Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 197 – Sosok Misterius


__ADS_3

Pada waktu itu, kekaisaran tak terlalu memedulikan soal para pemberontak yang cukup terkenal empat tahun sebelumnya. Ia adalah Kay Su Tek, Sung Han dan Rajawali Merah. Entah kekaisaran memang melupakan mereka ataukah karena ketiganya tak pernah berulah, sehingga pihak Chang tak mau repot-repot mengeluarkan tenaga tak berguna.


Selama empat tahun itu, perseteruan antara putri Chang Song Zhu dan pangeran Chang Song Ci tak terlalu memanas dan sedikit "tenang". Bahkan beberapa kali pangeran itu diundang ke istana untuk sekadar pesta makan malam bersama adiknya Chang Song Zhu.


Apakah yang terjadi dengan kekaisaran Chang? Itu tak lain adalah karena kekaisaran Jeiji yang sudah semakin mengganas.


Sekarang sudah bisa dibilang bahwa hampir seluruh wilayah selatan telah dikuasai oleh kekaisaran itu, bahkan ada rumor beredar bahwasannya pangeran Nakagi mulai bergerak ke utara. Karena itulah baik para pemberontak atau tokoh setia, tak ada waktu untuk saling gempur sendiri.


Pihak pemberontak ada yang mencoba melakukan negosiasi dengan kekaisaran Jeiji berupa siasat untuk menggulingkan kekaisaran bersama. Namun pangeran Nakagi menolak mentah-mentah.


Karena itulah, entah bagaimana dalam keadaan yang makin panas ini, jarang terjadi pertempuran kecil melawan pemberontak. Walau cukup sering untuk bentrok melawan kekaisaran lawan.


Karena para pemberontak berupa Serigala Tengah Malam dan aliansi golongan hitam bukanlah orang-orang bodoh. Bahkan jika mereka bersatu pun, sulit untuk menumbangkan kekaisaran yang memiliki banyak prajurit itu. Terlebih lagi melihat sikap kekaisaran Jeiji yang tak bersahabat, tak dapat diharapkan bantuannya sama sekali.


Tokoh-tokoh muda dari rimba persilatan banyak yang muncul. Seperti Pendekar Pedang Darah dan Pendekar Tongkat Besi yang bukan lain adalah Khuang Peng bersama Nie Chi. Ketua muda dari Rajawali Putih itu membawa seluruh perkumpulannya umtuk membantu kaisar.


Demikian pula dengan Nie Chi, gurunya si cebol itu tak pernah memerintah kepadanya untuk memihak siapa. Namun dia pernah memgancam jika muridnya bersekutu dengan pemberontak, maka ia mengutuk murid serta tujuh turunannya. Ini sih pemaksaan.


Bahkan beberapa tahun ini, dua orang pendekar muda itu sudah seperti jenderal, mereka kerap kali memimpin pasukan kekaisaran ke tempat-tempat tertentu untuk menaklukkan pasukan kekaisaran lawan atau pemberontak.


Agaknya, kekhawatiran semua orang hampir bisa dibuktikan. Perang Sejarah mungkin saja akan meletus kembali.


...****************...


Rambutnya dikuncir dibagian tengkuk, sedangkan atas kepalanya tertutup dengan sebuah caping lebar yang di pinggirannya terdapat kain hitam tipis. Jubahnya berwarna biru gelap dengan dibalut sebuah mantel tebal panjang berwarna hitam, menutupi seluruh tubuhnya. Mulut sampai ke hidungnya tertutup sebuah kain tebal hitam. Semacam syal yang dipakai ketika musim dingin tiba.


Ia berjalan santai menuju ke gerbang desa itu, di mana mengacuhkan setiap pandangan aneh dari warga setempat. Memang akibat pengaruh kekaisaran Jeiji, banyak warga yang waspada berlebihan kepada orang asing.


"Kami belum pernah lihat dirimu, siapa engkau?"


"Pengembara."


Penjaga gerbang itu kaget mengetahu suara orang di depannya yang masih amat jernih. Jelas dia seorang pemuda. "Bisa kau buka penutup wajahmu itu? Kami harus memastikan apakah engkau orang Chang atau Jeiji."


Pemuda ini menatap orang itu sekilas, lalu tubuhnya sedikit mendoyong ke samping ketika dia melongok untuk melihat ke dalam desa. "Kau pikir mereka itu termasuk orang Chang?" tanyanya menunjuk beberapa orang yang terselip sebatang katana di pinggang.

__ADS_1


Dua penjaga gerbang itu menoleh, "Ahh...mereka hanya para pengawal dari pedagang Jeiji. Tidak berbahaya. Bahkan ketika kami periksa sama sekali tidak menunjukkan aura permusuhan. Justru sebaliknya, amat ramah."


"Kenapa kau bisa begitu yakin?"


Penjaga itu kembali memandang orang asing berjubah. "Mereka bukan prajurit. Yah, walau para penduduk desa sedikit mengucilkan mereka serta pedagang itu."


"Kau tak menjawab pertanyaanku," kata pemuda itu memandang tajam. "Kenapa kau bisa yakin mereka bukan ancaman? Salah satu siasat perang adalah penyamaran."


Penjaga itu nampak sedikit kikuk, lalu temannya menjawab. "Percayalah, mereka bukan ancaman bagi kita. Mereka hanya pedagang yang ikut berlayar dari kekaisaran Jeiji untuk menjual rempah-rempah. Selain diperjual belikan kepada bangsanya sendiri, juga diperjual belikan kepada kita."


"Terserah," nada suara pemuda itu terdengar bosan. Pendapat yang tak masuk akal, pikirnya.


"Em...jadi, bisakah kau membuka topengmu?"


Sejak tadi pemuda ini sudah tertarik dengan tiga buah kertas yang ditancapkan dengan pisau berkarat di tiang tembok desa. Sebuah kertas yang sudah compang-camping. Namun ada semacam tanda goresan dengan tinta merah di dalamnya.


Sung Han, Pendekar Lengan Satu, Rajawali Merah.


Demikian setiap kertas itu tertulis, tiga kertas lapuk yang seakan dapat hancur kapan saja. Tiga kertas bergambar yang hanya menyisakan bagian kepala gambar saja, di mana tepat pada bagian jidat telah tertusuk pisau karatan. Namun yang bersilang tinta merah, hanya gambar yang bernama Sung Han.


"Dia sudah mati. Coretan tinta merah itu menunjukkan bahwa dia sudah mati," demikian salah satu penjaga berkata, "Kau tak perlu khawatir. Katanya memang Sung Han itu yang paling mengerikan. Entah siapa yang bilang."


"Yah...dia sudah mati," penjaga itu menyahut, "Bisakah kau buka topengmu beberapa saat sambil memberitahu kami siapa namamu?"


Pemuda bercaping ini mengangkat capingnya sedikit ke atas. Membuka sebagian wajah. Lalu dia menurunkan kain hitam tebal yang menutup hidungnya ke bawah. Dua penjaga itu berjengit hampir berteriak ngeri.


"Maaf saja, aku cukup pemalu soal ini. Sudah selesai?"


"Sudah...sudah...." penjaga itu berkata cepat dan pemuda ini menutupkan kembali kain hitamnya.


"Namaku Xian Fa." ucap pemuda itu yang ternyata bernama Xian Fa.


"Silahkan masuk." keduanya memberi jalan.


Xian Fa melirik mereka, lalu katanya seperti sedikit mengejek. "Kalian iba padaku?"

__ADS_1


Keduanya tak mampu menjawab.


...****************...


Xian Fa cukup menarik perhatian banyak orang. Bagaimanapun mantel hitam panjang dan caping dengan kain berenda di pinggirannya itu cukup mengherankan siapapun yang memandang. Hari begini panas, apakah tidak kegerahan? Demikian semua orang berpikir.


Namun Xian Fa tak pedulikan. Dia melihat beberapa orang yang sama anehnya dengan dia. Berpakaian aneh-aneh dan sikapnya pun tidak wajar. Mereka-mereka ini sama sekali tidak merasa heran dengan sikap Xian Fa.


"Hmph...orang-orang persilatan ya...."


Tanpa sengaja, Xian Fa mendengar gumaman seorang pria paruh baya pinggir jalan yang menghisap cangklong berasap. Xian Fa menghentikan langkahnya.


"Paman, seolah kau baru saja menyapaku?" tegur Xian Fa.


Prua ini sedikit menyeringai. "Yah, anggap saja begitu," jawabnya santai sebelum menghisap pipa cangklongnya. "Kau merasa heran dengan keberadaan mereka?" katanya lagi sambil menunjuk serombongan orang berkatana dengan dagunya.


Xian Fa menoleh sesaat dan mengangguk. "Iya."


"Itulah yang menarik perhatian orang-orang persilatan. Di sekitaran sini memang banyak terlihat pengembara berpedang lengkung itu. Hah...amat meresahkan."


Xian Fa tak terlalu memedulikan ucapan orang, karena dia sudah melihat buktinya sendiri. "Kenapa kau seolah memang sengaja bicara padaku?"


Pria itu terkekeh. "Heheh, aku hanya warga desa biasa, namun sudah sering melihat kejadian aneh," kemudian dia menoleh melihat serombongan orang berkatana. "Mereka itu cukup berbahaya, seminggu lalu ada satu pendekar mencoba menyelidikinya. Ketika berada di hutan, pendekar itu telah tewas."


"Aku tahu mereka cukup berbahaya." balas Xian Fa. "Terima kasih atas peringatanmu." lalu dia melangkah pergi.


Memang di waktu itu, sudah banyak tersebar orang-orang pembawa pedang katana. Bahkan para pedagang pun ada yang membawa pedang itu sebagai alat pelindung. Hal ini tak cukup aneh karena pengaruh kekaisaran Jeiji. Bahkan model pedang lengkung itu banyak disukai para pandai besi yang cepat memproduksinya untuk diperjual belikan. Sehingga cukup banyak orang-orang Chang yang membeli dan mengoleksi pedang itu.


Memang sulit pada masa itu, untuk membedakan mana pemegang katana yang berasal dari kekaisaran Jeiji, dan mana pemegang katana yang merupakan orang Chang dan hanya sekedar tertarik dengan pedang itu.


Xian Fa menghampiri rombongan pedagang dengan pengawalan sejumlah orang berkatana itu. Dia berdiri di hadapan dagangannya. Sebelum si pedagang mampu berkata, Xian Fa sudah menyela lebih dulu.


"Kalian orang-orang Jeiji kan?"


Raut muka mereka berubah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2