!"


Dengan telak sepasang tangan itu mengenai dadanya dan Sung Han terlempar sebelum bergulingan jauh. Begitu dia bangkit, dia sudah melihat Burung Walet Hitam telah melarikan diri jauh.


Sung Han hanya mendengus.


"Bela negara? Phuhhh...dasar orang-orang munafik!" cela Sung Han sambil.mengebut-ngebutkan bajunya yang kotor.


Demikian mulutnya berkata namun lain lagi pikirannya berujar. Sung Han merasa omongan Burung Walet Hitam tadi ada bensrnya juga. Jika dia berangkat ke Goa Emas, itu semata-mata dilakukan untuk melindungi tempat itu dari orang luar. Jika tempat itu runtuh da terjatuh ke tangan musuh, maka mereka akan mendapat pasokan harta yang demikian banyaknya! Dan yang menurut dongeng tak pernah bisa habis.


"Huh!" Sung Han mendengus dan melanjutkan jalannya menuju utara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2