
Mereka berempat melakukan perjalanan dengan cara yang teramat aneh. Ketiga pria paruh baya itu berlari-larian namun dengan cara sembarangan, bahkan tak jarang kaki mereka tersaruk-saruk ranting pohon kering. Namun walaupun begitu, mereka tetap lanjut berlari-larian tanpa memedulikan keadaan diri mereka. Anehnya, walau tersaruk-saruk, namun sama sekali tak nampak luka di kaki mereka.
Sedangkan kakek yang memanggul peti itu keadaannya jauh lebih parah lagi. Sejak tadi dia tak nampak berlari, hanya berjalan santai saja bahkan hampir mendekati sikap jalan seorang malas atau ngantuk.
Akan tetapi, kecepatan empat orang itu sangat di luar akal sehat manusia. Saking cepatnya hingga seperti terbang. Mereka melewati jalan setapak hutan itu bagai setan-setan saja, hanya kelebatan yang tampak.
Dari jauh, keempat orang ini seperti bayangan yang bergerak. Dan memang demikianlah, hal ini amat menakutkan di mata orang-orang biasa. Sehingga mereka segera mengait-ngaitkan fenomena itu dengan tahyul bahwa sebentar lagi akan ada kesialan.
Mereka ini adalah murid-murid dari ketiga pertapa yang kala itu menjadi wasit pertarungan pedang gerhana. Seperti yang sudah diceritakan, mereka menjadi sahabat-sahabat Iblis Peti Goa Emas Tok Ciauw. Dan kini mereka mengundang kakek menyeramkan itu untuk membicarakan satu urusan.
Ketiga murid itulah yang mewakili guru-guru mereka untuk menjemput Tok Ciauw.
Selang beberapa hari, akhirnya mereka sampai di pegunungan tempat tiga Pertapa Sunyi melakukan pengasingan. Tiga murid ini segera memandu Tok Ciauw ke tempat kediaman mereka berada.
Sesampainya di puncak, mereka sudah disambut dengan orang yang segera memberi hormat. Tok Ciauw tak kenal mereka, namun menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid Pertapa Sunyi.
"Guru-guru sekalian sudah menunggu, mari," ucap salah satu murid penyambut. Yang agaknya berumur paling tua di antara mereka semua. Hampir mendekati enam puluh tahun.
Tiga belas orang ini mengiringkan Tok Ciauw ke puncak. Sesampainya di sana, di hamparan padang rumput luas, duduk tiga orang yang sudah dikenal baik oleh Tok Ciauw.
"Maafkan kami yang tak bisa menjemput langsung." Bahkan sebelum Tok Ciauw tiba, kakek yang tinggi besar sudah menyapa. Dia bangkit diikuti dua orang lainnya dan menjura. "Selamat datang."
Tok Ciauw menjatuhkan peti matinya, dan keanehan pun terjadi. Begitu peti itu menghantam tanah, sama sekali tidak mengeluarkan suara. Seolah-olah peti itu diletakkan dengan hati-hati oleh sosok tak kasat mata.
Tok Ciauw balas menjura. "Orang-orang seperti kita tak perlu menggunakan basa-basi yang hanya membuang waktu. Apa yang kalian kehendaki sampai memaksa aku keluar goa?"
"Duduklah ...." Kakek itu berkata dan duduklah Tok Ciauw di salah satu batu yang memang sudah dipersiapkan. Orang ini kemudian juga memerintahkan para muridnya untuk duduk pula. "Ini soal Kekaisaran Jeiji."
Tok Ciauw segera menyahut. "Memang keparat. Tadinya aku tak mau mencampuri urusan semacam itu, tapi mereka telah mencoba untuk mengambil Goa Emas, aku tak bisa tinggal diam!"
"Lalu, apakah kau sudi untuk memberi bantuan pada kami?"
__ADS_1
"Bantuan yang seperti apa?" tanya Tok Ciauw. "Kupikir kalian ini hanya orang-orang yang sudah bosan lihat dunia luas. Jujur aku pernah mengira bahwa kalian tak akan keluar kecuali kalau langit sudah anjlok atau bumi diterbangkan."
"Kau jangan merendahkan kami," sela si mata putih. Sikapnya sedikit jengah. "Kami menghormatimu, sangat menghormatimu. Tapi sikapmu yang satu ini sungguh tidak mengenakkan hatiku."
"Hahaha ...." Tok Ciauw tertawa. Tapi para murid dan tiga orang itu bergidik karena di telinga mereka, tawa itu seperti datang dari dalam kubur!
"Kau jangan bercanda," si tinggi besar kembali berkata. "Kekaisaran Jeiji itu ganas. Aku khawatir jika mereka sampai di utara dan menguasai seluruh Kekaisaran Chang, maka bukan tidak mungkin jika mereka mencium gudang berlian di bawah gunung ini."
"Hahaha, kiranya Pertapa Sunyi masih memikirkan berlian."
"Kau!" si mata putih sudah bangkit berdiri. "Jaga bicaramu!"
Tawa Tok Ciauw makin keras. Memang mereka ini memiliki watak yang cukup aneh, amat aneh malah. Mereka sudah mengaku saling bersahabat, tapi begitu bertemu malah adu mulut dan si mata putih sudah tersulut emosi.
Akan tetapi keanehan terbesar adalah mereka berdua itulah. Si mata putih dan Tok Ciauw memang tak pernah bisa akur. Akan tetapi begitu tangan mereka bergerak menghadapi lawan, tiada orang di dunia ini yang mampu mengalahkan kombinasi mereka.
Ini mungkin terjadi karena wujud mereka yang mengerikan sehingga hanya dengan melihat pun lawan sudah mengkirik. Yang satu matanya putih semua, sedang yang satu bentuknya mirip mayat hidup!
"Tak ada pilihan lain, ini bukan hanya soal perang tentara antar tentara. Ini adalah soal perebutan wilayah, sehingga semua yang menghuni daratan ini berkewajiban mempertahankannya, siapa pun itu!" ucap si tinggi besar tegas.
"Seperti biasa, omonganmu berbelit-belit," cela Tok Ciauw. "Intinya?"
Si tinggi besar itu tak langsung menjawab. Wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. Akan tetapi merasakan tatapan tajam penuh tuntutan dari Tok Ciauw dia menjadi tak tahan. Maka setelah beberapa saat, dia menjawab. "Kerajaan manusia gunung juga merupakan penghuni wilayah ini, kan?"
Tok Ciauw terhenyak. Ada raut ketidak percayaan di wajahnya, namun hanya beberapa saat sebelum kembali seperti biasa. Dingin menyeramkan.
"Kau bisa pastikan itu? Meminta bantuan mereka?"
Si tinggi besar mengangguk mantap. "Mereka pasukan kuat, teramat kuat. Merupakan penjaga Pegunungan Tembok Surga. Belum pernah ada sejarahnya yang bisa mengalahkan mereka secara total."
"Tapi mereka itu orang-orang tak pedulian yang jika terjadi apa pun di dunia ramai, tak akan pernah sudi turun tangan. Mereka punya kerajaan sendiri, pemerintahan sendiri dan wilayah-wilayahnya sendiri. Mereka tak terbiasa bersahabat dengan orang dataran!"
__ADS_1
Kakek yang gundul pendek, yang sejak tadi diam memperdengarkan kekehan. "Kau terlalu lama tidur di dalam goamu sampai tak mengetahui keadaan luar? Kau bahkan lebih parah dari mereka."
"Jelaskan maksudmu, si cebol!" bentak Tok Ciauw.
Si cebol itu tak kelihatan marah, walau alisnya mengernyit beberapa kali. "Saat ini, bukan, sudah sejak lama kerajaan manusia gunung bersahabat dengan orang-orang dataran rendah. Yah, walaupun hanya dengan desa-desa di sekitar sana."
Tok Ciauw menatap si tinggi besar dengan tatapan menuntut.
"Itu benar," kakek itu menjawab. "Maka dari itulah kita bisa mencoba peruntungan dengan meminta bantuan mereka."
"Rencanamu? Bagaimana kau bisa meyakinkan?"
Si tinggi besar itu mulai menjabarkan semuanya. Semua orang tahu belaka bahwa di daratan selatan sana sudah dikuasai oleh Kekaisaran Jeiji, dan pasti dalam waktu dekat ini mereka akan segera pergi ke utara sini.
Untuk pergi ke utara, satu-satunya cara adalah dengan melintasi Pegunungan Tembok Surga. Selain lewat jalur laut tentunya.
Dan dengan begitu tentu saja mereka pasti akan melewati wilayah kerajaan manusia gunung. Karena itulah manusia gunung punya alasan untuk bergerak.
"Kita tinggal bilang saja, tempat mereka bisa segera dikuasai jika tak lekas turun tangan. Mereka tak cukup bodoh, kau tahu?"
Tok Ciauw mengusap-usap dagunya. "Hm ... cukup lumayan rencanamu. Tapi apakah mungkin raja Torgan akan menyetujui?"
"Raja Chunglai," koreksi si cebol botak. "Sudah sejak beberapa tahun lalu raja Torgan mati."
Mata Tok Ciauw terbelalak. "Hah? Kau jangan bercanda!"
"Iya, dia sudah mati," kata si tinggi besar. "Entah apa alasannya itu menjadi rahasia mereka. Yang jelas, kini raja dari kerajaan manusia gunung adalah raja Chunglai. Mantan tabib luar biasa yang kepandaiannya bahkan dikatakan menyamai para dewa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1