Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 32 – Cari Ribut


__ADS_3

Sudah berhari-hari Phiang Bi Sun berasama tiga puluh pasukannya menunggu di tempat. Yang mereka lihat hanyalah tarian pohon terkena angin atau daun kering terbang entah ke mana.


Sekali lagi nenek itu melongok ke bawah, hanya untuk melihat kalau-kalau ada orang lewat. Kali ini, bibirnya tersenyum lebar, melihat seseorang berjalan santai di bawah sana.


"Wah...lawan tak datang-datang, kiranya bocah itu bisa dipakai main-main." serunya sumringah, mengejutkan beberapa orang. "Hei kalian, ayo turun."


Mengira kalau pasukan gabungan itu telah tiba, mereka menjadi semangat dan mencabut senjata. Dengan langkah lebar dan tegap, tiga puluhan orang ini mengikuti Phiang Bi Sun menuruni bukit.


"Satu orang?"


"Apa, satu orang?"


Terdengar beberapa orang saling bisik tak percaya. Entah meragukan penglihatan mereka atau meragukan keputusan Phiang Bi Sun.


"Maaf lancang nona, tapi dia...."


"Memang benar, tidak ada hubungannya dengan misi kita. Tapi setidaknya bisa buat main-main." ucapnya sambil terus berjalan menghampiri pemuda itu.


Beberapa saat kemudian dia menggerakkan tangan sembari memberi perintah, "Kepung!"


Tak ada alasan membantah, tiga puluh orang ini berloncatan dan mengepung pemuda itu dari segala sisi. Pemuda ini sama sekali tidak terlihat terkejut, hanya melihat penyergapan itu sambil mendengus dingin.


Phiang Bi Sun tiba di sana, ia tertawa. "Huahahah, eh bocah kecil, kenapa kau jalan-jalan di sini sendirian? Tidak tahukah kau berada di mana?"


Pemuda yang bukan lain adalah Sung Han itu tidak ingin berbasa-basi lebih lama. Tubuhnya berbalik menghadap Phiang Bi Sun dan berkata, "Engkaukah yang kebanyakan orang sebut sebagai Si Nenek Bibir Merah?"


Phiang Bi Sun terkejut, begitu pula anak buahnya. Namun seringaian tercipta di bibir merahnya, "Memang benar. Nih buktinya." katanya memperlihatkan bibirnya yang merah sekali.


"Emang mau apa? Eh, anak muda, pengetahuanmu luas ya..." lanjutnya, "Oh, sebatang pedang? Agaknya kau juga segolongan dengan kami?" yang dimaksudkan adalah ahli silat.


Sung Han bersedekap, "Kebetulan sekali. Ingin kudatangi kalian tapi justru kalian malah datang sendiri cari mampus! Eh nenek peyot, ketahuilah bahwa aku ini dulunya bekas kacung Rajawali Putih. Engkaukah yang menghancurkan pemukiman murid baru Naga Hitam?"


Para pengepung itu terkesiap, kiranya yang mereka kepung ini justru seseorang yang sedang dicari-cari, pewaris pedang gerhana!


Berita itu sudah diketahui seluruh anggota Hati Iblis. Bahwasannya, seorang bekas kacung Rajawali Putih telah menjadi pewaris dari pedang pusaka itu. Maka mendengar pengakuan Sung Han, mereka terkejut sekali juga heran. Kenapa pewaris ini berkeliaran seorang diri?


Namun Phiang Bi Sun malah tertawa bergelak sampai mendongak. Setelah itu ia menunjuk wajah Sung Han dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya melepas lilitan sanggulnya.

__ADS_1


"Huahahaha, beruntung sekali aku ini, kiranya engkaulah yang kami cari. Heh, bekas kacung, sudah siap mati?" ucapnya mengejek.


"Heh, bibir menor, sudah siap mampus?" balas Sung Han.


Namun Phiang Bi Sun bukannya terbawa emosi, ia lantas menerjang dengan cengkeraman dua tangan mengarah pundak Sung Han.


Pemuda ini sedikit tersenyum, dia sudah mendengar seberapa lihai perempuan tua ini, maka diam-diam ingin menguji nenek itu sepadan dengan dirinya atau tidak.


Begitu serangan datang, seolah tidak melihatnya Sung Han sama sekali tidak bergerak. Namun ketika kurang sejengkal mencapai sasaran, tiba-tiba tubuhnya berkelit dan tahu-tahu sudah berjongkok.


"Terbang!" katanya seperti main-main. Namun daya hempas dari kedua lengan Sung Han itu sama sekali tak bisa dianggap remeh.


"Wuuuss!!"


Angin berpusingan, menerbangkan Phiang Bi Sun yang kaget sekali juga heran. Namun hatinya panas, karena Sung Han menyerangnya hanya dengan angin dahsyat, sama sekali tidak menimbulkan bahaya di tubuhnya.


"Bocah, kau meremehkan aku!!" bentaknya di atas sembari mengirim pukulan jarak jauh.


"Haha, kiranya aku yang lebih pantas meremehkanmu!" balas Sung Han, "Terima ini!"


Sung Han menghentakkan kedua lengan, timbul hawa panas yang sungguh luar biasa. Segera saja hawa panas itu menindih tenaga dalam nenek dan membuat dadanya sesak. Phiang Bi Sun jungkir balik untuk menyeimbangkan diri sebelum mendarat.


"Tangkap majikan kalian!" sambil tertawa, Sung Han memutar tubuh Phiang Bi Sun dengan mencengkeram rambutnya, lalu ia lempar ke salah satu kerumunan murid Hati Iblis.


"Uahhh!" entah seruan siapa ini namun tujuh orang roboh terkena hantaman tubuh Phiang Bi Sun.


Sung Han tak tinggal diam, saat semua orang ragu hendak menyerang atau tidak karena memang belum ada perintah, ia melompat ke kerumunan lain dan menggerakkan kaki tangan.


"Sring–sriing–breett!"


Dua kali pedang menyambar, satu kena tangkis kakinya dan satu lagi berhasil ia rampas. Kemudian dalam satu putaran sempurna searah jarum jam, Sung Han memotong tubuh lawan menjadi dua bagian.


Tindakan ini terus berlanjut ke anggota lain yang melawan sedapatnya. Tapi tak berselang lama, sudah dua puluh lima orang tewas mengenaskan. Tentu saja ini membuat lima orang sisanya jeri bukan main.


"Hahahaha, hanya ini? Lalu kalian ingin menghadapi kakek Sie dan ketua Naga Hitam? Mimpi!" kata Sung Han seraya tertawa bergelak.


"Heh nenek peyot!" serunya memandang Phiang Bi Sun yang menjadi gugup saking takutnya, "Hayo maju, kita main-main barang satu dua jurus. Kenapa mendekam saja di balik punggung anak buahmu? Kau tahu kan itu merupakan tindakan tiada guna?"

__ADS_1


Ucapan ejekan ini jelas memengaruhi hati Phiang Bi Sun. Namun ia tahan emosinya dan berusaha tersenyum. "Wah...pendekar muda yang sangat sakti dan lihai, sungguh jarang bandingannya. Hei anak muda, siapa namamu?"


"Jangan sok manis! Aku tak mau bergabung dengan Hati Iblis!" jawabnya yang seolah mengerti tujuan Phiang Bi Sun berkata demikian.


Wajah nenek itu memucat. Belum sempat dirinya bergerak tiba-tiba anak buahnya sudah habis semua, hanya menyisakan lima orang yang jelas tak bisa terlalu diandalkan. Dia memutar otak, memikirkan cara untuk kabur.


Akan tetapi saat keputusasaan sedang berada di puncaknya, tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan Sung Han langsung membuang diri. Setengah detik berselang, tempat berdiri Sung Han tadi remuk dihantam batu besar.


"Wah!!" demikian suara nyaring itu mengejutkan Sung Han. Kemudian kembali dia menunduk untuk menghindarkan serangan aneh dari belakangnya.


"Bocah sinting, mampus! Hahaha."


Kembali terdengar suara sabetan aneh dan Sung Han mengelak ke kanan, kemudian dilanjut dengan bersalto dua kali ke belakang. Begitu ia memandang, kiranya di hadapannya sudah berdiri kakek yang aneh sekali.


Matanya sipit seperti orang mabuk atau ngantuk, mulutnya menyeringai dan gigi gingsul yang tampak menyembul keluar itu cukup mengganggu. Rambutnya ikal macam rumah burung. Tapi yang paling aneh adalah celananya. Yang kanan kainnya panjang dan yang kiri sebaliknya.


"Siapa engaku?" Sung Han bertanya.


"Anak-anak, serang!!" sambil tertawa, ia tak pedulikan pertanyaan Sung Han dan menyuruh anak buahnya maju.


Sung Han menoleh ke belakang dan menemukan kurang lebih lima puluhan orang Hati Iblis yang bergerak cepat menuju tempatnya. Melihat dari cara mereka bergerak yang sangat ringan, Sung Han menaksir lima puluhan orang ini lebih kuat daripada pasukan nenek peyot itu.


Melihat ini Phiang Bi Sun tertawa dingin dan berseru, "Bagus, akhirnya kau datang. Bocah kecil, waktunya kau menyusul buyut-buyutmu!"


Bukannya takut, Sung Han malah menampilkan seringaian aneh. Matanya bergerak-gerak liar seperti orang sinting. Saat Siauw Goan dan Phiang Bi Sun maju menerjang, tangannya berkelebat dan terkejutlah semua orang.


"Uahhh!"


"Hup!"


Siauw Goan dan Phiang Bi Sun melompat menghindar. Terkejut melihat senjata di tangan Sung Han.


"Ini kan yang kalian cari?" tanyanya mengangkat Pedang Gerhana Matahari tinggi-tinggi, "Kalau begitu, ambil sendiri dari tanganku! Hahahaha!!!"


Gulungan hitam kemerahan terbentuk, berpusingan tak karuan dan membingungkan mata. Dalam sekejap, lima jiwa sudah melayang ke alam baka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2