Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 58 – Hidup


__ADS_3

Kay Su Tek berjalan berputaran tak tentu arah mencoba mengira-ngira di mana letak Sung Han tertimbun sebelumnya. Rasa lapar dan lelah tak ia hiraukan, seolah sirna entah kemana begitu teringat akan kawannya.


"Bagaimana cara kita mencarinya, kakanda Su Tek?" Yang Ruan berkata sambil berputaran juga mencari tanda-tanda kehidupan.


Tapi tetap saja yang dilakukan mereka itu percuma dan tidak masuk akal. Sung Han sudah tertimbun dalam, dan mereka hanya mencari di permukaan, mana bisa ketemu?


Kay Su Tek menyadari hal ini dan hanya menghela napas berat sebagai tanggapan pertanyaan Yang Ruan. Ia berhenti mencari dan duduk tepat di tengah-tengah timbunan batu itu. Yang Ruan ikut duduk di sebelahnya.


"Lagipula, apakah dia selamat?" Yang Ruan buka suara, kemudian ia memandang ke bawahnya, "Kita yang berdua saja hampir mati." lanjutnya dengan intonasi sedikit ragu.


"Dia pasti masih hidup!" tegas Kay Su Tek dengan pandangan pasti, penuh keyakinan tak tergoyahkan. Ia meninju batu di bawahnya sambil berkata, "Dia lebih kuat dari kita, jauh lebih kuat. Kalau kita selamat, tak mungkin dia mati. Pastinya Sung Han sudah keluar atau masih mendekam di dalam sana untuk berusaha naik ke mari."


"Kenapa kau bisa seyakin itu? Apakah dia teman masa kecilmu?" Yang Ruan bertanya penasaran, dia ingin mencari tahu segalanya tentang diri Kay Su Tek yang sudah menjadi kekasihnya itu.


"Aku belum lama kenal, baru sekali bertemu malah. Dan ini yang kedua kali." jawab Kay Su Tek, "Tapi sekali bertemu dengan dia, Sung Han sudah menyelamatkan perguruanku."


Yang Ruan mengangguk-angguk. Lantas ia menepuk pundak Kay Su Tek seolah ingin memberi semangat dari tepukan itu, "Memang lelaki itu sulit sekali jalan pikirannya. Baru bertemu ikatan kalian sudah seperti saudara."


"Perempuan lebih sulit dimengerti!" sergah Kay Su Tek tanpa menoleh yang dibalas tatapan bingung kekasihnya. Ia lanjut berkata, "Aku bertemu denganmu saja hanya beberapa hari dan itu pun kita tak bisa saling menatap muka, tapi kau sudah jadi kekasihku." Kay Su Tek berkata tanpa sadar dan tanpa menoleh.


Yang Ruan tergagap dan salah tingkah, ia memalingkan muka setelah mendengus singkat.


Selang beberapa waktu, gadis ini menoleh kembali dan berkata, "Kakanda, mari kita–" tapi ucapannya berhenti tatakala menyadari apa yang sedang dilakukan Kay Su Tek.


Pemuda itu duduk bersila dalam diam dengan mata terpejam. Badannya bergeming seperti patung tanpa pergerakan sedikit pun kecuali kibaran rambut yang terkena semilir angin lambat. Tangan yang tinggal sebuah itu berada di depan dada dengan telapak terbuka dan jari rapat. Kay Su Tek sedang berdoa.


Melihat ini, Yang Ruan paham jika lelaki itu sedang mendoakan Sung Han. Entah mendoakan keselamatannya atau mendoakan jiwanya, tapi yang jelas pemuda itu sedang khusyuk-khusyuknya berdoa.


Ia pun ikut merangkapkan kedua telapak tangan dan memejamkan mata, mengheningkan cipta guna mendoakan Sung Han.


Sampai lama mereka dalam keadaan seperti itu, hingga tidak sadar matahari sudah naik tinggi.


...****************...


"Mari kita naik ke atas, di dinding itu banyak celah dan lubang yang bisa dijadikan pijakan, seharusnya tak terlalu sulit." Kay Su Tek memandang ke atas untuk melihat dinding jurang setinggi puluhan meter itu.


Bukannya menjawab, Yang Ruan justru memandang Kay Su Tek dari atas sampai bawah. Hal ini juga disadari oleh pemuda itu yang segera menjadi bingung dan memandangi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Adakah yang salah denganku? Ada apa dengan tatapanmu itu?"


Yang Ruan menjawab, "Tanganmu hanya tinggal satu, kau yakin tak terlau sulit untuk memanjat ke atas?"


Kay Su Tek justru tertawa, "Hahaha, aku tahu dengan diriku sendiri. Kau tak perlu khawatir."


Yang Ruan mendengus sebal dan mengerucutkan bibir. Tanpa berkata-kata lagi ia sobek dua lengan bajunya yang lebar dan panjang, sehingga dalam sekejap kulit lengannya yang putih mulus itu terpampang jelas.


"T-tunggu....apa yang kau lakukan? Belum waktunya aku melihat itu!!" Kay Su Tek gelagapan sendiri dan cepat berbalik untuk memalingkan pandagannya.


Tapi Yang Ruan tetap diam dan malah sibuk dengan dua lengan jubah itu.


Selang beberapa saat, ia melilitkan dua lengan jubah yang sudah disambung menjadi tali itu ke pinggang Kay Su Tek. Kemudian mengikatkan ke pinggangnya sendiri.


Kay Su Tek yang masih bingung itu tak mampu berbuat apa-apa saat Yang Ruan membalikkan tubuhnya paksa sambil menatap tajam.


"Persetan sudah waktunya lihat atau belum, aku tak keberatan. Yang jelas kita bisa keluar dari sini!" ujarnya.


"Apa maksudmu dengan tali ini?" pemuda itu bertanya, berusaha mengkondisikan matanya untuk tidak melihat pundak gadis itu. Ia alihkan menatap tali


"Aku ada di atas dan kau di bawah, itu untuk pengaman jika saja kau akan jatuh maka tali itu akan menahannya." jelasnya, "Yah ... selama aku tidak ikut jatuh tentunya."


"Tidak!!" sentak Kay Su Tek setengah malu dan jengah. Ia cepat melanjutkan ucapannya, "Yang jadi masalah, apa kau kuat menahan berat badanku? Mengapa tidak aku saja yang di atas dan kau di bawah?"


"Heh...." terlihat dari tarikan mata itu, Yang Ruan sedang menyeringai, "Mari kita lihat."


Tanpa memberi aba-aba, ia lantas meloncat tinggi ke atas bagai burung walet. Kay Su Tek yang tidak siap itu ikut terbawa naik dan terbang tinggi.


Tak berhenti sampai di sana, ketika kaki dan dua tangan Yang Ruan menempel di celah dinding, ia melanjutkan dengan lompatan ke atas lagi. Begitu seterusnya, lagi dan lagi. Kay Su Tek hanya membantu sesekali.


Tapi bagaimana pun juga, jurang itu sangat dalam dan Yang Ruan itu seorang perempuan, kekuatannya tak sebesar Kay Su Tek. Maka ketika medan di dinding mulai halus dan sudah cukup tinggi dari timbunan batu, barulah terasa oleh gadis ini tangannya kebas dan pinggangnya mati rasa.


"Duk!"


Ketika rasa pusing dan pandangan berkunang mulai menyerang, Yang Ruan merasakan ada seseorang yang menepuk punggungnya, menyangga berat tubuhnya dari bawah. Ia bernapas lega. Tapi sedetik kemudian wajahnya memucat dan cepat ia berbalik.


"Kakanda!? Eh?"

__ADS_1


Luar biasa sekali, murid sabuk emas Perguruan Awan itu berdiri di dinding batu tanpa bantuan satu-satunya tangan yang dimiliki. Ia berdiri tegak seolah dinding yang menjulang tinggi ke langit itu adalah bumi yang datar.


"Ganti posisi, biar lelakimu ini yang membawanmu terbang ke atas." kata Kay Su Tek tersenyum. Ketika Yang Ruan hendak membantah, buru-buru ia menyela, "Setidaknya beri kesempatan agar aku bisa tampil gagah dan gemilang di depan wanitaku!!"


Yang Ruan mengalah.


...****************...


"Sudahlah, kalau dia masih hidup kita pasti akan bertemu lagi."


"Kalau sudah mati?"


"Semoga kita tidak ditinggal sendiri di alam baka."


Kay Su Tek masih memandangi gundukan tanah itu dengan tatapan sayu. Padahal sebelumnya mereka sudah berburu ayam dan kijang gemuk, tapi sambil makan pun Kay Su Tek tak pernah mengalihkan pandangannya dari tempat di mana Sung Han terkubur.


"Kau begitu khawatir padanya hah? Aku kekasihmu!" Yang Ruan berkata ketus dan entah apa yang dipikirkannya.


Kay Su Tek menghela napas lelah, "Kita sudah menjadi sepasang kekasih dan setelah minta persetujuan ayah ibu, kita akan menikah. Itu sudah ditentukan."


Tak berselang lama ia melanjutkan, "Hanya saja, rasa-rasanya aku tidak pernah sekhawatir ini kecuali terhadap ayah dan ibu."


Yang Ruan memandang penuh selidik, "Khawatir soal apa? Aku tak berpikir kalau kau..."


"Tidak, aku akan mencintaimu, sungguh. Jangan berpikir yang macam-macam!!" seru Kay Su Tek tanpa sadar.


"Lalu kekhawatiranmu itu atas dasar apa? Kau sudah cukup lama mendoakannya. Aku paham kau khawatir, tapi...."


Kay Su Tek menoleh, "Tapi?"


"Entah." Yang Ruan menggeleng, "Tapi aku merasa ada yang aneh dengan rasa khawatirmu itu. Ah...mungkin hanya cemburu?"


Kay Su Tek melebarkan matanya, kemudian kembali memandang ke bawah, "Entahlah, aku juga merasa ada yang aneh dengan rasa khawatir ini. Entah kekhawatiran tentang apa, aku tidak paham..."


Setelahnya, keduanya saling diam tak bicara sepatah kata pun. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2