
Sung Han masih menahan diri.
Keadaan di sekeliling sangatlah ramai, sehingga menurutnya kurang baik untuk menunjukkan Pedang Gerhana Matahari. Bahkan melihat pedang yang tertancap pada gundukan tanah itu pun, mampu membuat Sung Han menyimpulkan bahwa ada hal yang tidak beres.
Lawannya bersilat dengan tangan kosong, tapi walaupun begitu tidak kalah ampuh dengan menggunakan senjata, bahkan mungkin lebih hebat. Entah ilmu apa itu tapi seolah tidak memberi Sung Han kesempatan bernafas barang sekedip.
Pemuda ini melayani dengan setengah kekuatannya, bahkan mungkin lebih kurang lagi. Sadar akan maksud lawan yang ingin mencari tahu kekuatan sejatinya, maka ia tak ingin kena perangkap. Lebih baik kalah.
"Haiiit!!"
"Dess–dess–bukk!"
Orang itu memekik nyaring seraya melontarkan dua tamparan maut mengarah pelipis kanan dan kiri Sung Han. Pemuda ini dapat menangkis dengan sempurna, namun tak ayal pundaknya kena cium ujung sepatu lawan yang entah bagaimana sudah melakukan gerakan menendang.
Sung Han melompat ke samping, mengirim tendangan. Kemudian melompat ke atas dan menendang dua kali menuju batok kepala. Semua itu dapat ditangkis atau dihindarkan.
"Hanya ini? Aku tak percaya!!!" seru orang itu kembali melancarkan serangan dahsyat. Tubuhnya berpusingan dan kadang-kadang tangan atau kakinya mencuat keluar mengirim totokan.
"Woahh!!"
Sung Han mengelak, lalu ia gunakan tumit kakinya untuk menyepak betis lawan, namun luput. Orang itu sudah mengangkat kaki kiri yang jadi sasaran Sung Han untuk kemudian ia lanjutkan dengan gerakan menendang.
Makin lama, pertempuran dua orang itu makin sengit. Tapi di luar tahu semua orang, Sung Han masih menahan diri dan jika dia berkenan, tentu saja dia mampu mendesak lawannya kurang dari dua puluh jurus. Hanya karena tak ingin jadi pusat perhatian dan bahan kecurigaan, ia bertarung seolah kepandaiannya tak beda jauh dengan lawan.
...****************...
Wajah Kay Su Tek memucat, meskipun begitu matanya memerah memancarkan kemarahan luar biasa. Giginya bergemelutuk keras. Keringat barcampur darah mengalir membasahi wajahnya, pelipis kiri sudah terluka.
"Kau....."
"Kenapa, kau marah? Terkejut? Ya, akulah orangnya. Mengapa aku melakukan itu? Jawabannya mudah." kata orang itu menyeringai lebar, "Ayahmu ancaman."
Su Tek memandang tangan kirinya yang telah menghitam sebatas siku. Ia tidak takut jika harus kehilangan tangan, tapi yang lebih takut adalah keadaan ayahnya.
"Seranganku telak mengenai jantung, jadi....yah, kau sudah tahu. Tak ada kesempatan selamat." katanya kemudian sambil memutar-mutar pisau bercabangnya itu.
"Keparat!" Kay Su Tek berseru marah dan menggunakan pedangnya, ia tebas lengannya sendiri. Darah mengucur deras, bukan darah merah melainkan darah gelap kehijauan.
Segera ia menotok beberapa bagian pada siku dan meloloskan sabuk emasnya. Ia ikat lengan atasnya dengan erat menggunakan sabuk itu.
__ADS_1
Kembali ia pandangi tangannya, makin yakinlah ia kalau ayahnya tak mungkin selamat. Urat-urat tangan yang mengeras dan berubah warna menjadi hitam, kulit tangan yang semakin menggelap. Sama persis seperti racun yang diderita ayahnya. Membuat ia ngeri.
"Untung mengenai tangan dan cepat kupotong." gumamnya dalam hati pemuh perasaan ngeri.
Kay Su Tek memandang wajah orang itu, diam-diam ia mencermati dan mengingatnya dalam kepala.
"Matimu akan lebih buruk!" umpat Kay Su Tek.
"Benarkah? Mari kita lihat."
Bersamaan dengan ucapan ini, pria itu sudah menerjang dengan sebatang pisau lebih dulu. Kay Su Tek bergerak cepat menangkis dengan pedang, akibatnya bunga api menyilaukan mata berpijaran.
Memang hebat sekali tuan muda Perguruan Awan itu, seandainya lawan tidak memakai racun yang terlampau kuat, sepertinya ia sudah mampu menang. Bahkan saat tangannya sudah tinggal sebelah sekali pun, ia dengan gigih terus menyerang dan bersaha mendesak lawan.
"Cih....apa dia bukan manusia?" batin lawan Kay Su Tek mengetahui tuan muda Perguruan Awan itu makin lama makin ganas.
Ketika ia mengangkat pisau tinggi-tinggi dan menyiapkan ilmu racunnya, Kay Su Tek dengan nekat menubruk maju.
Orang ini menyeringai, "Hahaha, matilah!" pisau diayunkan cepat ke bawah, suara angin bercuitan terdengar saat pisau bercabang dua itu membelah udara.
Ketika tepat satu jengkal pisau hendak membacok kepala, ada kelebatan bayangan orang yang tahu-tahu telah melakukan tindakan luar biasa.
Orang pertama menendang rusuk Kay Su Tek yang membuat pemuda itu terlempar. Tepat setelah menendang, tangannya berkelebat dan tanpa tahu bagaimana pisaunya telah terampas.
"Uaghhh!!" lenguhnya saat kepalanya mendarat di tanah dan mengucurkan darah. Ia memandang kaget, kiranya sudah ada dua orang yang berdiri dengan sikap kereng di sana.
"Cih!" geram orang ini melihat dua orang itu bergantian. Ketika ia menengok ke satu arah, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan.
Terlihat dua orang yang berpakaian sama sepertinya, rebah dalam keadaan tanpa nyawa. Satu dengan kepala terpenggal, dan satu dengan dada melesak dalam. Ia menelan ludah susah payah.
"Sung Han, kau urus kawanmu itu." Bao Leng berkata dengan menyilangkan golok besarnya, "Untuk dia, biar aku yang urus."
Entah bagaimana, untuk saat ini dua orang itu tampak sepemikiran. Tanpa banyak kata dan bantahan, Sung Han lekas menghampiri Kay Su Tek yang sudah pingsan. Ia menotok beberapa bagian tubuh dan menyalurkan tenaga dalam guna menyembuhkan luka-luka pemuda itu.
Bao Leng turun dari gundukan tanah dan berhadapan dengan lawan.
"Aku Bao Leng, siapa namamu?" Bao Leng menodong lawan dengan goloknya.
Orang ini bangkit tertatih-tatih, bagaimana pun juga gebukan gagang golok Bao Leng mampu membuat kepala pusing dan pandangan berkunang. Suaranya agak gemetar saat ia menjawab.
__ADS_1
"Yu Fei..."
"Bagus!" seru Bao Leng mantap, "Kalau begitu aku tak akan membunuh orang tak bernama, dan jikapun aku terbunuh tak merasa penasaran dengan pembunuhku. Bersiaplah!"
Tubuh su brewok ini melesat bagai kilat dan tahu-tahu goloknya telah menyambar menuju kepala. Yu Fei tak sempat menghindar.
...****************...
Pria bertopeng emas dengan hiasan permata zamrud tepat di dahi itu mendengus pendek. Ia duduk di batu rata dengan kaki terlipat. Jubah lebar warna kecoklatan menutupi seluruh tubuhnya.
"Berapa lama lagi....?" tanyanya dengan intonasi menyeret seperti orang malas. Suaranya besar berwibawa.
Seorang yang berdiri di pintu goa, mengintip ke luar beberapa saat. Lalu ia berbalik dan mendatangi si pria bertopeng sambil membungkuk hormat.
"Sebentar lagi tuan, sudah banyak jatuh korban."
Lelaki bertopeng emas itu mendengus dan membuang muka, memandangi dinding batu agaknya bisa sedikit menghibur kebosanannya.
Seorang pria lagi, berpakaian hitam duduk di mulut goa. Matanya terus menatap ke arah bawah sana tanpa berkedip. Sebatang pedang tergantung di pinggang kirinya.
"Dia terdesak, jika dilanjut entah bisa keluar hidup atau tidak." kata orang ini entah kepada siapa karena dia berucap tanpa menengok siapa pun yang ada di dalam goa.
Lelaki topeng emas itu mengalihkan pandangannya, "Masih mungkin untuk kabur tidak?"
"Tidak." kata orang itu, "Pasti tidak." lanjutnya lagi memastikan.
Pria bertopeng menegakkan posisi duduknya, "Jelaskan, kenapa bisa begitu? Dia orang kuat."
"Memang benar tuan, tapi di jalan masuk berdiri rombongan Naga Hitam dan Perguruan Awan. Dua perkumpulan ini daritadi tak ikut bertempur dan hanya menonton."
"Apa?" tubuh pria bertopeng itu berkelebat dan tahu-tahu telah berada di sisi lawan bicara. "Kau benar..." gumamnya setelah memastikan sendiri.
"Lalu bagaimana sekarang?"
Lelaki topeng emas ini termenung sesaat untuk berpikir. Kemudian merasa tak ada pilihan lain, ia menyentuh pundak pria berbaju gelap itu seraya berkata.
"Giliranmu turun tangan, bawa dia mundur." ucapnya sebelum melanjutkan, "Jika ingin main-main, sebentar saja."
Orang yang masih duduk bersila itu menyeringai, "Dengan senang hati."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG