
Ketika keluar dari pintu belakang, sejatinya Han Fu Ji tidak langsung pergi ke sungai seperti apa yang diomongkannya. Melainkan dia lebih dulu mengintai dari balik pintu sambil menguping pembicaraan Yang Ruan dan Sung Han.
Matanya berbinar ketika Sung Han berpamit dan pergi dari sana. Makin yakinlah hatinya jika apa yang dilihatnya sore lusa itu memang Sung Han yang sedang bertempur.
Maka cepat-cepat dia mengambil empat ember kecil di sebelah pintu belakang, tak lupa beserta pikulannya pula. Lalu dia pergi dengan tergesa-gesa melalui jalan menurun yang cukup curam itu menuju ke sungai.
Dari jauh, terlihat sungai itu mengalir tenang, airnya seolah seperti terbakar terpapar sinar matahari sore. Membuat aliran air bening itu menjadi kemerahan berkilau.
Ketika sampai di sungai itu, Han Fu Ji menajamkan pendengarannya. Berwaspada kalau-kalau dia mendengar suara pertempuran orang. Akan tetapi sampai lama kemudian, di sana keadaan masih sunyi seperti sedia kala.
Diambilnya air sungai itu dengan ember kecilnya sampai penuh semua. Namun ketika sudah terisi penuh, dia tak langsung membawanya ke rumah. Justru gadis ini meninggalkan empat ember serta pikulannya di sungai dan dia sendiri pergi ke tempat pertarungan Sung Han kala itu berlangsung.
"Tidak ada pertempuran, hanya bekasnya saja." gumamnya seorang diri saat dirinya menyembunyikan diri di balik sebatang pohon besar. Dia melihat ke tempat sore kemarin lusa ketika Sung Han bertempur hebat.
Matanya mencari-cari, namun yang terlihat hanyalah semak belukar yang bentuknya sudah berantakan akibat kena sambar serangan-serangan nyasar empat orang itu. Selain itu, banyak batang pohon yang sudah roboh atau gugur semua daunnya. Juga bekas-bekas sayatan senjata tajam di tanah atau batang pohon.
"Blaaarr!!"
Han Fu Ji hampir saja menjerit ketika mendengar suara ledakan memekakkan telinga ini. Dadanya bergerak naik turun dengan jantung yang berdegub makin kencang. Tak salah lagi, itu dari arah sungai!!
Dia cepat bangkit dan berlari menuju sungai yang tak seberapa jauh dari tempat itu. Ketika sudah hampir tiba di sana, dia jatuh terjengkang karena suatu hal. Awalnya dia berpikir telah terpeleset sesuatu, ternyata itu adalah sebuah angin pukulan yang amat dahsyatnya.
Tapi Han Fu Ji sama sekali tidak punya niatan untuk mundur, sungguhpun rasa jerinya sudah naik sampai ke rongga mulut. Namun rasa penasarannya lebih menang dari rasa takutnya. Dia punya firasat jika pertarungan Sung Han itu ada kaitannya dengan hilangnya sang ibu dan Rajawali Merah.
Maka bangkitlah ia dan berlari menuju sungai. Setelah tiba dekat, dia terkejut melihat kelebatan beberapa orang pergi dari sana. Namun dia terkejut sekali ketika melihat banyak batu-batu sungai yang pecah berantakan berikut empat ember dan pikulannya yang sudah raib entah ke mana.
"Blaarrr!!"
Kembali terdengar suara keras yang berasal dari arah di mana aliran sungai itu datang. Tanpa pedulikan empat ember dan keadaan di sana, gadis ini dengan nekat datang menghampiri.
Kiranya tempat itu tidak begitu jauh. Kurang lebih seratus meter, dia sudah melihat pertempuran hebat di sana. Dia tak begitu kaget ketika melihat dinding tebing tinggi yang sudah retak karena pastilah ledakan keras itu yang menjadi penyebab pecahnya dinding tebing itu.
__ADS_1
Yang mengejutkannya adalah, di dalam keadaan remang-remang senja hari, dia melihat Sung Han yang sedang bertempur hebat. Sama seperti sebelumnya, dia hanya mampu melihat dari belakang tanpa dapat melihat jelas wajahnya. Namun jelas sekali dari perawakannya, itu adalah Sung Han yang menjadi tamunya.
Yang lebih hebat lagi, di antara empat pengeroyoknya, dia melihat Rajawali Merah yang juga ikut menyerang ganas. Namun, sama sekali bukan Sung Han yang terdesak, justru sebaliknya malah.
"Aaahhkkk!!"
Dia mengeluarkan seruan tertahan ketika ada serangan nyasar datang ke arahnya. Seketika pohon yang dijadikannya tempat sembunyi hancur berantakan. Beruntung suara hancurnya pohon demikian nyaring sehingga membuat teriakannya tadi sedikit teredam.
Wajahnya pucat pasi, sekarang dia sudah tak ragu lagi, memang Sung Han adalah orang lihai yang dimaksud oleh Rajawali Merah. Karena terlihat baik dari gerakannya yang amat tangkas dan cepat, juga pengerahan tenaga istimewa yang menyambar-nyambar itu, sosok Sung Han dapat mendesak empat pengeroyoknya yang juga lihai-lihai.
Tanpa mau melanjutkan menonton pertandingan itu lebih lama, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, dan lari tunggang langgang kembali ke rumahnya.
Di tengah perjalanan, air matanya berderai membasahi sepasang pipinya yang putih. Dia berkata lirih, "Ibu....aku akan menyelamatkannu!"
...****************...
Dia namanya Ma Kiu, umurnya kurang lebih tiga puluhan tahun dengan postur tinggi tegap berwibawa. Dia ini merupakan prajurit desa yang melindungi desa ini bersama kawan-kawannya.
Namun malam hari itu, wajahnya memucat dengan mata terbuka lebar-lebar seolah hendak keluar. Begitu pula degan lima kawannya yang juga merupakan prajurit-prajurit pelindung desa ini. Memandang gadis calon dayang istana itu dengan tatapan tak percaya.
"Tolonglah, ini demi ibu, demi desa! Jika tidak begini, pasti desa ini akan diratakan karena dianggap pemberontak!" gadis yang bukan lain adalah Han Fu Ji atau biasa dikenal sebagai nona Han menahan air matanya sebisa mungkin. Namun walaupun begitu, tetap saja satu dua air bening itu menetes turun.
Ma Kiu menjawab, "Bukankah Rajawali Merah hanya menggertak. Kami akan menghadapi dia!"
"Jangan!" kata Han Fu Ji cepat, "Aku sudah melihat kepandaiannya, dan aku yakin kalian akan dibasmi habis jika berhadapan dengan dia sungguhpun dengan cara mengeroyok. Kepandaiannya luar biasa!"
"Kita tak perlu mencari korban untuk menyelamatkan ibumu! Biarlah kami yang berkorban." kata salah seorang teman Ma Kiu.
"Lalu apa jadinya jika kalian semua menjadi korban keganasannya. Desa ini pasti akan dianggap pemberontak dan hal itu akan lebih buruk lagi!"
Tidak ada yang bisa menjawab omongan gadis itu. Karena memang kenyataan dan beralasan. Kalau sampai beberapa hari lagi pasukan penjemput tiba dan nyonya Han belum juga pulang, mereka pasti dianggap pemberontak karena sama saja dengan melawan perintah kaisar.
__ADS_1
Ma Kiu menjadi bingung sekali, dia paham akan rencana Han Fu Ji dan jika rencana itu dilakukan, maka semuanya boleh jadi akan berjalan mulus. Warga desa tak akan diganggu. Namun, jelas dia tidak setuju!!
Tiba-tiba, pada saat itu pintu ruangan terbuka oleh seorang prajurit desa lain. Wajahnya pucat dan keringat sudah membasahi seluruh wajahnya. Begitu dia masuk, cepat dia berkata.
"Rajawali Merah menyerang rumah nona Han!!"
Serentak enam orang yang tadi melakukan perundingan itu bangkit berdiri. Han Fu Ji teringat akan dua tamunya, maka dengan penasaran dia mendahului yang lain untuk pergi dari kediaman Ma Kiu dan menuju rumahnya.
Ternyata di rumahnya itu sudah nampak kobaran api besar, rumahnya telah dibakar!! Di sana nampak belasan bahkan puluhan orang yang berjubah hitam serta mengenakan topeng, semua warga sudah tahu siapa adanya mereka ini.
"Serigala Tengah Malam, untuk apa mereka datang ke mari?"
"Itu pasti komplotan Rajawali Merah! Tak heran jika mereka berkomplot, bukankah mereka itu juga pemberontak yang akhir-akhir ini sedang naik daun?" kata Ma Kiu yang sudah menyusul pula.
"Aku pernah mendengar kabar bahwasannya pemuda yang dahulu menculik putri, berasal dari Serigala Tengah Malam ini!" kata kawan Ma Kiu. Yang dia maksud adalah Sung Han, namun sebenarnya dia hanya mendengar kabar itu, tidak tahu siapa nama sang penculik putri.
Tiba-tiba, dari arah rumah nona Han yang terbakar itu, melesat cepat dua bayangan yang segera bentrok di udara. Selang beberapa detik mereka melompat turun dan bertanding lagi dengan hebat.
"Kak Sung Han!?" Han Fu Ji terkejut mengetahui pemuda itu.
Di sisi lain, Yang Ruan juga bertempur hebat menghadapi pengeroyokan beberapa orang. Kaki tangannya bergerak cepat sekali mengirim maut yang tak dapat terhindarkan oleh mereka.
Para warga yang terdiri dari calon-calon prajurit itu sudah menerjang maju dengan golok di tangan. Mereka menyerbu namun kerepotan juga menghadapi serangan orang-orang pandai anggota bertopeng Serigala Tengah Malam.
Akan tetapi dengan aneh, saat Sung Han berhasil mementalkan Rajawali Merah beberapa jauh, rombongan penyerbu itu tiba-tiba berbalik dan pergi dari sana. Begitu pun dengan Rajawali Merah.
Han Fu Ji bingung hendak bereaksi seperti apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1