
Beberapa menit berselang, akhirnya enam orang berjubah hitam-hitam itu sampai di tempat pimpinan mereka berada. Dia tak lain adalah seorang yang tadi bentrok dengan Sung Han.
Melihat datangnya enam orang ini, pria bertopeng yang disangka-sangka adalah pemimpin mereka itu bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan tangan menggapai salah seorang.
"Pimpin jalan!"
Sung Han, pemuda yang telah mengambil baju serta topeng orang itu berkata. Dalam penyamarannya ini, sebisa mungkin dia meniru suara pemilik aslinya. Dan menahan diri agar sedikit bicara supanya perbedaan suaranya tidak nampak begitu jelas.
Orang itu nampak sedikit heran, tapi tak mau membantah. Lantas ia berjalan ke depan diikuti oleh Sung Han dan lainnya.
Saat Sung Han sedikit melirik ke belakang, kiranya enam orang itu telah memanggul dua orang gadis cantik seumurannya. Pemuda ini cukup kaget bahwa korbannya dua orang, dia tak cukup melakukan penyelidikan sehingga tidak tahu di mana rumah korban kedua.
Tindakan Sung Han ini disalah artikan oleh dua orang pemanggul itu. Salah satunya berkata, "Tuan, bagaimana pun ketua harus lebih dulu." kata orang itu sambil menampar pinggul si gadis. Membuat gadis itu merintih jijik, "Bagian kita ada lagi, hahaha..."
Sung Han hanya terdiam saja, lalu kembali menoleh ke depan. Sikap ini membikin hati dua orang itu tak karuan karena mengira pimpinan mereka itu sedang dalam keadaan hati yang buruk.
"Hm...." akhirnya Sung Han hanya berguman singkat.
Mereka berjalan menuju ke jantung hutan sebelah barat desa. Terus memasuki hutan mengikuti aliran anak sungai yang berada di sana. Makin jauh berjalan, pepohonan makin rimbun dan nuansa angker jelas terasa.
Apalagi ketika mereka melewati sekumpulan bambu yang tumbuh di kanan kiri sungai, sampai membentuk seperti sebuah terowongan. Andai saja Sung Han lewat sini sebelum belajar silat, pasti dia sudah terkencing di celana saking ngerinya.
Suasana di sana amat gelapnya, hanya bermodalkan cahaya bulan setengah yang remang-remang. Tapi agaknya orang-orang ini tidak melihat dengan mata, namun melihat dengan kaki. Alias mereka sudah hafal benar daerah sini bahkan tanpa melihatnya.
Sung Han yang bersikap sebagai "pemimpin", harus berusaha keras bersikap tenang dan menahan diri agar tidak terjungkal akibat batu-batu sungai. Bagaimana pun batu-batu itu tidak rata dan cukup licin.
Tak berselang lama, mereka sampai di tempat yang dipenuhi dengan obor, tahulah Sung Han jika tempat ini tujuannya.
Itu merupakan obor-obor yang mengelilingi satu kuil tua. Terlihat kotor dan berdebu. Bahkan patung singa di depan pintu itu sudah kehilangan kaki kanan serta kuping kiri. Giginya banyak yang rontok sehingga kesan kereng dari si singa lenyap berubah menjadi lucu sekali. Hampir tertawa Sung Han melihat itu.
"Kami kembali ketua!" keenam orang itu berlutut. Beruntung Sung Han bereaksi cepat sehingga dia dapat berlutut tepat waktu, hampir berbareng.
Dua gadis yang dalam keadaan tertotok itu bergetar ngeri ketika dari dalam kuil menyambar angin dingin mencekam. Disusul berdirinya satu sosok topeng emas dengan membusungkan dada dan sikapnya jumawa sekali.
"Aku sudah tidak sabar." katanya memandang dua sosok gadis bergantian, "Bawa masuk!" perintahnya kemudian.
Namun saat orang ini berbalik, dia menghentikan gerakannya itu dan kembali memandang ke arah tujuh rombongan. Dia diam sampai lama membuat orang-orang itu bingung hendak melakukan apa. Maka tak ada yang berani bangkit dari sikap berlutut.
Tiba-tiba pria topeng emas ini berkata yang isinya amat mengejutkan mereka semua.
"Salah satu dari kalian ada yang tidak pulang."
Enam orang itu tersentak kaget. Diam-diam Sung Han pura-pura kaget pula dengan mengeluarkan seruan tertahan. Tapi enam orang itu bukannya bodoh, mereka juga cukup lihai walau diutus hanya untuk menculik gadis.
__ADS_1
Enam orang itu saling pandang, jelas sepanjang malam ini mereka selalu bersama dari berangkat sampai pulang. Satu-satunya orang yang ditinggalkan adalah pimpinan mereka.
Lalu orang yang tepat berada di samping kiri Sung Han tanpa sengaja melirik pinggang Sung Han. Sebatang pedang tergantung di sana, tapi dengan bantuan cahaya obor, kilauan ukiran indah di gagang pedang itu nampak jelas. Dan ukiran itu berbeda dengan ukiran pedang pimpinan mereka sebelumnya.
Ia bangkit dan melompat jauh, "Menyingkir dari orang ini!!"
Kelima kawannya heran sekali tapi secara refleks melompat pula. Memandang ke arah kawannya dan ke arah Sung Han yang masih berlutut dengan bingung.
"Kau pintar juga ya...." puji si topeng emas kepada pria yang tadi memberi peringatan. Ia memandang Sung Han tajam, "Siapa engkau?"
Dari balik topengnya, Sung Han melirik tajam pria pemberi peringatan tadi. Usahanya menyelidik gagal akibat seruan orang tersebut.
Tak ada pilihan lain, pikirnya. Ia lantas berdiri dan menjura kemudian berkata tenang, "Orang yang sedang lewat dan penasaran dengan keadaan sini."
"Wuusss!!"
Menyambar angin dahsyat berhawa dingin dari arah topeng emas itu. Kiranya orang ini telah memggunakan tenaganga mendorong angin untuk menyerang Sung Han.
Sung Han tanpa mengubah kedudukan atau bergerak, tetap dalam keadaan menjura, hanya menggerakkan sedikit pergelangan tangan, menyambarlah serangkum angin yang sama-sama dingin.
"Blaaaarr!!"
Nampak semacam kilat-kilat ketika dua tenaga beradu. Setelah ledakan terdengar, dua obor di pintu masuk padam dalam keadaan beku.
Sedang pria bertopeng itu mundur satu langkah, namun Sung Han masih bergeming. Jelas ini mengejutkan hati enam orang itu, bahkan dua orang gadis itu memandang terbelalak penuh kekaguman dan harapan. Kali ini kesempatan selamat terbuka lebar!
Sung Han cepat bergerak, memajukan kaki kanan dan menggerakkan tangannya mendorong. Kali ini keduanya menggunakan hawa Yang yang amat panas.
"Breeesss!!"
Dua telapak tangan saling tempel, dan dari sela-selanya muncul asap tipis yang makin lama kian menebal. Keduanya diam seperti arca, sama sekali tidak bergerak. Menandakan sedang mengadakan pertandingan tenaga dalam.
Sampai lima menit keadaan ini tidak berubah, sebelum si topeng emas memekik nyaring dan terlempar ke belakang. Sampai dua tiga tombak jauhnya, sebelum orang itu berputaran di udara dan mendarat dengan indah.
"Serbu!!" serunya sambil mendekap dada yang terasa cukup sesak sungguhpun tidak terluka.
Penggendong dua orang gadis itu mundur. Berbareng dengan ini, dari kanan dan kiri muncul tiga puluhan orang yang sama-sama berpakaian hitam. Mereka dalam keadaan bersenjata dan semuanya menargetkan Sung Han. Kiranya tempat ini sudah dikurung banyak sekali orang.
"Huh!!" Sung Han mendengus, tapi cepat ia bergerak mainkan ilmu silatnya.
Perlu diketahui, kekuatan Sung Han saat ini sebenarnya sudah setara dengan tokoh-tokoh tinggi dunia persilatan. Ini ditandai dengan penggunaan hawa Yang dan Yin secara seimbang.
Walaupun ada beberapa pendekar tinggi yang menitik beratkan pada satu unsur tenaga dalam, tapi untuk mencapai tingkat tinggi hanya dengan berfokus pada satu unsur itu sangat sulit.
__ADS_1
Sehingga Xiao Shi Yong, mengajarkan dua unsur itu pada Sung Han.
Selama ini, Sung Han lebih sering menggunakan ilmu hawa Yang-nya, yaitu Tangan Panas Inti Matahari. Suatu ilmu silat tangan kosong yang hebat dan yang digunakannya tadi untuk mengadu tenaga dengan pria topeng emas.
Kali ini, menghadapi pengeroyokan banyak orang dan dari segala sisi, ilmu itu tidak cukup efektif untuk digunakan walaupun Sung Han bisa dengan mudah menyapu bersih mereka hanya dengan ilmu itu.
Tapi ada satu ilmu yang sama hebatnya namun berlainan unsur, yaitu unsur dingin. Ilmu ini bernama Badai Salju Pembeku Darah. Sebuah ilmu silat yang serangannya seperti badai, menyambar-nyambar dan kalau terkena hawanya saja, jika orang itu tidak kuat akan mati seketika.
Inilah yang membikin gentar puluhan orang itu. Pasalnya baru segebrakan Sung Han mainkan ilmu silat ini, barisan pertama penyerbu sudah roboh semua. Sedang barisan kedua dan seterusnya merasa menggigil hebat.
Tapi karena ada ketua mereka, mereka lebih takut mati di tangan topeng emas itu. Maka dengan nekat terus bergerak maju.
"Hiaaaaatt!!"
Sung Han memekik dan tubuhnya melambung tinggi. Di atas sana dia berputaran seperti asal berputar saja. Tapi sejatinya dari tangan kaki itu menyambar angin dingin yang kalau diperhatikan ada seberkas salju-salju putih.
Inilah keampuhan dari ilmu itu, maka selama tiga detik melayang saja, sudah ada belasan orang roboh tewas.
"Dia bukan manusia!!"
"Siluman!!"
Begitu menjejak tanah, Sung Han melambung lagi. Kali ini mengarah ke satu jurusan, ke arah dua orang yang menggendong gadis desa itu.
Dua orang ini sudah pucat dan hendak lari. Tapi pada saat itu ada dua sosok yang tahu-tahu sudah menghadang laju Sung Han.
"Minggir!!"
Sung Han membentak, membarengi dua serangan tapaknya. Dua orang itu memapaki terjangan Sung Han dengan tangan mereka. Tapi akibatnya membuat siapa saja terkejut.
Dua orang yang kepandaiannya dipercaya berada di bawah langsung dari si topeng emas, begitu bertemu dengan lengan Sung Han, tubuh mereka terlempar sampai tujuh tombak jauhnya.
Begitu bangkit, dari sela-sela bibir mengalir darah segar.
Sung Han baru sadar kalau hanya dua orang inilah yang tak memakai topeng.
"Hebat sekali!!" seru salah seorang dari dua orang itu yang agaknya lebih kuat. Dia sudah bangkit berdiri tegak.
"Ugh..." sedang satu lagi bangkit sedikit kesulitan. Tapi di tangannya sudah menggenggam sebatang belati.
Sung Han memandang penuh perhatian, keningnya mengerut saat mengenal dua orang itu.
"Kalian....?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG