Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 132 – Ketua Golongan Sesat


__ADS_3

Sampai berjam-jam lamanya dan Sung Han harus mengakui kepandaian Rantai Maut Tenggara itu. Karena sampai empat jam lamanya, belum ada seorang pun yang dapat menyudutkan apalagi merobohkan orang ini.


Namun setelah sekian lama, akhirnya dia berhasil ditumbangkan juga orang salah seorang tokoh kosen Pedang Hitam. Dia merupakan seorang nenek peyot yang mulutnya bengkok, rambutnya putih semua disanggul tinggi. Wajah itu menyeramkan.


"Nah, cepat keluar panggung. Kau kalah!" seru nenek itu menudingkan tongkatnya tepat di hidung Rantai Maut Tenggara.


Pria paruh baya yang sudah terluka parah di sebelah dalamnya tak berani berbuat apa-apa dan hanya mampu merangkak turun dari panggung. Seperginya Rantai Maut Tenggara, nenek itu bertolak pinggang dengan dagu diangkat, lagaknya jumawa sekali.


"Nah, siapa lagi yang hendak melawan? Hayo bocah-bocah bandel, maju sekalian pun orang tua ini tidak akan merasa jeri."


Beberapa orang saling pandang dan berbisik-bisik. Memikirkan ucapan nenek itu yang tentu ada alasan mengapa bisa sampai demikian percaya diri.


Karena sekali lihat pun sudah tampak nyata, bahwasannya orang-orang yang berkumpul di tempat ini semuanya memiliki kepandaian yang bukan kacangan. Namun nenek itu dengan beraninya berkata berani untuk dikeroyok.


Merasa tidak puas dan penasaran, serombongan orang berjumlah empat orang menaiki panggung dan hal ini membuat nenek itu terkekeh-kekeh.


"Heheh...bagus, maju semua sini!"


"Nenek peyot tua bangka, lihat serangan!"


Tanpa basa-basi dan banyak cerewet, seorang terdepan sudah berseru lantang disusul tiga kawan lainnya yang bergerak mengurung. Kemudian dalam satu komando, mereka menyerbu nenek itu secara bersamaan.


Senjata mereka terdiri dari dua pedang dan dua tombak. Di mana keempat orang itu membentuk sebuah formasi yang cukup sederhana namun dapat merepotkan lawan.


Pemimpin rombongan bersama satu orang lain pemegang pedang akan menyerang dari jarak dekat. Sedang dua orang bertombak akan menyerang dari jauh sekaligus melindungi dua orang terdepan.


Melihat formasi ini, nenek itu yang sudah terlalu banyak pengalaman menjadi terlekeh geli. Sudah terlalu sering dia menghadapi pengepungan semacam ini, karenanya dia memandang ringan dan hanya menyerang dengan serangan main-main.


"Tak-tak!"


Dua kali tongkat bergerak dan patahlah dua pedang. Disusul robohnya dua orang pemegang tombak dalam keadaan tewas. Di mana tepat setelah membuntungkan pedang lawan, tongkat nenek itu sudah meluncur cepat menotok urat rawan di leher mereka.


Belum selesai sampai di sini, tongkatkan kembali berkelebat dan robohlah dua orang pemegang pedang itu dalam keadaan berkelojotan sebelum diam tak bergerak.


"Huahahaha!!!" sambil tertawa-tawa, dia menendang tubuh empat orang itu seenaknya.

__ADS_1


Sekarang, maklumlah semua orang bahwa nenek ini memang memiliki kepandaian tinggi sekali. Enpat orang itu merupakan empat orang terkenal di sepanjang dusun timur sana. Terkenal sebagai rampok-rampok lihai yang sudah menewaskan banyak pendekar.


Namun nenek itu dengan mudahnya dapat merobohkan mereka kurang dari tiga puluh jurus! Sampai sini tak ada yang berani menjadi penantang bahkan ketika nenek itu berseru-seru memanggil penantang berikutnya.


"Umur sudah banyak, tapi kepandaian yang masih dangkal perlu apa dijadikan alasan untuk mengumbar keangkuhan?"


Pertanyaan ini tiba-tiba datangnya dan seperti berasal dari langit. Semua orang menjadi ribut dan kacaulah keadaan. Maklum akan datangnya orang sakti, mereka sudah meraba senjata masing-masing.


Bahkan ketua Pedang Hitam yang menjadi pendekar terkuat pun, sampai tergetar hatinya dan bangkit berdiri dari kursi. Dia memandang dengan muka pucat, begitu pula semua orang, ketika di atas panggung sudah berdiri seorang pemuda berjubah putah yang telah menginjak punggung nenek tadi. Sedangkan nenek itu, sudah pingsan agaknya dengan wajah bengkak-bengkak.


"Siapa lagi yang mau menantang?" kata pemuda ini tenang dan tegas. Tangannya yang hanya tinggal satu itu berada di belakang tubuh dengan jari terkepal. Jika ada orang yang menyerang dari depan, tangan itu akan berfungsi sebagai serangan kejutan.


"Bocah tak tahu malu, siapkah engkau!?" bentak ketua Pedang Hitam itu yang sudah merasa marah sekali dengan robohnya salah seorang pembantunya. Roboh dalam keadaan yang terlalu memalukan.


"Kay Su Tek!"


Dengan muka merah padam, kakek ketua Pedang Hitam selaku tuan rumah itu langsung menerjang ganas. Dibarengi pekikan dahsyat memekakkan telinga, kedua tangannya sudah bergerak susul menyusul mengarah bagian vital yang amat berbahaya.


Memang pemuda ini adalah Kay Su Tek. Seperti yang sudah dijelaskan, dia berkata kepada Sung Hwa untuk pergi menghadiri pertemuan pemilihan ketua golongan sesat ini. Agar nantinya menggunakan bantuan golongan sesat, dia dapat menggulingkan pemerintahan.


Pertandingan yang lebih hebat terjadi lagi. Tubuh mereka benar-benar lenyap saking cepat gerakan keduanya. Bayangan putih yang seperti setan itu bergerak ke sana-sini menghindari berbagai macam serangan. Hanya kadang-kadang saja membalas dengan tangkisan atau tendangan.


Walaupun begitu, ketua Pedang Hitam merasa marah sekali karena telah dipermainkan seorang tokoh muda. Dia tahu jelas bahwasannya Kay Su Tek belum mengeluarkan kepandaian yang sesungguhnya. Maka makin lama, kakek itu makin berang dan serangannya makin ganas.


Mencapai jurus ke empat puluh, kedua tangan kakek itu bergerak. Menyemburlah hawa aneh berupa uap hitam tebal.


Kay Su Tek melihat ini dan memandang rendah. Sebelumnya mengira bahwa itu adalah racun jahat, namun ternyata hanya berupa bubuk arang untuk mengacaukan penglihatannya.


Ketika dia mengerahkan tenaga untuk mengusir asap hitam itu, tiba-tiba dari bawah menyambar hawa panas yang mengarah dadanya. Kali ini dia benar-benar terkejut. Kiranya serangan asap hitam itu hanya berupa tipuan untuk menutupi gerakan si kakek, lalu secepat kilat kakek itu sudah berjongkok mengirim serangan lain.


"Duukkk!!"


"Aaahhh!!"


Betapa terkejut kakek itu dan semua orang saat kedua tangan dengan tepat menyentuh tubuh Kay Su Tek, bukannya pemuda itu yang terlempar, justru malah kakek inilah yang jatuh bergulingan sambil mengaduh-aduh.

__ADS_1


Dada Kay Su Tek demikian keras sampai mampu membalikkan tenaganya sendiri. Dia memandang pemuda ini dengan tatapan yang berbeda, penuh rasa takut.


"Sayang sekali." ucap Kay Su Tek datar. Dia berjalan mendekat ke arah kakek itu yang masih belum dapat bangkit berdiri.


"Aku harus menjadi pimpinan dari semua tokoh sesat." katanya penuh penekanan. Saat itu, tangannya bergerak mencabut pedang. Dan sekali bergerak, putuslah kepala ketua Pedang Hitam berikut nyawanya sekalian.


Semua orang bungkam menyaksikan kejadian itu. Mereka merasa terkejut sekali bahwasannya orang yang terkuat di antara mereka kiranya telah kalah hanya dengan seorang pemuda. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, pedang itu. Ya, pedang di tangan Kay Su Tek itu.


"Pedang apa itu....?"


"Mirip seperti sebuah pedang legenda yang sudah hilang ratusan tahun."


"Aihh...pedang gerhana. Pedang Gerhana Bulan. Ya, sama persis seperti di gambar."


Seruan satu orang ini berhasil membuat mereka semua menimbulkan kegaduhan yang amat berisik. Mereka semua memandang Kay Su Tek dengan mata terbelalak tanpa berkedip. Penuh kekaguman dan rasa segan.


Lalu teriakan dari tengah penonton membuat semuanya ikut berseru lantang.


"Hidup ketua baru!!"


"Ketua seluruh golongan hitam!"


"Hidup ketua!!"


Sedangkan dua orang muda yang duduk dan sedikit bersembunyi di balik pohon, hanya mampu memandang kosong seperti orang baru bangun dari pingsan. Wajah mereka memucat.


"Aku tak akan terima!!" seru Sung Han lantang dan menerjang. "Kay Su Tek, ternyata kau tak lebih dari pendekar rendahan!!"


Hawa dingin menusuk tulang menyambar. Membuat pemuda berlengan satu itu berseru kaget dan melompat jauh. Dia memandang kepada sahabatnya dengan muka pucat, mulutnya yang gemetar itu berkata.


"Kenapa kau ada di sini?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2