Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 227 – Usaha Merobek Topeng


__ADS_3

Jelas sekali raut keterkejutan terpampang di wajah Hok Liu. Dia memandang Han Ji dan para penjaga itu bergantian dalam tempo cepat. Lalu pemuda itu mengirim tanda dengan mengibas-ngibaskan tangannya, seolah menyuruh dua orang muda-mudi itu keluar. Sedangkan dia sendiri telah keluar dari guci dan berjalan berindapan menuju salah satu jendela.


"Ayo pergi, kita akan bertemu dengannya di luar," kata Xian Fa yang sudah dapat menangkap arti dari pesan isyarat Hok Liu tadi.


Han Ji pun tak bisa banyak membantah, dia hanya mengikut saja ketika Xian Fa menuntunnya ke tempat semula di mana mereka tadi masuk. Keduanya melompat ke atas genteng tanpa menimbulkan suara, dan dengan hati-hati menutupkan genteng itu kembali.


Lalu tubuh mereka turun dari bangunan itu, bagaikan setan-setan penasaran, tak ada suara atau tanda-tanda dari kehadiran mereka kecuali kelebatan tubuh mereka itu. Namun gerakan yang terlalu cepat itu pun juga merupakan satu hal yang meragukan jika mereka manusia.


Sesampainya di bawah, ternyata Hok Liu telah menunggu di sana dengan lengan bersedekap. Xian Fa dan Han Ji segera menghampirinya, ketiganya berdiri saling berhadapan.


Hok Liu memandang keduanya bergantian dengan mata tajam penuh selidik. Tentu perasaan curiga dan heran memenuhi hatinya, namun Hok Liu mencoba menyembunyikan di balik sikap waspadanya.


"Siapa kalian?" tanya Hok Liu. "Ingin mengikutiku atau melakukan hal lain?"


"Tentu saja hal lain," sahut Han Ji cepat. "Apakah kami bisa tetap awet muda dengan terus mengikutimu?"


Tak ada yang menjawab kelakar Han Ji itu dan gadis ini harus menahan malu dengan berdeham beberapa kali.


Hok Liu mengalihkan perhatiannya kepada Xian Fa. Tatapannya jelas menuntut penjelasan sejelas-jelasnya.


"Sebelum itu, kami harus menanyakan sikapmu lebih dulu," kata Xian Fa. "Setiap kali kita bertemu, kau selalu pergi lebih dulu. Apakah ini yang kau lakukan?"


"Aku hanya memberi waktu kepada kalian untuk berdua."


Han Ji menundukkan mukanya, dan dia bersembunyi di balik tubuh Xian Fa. Namun berbeda dengan Xian Fa. Mendengar jawaban itu dari mulut Hok Liu, terasa sedikit janggal. Pasalnya dia sudah tahu Hok Liu ini pun juga sedang menyamar. Jika yang bicara demikian bukan Hok Liu, mungkin dia masih sedikit percaya.


"Kalian calon pasutri kan?" tanya Hok Liu kemudian setelah Xian Fa tak kunjung memberi tanggapan.


"Ya, kami bertunangan," jawab Xian Fa tegas. Dan dia sedikit terkejut ketika tidak ada perlawanan dari Han Ji. Xian Fa melanjutkan. "Kupikir tindakanmu meninggalkan kami di setiap pertemuan bukan karena ingin memberi kami waktu. Kulit gelapmu ini hanya kedok kan?"


Akhirnya Xian Fa memutuskan untuk bicara terang-terangan. Dia tak mau terus terperangkap di dalam kepura-puraan ini. Dia harus memastikan apakah Hok Liu ini sekutu atau musuh. Jika sekutu, dia bisa dijadikan sahabat untuk kelak dapat membinasakan Chang Song Ci. Namun kalau musuh, terpaksa harus dibunuh.


Mendengar perkataan Xian Fa ini pun, Han Ji menghentikan sikap malu-malunya yang seperti perawan hendak dikawinkan itu. Dia telah memasang perhatian penuh waspada dan dari balik tubuh Xian Fa, diam-diam tangannya sudah terkepal, siap memberi serangan kejutan jika perlu.

__ADS_1


Namun reaksi yang ditunggu-tunggu dari Hok Liu tak kunjung tiba. Pemuda berkulit coklat itu hanya bergeming sambil melirik keduanya secara bergantian. Bahkan makin lama, wajahnya menunjukkan rasa geli bercampur heran.


"'Kedok'?" katanya mengulang ucapan Xian Fa. Lalu dia terkikik. "Mana bisa aku memberikan topeng untuk seluruh tubuhku? Ah, kau terlalu mengada-ada."


Pandangan Xian Fa makin tajam, tatapannya mencorong bagaikan mata naga yang siap menerkam mangsa. Dan anehnya, Hok Liu masih terkikik dan sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan itu. Itu hanya menandakan bahwa Hok Liu telah memiliki kepandaian setara dengannya. Xian Fa sudah menduga akan hal ini dan baru sekarang inilah dia agak percaya dengan pemikirannya.


Sebaliknya, Han Ji merasa bingung sekali mengapa Hok Liu sama sekali tak terpengaruh tatapan mata Xian Fa. Bahkan dirinya sekali pun, jika ditatap seperti itu oleh Xian Fa, seolah seluruh semangatnya ditarik keluar dan dia hanya punya keinginan untuk tunduk padanya. Dan Hok Liu masih terus terkikik.


Han Ji waspada, dia sudah mengira Hok Liu ini memang sepadan dengan Xian Fa, namun dia pikir Xian Fa masih sedikit lebih kuat.


"Oh, kalau begitu kau seharusnya tak merasa keberatan jika aku ingin mencoba memastikan kebenaran ucapanmu," ujar Xian Fa.


Hok Liu menghentikan kikikannya seketika saat mendengar bunyi berkerotokan dari tangan Xian Fa. Tanda bahwa kekuatan telah mengalir melapisi tangan itu. Lalu dengan gerakan refleks, dia memundurkan kepala sampai dirinya sendiri terhuyung.


Kiranya gerakan ini amat menguntungkannya karena tepat pada setengah detik sebelumnya, tangan Xian Fa sudah menyambar wajahnya. Namun karena dia memundurkan tubuhnya, terpaksa serangan itu luput.


"Woah, nanti dulu," seru Hok Liu dengan suara tertahan agar tidak menimbulkan keributan.


Han Ji yang sudah bersiap sejak tadi sudah bergerak. Dia menyelinap di balik tubuh Xian Fa, memanfaatkan mantel pemuda itu yang berkibar untuk menutupi tubuhnya. Lalu secara tiba-tiba dia mengirim serangan kejutan yang tak terduga.


Ketika dia mengangkat tangan kanan untuk menghalau serangan Han Ji, kiranya kedua tangan Xian Fa telah bergerak cepat ke wajah dan pundak kirinya. Hok Liu menjadi kelabakan.


Tangan kanan memapaki tangan Han Ji, sedangkan tangan kiri memapaki tangan kanan Xian Fa. Untuk serangan mengarah wajah itu, niat awal dia ingin menghindarkan diri, tapi tak sempat lagi dan mengakibatkan cengkeraman Xian Fa menyerempet pipinya.


"Dess! Dess! Breet!!"


Hok Liu terhuyung ke belakang, lalu bersalto dua kali dan melompat mundur. Kini jaraknya dengan dua orang muda itu terpisah sejauh tiga tombak. Cukup jauh untuk memberinya waktu menarik napas.


Namun wajahnya memucat ketika kulit pipinya itu mengelupas. Bukan kulit pipinya, lebih tepat disebut sebagai kulit topeng pada bagian pipi.


Hok Liu dengan buru-buru menutupi robekan itu menggunakan tangan kiri. Lalu dia memutuskan untuk pergi dari sana, dia tak bisa lagi menjadi pengawal pribadi selama dua orang muda itu masih ada di sini.


Namun ketika berbalik, dia menahan umpatannya ketika entah bagaimana, kakinya sudah disepak oleh seseorang. Dia terpelanting dan jatuh tengkurap. Refleksnya membuat melakukan gerakan memutar dan menghantam.

__ADS_1


"Plaakk!"


Dua telapak tangan bertemu dan Hok Liu merasa betapa tangannya kebas. Demikian pula Han Ji yang memapaki tangan itu, merasa seluruh lengannya kesemutan.


Hok Liu sudah meloncat berdiri dan berbalik pergi ketika ada kelebatan hitam yang tiba-tiba hendak menghantam wajahnya. Dia memukulkan tangan.


"Bugh!"


Hok Liu menahan jeritannya ketika dirasa benda hitam itu bahkan lebih keras daripada besi. Tangannya membalik dan dia jatuh terlentang akibat terdorong oleh benda hitam tersebut.


Begitu diperhatikan, kiranya itu hanya sebuah topi caping yang tadi digerakkan oleh Xian Fa.


"Keparat!" Hok Liu mengumpat sambil menendang


Xian Fa menahan dengan sebelah tangan, sedang satu tangan lainnya menotok kaki lawan dan membuatnya lumpuh seketika.


Akan tetapi Hok Liu masih belum menyerah, tubuhnya memelanting dan dengan kaki kiri masih di tangan Xian Fa, dia menendangkan kaki kanan mengarah wajah pemuda itu.


"Haiitt!"


Bentaknya dan kaki itu menyambar cepat.


"Duk!"


Lengan Xian Fa berhasil menangkapnya tepat setelah ia menjatuhkan kaki kiri Hok Liu. Tindakan ini membuat Hok Liu terpelanting dengan tubuh menggantung karena kaki kanannya berada pada cengkeraman Xian Fa. Membuatnya seperti ikan yang baru ditangkap.


Saat ia hendak memberontak lagi, Han Ji telah menotoknya lumpuh. Entah gadis itu datang dari mana, tapi tiba-tiba sudah berada di sana.


"Buka topeng wajahnya!" ujar Xian Fa tegas.


Han Ji mengangguk, dan tanpa keraguan dia merobek topeng kulit tipis itu dari wajah Hok Liu. Begitu topeng terbuka, Xian Fa berseru tertahan dan dia spontan menjatuhkan tubuh itu. Tangan kirinya menuding ke wajah Hok Liu yang tanpa topeng dengan sedikit gemetar. Namun hanya sebentar saja sebelum sikapnya kembali tenang seperti semula.


"Ah, kiranya kau ...?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2