Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 212 – Sejarah Goa Emas


__ADS_3

Kenapa tiga orang pertapa sakti itu amat melindungi Sung Han yang mereka anggap sebagai Tok Ciauw? Bukankah Tok Ciauw berada di Goa Emas?


Ini semua ada hubungannya, bahkan dengan dugaan pangeran Daijin Nakagi yang waktu itu sempat menduga bahwa Tok Ciauw adalah sosok pendekar besar yang hidup di zaman Shuji. Dan itu semua benar.


Jadi, sejarah Goa Emas yang teramat panjang itu bermula dari sosok yang bernama Hok Cai Lung. Dia ini adalah pendekar gemblengan para pendeta dari Perguruan Tapak Putih di selatan sana. Dia merupakan murid terkasih dari ketua Perguruan Tapak Putih di masa itu karena kecerdikannya. Sehingga ilmu-ilmu simpanan yang hebat dan tinggi tingkatnya, semua dapat dipelajarinya sampai akhir.


Namun dia punya satu keburukan, yang amat bertentangan dengan jalan hidup pendeta. Itu adalah urusan wanita.


Bertahun-tahun Hok Cai Lung menggembleng diri dengan filsafat kebatinan dan ajaran-ajaran pendeta. Dia bahkan menggunduli rambutnya sendiri untuk membuktikan bahwa dia memang pendeta tulen.


Tapi agaknya batinnya tidaklah sekuat para pendeta sepuh yang ada di sana. Suatu ketika dia digoda oleh seorang lacur yang memang namanya sudah tersohor sekali. Lacur itu kehilangan pekerjaan dan diusir oleh nyonya rumah karena telah difitnah seseorang yang mendengki padanya.


Singkat cerita, terjadilah perjinahan di antara keduanya. Si lacur yang kehilangan pekerjaan dan Hok Cai Lung yang memang batinnya kurnag kuat. Namun tindakan ini tidak berhenti sampai di situ saja, setelah seminggu Hok Cai Lung tidak pulang ke perguruan, salah seorang seniornya mencari dan memergokinya sedang tidur berdua bersama seorang wanita. Apalagi wanita itu ia kenal sebagai lacur nomor satu di daerahnya.


Marahlah senior ini. Dia memiliki posisi tinggi di perguruan, maka pada saat itu juga Hok Cai Lung dikeluarkan dari perguruan dengan cara tidak hormat karena dianggap murtad. Hok Cai Lung tak ada pilihan lain selain pergi.


Dia telah mabok. Dia seperti lupa segala setiap kali berdekatan dengan lacur yang bernama Sian Cu itu. Sampai satu bulan lamanya mereka melakukan perjalanan bersama dan tak pernah satu hari pun tidak bermain cinta.


Hingga suatu ketika, Sian Cu hamil. Dan Hok Cai Lung yang memang menjunjung tinggi kegagahan, maka dia memutuskan untuk menikahi Sian Cu. Pergilah mereka ke utara untuk mengasingkan diri dan sampailah ke goa ujung utara, goa yang ia namai sebagai Goa Emas saking banyaknya emas yang ada di sana.


Anak dari mereka itulah yang diberi nama Tok Ciauw. Entah ide dari mana, namun keduanya tidak mau memberi nama keluarga mereka kepada si anak. Merasa malu akan perbuatan kotor yang sudah kelewat takaran itu. Sian Cu yang mantan pelacur, dan Hok Cai Lung yang merupakan murid murtad.


Sampai bergenerasi-generasi keturunan mereka tinggal di sana. Bahkan Tok Ciauw mulai mengambil murid-murid yang dipilihnya sendiri. Yang berbakat baik sekali.

__ADS_1


Berbeda dari orang tuanya yang merasa malu akan perbuatan sendiri, justru Tok Ciauw ini merasa bangga akan diri sendiri yang tidak mengulang perbuatan orang tua mereka. Maka dari itulah, dia mewajibkan siapa pun yang menjadi murid-muridnya, harus mengenakan nama kedua yaitu Tok Ciauw. Namanya sendiri.


Demikianlah sedikit riwayat tentang Tok Ciauw dan Goa Emas. Dan Tok Ciauw generasi ini, itu merupakan murid dari muridnya dari muirdnya dan muridnya–entah seberapa banyak– murid Tok Ciauw keturunan Hok Cai Lung.


Karena itulah ketika pada hari di mana Sung Han diselamatkan oleh Tok Ciauw si Iblis Peti Goa Emas, dia diharuskan untuk bersumpah setia tidak membocorkan tempat rahasia itu. Dan Tok Ciauw mengambil Sung Han sebagai murid.


Karena itulah, Sung Han juga mendapat nama kedua yaitu Tok Ciauw. Dia merupakan murid sekaligus pewaris Goa Emas.


Sedangkan tiga kakek pertapa itu, merupakan sahabat-sahabat Goa Emas yang sudah mengenal ilmu-ilmu dari sana. Maka dari itulah ketika melihat Sung Han bersilat, mereka dapat segera menduganya.


...****************...


Setelah menjadi murid Tok Ciauw, secara resmi Sung Han telah menjadi pendekar sejati karena mampu menguasai hawa sakti sepenuhnya. Atas bimbingan Tok Ciauw, dia mengetahui fakta bahwasannya kekuatannya itu tertahan karena adanya hawa sakti bumi yang mendekam dalam dirinya dan tidak menemui penyaluran.


Dia melakukan perjalanan cepat menuju barat, lalu pergi ke selatan sebagaimana rencananya dengan Sung Hwa. beberapa hari berselang sampailah ia di desa Alang-Alang. Akan tetapi setelah tiba di sana dan menunggu, kiranya Sung Hwa belum sampai-sampai juga. Sung Han mencoba bersabar diri untuk menunggu hingga sepekan, namun orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba.


Ketika dia keluar dari rumah penginapan dalam rangka memulai pencariannya atas diri Sung Hwa, di kejauhan dia melihat sesuatu yang menarik perhatian.


"Pasukan Jeiji?" gumamnya seorang diri. Lalu Sung Han memutuskan untuk naik ke bukit kecil agar jangkauan pandangnya meluas.


Memang benar penglihatan Sung Han itu, dari arah timur sana terdapat rombongan Kekaisaran Jeiji yang lumayan besar. Sedikitnya seribu orang dengan dipimpin oleh seorang yang berpakaian jenderal. Bendera mereka berwarna merah dengan gambar bunga semanggi warna putih.


Sung Han menyipitkan mata dan mengerutkan kening. Melihat bendera itu, apalagi berasal dari timur, perasaannya sedikit banyak menjadi cemas.

__ADS_1


Gurunya dahulu pernah bilang.


"Satu di antara pasukan-pasukan kuat Jeiji adalah yang memakai bendera merah bergambar semanggi putih. Jenderal mereka namanya jenderal Fujimino Shiro. Jika diukur dengan tingkatan pendekar, dia setara dengan pendekar sejati berpengalaman."


Melihat bendera itu, Sung Han tak merasa ragu lagi, pasti inilah pasukan yang dipimpin oleh Fujimino Shiro. Seketika teringatlah akan diri Sung Hwa. Dan itu membuatnya cemas.


Apalagi ketika orang-orang desa kembali dengan membawa ekspresi penuh kerutan rasa takut.


"Kekaisaran Jeiji ingin menginvasi!"


Sung Han semakin tidak nyaman. Dia melihat ke arah desa, melihat betapa banyak orang-orang berpakaian pendekar yang segera keluar dari dalam rumah-rumah penginapan atau rumah warga, berkerumun di jalan. Sung Han melompat turun.


"Sikat saja mereka, siapa takut?"


Seseorang lainnya menjawab. "Pendekar selalu mementingkan rakyat dan pihak lemah. Evakuasi penduduk!"


Ucapan kedua ini sungguh mengagumkan hati Sung Han dan dia sendiri ikut membantu proses pengevakuasian warga. Para warga yang panik itu tak sempat membawa banyak benda mereka. Hanya baju-baju ganti dan beberapa perhiasan serta uang, mereka berlari keluar dari gerbang utara kota.


Akan tetapi, agaknya sudah sedikit terlambat. Pasukan Jeiji sudah dekat!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2