
Jenderal berkumis tadi memang benar-benar menyebalkan, dia berpikiran sempit dan picik. Menganggap bahwa perang kali ini adalah urusan pemerintahan dan tak seharusnya orang luar, seperti para pendekar, ikut campur. Dia bilang para tentara harus melindungi "rakyat". Sung Han ragu itu adalah keinginan tulus atau hanya satu usaha untuk menonjolkan namanya kelak.
Pertemuan itu tak berarti apa-apa kecuali suasana panas menegangkan. Putri Song Zhu sebagai pimpinan yang mewakili kaisar langsung, tak bisa seenak jidat membuat satu keputusan. Bagaimanapun dia harus menghargai setiap pendapat yang diungkapkan oleh lain pihak. Inilah yang menjadi sebab utama mengapa perempuan itu selalu berjalan dalam keadaan menunduk dan kening berkerut.
Keesokan paginya, Sung Han dan Sung Hwa yang diberikan sebuah kamar besar itu tak terlihat keluar dari kamarnya. Tak ada satu pun orang tolol yang berani mengganggu. Bahkan atas perintah sang putri sendiri, kamar mereka berdua tak perlu diberi penjaga. Bukan karena menganggap dua orang sakti itu tak penting. Namun karena tidak ingin mengganggu sepasang muda-mudi yang masih dalam masa bulan madu itu.
Siang harinya, barulah Sung Han dan Sung Hwa keluar dari dalam kamar. Wajah mereka tak begitu baik. Dugaan semua orang tentang malam mereka berdua agaknya salah. Sung Han dan Sung Hwa tidak sedang bersenang-senang.
Memang demikianlah, semalaman bahkan sampai lewat pagi keduanya tidak keluar kamar itu bukan karena sedang memadu kasih. Namun waktu itu mereka gunakan untuk bercakap-cakap saling bertukar pikiran. Memikirkan bersama bagaimana baiknya mencari jalan keluar untuk masalah kali ini.
Kekaisaran Jeiji, telah mengintai dari dua sisi. Dari selatan dan dari wilayah utara sendiri. Entah di mana tempat persembunyian mereka, namun yang pasti kekaisaran Jeiji sudah amat siap untuk keluar kandang begitu pasukan dari selatan tiba.
Kerisauan semakin bertambah ketika pada tengah malam, Sung Hwa mengingatkan Sung Han tentang satu hal.
"Mari asumsikan dengan keadaan seburuk-buruknya. Selama ini seolah daratan utara tidak sedang terancam bahaya. Tapi kita semua sudah tahu seberapa gentingnya keadaan ini. Ditambah pasukan dari selatan tidak lekas menyerang kemari, itu bisa kita artikan jika Kekaisaran Jeiji telah memiliki pegangan dan sudah yakin menang terhadap Kekaisaran Chang. Kini mereka sedang menunggu. Menunggu momen tepat. Dan sayang sekali, kita tidak tahu apa, kapan dan bagaimana dengan yang dimaksud 'momen tepat' tersebut."
Sung Han sadar dengan hal itu. Hanya saja ketika diingatkan dengan hal itu, seolah semua semangatnya ditarik ke luar. Entah kenapa, keadaan yang saling menunggu dan serba tidak pasti ini jauh lebih merisaukan daripada berhadapan dengan selaksa prajurit sekali pun.
Mereka menyudahi pembicaraan itu tepat sebelum pagi. Setelahnya mereka tidur beberapa jam dan sewaktu bangun, berharap untuk melupakan pembicaraan tadi malam, justru mereka malah semakin teringat. Karena hal inilah maka ketika keluar kamar, wajah mereka kusut tanpa semangat.
Sung Han berjalan ke taman depan rumah dan mendudukkan diri di sana. Sung Hwa mengikut.
Kegiatan berikutnya yang mereka lakukan hanyalah saling melamun tanpa bicara. Memandang ke kejauhan entah apa itu. Hanya ingin melupakan segalanya tapi sayang sekali tak ada yang bisa dilakukan.
Hingga tiba-tiba Sung Han terperanjat, seperti seseorang yang dikejutkan dengan sesuatu. Sikap ini mengejutkan Sung Hwa yang segera memegang tangan Sung Han dan berkata.
"Suamiku?"
"Ah, aku terpikirkan sesuatu. Yang saking tegangnya keadaan, hingga pemikiran ini terlihat hampir nustahil."
Sung Hwa jelas tak paham. Dia memandang Sung Han kahwatir. Kembali dia erkata dengan ucapan yang sama. "Suamiku?"
__ADS_1
"Sung Hwa, dengar. Semua orang menganggap Perang Sejarah pertama dapat kita menangkan murni hanya karena keberuntungan. Kita semua menganggap jika Perang Sejarah pertama itu adalah wujud kekalahan dari Kekaisaran Chang. Karena itulah semua orang demikian putus asa hingga melupakan satu kemungkinan ini."
Sung Hwa miringkan kepala, ucapan itu belum masuk ke dalam pengertiannya. Sung Han melanjutkan. "Bagaimana jika pasukan Jeiji di selatan tidak menyerbu ke mari, bukan dikarenakan mereka telah memiliki pegangan?"
"Lalu?"
"Mungkin saja ... mungkin saja dan semoga saja benar, mereka sedang takut atau tertahan oleh sesuatu. Sehingga harus berpikir dua kali untuk menyerang ke sini."
Sung Hwa terkejut sekali, namun keterkejutan yang tidak biasa. Lebih seperti terkejut karena merasa aneh dengan ucapan suaminya yang di luar akal sehat.
"Kekaisaran Jeiji memiliki banyak jenderal dan pendekar pedang hebat. Tak ada alasan bagi mereka untuk takut! Lagi pula, siapa orangnya yang mampu menahan kegigihan mereka?" bantah Sung Hwa.
Namun jawaban Sung Han berikutnya benar-benar membuat dia tercengang.
"Kau lupa, kau melupakan satu hal. Ini jelas tak masuk akal namun sedikit masuk akal bagi kita." Sung Han mencengkeram tangan Sung Hwa. "Masih terukir jelas diingatanku tentang kisahmu yang luar biasa. Betapa engkau memiliki guru seorang tabib hebat dan menjadi bagian dari keraajaan mereka. Menerima ilmu-ilmu tinggi hingga berakhir perang saudara."
Sekali ini, wajah Sung Hwa memucat. Ada sedikit getaran dalam tangannya.
Sung Han melanjutkan ucapannya begitu melihat apa yang ia katakan berefek kepada Sung Hwa.
"T-tapi ... dia sendiri yang bilang tak pernah mencampuri urusan dunia ramai."
"Ingat, wajahmu itu mirip siapa?" desak Sung Han.
"N-Nona Songli."
"Siapa nona Songli?"
"Orang yang mereka cintai." Sung Hwa menjawab ragu. Wajahnya kian memucat. "Suamiku, cukup, itu tidak mungkin–"
Namun cengkeraman Sung Han makin erat. "Istriku, ingatlah dan kupikir kau telah menyadarinya. Seseorang yang telah mencinta, akan rela melakukan apa pun juga!"
__ADS_1
"Tapi itu tidak mungkin ... maksudku–"
"Itu mungkin sekali! Cinta bisa membuat seseorang jadi gila!" sergah Sung Han. "Besar kemungkinannya hanya kerena 'seseorang' yang mirip dengan Nona Songli, dia mengerahkan pasukan kerajaannya untuk melawan Kekaisaran Jeiji! Itu mungkin dan lebih masuk akal lagi jika dia bergerak dengan alasan untuk melindungi wilayah."
Tubuh Sung Hwa bergetar.
...****************...
Setelah keadaan perempuan itu sudah lebih tenang, kini terbukalah mata mereka bahwa kemungkinan itu bukan hanya sebagai angan-angan kosong belaka.
Ucapan Sung Han tadi benar, banyak alasan untuk Chunglai bergerak menggempur Kekaisaran Jeiji yang menyerbu dari selatan ke utara. Mereka harus melewati Pegunungan Tembok Surga lebih dulu dan itu sudah lebih dari cukup untuk kerajaan manusia gunung menyerang.
Memang selama ini kerajaan itu hampir tak terlihat dan banyak yang menganggap hanya mitos belaka. Namun apa yang tidak mungkin?
"Suamiku, aku masih yakin jika pemikiranmu itu tidak menurutkan logika dan akal sehat," ucap Sung Hwa kemudian sambil memijit-mijit kepalanya. "Jika memang demikian, mengapa Perang Sejarah pertama kita hampir kalah?"
"Kita tidak tahu mereka turun tangan atau tidak di Perang Sejarah pertama. Yang pasti, kali ini masih ada kemungkinan."
Sampai beberapa waktu Sung Hwa tak menjawab. Dia bukannya meragukan Sung Han, hanya saja dia tidak ingin menelan kecewa setelah mengetahui harapannya kosong belaka. Maka dari itulah dia tetap berpegang teguh pada pendirian awal, menganggap Kekaisaran Jeiji sedang menunggu "momen tepat".
Namun jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar mengharapkan ucapan suaminya itu benar dan nyata. Memikirkan betapa kini pasukan manusia gunung sedang bentrok di tengah-tengah himpitan Pegunungan Tembok Surga, membuat hatinya terasa tak karuan.
Mana mungkin seorang raja yang terhormat, merelakan nyawa banyak prajuritnya hanya untuk seorang wanita yang bisa dianggap sebagai penipu?
Dia yang dahulu memanfaatkan kemiripan wajahnya dengan seseorang bernama Songli, di mana orang itu adalah sosok yang dicinta oleh Chunglai. Kemudian dia menerima ilmu-ilmu tingkat tinggi dari pria itu hanya untuk membalas dendam pada Sung Han. Hingga berakhir dengan perpecahan dan pertumpahan darah antar suku. Mengingat hal ini, Sung Hwa selalu merasa dirinya rendah. (Lebih jelasnya baca cerita sampingan yang bertanda "[][][]" pada judul chapter)
Akan tetapi, bagaimana jika itu benar?
"Lalu, apa keputusanmu?" akhirnya Sung Hwa bertanya.
"Mari kabari tuan putri."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG