
Xian Fa dengan mudah saja melakukan elakan. Bagi orang biasa, gerakan Yu Fei itu sudah terlalu cepat. Namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi sepertinya, itu hanya seperti mainan anak-anak.
Serangan berikutnya disusul oleh Bo Tsunji yang sudah berada di belakang Xian Fa dan menebaskan pedangnya. Lagi, Xian Fa sudah menduga akan hal ini karena memang formasi itu boleh dibilang formasi penyerangan dasar untuk dua orang.
Sama sekali dia tidak melirik ke belakang ketika tangan kiringa bergerak untuk menyentil pedang Bo Tsunji. Berbareng dengan itu, lutut kanannya secara telak dan akurat mendarat di pada ulu hati Yu Fei.
"Ughh!"
Yu Fei mengeluh dan seteguk darah segar menyembur ke luar.
Pedang Bo Tsunji terpental dan hampir saja terlepas dari genggaman jika tangan kiri tidak cepat-cepat membantu menahan. Dia melangkah mundur untuk membuat jarak, mengamati Xian Fa dari atas sampai bawah seolah mencari titik lemahnya.
Akan tetapi nihil. Pandangannya sama sekali tidak menemukan celah sedikit pun juga dari diri Xian Fa. Padahal pemuda itu sama sekali tidak memegang senjata, juga cara berdirinya hanya seperti orang berdiri seenaknya, mirip orang yang bosan mengantre masuk gerbang kota. Namun entah kenapa, firasatnya selalu berbisik, "lari!"
"Kalian dulu sangat sombong," Xian Fa bersuara. Dia mengajak bicara dua lawannya, namun pandangannya tertuju pada Hok Liu dan Han Ji yang sudah sibuk bertarung melawan lawan mereka. "Tapi kini kesombongan kalian seolah tak ada artinya. Kalian juga pasti tahu, bahkan di organisasi Serigala Tengah Malam, posisi kalian sudah tersingkir. Banyak pendekar sejati bermunculan, dan kalian tak ada tempat lagi kecuali menonton dari jauh atau terpaksa mati jika secara lancang ikut campur pertarungan ini."
"Apa yang kau bicarakan?!" Bo Tsunji membentak. "Jangan remehkan kami, mana Pedang Gerhana Matahari?!"
Xian Fa meliriknya. "Apa kau melihat pertandinganku di puncak gunung itu?"
"Tentu saja," jawab Bo Tsunji cepat. "Dan aku cukup jengkel mengapa kau yang menang."
Xian Fa terkekeh, mengeluarkan dengusan merendahkan. "Kalian saja harus diwakilkan oleh Sung Hwa, tak ada yang mampu melawan Kay Su Tek. Dan sekarang, kalian ingin membunuh seseorang yang telah mengakhiri nyawa orang yang tak bisa kalian bunuh?"
"Keparat!" kali ini Yu Fei membentak dan maju menerjang. Pisaunya terhunus ketika dia melakukan terjangan cepat.
Xian Fa segera melakukan gerakan silatnya. Ilmu silat warisan gurunya yang pertama, yang bahkan setelah menjadi murid gemblengan dari Tok Ciauw, tak ada satu pun ilmu dari penjaga Goa Emas itu yang mampu mengungguli ilmu ini. Bahkan setelah melatih hawa sakti di bawah bimbingan Tok Ciauw, ilmu ini hanya menjadi jauh lebih kuat.
Xian Fa maju selangkah, pisau itu mengarah ke pusarnya. Ketika sudah tiba dekat sekali, ia miringkan tubuh ke kanan. Kemudian saat Yu Fei hendak mengirim serangan balasan, Xian Fa sudah lebih dulu menampar dadanya.
"Dessss!"
Tubuh Yu Fei terjengkang sampai beberapa tombak dan pisaunya terlepas. Sambil melayang tubuhnya sudah berkelojotan, mukanya pucat membiru dan matanya putih semua. Di sisi lain, lengan Xian Fa yang digunakan untuk memukul itu terlihat seperti tertutup salju tipis, putih kebiruan.
Wajah Bo Tsunji memucat, dia pernah melihat ilmu ini dari Xian Fa. Lebih tepatnya dulu ketika Xian Fa menyamar menjadi anggota Serigala Tengah Malam di salah satu desa. Ketika dia membantai orang-orang Serigala Tengah Malam yang menculik gadis-gadis desa.
Tapi kali ini lain lagi. Kala itu Xian Fa belum sekuat sekarang dan ilmu ini sudah berhasil memporak-porandakan mereka. Kini setelah mencapai tingkat pendekar sejati. Bo Tsunji merinding membayangkannya.
__ADS_1
Ilmu itu bernama Badai Salju Pembeku Darah. Sebuah ilmu maha dahsyat yang sukar sekali ditemukan tandingannya. Bahkan untuk seorang pendekar setingkat dengan Xian Fa, akan merasa kesulitan menghadapi ilmu ini. Apa lagi hanya Yu Fei yang bahkan belum mencapai pendekar sejati, tentu sudah tewas bahkan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
"Yah ..., aku akan berbaik hati. Sebentar lagi kau akan menyusul kawanmu." Xian Fa cengar-cengir menunjukkan deretan giginya. Namun bagi Bo Tsunji, itu adalah seringaian maut.
Di sisi lain, pertarungan Hok Liu melawan Naga Bertanduk dan Han Ji melawan Walet Hitam sudah menginjak jurus ke lima puluh. Mereka tidak sadar betapa tak jauh dari mereka, Xian Fa baru saja mempermainkan lawannya dan membunuh dua orang itu dalam beberapa jurus saja. Dan kini, pemuda itu enak-enak duduk di atas batu, menonton.
Terlihat Burung Walet Hitam itu kewalahan menahan gempuran tendangan Han Ji. Memang dibandingkan dengan pendekar-pendekar sejati lain, Burung Walet Hitam ini termasuk masih lemah. Dan celakanya, sosok yang ia lawan adalah Han Ji, murid tersayang dari Chunglai si manusia gunung. Tentu saja setelah berpuluh-puluh jurus dia hanya mamlu main mundur.
Sedangkan, pertarungan Hok Liu melawan Naga Bertanduk agaknya sudah mencapai babak akhir. Sungguhpun berimbang, namun Naga Bertanduk lebih tua beberapa tahun dari Hok Liu, sehingga dari segi stamina tentu saja berbeda.
"Hiaaaaa!!"
Naga Bertanduk tak melihat jalan lain selain mengadu nyawa, maka dia memekik nyaring dibarengi gerakan kipasnya yang menggunting dari kanan-kiri. Angin tajam bercuitan mengarah ke leher Hok Liu.
Hok Liu mterkejut sekali melihat itu, sadar bahwa musuhnya telah mengadu nyawa, mengeluarkan segala kemampuan di saat terakhir, maka dia tak mau sembrono. Ia kerahkan ilmu Gelombang Ombak Samudar dan kedua tangannya berputaran di kanan-kiri, membentung guntingan pedang itu.
"Dessss!!"
Darah menyiprat dari lengan Hok Liu, sedangkan serangan Naga Bertanduk berhasil dipatahkan. Kipasnya terpental, lepas dari genggaman. Ini kesempatan baik, Hok Liu tak memedulikan luka di lengannya, dia segera melompat dan melakukan tendangan dengan kedua kaki secara bersamaan.
"Bughhh!!"
Sedetik kemudian, Hok Liu mengerang dan jatuh berlutut. Luka di lengannya cukup parah sehingga dia segera bersila untuk meditasi.
...****************...
"Hmph! Kematian yang pengecut," Han Ji mengomel.
"Kita harus segera pergi dari sini. Khawatir jika ada pengintai," ucap Xian Fa. Dia memandang sekali lagi kepada mayat Walet Hitam yang lebih memilih bunuh diri setelah melihat Naga Bertanduk tewas. "Kita belum aman."
Han Ji tak membantah. Dia dan Xian Fa lalu menghampiri Hok Liu yang masih tenggelam dalam meditasinya.
"Bangun, lekas ambil senjatamu dan mari kita pergi," ujar Xian Fa sambil mengguncang-guncangkan bahu pria tersebut. "Kau sudah merasa baikkan, kan?"
Hok Liu membuka mata, wajahnya sudah tak sepucat tadi. Dengan lemah dia bertanya. "Pertarungannya?"
"Kita menang," jawab Han Ji.
__ADS_1
"Tidak, yang menang kita. Dia ini hanya menang kebetulan," Xian Fa mencibir sambil menunjuk Han Ji. "Musuhnya mati bunuh diri."
"Kuhajar kau!"
"Coba kalau kau mampu. Kau ingin bersikap durhaka bahkan sebelum kita menikah?"
"Brengsek!"
Hok Liu mencoba untuk tertawa, namun baru saja mulutnya terbuka ketika dadanya terasa sesak. Ia menekan dadanya. "Ugh ..., sepertinya masih ada sedikit luka dalam di tubuhku."
"Itu tidak berbahaya, aku bisa melihatnya. Yang jelas, ayo segera pergi dari sini," Xian Fa mendesak. Dia sudah melihat tatapan Han Ji yang ingin membantah, mungkin mencercanya dengan kata pengecit lagi. Maka dia segera melanjutkan. "Rencana kita tak boleh sampai gagal di sini."
Hok Liu mengangguk. Dengan banyak usaha dia bangkit dan memungut sepasang kipasnya. Menatapnya dengan haru seolah baru saja bertemu kawan lama. Lalu menyelipkannya ke pinggang dan memandang Xian Fa serta Han Ji.
"Akan kukatakan semuanya pada tuan putri, aku janji," Hok Liu berkata sebelum menjura. "Setelah ini, katakan bahwa aku membunuh mereka agar kalian tidak dicurigai."
"Rencana bagus," sahut Han Ji.
"Hentikan sikap sungkan-sungkanmu. Kita orang sendiri. Cepatlah pergi dan kami akan segera kembali," ujar Xian Fa.
Hok Liu tersenyum. "Terima kasih Sung Han, baru sekali ini aku tak menyesal bahwa mendiang guru pernah mengadopsimu."
"Sialan."
"Dan terima kasih pula nona Sung Hwa, aku akan segera menceritakan kepada tuan putri betapa gagahnya sosok pengawal pribadinya."
"Sedikit dilebih-lebihkan, ya?" Han Ji tersenyum-senyum sambil menaikkan alis.
Hok Liu mengangguk-angguk. "Aku cukup pintar membuat dongeng."
"Terima kasih."
Setelah itu, mereka bertiga hanya saling pandang, tak ada berkata-kata. Namun pandangan itu sudah menjelaskan semuanya. Betapa mulai hari ini, tiga orang itu sudah saling percaya, tak ada lagi kecurigaan, tak ada lagi kebencian dari seorang patriot terhadap seorang pemberontak.
Yang ada hanyalah persahabatan.
"Terima kasih," ucap Hok Liu sekali lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG