
Desa itu lumayan besar untuk ukuran desa, malah boleh dibilang sebagai kota kecil. Dikelilingi oleh hutan-hutan dan lereng gunung, membuat mata pencaharian utama di desa ini adalah sebagai petani atau penggembala.
Sawah berhektar-hektar terbentang luas di lereng gunung sebelah utara desa. Sedang di bagian selatan, kebun-kebun berbagai macam sayur dan buah nampak menghiasi wilayah itu.
Di bagian utara juga terdapat sungai kecil yang digunakan untuk irigasi sawah. Di tempat inilah biasanya Yu Ping atau Yu Ceng berbelanja bahan makanan.
Di bagian pinggiran desa sebelah utara yang berbatasan langsung dengan persawahan, nampak sedang ada kesibukan beberapa orang. Tak kurang dari dua puluh orang.
Sedangkan beberapa orang lainnya berkeliling desa untuk membagikan selebaran berupa pemberitahuan jika lusa nanti akan diadakan pertunjukan silat yang panggungnya di bangun di pinggiran sawah itu.
Seluruh warga di desa itu nampak antusias, maka sebelum lusa datang pun, banyak para pedagang atau anak-anak yang datang mengunjungi sawah untuk melihat-lihat.
Acara besar ini akan menjadi ladang emas dan perak bagi para pedagang desa. Mereka ini sedikit menaikkan harga dagangan beberapa persen untuk mendapat keuntungan lebih besar.
...****************...
"Dimana tempatnya?"
"Ah, lihat itu. Di kertas itu tertulis akan diadakan di pinggiran desa sebelah utara. Ayo kak, mari ke sana!" Yu Ping nampak antusias setelah melihat selebaran yang ditempel di tembok salah satu bangunan.
Dia menarik-narik lengan Sung Han dengan penuh semangat, membuat pemuda itu hanya mampu menggelengkan kepala. Tapi setelah beberapa langkah, Sung Han berhasil menghentikan laju gadis cilik itu dengan teguran singkat.
"Belanjaan titipan kakakmu?"
Kata Sung Han menghentakkan tangan dan memberatkan bobot tangannya, membuat Yu Ping yang masih berusia tiga belas tahun itu tak kuat menarik lagi.
Ia membalikkan tubuh dan menggembungkan pipi, "Nanti saja kan bisa. Lagipula dengan acara besar seperti ini, mungkin toko kelontong akan buka sampai malam."
Sung Han menarik Yu Ping ketika gadis itu mencoba menariknya lagi, "Tak bisa! Beli belanjaan dulu atau kuseret pulang!"
"Baiklah...." dengan wajah malas Yu Ping mengangguk dan mengantar Sung Han pergi menuju ke salah satu toko kelontong di desa itu.
Selang beberapa menit, mereka sudah membeli berbagai macam kebutuhan dan saat inilah waktunya untuk pergi melihat pertunjukan. Tapi hari masih terlampau siang, maka Sung Han berkata.
"Yu Ping, hari masih siang dan terik. Bagaimana kalau kita pergi ke sungai untuk berteduh?"
Gadis itu cepat menoleh dan memandang tajam. "Mana bisa begitu? Ini acara besar dan jarang-jarang diadakan. Di dekat sana pasti banyak penjual. Ayo pergi dan beli sesuatu di sana, pasti banyak permen kapas atau roti kacang yang enak sekali."
"Tapi...uang kita...."
"Hah, uang kita? Heh, kau itu menemani aku, pakai uangmu lah!!" balas gadis itu cepat-cepat dan tak mau tahu.
"Mana bisa begitu, aku tak punya uang."
"Jangan bohong! Kau pikir aku tidak tahu? Setiap kali kau beli bahan makanan di desa, pasti kakak melebihi uangnya dan sisanya bagianmu bukan?"
"Tapi...."
__ADS_1
"Sudahlah, ayo....!!"
Kali ini bahkan Yu Ping sama sekali tidak menarik tangan Sung Han, karena jika hal itu dilakukan maka tak mungkin dan Sung Han akan menariknya paksa. Maka dari itulah, karena tak ada pilihan lain, Sung Han terpaksa mengikuti.
Siang sampai sore itu, Sung Han menjerit dalam hati karena saat pertunjukan di mulai, kantung uangnya hanya berisi satu koin tembaga, tiga koin perak dan koin emas yang sudah rusak tinggal setengah potong.
"Nasib...."
...****************...
Yu Ping dan para penonton tak henti-hentinya berteriak kagum akan pertunjukan silat di atas panggung itu.
Mereka ada tujuh orang di atas panggung dan sekitar tiga puluhan orang di bawah panggung. Daripada disebut pertunjukan silat, ini lebih condong ke pertunjukan tari.
Tiga puluh tujuh orang itu mainkan ilmu silat secara berbarengan dan kompak. Setelah ilmu silat, lanjut ke ilmu pedang dan tombak. Bagi yang perempuan, sambil main silat mereka tampakkan senyum paling manis. Sedangkan untuk pria, menampilkan ekspresi kereng dan gagah, juga disertai bentakan-bentakan nyaring.
Tak dapat dipungkiri, Sung Han berhasil dibuat kagum dengan permainan silat yang demikian anggun itu. Begitu pula dengan Yu Ping yang sembari tangan kanannya memegang permen kapas, tak henti-hentinya dia berdecak kagum. Bahkan mata yang lebar itu semakin melebar saking kagumnya dengan pertunjukan itu.
Hal hebat terjadi, tujuh orang wanita yang ada di atas panggung melakukan gerakan melompat. Sembari melompat, mereka putar pedangnya ke depan tubuh. Kemudian di saat bersamaan, tujuh orang pria yang berada persis di bawah panggung, menaburkan semacam bubuk warna merah ke arah tujuh wanita itu.
Suara gemuruh sorak sorai segera terdengar untuk disusul dengan tepukan tangan meriah. Hebat sekali pertunjukan itu, tepat saat bubuk merah menyambar pedang, bubuk itu berubah menjadi api. Dan karena pedang di tangan tujuh wanita itu berputaran, maka api yang timbul dari bubuk merah juga ikut berputar. Dilihat semacam orang memutar payung merah dengan bagian pinggir yang terbakar.
Sampai sini, tanpa sadar Sung Han ikut bertepuk tangan.
Pertunjukan berlanjut makin seru dan mendebarkan. Bahkan kali ini masuk ke acara pibu–adu silat–yang sangat menegangkan. Seolah-olah mereka ini memang ingin menggorok leher lawan, sungguh pun para penonton tahu kalau ini hanya permainan belaka.
Karena tubuhnya yang hanya setinggi perut Sung Han, maka beberapa langkah saja lenyap sudah anak itu di antara gerombolan banyak penonton.
Ketika Yu Ping sudah terpisah dari Sung Han, dan pemuda itu sama sekali tidak sadar, tiba-tiba ada satu wanita di atas panggung yang berteriak. Tapi anehnya, mata dari wanita itu tertutup rapat.
Hal ini menjadikan penonton makin riuh karena berpikir akan adanya atraksi hebat lagi. Dan itu memang benar, namun tidak sepenuhnya benar.
Teriakan dan pejaman mata itu merupakan bentuk "tanda" untuk seseorang agar bisa segera melaksanakan tugasnya.
Saat Yu Ping berusaha keras untuk mencapai barisan paling depan, tiba-tiba dari belakang ada yang membekap mulutnya dan tangannya ditarik ke samping dengan kasar.
Anehnya, saat dua jari si pembekap bergerak, dia sama sekali tak mampu bergerak atau bicara. Maka salah satu dari dua orang itu segera menggendong Yu Ping dan bertindak seperti orang tuanya. Sedangkan wanita yang tadi menarik ke samping juga menampilkan senyum sedemikian rupa akan tetapi matanya melirik ke wanita di atas panggung.
Wanita yang tadi berseru sambil pejamkan mata tersenyum simpul dan mendongakkan kepala. Sambil mendongak itu, dia mengeluarkan lengkingan panjang. Seruan ini diikuti oleh tiga puluh enam orang lainnya.
Sebuah tanda untuk beberapa orang di atas genteng sana. Tanda bahwa tugas telah selesai!
...****************...
"Yu Ping!"
Pemuda ini berlari-larian di sekitaran panggung silat yang kini sedang dibereskan. Beberapa jam setelah matahari terbenam, acara pertunjukan silat ini telah selesai.
__ADS_1
"Hei paman, apakah kau lihat adikku yang tadi membeli permen kapas di tempatmu ini?" Sung Han dengan panik menanyakan hal itu ke penjual permen kapas yang tadi ia beli untuk Yu Ping.
Pria paruh baya itu nampak mengerutkan kening dengan bingung, seperti mencoba mengingat-ngingat akan Sung Han. Ia amati wajah pemuda ini lamat-lamat sebelum tersentak.
"Ah...kau yang datang sore tadi bukan?"
"Benar!"
"Hem....biar kuingat." walau berkata demikian, tapi sampai lama dia tak kunjung juga memberi jawaban.
"Ada apa?" seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Sung Han ingat dia ini adalah istri pria tersebut.
"Ah, anak muda ini kehilangan adiknya yang tadi membeli permen kapas di sini. Kau tahu dia kemana?"
Wanita itu memandang Sung Han dan menanyakan ciri-ciri Yu Ping yang dibenarkan oleh Sung Han. Kemudian dia tertawa seraya mengibas-ngibaskan tangan ke depan.
"Hahaha, kau jangan khawatir anak muda. Tadi adik mu itu telah dibawa oleh dua orang, laki dan perempuan. Ayah ibumu bukan?"
Jantung Sung Han berdegup keras, wajahnya memucat. Tapi sebisanya dia memasang senyum dan menghela nafas seperti merasa lega.
"Kemana mereka pergi bibi?" tanya Sung Han kemudian.
"Ke arah sana." tunjuk wanita itu ke arah barat.
Sung Han mengamati arah itu yang juga terhubung ke pintu keluar desa. Hatinya merasa tak enak dan firasatnya mengatakan ini bukan hal baik.
Sung Han menjura ke arah dua orang suami istri itu sebelum kemudian bergegas pergi ke sana.
Beberapa saat setelah kepergian Sung Han.
"Hm...hm....anak muda yang kehilangan adiknya? Hahaha, lucu...." si pria tertawa sambil mengemasi barang-barang.
"Hm....hanya begitu saja tugas kita?" istrinya bertanya.
"Lalu apa lagi, kita tunggu–ah dia datang." ucapan suaminya terhenti ketika melihat seseorang berjubah hitam datang menghampiri.
"Bagaimana?" tanya orang berjubah itu singkat.
"Sesuai keinginan anda tuan, kami sudah memberitahu tuan muda tadi kemana perginya si adik kecil." jawab istri penjual, "Emh....memangnya ada apa tuan? Kenapa kami harus ber-drama demikian?" lanjutnya.
"Kalian tak perlu tahu. Nih imbalannya." ujarnya singkat. Sebelum pergi, ia lemparkan satu koin emas yang segera diterima dengan penuh suka cita.
Dua orang suami istri itu tidak tahu, kalau mereka baru saja berurusan dengan utusan salah satu perkumpulan sesat yang ditakuti. Dan mereka juga tidak tahu, kalau baru saja tindakan mereka ini adalah wujud dari mencelakakan anak kecil.
Si pria berjubah tadi menyeringai, "Heh....orang-orang desa primitif! Waktunya rencana berikutnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG