
Sampai jatuh terduduk Kay Su Tek dibuatnya, perkataan Sung Han tadi di luar dugaannya sama sekali. Ia ingat betul kalau hanya dirinya seorang yang mengetahui rahasia itu selain Ki Yuan. Tapi agaknya entah bagaimana, kali ini Sung Han sudah tahu tanpa ada yang memberi tahu.
Ia tolehkan kepala memandang Coa Ow yang hanya diam saja, tapi jelas ekspresinya sangat tidak enak.
"Kau sudah tahu?" tanyanya yang hanya dibalas anggukan ringan. Lalu ia kembali memandang Sung Han, Kay Su Tek bertanya setelah bangkit dan menenangkan diri. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku masuk ke kamar ayahmu." jawabnya santai sekali.
"Apa!?" Kay Su Tek jelas tidak terima akan hal itu. Namun perkataan Sung Han cepat memotong, lebih tepat mengarah ke ancaman.
"Tak terima?" katanya, lalu melanjutkan, "Ada masalah dengan itu? Jika bukan karena ini, kau akan mati dimakan lelaki tua itu. Kau hendak menyelesaikan seorang diri."
Kay Su Tek mencebik kesal, ia membalikkan badan dan mendekati pintu seraya berkata, "Kau pikir aku benar-benar butuh bantuan kalian berdua? Baiklah, karena sudah repot-repot datang, maka akan kuijinkan untuk membantu."
"Sombong!"
Ucapan Sung Han tak ia pedulikan, tangannya menarik gagang pintu dan terbukalah pintu besi itu. Menampakkan sebuah tangga menurun curam yang teramat gelap. Tapi walaupun begitu, di ujung tangga sebelah bawah sana terdapat cahaya remang-remang. Cahaya obor sebagai penerangan.
"Penjara ini sudah lama tak digunakan. Ketua lebih memilih memenjarakan para tahanan di penjara biasa." jelas Coa Ow memecah kesunyian di lorong tangga itu.
"Lalu gunanya tempat ini untuk apa? Buang uang?" Sung Han bingung.
"Bukan begitu!" tukas Kay Su Tek, "Ambil saja contoh mudahnya, jika Ki Yuan terbukti bersalah, maka mungkin aku akan memenjarakan dia di sini."
"Penjara khusus ya...."
Sampai di bawah, lorong bawah itu amatlah panjang, dengan obor di dinding kanan dan kiri sebagai bahan pemasok cahaya. Jarak satu obor ke obor lainnya mungkin sekitar lima meteran. Sung Han berpikir, mungkin sekali karena adanya Ki Yuan, maka tempat ini perlu diberi penerangan.
Berjalan perlahan mengikuti Kay Su Tek, Sung Han memandang sekeliling. Di kanan dan kiri lorong adalah ruangan-ruangan tahanan dengan jeruji hitam yang kuat. Ketika Sung Han menyentuhnya, ia terhenyak.
"Itu batu khusus untuk mencegah supaya tenaga dalam tak bisa mengalir keluar." jelas Kay Su Tek.
"Aku sudah tahu, aku hanya terkejut di sini mempunyai tempat unik semacam ini." jawab Sung Han yang mengejutkan Kay Su Tek serta Coa Ow.
"Kau pernah dipenjara?" tanpa sadar Kay Su Tek menghentikan langkah.
Sung Han menghendikkan bahu dan memutar bola matanya, "Hal pentingkah itu? Apa tujuan kita datang ke mari?"
__ADS_1
Kay Su Tek memandang penuh selidik, tapi akhirnya ia berbalik dan lanjut berjalan.
Tak berselang lama, mereka tiba di perempatan. Jalan yang sebelumnya mereka lewati, dibanding jalan yang mengarah depan dan kanan terlihat sama. Sama-sama sempit.
Namun yang menuju ke kiri, nampak lebih luas dan lebih terang karena obor-obor di lorong kiri jaraknya cukup dekat.
"Kami tak cukup bodoh, sudah kami tahu bahwa di sanalah tempat Ki Yuan mendekam." potong Sung Han sebelum Kay Su Tek sempat membuka mulut untuk menjelaskan.
"Waspadalah!" perintah Kay Su Tek dengan pedang terhunus. Coa Ow berinisiatif mengambil satu obor lagi, sedangkan tangannya mencekal pedang.
"Hei, kau tak dengar omonganku? Ki Yuan bukan orang sembarangan jika memang ia anggota Hati Iblis seperti yang kau bilang!" cerca Kay Su Tek.
Sung Han menghela nafas berat dan menanggapi itu. Justru lebih condong ke arah ejekan, entah mengejek Kay Su Tek atau Ki Yuan.
"Aku pernah bentrok dengannya dan dia lari bersembunyi di sini, apa kau tak mendengar omonganku tadi? Jadi melihat situasinya, siapa yang harusnya berwaspada? Bahkan sekarang kita bertiga."
Kay Su Tek mendecih dan lanjut berjalan. "Sesukamulah!" ketusnya.
Sampai jauh mereka berjalan, makin yakinlah Coa Ow dan Kay Su Tek tentang ucapan Sung Han. Dalam hati mereka, timbul keyakinan kuat bahwasannya Ki Yuan memang tidak berniat baik.
Di ruangan-ruangan penjara itu, terdapat beberapa wanita dalam kondisi mengenaskan. Kurus kering dan pucat, mati dalam keadaan melotot dan tak terurus. Lebih-lebih lagi tanpa busana.
"Kletak....kletak."
"Itu dia!" seru Kay Su Tek tiba-tiba ketika mendengar suara sesuatu di ujung lorong. Ia segera berlari dan dua orang lainnya terpaksa mengikuti.
Sampai di ujung lorong, ada sebuah pintu kayu tua namun masih nampak kokoh kuat. Kay Su Tek memekik dan mendobraknya dalam sekali tendang. Ketika ia masuk, suaranya bergema di seluruh ruangan.
"Ki Yuan, akhirnya aku menemukan motif aslimu!!"
Tapi tak ada suara yang menyahut kecuali suara tetesan air yang entah air apa. Ruangan ini cukup luas, sehingga dengan obor Coa Ow dan Kay Su Tek saja, tak cukup untuk menerangi seluruh ruangan.
Suara tetesan yang cukup ganjil, membuat penasaran hati mereka.
"Berwaspadalah!" Kay Su Tek kembali memperingatkan. Coa Ow mengeratkan pegangannya pada pedang.
Berbeda dengan dua orang itu, justru Sung Han malah nampak heran. Ruangan ini sungguh gelap, tapi dengan kepekaannya yang tajam, ia tahu tempat ini cukup "ramai". Dan dua orang kawannya juga sadar akan hal ini.
__ADS_1
Tapi mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa yang "ramai" itu mampu mengancam mereka. Itulah yang membuat Kay Su Tek dan Coa Ow berwaspada, sedangkan Sung Han mengerutkan alis heran.
"Berikan padaku!" Sung Han berkata sambil merebut obor di tangan Kay Su Tek.
Tanpa memedulikan umpatan pemuda itu, Sung Han berjalan ke arah kanan. Ia sangat penaran dengan suara tetesan air yang berasal dari arah itu.
Beberapa waktu berjalan, ia mendapati sebuah genangan berwarna merah. Hatinya sudah dapat menduga, dan perasaanya tidak enak.
Ia paksa terus untuk melangkah, dan sampai di ujung ruangan sisi sebelah kanan, ekspresinya menjadi kosong.
"A....apa itu....?" Kay Su Tek gelagapan dan ngeri sekali, sedangkan Coa Ow hampir pingsan kalau saja pedangnya tidak ia gunakan untuk membantu menopang tubuhnya yang gemetar.
Walaupun jaranya cukup jauh, namun dari tempat mereka berdiri Kay Su Tek dan Coa Ow mampu melihat apa yang disoroti cahaya obor Sung Han. Dan hal itu benar-benar membuat mereka hampir muntah.
"Aku tidak menyangka sebanyak itu...dengan bantuanku, hanya tiga atau empat orang." kembali Kay Su Tek berkata gemetar.
Gantungan mayat-mayat para perempuan telanjang itu, benar-benar sangat mengerikan. Hanya tubuhnya saja yang utuh dan mulus. Di antara kedua kaki mengalir darah yang sangat banyak, sedangkan wajah mereka....ah, penuh dengan cakar-cakar. Agaknya orang-orang ini menjadi gila dan melukai wajah sendiri, karena itulah Ki Yuan mengikat tangan mereka ke atas.
Suara tetesan air yang cukup nyaring itu diakibatkan oleh wadah logam yang diletakkan tepat di bawah wanita-wanita yang digantung. Menimbulkan suara cukup nyaring.
Di situ ada enam orang, kemudian Sung Han berjalan ke lain sisi untuk menemukan delapan orang. Yang lebih parah adalah temuan Kay Su Tek dan Coa Ow, mereka menemukan lima belas orang dalam kondisi yang paling memgenaskan.
"Jadi selama ini...darah itu berasal dari...?" Kay Su Tek tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Heh, orang tolol...." Sung Han memanggil Kay Su Tek yang wajahnya memucat.
Sung Han tanpa menoleh, melanjutkan ucapannya. Namun nada dingin dan pundak gemetar milik Sung Han itu, cukup menjelaskan siapa saja yang melihat bahwasannya pemuda itu sedang marah besar.
"Kau yang memasukkan setan itu ke mari, bagaimana tanggung jawabmu?" kata-kata yang riang dan asal ceplos seperti sebelumnya, penuh ejekan yang menusuk hati, lenyap menjadi suara yang datangnya seolah datang dari alam lain.
Sung Han membalikkan badan, wajah yang tersinari obor itu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tapi Sung Han yang hanya diam seperti itu, malah membuat Kay Su Tek dan Coa Ow tambah takut.
"Cklek." suara pintu di sisi lain terbuka.
"Tamu tak diundang yang amat lancang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG