
Sebenarnya dia merasa kurang setuju dengan tindakannya sendiri. Masa dia yang seorang pendekar bersih harus bekerja sama dengan para pendekar golongan sssat. Cukup janggal dan tidka biasa. Namun kali ini menyangkut urusan bela negara yang juga menjadi kewajibannya.
Selama perjalanan, dia terus bertanya-tanya seputar informasi mengenai armada kekaisaran Jeiji yang bergerak ke ujung utara. Dan kebanyakan dari mereka mengetahui hal ini dan menyatakan bahwa itu berota benar. Bukan dibuat-buat hanya sekedar untuk menakuti orang.
Diam-diam Sung Han berpikir, jika kekaisaran Jeiji berhasil merebut Goa Emas itu dari tanah kekaisaran Chang, lalu apa yang akan mereka lakukan? Bukankah hal itu sama dengan bunuh diri? Kekuatan tempur lekaisaran Chang utara bukannya lemah. Jika kekiasaran Jeiji mengirim bala tentara untuk menjaga Goa Emas, jelas kekaisaran Chang dapat menggempur balik karena daerah itu merupakan daerah sendiri.
Juga pusat kekuatan kekaisaran lawan sejatinya berada di selatan sana. Tak mungkin mengerahkan sebagian besar kekuatan ke Goa Emas, jika hal itu dilakukan maka benar-benar akan menjadi tindakan bunuh diri!
Kurang lebih sehari perjalanan, Sung Han sampai di suatu tempat yang dia belum mengenalnya. Selama ini belum pernah dirinya pergi sejauh itu sampai ke daerah pelosok. Daerah ini agaknya sangatlah terpencil karena jarang terlihat desa. Lebih terpencil dari desa patriot tempat nona dan nyonya Han tinggal agaknya.
Tempat ini memang cukup antah berantah, terlihat dari bentuk hutannya yang jarang ada jalan setapak. Begitu pula dengan tempat Sung Han saat ini, tak ada jalan setapak sama sekali.
Di depan sana ada beberapa bukit yang berdiri, Sung Han tak mampu melihat lebih jauh lagi karena terhalang bukit itu, maka dia memutuskan untuk mendaki bukit ini sampai ke puncak.
Setibanya di puncak, dia merasa terpesona dengan keindahan alam di sekitar. Seolah berada di dunia mimpi, Sung Han saat ini merasakan seperti benar-benar bebas. Tempat yang sangat luas dan seolah tak berujung, bukit dan gunung-gunung di kejauhan sana seolah mengurung tempatnya berdiri saat ini.
Tanpa sengaja ketika dia sedang sibuk menyapukan pandangannya untuk menikmati pemandangan sekitar, matanya menangkap dua buah benda yang segera menarik perhatiannya. Benda itu sedikit jauh dari tempatnya berdiri saat ini, maka dengan penasaran dia berlari turun menuju dua benda itu.
Setelah beberapa menit, dia menghentikan larinya dan terkejut. Suaraya seperti tertahan di tenggorokan sampai membuatnya seperti orang gagap.
"I-i-itu....itu....bendera mereka?"
Memang apa yang dilihat Sung Han amatlah mengejutkannya. Jauh di depan sana, berkibar dengan agung dua buah bendera yang sama-sama berwarna hitam.
Yang membuat Sung Han tergagap itu bukan karena takut, melainkan terkejut karena saat ini agaknya dia telah berhadapan dengan mereka. Rombongan orang-orang itu.
Ya, itu adalah dua buah bendera waran hitam. Satu bertuliskan Serigala Tengah Malam, dan satu lagi bertuliskan Dunia Hitam. Berkibar dengan posisi saling dekat satu sama lain.
Tepat ketika itu, Sung Han merasa ada beberapa orang yang melesat di sana-sini, membuat gerakan mengurung. Tahulah Sung Han kini jika dirinya telah dikurung beberapa orang, namun mereka tidka menyerang dan hanya mengintai dari jauh.
__ADS_1
Sung Han mencoba tenang dan mulai dari situ ia langkahkan kakinya pelan-pelan menuju perkemahan dua kekuatan teratas dari dunia persilatan hitam itu.
Makin lama Sung Han berjalan, makin banyaklah orang yang bergerak mengurung dari jauh itu. Sung Han merasakan ini namun sedikit pun juga dia tidak menampakkan ekspresi takut. Justru sebaliknya, dengan dada membusung dia berjalan tegap teratur.
Setibanya di sana, dia terperangah menyaksikan perkemahan ini. Sebuah perkemahan yang hampir mirip dengan perkemahan pasukan perang, banyak tenda besar kecil berdiri di sana-sini dengan warna yang berbeda-beda.
Akan tetapi Sung Han harus menghentikan keterkejutannya ketika memandang ke depan dan saat itu dia juga sedang dipandangi banyak orang yang berlalu lalang.
"Siapa kau?!!"
Satu bentakan ini berhasil memancing perhatian semua orang dan meraka segera mencabut senjata. Gerakan mereka tangkas-tangkas ketika bergerak mengurung Sung Han dari segala sisi.
"Penyusup!!"
"Siapa engkau!!"
Dia mengumpulkan tenaga di tenggorokannya dan berteriak, "Burung Walet Hitam!! Aku memenuhi undanganmu! Sebagai orang gagah keluarlah datang menyambut!"
Teriakan ini menggema sampai jauh dan menggetarkan dada siapa saja yang mendengarnya. Orang yang tidak kuat langsung jayuh pingsan tumpang tindih. Sedangkan pengurungan itu menjadi hening kembali.
Tanpa terdengar satu pun suara, tirai di jendela itu terbuka dan berturut-turut nampak tiga bayangan yang mendekati tempat itu.
"Beri jalan!" perintah suara yang sedikit serak.
Mereka membuka jalan dan nampaklah tiga orang yang sudah Sung Han kenal. Orang pertama memakai topeng emas, sudah jelaslah siapa orang ini. Orang kedua seorang kakek tinggi yang menyeramkan dengan wajah dingin dan kaku, dialah Burung Walet Hitam. Orang ketiga adalah orang yang dicari-carinya selama ini, seorang pemuda yang memandangnya dingin.
"Kay Su Tek..." gumam Sung Han.
"Jadi kau benar-benar datang Sung Han. Marilah masuk, kita bicara sebagai sahabat-sahabat seperjuangan." ucap topeng emas menyambut. "Bersikaplah hormat kepada sahabat kita ini!!" katanya lagi kepada para anak buahnya yang nampak masih curiga dengan Sung Han.
__ADS_1
Sung Han berjalan mengikuti, dia tak terlalu memerhatikan sekitar lagi. Segera dia dibawa masuk ke tenda besar itu dan dipersilahkan duduk.
"Pilihanmu memang tepat sekali Sung Han. Kau memang berbakti kepada negara." puji topeng emas.
Sung Han seperti tak mendengar suara itu, dia menoleh kepada Kay Su Tek yang memandangnya dengan sinar mata tajam.
"Su Tek, mengapa kau ikut mereka? Bukankah kalian ini adalah musuh?" tanya Sung Han.
Kay Su Tek mendengus, "Antara aku dan mereka memang musuh, namun antara kau dan kami lebih bermusuh lagi."
Sung Han mengangkat alis, "Hoh....aku sudah jadi musuhmu? Sejak kapan?"
"Sejak saat itu! Apa yang telah kau lakukan padanya?! Kau pasti mengatakan yang bukan-bukan!" Kay Su Tek terbawa emosi sampai bangkit berdiri.
Sung Han kali ini tak main-main lagi, "Aku tak mengatakan apa-apa. Dia sendiri yang memutuskan untuk seperti itu."
Mereka masih saling pandang, lalu Sung Han berkata lagi, "Yang Ruan.....dia masih memikirkanmu, sungguh. Tapi engkau benar-benar mengecewakannya."
"Brakk!!" pemuda itu menggebrak meja, "Apa yang kulakukan sudah benar!! Kau sebagai orang yang sudah melihat semuanya betapa tempatku hancur karena pemerintah!"
"Dan sosok itu ada di sini, dan kau bekerja sama dengannya. Apa tidak malu?" potong Sung Han sebelum Kay Su Tek menyelesaikan ucapannya.
Kali ini pemuda itu tak mampu menjawab, hendak menjawab namun suaranya berhenti di tenggorokan. Sung Han masih terus memandangnya tajam hingga sebuah suara laun berhasil menghentikan mereka.
"Baiklah...baiklah....antara sahabat sendiri tidak baik untuk saking bertengkar. Mari kita pikirkan rencana ke depan." tegur pangeran setelah bertepuk tangan dua kali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1