Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 196 – Tempat Rahasia [Bagian : 4]


__ADS_3

"Hati-hati! Bisa saja ada gempa susulan." demikian antara lain jenderal Tang berseru, "Tinggalkan kuda di sini, ayo merambat naik."


Lima puluh orang, kurang lebih, berjalan mengikuti jenderal Tang yang tanpa ragu melangkahkan kakinya mendekati bukit Goa Emas yang baru saja dilanda gempa. Terjadi tanah longsor yang cukup besar hingga dari kejauhan tampak beberapa orang jatuh dan tertimbun di bawahnya.


Beberapa prajurit sudah mencoba untuk mengingatkan jenderal ini agar pergi ke kejauhan dan memeriksa keadaan beberapa hari lagi. Akan tetapi jawaban jenderal itu benar-benar di luar dugaan siapa pun.


"Siapa tahu ada yang selamat." katanya santai sambil mengganti pakaian perangnya dengan pakaian yang lebih ringan. "Apa salahnya mengangkut orang hidup?"


Ketika sampai tepat di bawah tebing itu, lima puluhan orang bersama jenderal Tang ini terperangah. Batu-batu besar bercampur tanah pasir runtuh dan membentuk semacam gundukan. Akan tetapi mereka mampu melihat ada satu dua tangan atau kaki yang mencuat ke luar.


"Kau!" panggil jenderal Tang seraya menunjuk seseorang. Orang itu lekas menghampiri, "Katakan kepada para pasukan yang berjaga di sekeliling, bawa lima puluh orang lagi untuk mengevakuasi daerah ini."


"Baik!" orang itu lalu buru-buru pergi lagi untuk mengabari hal tersebut.


Jenderal Tang mengamati gundukan itu sejenak, lalu berjalan naik memapaki gundukan itu. "Mari jalan, kita akan melihat apa yang berada di atas sana."


Setelah terciptanya gundukan yang entah telah mengubur berapa orang itu, perjalanan menuji ke puncak bukit Goa Emas menjadi jauh lebih mudah. Walau dikatakan sedikit sukar pada beberapa bagian karena mereka harus merayap pada akar-akar pepohonan, namun itu masih cukup baik selama medan pijaknua tidak menjulang mengacung langit.


Cukup lama mereka kepayahan mendaki dan akhirnya jenderal Tang sendiri yang tiba duluan di puncak. Ia menelan ludah susah payah begitu melihat apa yang tersaji di depan matanya.


"Ini....pasukan Jeiji?" salah seorang anak buahnya bergumam sambil mendekati salah satu batu. Di mana batu besar itu telah menghancurkan tubuh manusia di bawahnya, terlihat dari genangan darah yang cukup banyak. Dari bawah batu, menyembul satu bendera perang yang tersulam tulisan asing.


"Bagaimana cara bacanya? Mengapa kau bisa tahu ini dari Jeiji?" seorang temannya berkata setelah mendekat.


"Itu aksara kanji." ucap Jenderal Tang yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Pria paruh baya ini berjongkok untuk mengamati lebih dekat, "Aku tak tahu cara bacanya, namun tak salah lagi pasti inilah yang disebut aksara kanji. Tulisan orang-orang Jeiji."


"Jenderal!!" ada seseorang yang berseru memanggil. Jenderal itu menoleh dan menghampiri.


"Ada apa?"


"Lihat!" prajurir itu berkata seraya menunjuk ke atas. Lebih tepatnya ke beberapa senjata yang menancap pada celah-celah batu longsor. "Bukankah itu senjata-senjata para tawanan Serigala Tengah Malam waktu itu?"


Mata Tang Lin tidak buta, bahkan masih amat jelas. Ia pun kaget sekali mengetahui Pedang Darah dan Tongkat Besi Hitam warisan Raja Dunia Silat berada di tempat ini. Setelah mengamati lebih dekat, ternyata memang benar adanya.


"Panjat! Panjat dan ambil. Kita harus kembalikan kepada pemilik aslinya. Kini sudah jelas, pasukan Serigala Tengah Malam tadi tengah bertempur melawan Jeiji!"


Beberapa orang saling bantu untuk memanjat tembok batu itu. Sedangkan yang lain melakukan pengecekan ke sekeliling. Menggulingkan batu-batu hanya untuk menemukan mayat manusia yang sudah tak berbentuk lagi.

__ADS_1


...****************...


Sung Han membuka matanya perlahan, sedikit takut untuk melihat jika tak berselang lama kemudian dia akan melihat sosok yang selama ini disebut malaikat maut.


Akan tetapi begitu mata telah terbuka sepenuhnya, ia merasakan kegelapan yang menyesakkan. Ketika coba bergerak, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh seolah baru saja semua urat nadinya dipelintir dan diremas. Ia mengerang dan menjatuhkan kepalanya lagi dalam posisi terentang.


Namun pemuda itu dapat bernapas lega. Rasa sakit dan kelelahan yang amat sangat ini merupakan satu bukti jelas bahwasannya dia masih bernyawa.


Ia menggerakkan kepala mencoba memandang sekeliling. Namun yang dilihat hanya cahaya remang-remang. Akan tetapi setelah sekian waktu mencoba memahami keadaan, agaknya dia berada di sebuah goa.


Tak ada pilihan lain, Sung Han hanya mampu rebah seraya memandang langit-langit yang hanya didominasi warna hitam. Kecuali bintik-bintik kekuningan yang entah apa itu. Dilihat dari bawah, baik langit-langit maupun bintik-bintik kuning itu tak lebih hanya sekedar batu.


Entah berapa lama waktu terlewat dan Sung Han merasa makin pegal dengan terus rebah. Maka ia paksa tubuhnya untuk bergerak dan bangkit duduk. Barulah ketika itu ia dapat memandang ke sekelilingnya dengan lebih jelas.


Kiranya dia berada di satu tempat antah berantah, entah di mana, di dunia atau di alam lain, berupa satu ruangan besar melingkar yang kesemuanya terdiri dari batu-batu. Dengan alas rata seolah pernah dipoles oleh seseorang.


"Krak..."


Suara mendadak ini membangkitkan insting Sung Han dan spontan dia bangkit berdiri. Namun karena belum kuat, ia terhuyung dan terguling jatuh terduduk lagi.


"Krak...."


Bagaimana pun juga, dia bukan berada di tempat yang ia kenal. ditambah lagi dengan tubuh yang terluka seperti itu, jika ada orang datang sebagai lawan, mana mungkin ia mampu membela diri? Bahkan jalan keluar pun dia tak tahu.


"Krieett...."


Terdengar seperti suara pintu dibuka. Anehnya Sung Han merasa familiar dengan suara itu. Akan tetapi karena keadaannya saat ini yang benar-benar gawat, ia tak hiraukan keanehan ini dan terus berlutut dengan tangan memegang perut. Sambil matanya terus melirik ke sana-sini.


"Jangan takut anak muda...kau aman."


Suara menyeramkan seperti suara setan itu berasal dari belakang. Kemudian disusul dengan tepukan lembut sebuah tangan kasar di kepalanya. Sung Han berjengit dan otomatis tubuhnya meloncat ke depan. Bergulingan, lalu bangkit lagi memandang tajam.


"Ugh..." Sung Han tersedak sebelum muntahkan darah segar.


"Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu lemah." ucap suara itu lagi. Disusul suara langkah kakinya yang kian dekat.


Sung Han mencoba memandang, sedikit buram. Namun lama kelamaan menjadi jelas. Ia memandang terkejut ketika tahu siapa sosok yang berdiri di hadapannya, entah dia harua merasa senang atau sedih.

__ADS_1


"Kiranya senior yang berada di sini, apakah anda yang menolong saya?" Sung Han sudah merangkapkan kedua tangan untuk memberi hormat sambil menundukkan badan.


Tok Ciauw mengangguk-angguk dan balas menjura. "Benar, aku menarikmu ke tempat rahasia begitu batu besar hendak meremukkan kepalamu. Kau sudah pingsan duluan waktu itu."


Sung Han sedikit malu akan kenyataan ini.


"Kalau boleh tahu, saat ini saya sedang berada di mana?" Sung Han bertanya.


Tok Ciauw tak langsung menjawab, dia memandang sekeliling beberapa saat, "Entahlah, banyak ruang dan lorong-lorong dengan bentuk mirip di sekitaran sini. Aku pun tidak tahu kita sedang berada di bagian mana."


Sung Han ingin mengemplang kepala orang itu kalau saja tidak ingat akan posisinya. Maka dia hanya diam.


"Tapi tenang saja, kita bukannya tersesat. Walau aku tak hafal akan lorong-lorong membingungkan dalam tempat ini, namun percayalah tak ada yang namanya lorong bercabang. Maka jika kita menyusuri lorong, kemungkinannnya hanya dua. Kalau tidak jalan buntu, tentu menemui jalan persimpangan yang menjadi percabangan dari lorong utama. Nah, kau tak usah khawatir."


"Kau bilang tak ada jalan bercabang!!" tentu saja ucapan penuh kritikan ini hanya bersuara dalam hati Sung Han.


"Duduklah." kata Tok Ciauw, "Aku akan mengobatimu."


Sung Han menurut saja dan duduk bersila. Lalu Tok Ciauw secepat kilat telah berdiri di belakangnya dan menempelkan tangan ke pundak Sung Han. Hawa hangat mengalir memasuki tubuh Sung Han dan pemuda ini cepat menerima untuk diolahnya.


Beberapa menit kemudian, pengobatan berhasil mencapai tahap akhir dan tubuh Sung Han merasa demikian ringan. Namun tiba-tiba, tangan Tok Ciauw sudah menekan ubun-ubunnya. Jika ia bergerak seidkit saja pasti tangan itu langsung dapat menembusnya.


"Eh....?" Sung Han bingung dan menjadi kikuk.


"Sung Han, pendekar muda yang memiliki kekuatan setinggi langit, aku ingin kau bersumpah!" ucap Tok Ciauw sungguh-sungguh.


Sung Han meneguk ludah, hanya mampu mengangguk. Seperti gerakan otomatis yang didasari rasa ngeri.


"Ini merupakan tempat rahasia dari Goa Emas. Tak ada seorang pun yang diijinkan datang kemari kecuali murid-muris guru. Kau sudah masuk ke mari, maka...."


Sung Han terbelalak, wajahnya pucat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sepasang Pedang Gerhana...


...Bagian 4 : Invasi Kekaisaran Jeiji...

__ADS_1


...Selesai...


BERSAMBUNG


__ADS_2