Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 131 – Pertemuan di Gunung Angsa


__ADS_3

Kabar akan pemilihan ketua untuk memimpin seluruh kaum golongan hitam memang sudah menyebar luas. Mereka memanfaatkan kekacauan ini untuk memilih ketua agar ketua itu nanti dapat memutuskan ke mana mereka harus memihak. Memihak kaisar ataukah para pemberontak.


Penyelenggara pertemuan besar kali ini adalah satu perkumpulan hitam yang jarang sekali terdengar namanya, dia adalah Perkumpulan Pedang Hitam. Sebuah perkumpulan yang sudah berumur tua sekali, mungkin setua Hati Iblis.


Mereka ini dulunya ikut andil dalam Pertempuran Hitam Putih melawan kekaisaran Song yang bertempat di pantai timur sana. Waktu itu bersama suatu perkumpulan bernama Iblis Tiada Banding, mereka berhasil dikalahkan dengan pengorbanan banyak orang.


Tapi dalam pertempuran itu, tidak semua anggotanya mati. Ada beberapa yang melarikan diri. Dan beberapa orang inilah yang kemudian membangun kembali Perkumpulan Pedang Hitam dengan merekrut orang-orang persilatan.


Tentu saja Sung Han yang masih haus akan pengalaman itu merasa tertarik sekali untuk melihat keramaian di pertemuan pemilihan ketua golongan sesat itu. Maka begitu mendengar kabar ini, lekas dia berangkat ke tempat tujuan.


Gunung Angsa, demikian nama tempat yang akan dijadikan pertemuan itu. Jika berangkat dari kota Daun, maka harus ke utara lagi kurang lebih sehari perjalanan.


Gunung ini terhimpit di antara gunung-gunung sekeliling, sehingga cukup tersembunyi sekaligus sulit didatangi. Namun bagi orang-orang persilatan, tak begitu sulit untuk datang ke tempat yang terpencil itu.


Sampai di kaki gunung terluar yang menghimpit gunung Angsa, Sung Han sudah melihat banyak orang persilatan dengan kelompok masing-masing. Pakaian mereka beragam, ada yang kasar seperti preman kampung, ada juga yang rapi bersih layaknya sastrawan. Namun Sung Han tahu kalau mereka itu, melihat dari tatapannya, bukan termasuk orang baik.


"Hihhh...."


Tiba-tiba Sung Han merinding ketika telinganya ditiup orang dari belakang. Kiranya orang itu adalah seorang wanita yang cantik sekali. Pakaiannya lebar sampai ke tahap terlalu lebar. Namun hebatnya, di bagian pinggul pakaian itu menyempit, sehingga menampakkan betapa ramping tubuh sosok ini. Senyumnya memikat ketika dia terkekeh geli melihat reaksi Sung Han.


"Waduh...lacurnya orang-orang sesat!" batin pemuda itu yang merasa bernasib sial karena menjadi sasaran wanita hamba nafsu itu. Dia berpikir demikian karena banyak wanita-wanita golongan sesat yang tak memedulikan kesusilaan. Melihat senyum perempuan ini, spontan Sung Han menganggap wanita ini termasuk salah satu dari wanita-wanita hamba nafsu itu sendiri.


"Maaf nona, aku sedang buru-buru." kata Sung Han kemudian dan menjura hormat. Lalu cepat-cepat balik kanan dan angkat kaki.


"Perlahan dulu, Sung Han."


Bisikan dari wanita itu mengejutkan Sung Han. Cepat dia menoleh dengan tampang orang bodoh, "Eh...siapakah nona dapat mengenal namaku?"


Wanita itu tersenyum tipis, dia melirik ke kanam kiri dengan kepala sedikit menunduk. Kemudian tangan kanannya menutup mulut sampai ke hidungnya, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan kipas dari balik saku dalam jubahnya.


"Ahh...!" Sung Han terkejut mengenali bentuk mata dan kipas itu. Dia berseru tertahan, "Kecewa sekali...kiranya nona Yang Ruan telah terperosok ke jalan sesat."


"Hmph!!" wanita itu merengut sebal, "Kau juga sama!"


"Aku hanya mampir ingin melihat-lihat."


"Kalau begitu sama pula dengan aku!"


Memang wanita ini adalah Yang Ruan, nona muda perguruan Putri Elang yang berhasil mendapat julukan Ratu Elang. Dia sengaja menyamar dengan mengganti pakaian dan membuka cadarnya. Bahkan sampai berakting menjadi wanita genit agar dia tidak dicurigai orang.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Sama denganmu."


"Sama dengan aku? Memangnya kau tahu apa tujuanku datang ke mari?"


"Bukankah ingin melihat-lihat? Kau sendiri yang bilang."


Sung Han tertawa, sengaja dikeras-keraskan dengan kepala mendongak. Agar sikapnya terlihat seperti orang-orang sesat di sekelilingnya.


"Hahaha, sebenarnya aku mencari seseorang."


"Siapa dia?" bingung Yang Ruan dengan tatapan penuh tanya.


Sung Han menghentikan tawanya. Kali ini dia yang melirik ke sana-sini dengan kepala menunduk. Ucapan berikutnya membuat Yang Ruan kaget setengah mati.


"Ketua Serigala Tengah Malam, orang topeng emas itu. Kau tahu, dia itu pangeran Chang Song Ci."


Jerit tertahan keluar dari kerongkongan Yang Ruan. Ia mendekatkan kepalanya kepada Sung Han dan berbisik pula, "Kenapa kau bisa tahu?"


"Tentu saja aku tahu."


"Apa buktinya?"


"Matamu tak bisa jadi bukti. Siapa dapat percaya?"


"Tentu saja diriku sendiri." balas Sung Han tak mau kalah. Ia berkata lagi, kali ini wajahnya semakin dekat, "Aku ingin cari-cari kesalahannya. Biar nanti kalau hendak kubunuh, setidaknya sudah ada alasan kuat. Kau harus jadi saksi."


Yang Ruan mengangguk.


Sedang orang-orang di sekeliling itu menahan geli sebisa mungkin. Merasa lucu melihat tingkah dua orang muda yang dikira sedang berciuman di dekat pohon itu.


"Bahkan di tempat umum pun mereka tanpa malu-malu."


"Bukankah sudah jelas, jika demikian berarti mereka termasuk rekan segolongan."


"Hahahaha...."


...****************...

__ADS_1


"Selamat datang kepada saudara-saudara sekalian yang sudah memenuhi undangan kami."


Suara menggema dari sosok kakek tua berwajah keriput nan angker itu berhasil mendiamkan semua orang di puncak itu. Sung Han dan Yang Ruan yang duduk di belakang, merasa terkejut juga.


"Hm...."


Yang Ruan menoleh dengan bingung, "Ada apa?"


"Dia memang kuat, tapi belum pantas untuk menyombongkan diri."


Yang Ruan tersenyum tipis. Maklum bahwa kepandaian mereka berdua mungkin lebih tinggi beberapa tingkat dibanding ketua Pedang Hitam itu. Mendengar dari getaran suaranya saja, Yang Ruan sudah dapat mengukur seberapa tinggi kepandaian orang.


"Ya, dia tak sekuat dirimu."


Mereka kembali diam untuk mendengarkan ceramah tidak bermutu dari sosok sesat itu. Hingga sekitar setengah jam kemudian, terdengarlah sebuah kalimat yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi.


"Mari kita mulai. Peraturannya sederhana, yang bisa menang melawan semua penantang, maka dia akan menjadi pemimpin seluruh golongan sesat. Tak ada larangan membunuh karena sudah menjadi kewajaran dalam berpibu. Marilah, siapa hendak maju dulu?"


Menyambut ucapan ini, dari tengah penonton terdengar bunyi melengking nyaring dibarengi kelebatan hitam yang tahu-tahu telah berdiri di tengah panggung. Dia adalah seorang pria peruh baya empat puluhan tahun, berwajah kereng dan bersenjata rantai.


"Aku Rantai Maut Tenggara, menjadi penantang pertama!!"


Suara sorak sorai gegap gembita menyambut ucapan angkuh ini. Sebagai balasan, dari tengah kerumunan penonton yang lain, terdengar pekik nyaring dan tiba-tiba, puluhan batang senjata rahasia berupa paku telah meluncur ganas ke arah Rantai Maut Tenggara.


"Hmph!!" orang itu mendengus pendek dan memutar rantainya ke depan tubuh. Sinar-sinar keperakan itu berhasil menyampok runtuh semua senjata rahasia. Namun dengan begitu belum juga pemilik senjata-senjata rahasia itu muncul.


"Pengecut hina, jangan bawa kakimu ke mari jika kau hanya bisa main sembunyi!" bentak Rantai Maut Tenggara.


"Heheh, mulut besar sebesar tubuhnya. Hei, Rantai Maut Tenggara, apa modalmu sampai kau bisa sesombong itu?"


Rantai Maut Tenggara terkejut sekali ketika mendengar suara dari arah belakang. Cepat dia berbalik dan menyabetkan rantainya. Orang itu menghindar dengan ringan disusul totokan kedua tangan.


"Kau punya kepandaian!" seru Rantai Maut Tenggara yang melompat mundur dan menerjang sosok seumuran itu. Maka terjadilah pertandingan yang seru dan menegangkan antara tokoh-tokoh berilmu tinggi itu.


Akan tetapi seseru apa pun pertarungan di atas panggung itu, mata Sung Han sama sekali tidak melirik. Dia tidak tertarik dengan pertarungan itu dan memilih untuk mengedarkan pandangannya mencari gerombolan Serigala Tengah Malam.


Namun dia harus merasa kecewa sekali saat di sana sama sekali tidak ada rombongan Serigala Tengah Malam. Diam-diam dia mengumpat.


"Ternyata mereka masih terlalu tinggi hati."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2