
Malam itu dingin dan sunyi sekali. Semilir angin yang lewat benar-benar mendirikan bulu roma siapa saja yang masih terjaga. Orang-orang yang sudah tertidur lelap di dalam pelukan selimut tebal dan kasur empuk pun masih juga sedikut merasa kedinginan.
Kasihan para penjaga itu, terpaksa harus melewatkan malam di luar tenda hanya dengan ditemani api unggun dan arak wangi untuk menghangatkan tubuh. Tidak biasanya mereka bersikap seperti prajurit-prajurit kerajaan yang harus bersiap siaga menjaga tempat mereka. Biasanya, kalau malam begini jika tidak tidur di atas pohon, tentu di penginapan setelah menyewa seorang wanita. Bagi mereka itu hal biasa.
Namun segala macam rasa dingin dan sunyi yang amat menyeramkan itu seah tak dirasakan oleh dua orang muda yang sedang duduk berhadapan agak jauh dari rombongan tenda. Mereka duduk saling berhadapan hanya terpisah oleh batu datar yang diatasnya dipasangi lilin untuk penerangan.
Tidak ada api obor atau penghangat lainnya. Pakaian mereka masih sama dengan yang dipakai tadi siang. Pakaian ringkas ala pendekar.
Sebagai orang-orang yang memiliki kesaktian, mudah saja bagi keduanya untuk menolak hawa dingin dengan tenaga dalam. Menghangatkan tubuh sendiri dari dalam tanpa menghiraukan udara luar.
Sudah sejak setengah jam lalu keduanya saling duduk, saling hadap, namun tidak saling cakap. Hanya berhadapan saja saling pandang satu sama lain dengan tajam penuh selidik.
Akhirnya seorang pemuda yang berpakaian serba putih dan berlengan satu, membuka suara, "Ada urusan apa kau mengajakku ke sini tengah malam begini?"
Pemuda yang lainnya itu adalah Sung Han. Memang sebelumnya dia yang mengajak Kay Su Tek atau yang sekarang telah mendapat julukan di dunia persilatan sebagai Pendekar Tangan Satu, untuk bertemu di tempat ini dan bicara.
Sung Han menghela napas, "Ini soal dirimu yang memilih menjadi ketua golongan hitam."
Ucapan ini disambut dengan ekspresi tidak senang dari Kay Su Tek.
"Kupikir otakmu sudah sedikit miring?" kata Sung Han sambil mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri, "Apa yang kau pikirkan? Seorang murid tingkat atas dari Perguruan Awan, malah menghambakan diri kepaada dunia hitam. Kau benar-benar sudah sinting!"
Mendengar ejekan-ejekan itu, wajah Kay Su Tek mengeras. Namun setelahnya dia menghela napas mencoba menyabarkan diri.
"Pemerintah semakin semena-mena. Aku butuh kekuatan besar untuk menghancurkan mereka." tuturnya perlahan, "Aku tidak bisa terus berdiam diri dan membiarkan kematian saudara-saudaraku tidak terbalas."
Sung Han memandang tak senang. Tangannya sudah terkepal di atas kedua pahanya yang bersila. "Kau sudah tahu siapa yang membuat hidupmu seperti ini kan?"
__ADS_1
"Hati Iblis dan pemerintahan."
"Hati Iblis sudah kita ratakan. Lalu tinggal pemerintahan. Kau sudah tahu belaka siapa orang pemerintah yang melakukan serangan terhadap perguruanmu kan?"
Kay Su Tek menyipitkan matanya, tangan kanannya diam-diam ia kepal. "Apa yang hendak kau katakan?"
"Chang Song Ci berada tepat di depan matamu! Orang yang sudah meratakan perguruanmu ada di sini dan kau membantunya?! Kau sungguh gila!" Sung Han sedikit meninggikan suaranya.
Gigi Kay Su Tek bergemelutuk saling hantam atas dan bawah, "Lalu kepada siapa seharusnya aku memberi hajaran?" katanya sedikit gemetar.
"Kepada pangeran tolol satu itulah!" Sung Han membentak.
"Tapi jika dia mati di sini, maka kekaisaran Jeiji akan menguasai utara daratan ini. Dengan begitu mereka mendapat pasokan emas yang amat banyaknya dan mudah saja bagi mereka untuk terus melakukan penjajahan ke tengah daratan. Jika begitu, maka posisi kita akan terhimpit dan jika saat itu aku memberontak, akan banyaklah warga tak bersalah yang tewas!"
"Kau hendak melawan orang yang salah!! Kaisar tidak bersalah dalam permasalahanmu! Kenapa kau bersikeras? Seharusnya yang kau lawan adalah orang yang sedang kau beri bantuan saat ini!!" Sung Han sedikit terengah setelah membentak seperti itu, "Tindakanmu saat ini saja tidak bisa dibenarkan, kau bersikap seolah kau berdiri di pihak rakyat, tapi apa?! Kau hanya ingin balas dendam!"
"Dia pasti sudah memikirkan ini dan akan membuat rencana baru! Mengingat adanya diriku, pasti saat ini dia belum tidur dengan wanita-wanitanya. Dia pasti memikirkan rencana lanjutan untuk menyelesaikan kita berdua setelah penyerbuan Goa Emas." ucap Sung Han yakin.
Kay Su Tek mengerutkan kening, "Baiklah, anggap saja ucapanmu itu benar dan aku akan membuat persiapan jika pangeran itu menyerang balik. Tapi yang jelas, keputusanku tidak berubah. Aku memang pemberontak dan kau musuhku!" Kay Su Tek lalu menajamkan pandangannya, dia menatap Sung Han dengan mata berapi, "Kau juga menjadi salah satu orang yang membuatku seperti ini!"
"Soal Yang Ruan?" Sung Han memastikan.
"Kau perebut tunangan orang. Laki-laki rendah!"
Mata dan wajah Sung Han memerah karena marah, darah sudah naik ke ubun-ubun kepalanya. "Apa maksudmu? Perebut tunangan orang? Hei, aku melawanmu kala itu untuk Yang Ruan, untuk dirimu juga! Kau pikir wanitamu itu setuju kau menjadi orang yang seperti ini?!"
"Persetan!!" Kay Su Tek bangkit berdiri, "Aku akan tetap berjalan di jalan ini dan menghancurkan pemerintah. Kalau begitu dengar omonganku, setelah Chang Song Ci naik tahta, maka dia akan kubunuh sekalian. Nah, kau sudah puas kan? Sekarang aku juga punya tujuan untuk membunuh musuh besarku!"
__ADS_1
Dia lalu berjalan pergi meninggalkan Sung Han. Namun setelah lima langkah berjalan, dia berhenti dan berbalik, "Kulihat pedangmu dibawa oleh pangeran itu. Maka ambil pedangmu, aku Kay Su Tek si Pendekar Tangan satu, menantangmu Sung Han! Menantangmu untuk menentukan siapa yang layak menjadi pewaris pedang gerhana!!"
Kali ini mata Sung Han terbelalak. Benarkah ini? Benarkah apa yang didengarnya? Secara langsung Kay Su Tek telah mencetuskan tantangan padanya dan itu hanya berarti bahwa kutukan itu benar adanya.
"Apakah kau hendak menuruti kutukan bodoh itu?" bentak Sung Han sebelum Kay Su Tek benar-benar pergi.
Pemuda tangan satu ini membalikkan tubuhnya lagi, "Kutukan? Heh, persetan dengan itu. Hanya kebetulan saja kita harus saling bertanding secara gagah sampai mati. Sehingga sekilas lihat seperti kita telah terkena kutukan itu." dia berjalan pergi, "Ini juga untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas bersanding dengannya?" katanya setelah jauh.
"Hanya demi wanita kau hendak mengacaukan segalanya?! Kay Su Tek, kau bangsat!!!" Sung Han membentak dan mengangkat batu di depannya. Kemudian ia lontarkan menuju Kay Su Tek.
"Darr!!"
Batu itu pecah-pecah begitu tangan tunggal Kay Su Tek melakukan tamparan. Setelah debu mengepul mulai lenyap, nampak mata mencorong di antara sisa kepulan debu itu.
"Sung Han, keputusanku sudah bulat. Aku menganggap kutukan itu tidak nyata dan pertarungan kita hanya kebetulan sama dengan isi kutukan itu. Jika kau percaya akan kutukan, maka anggap saja pertarungan ini adalah wujud dari kutukan itu. Atau jika hal ini tidak terjadi pun, anggap saja suatu waktu di masa depan ada pemicu lain yang mengharuskan kita untuk bertempur!"
Setelah mengucapkan ini, Kay Su Tek benar-benar pergi.
Agaknya sekarang ia paham akan kekhawatirannya terhadap Sung Han ketika dia tertimbun batu-batu di Lembah Setan. Agaknya bukan kekhawatiran akan keselamatan Sung Han, justru khawatir hal ini akan terjadi.
Mungkin sejak awal Kay Su Tek sudah ditakdirkan sebagai pewaris Pedang Gerhana Bulan dan dia khawatir akan bentrok sendiri dengan kawannya. Namun saat ini, kekhawatiran itu agaknya sudah membeku dan ia buang jauh-jauh. Keputusannya sudah bulat sebulat-bulatnya. Dia akan mengobrak-abrik pemerintahan, dan membunuh saingannya. Sung Han!
"Aku tak akan mundur!!" desisnya di kejauhan setelah melihat Sung Han yang kembali duduk termenung itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1