Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 165 – Jatuhnya Kepala Topeng Emas


__ADS_3

Gu Ren tak memedulikan perkataan topeng emas itu dan terus menerjang maju. Dia menggunakan ilmunya Gulungan Ombak Samudra yang amat ampuh itu. Namun karena tidak ada kipas pusaka yang menjadi pasangan dari ilmu itu, dia hanya mampu mainkannya dengan kedua tangan saja. Tentu saja keampuhannya berkurang jauh.


Walaupun begitu, bukan berarti bahwa ilmu itu telah menjadi lemah. Walaupun telah berkurang keampuhannya, namun kekuatannya tetap dahsyat sesuai namanya. Serangan satu dan serangan dua saling susul menyusul begitu pula dengan serangan tiga dan empat. Saling berkesinambungan dan tidak pernah putus.


Tentu saja topeng emas menjadi kewalahan bukan main. Dia menjadi sibuk sekali mengelak ke sana-sini tanpa berani megadu tenaga. Karena maklum seberapa dahsyatnya serangan buas Gu Ren itu.


Sesekali dia balas menyerang, namun semua serangannya seperti tenggelam ke dalam air tak berdasar. Lenyap entah ke mana.


"Bangsat, siapa yang membebaskanmu? Pengkhianat kah?" umpat topeng emas menahan kesal.


Serangan Gu Ren datang dengan hebatnya. Berupa tamparan tangan kanan yang dimiringkan mengarah ke batang leher. Jika tepat sasaran, pastilah leher itu akan terbabat putus.


Namun topeng emas bergerak cepat, ia mundurkan kepala dibarengi dengan tendangan menuju pusar. Hebat sekali serangan ini karena tendangan itu bukan hanya tendangan kosong belaka. Telah mengandung tenaga dalam tinggi yang bukan main kuatnya.


Akan tetapi tangan kiri Gu Ren sudah bergerak menangkis dengan pengerahan tenaga yang tidak sedikit.


"Dukk!"


Akibatnya, topeng emas itu sendiri yang terpental begitu kakinya terkena tangkisan Gu Ren. Dia terlempar sampai beberapa tombak jauhnya dan berdiri terhuyung.


Mendapat bantuan dari Gu Ren, Khong Tiat segera mendatangi putri itu dan melindungi wanita ini dari dekat. Dia mengamuk dan merobohkan banyak orang. Akan tetapi orang-orang Serigala Tengah Malam itu seperti tiada habisnya. Tumbang satu datang dua, roboh dua muncul empat, hilang empat tiba delapan. Hal ini benar-benar merepotkan dan melelahkan.


"Bagaimana para tawanan bisa bebas? Apakah orang-orang kita yang membebaskan?"


Jenderal Tang Lin menjawab, "Saya tidak tahu jelas paduka, tapi hal itu benar-benar patut disyukuri karena mereka menjadi bantuan yang amat luar biasa."

__ADS_1


Jenderal ini kemudian mengarahkan pandangannya kepada dua orang pemuda yang mengamuk ganas di tengah pengurungan banyak orang. Keduanya bertarung dengan tangan kosong.


"Saudara Nie Chi dan Khuang Peng benar-benar hebat..." puji jenderal itu sungguh-sungguh. Dia merasa kagum sekali bahwasannya ada seorang yang semuda mereka telah memiliki kepandaian hebat.


Putri Chang Song Zhu juga melihat ke arah yang sama dan tanpa mampu ditahan lagi dia tersenyum. Dia merasa sedikit tenang jika kekaisaran memiliki para pendekar pendukung seperti mereka.


Memang sepak terjang Nie Chi bersama Khuang Peng amatlah menggiriskan. Mereka sengaja tidak ikut bergabung ke dalam rombongan pendekar ataupun kerajaan, tempat mereka mengamuk sedikit berjauhan dari dua rombongan itu. Hal ini sengaja mereka lakukan untuk mengacaukan formasi lawan, dan ini memang berhasil baik.


Ikut sertanya dua orang muda ini benar-benar mengobrak-abrik barisan para pengeroyok. Mereka menjadi bingung hendak menyerang yang mana. Untuk menyerang dua pemuda itu jelas tidak mungkin, untuk menyerang rombongan kerajaan dan pendekar itu terlalu jauh. Untuk membantu topeng emas menghadapi Gu Ren....


Karena terlalu banyak berpikir, orang-orang yang terlalu memusingkan kebingungannya sendiri itu sudah lebih dulu berangkat ke alam yang lebih baik.


Pertarungan dilanjutkan dengan amat hebat dan serunya. Kedua belah pihak menjadi seimbang setelah bergabungnya tiga orang pendekar pewaris pusaka keramat itu. Bahkan lambat laun orang-orang Serigala Tengah Malam mulai merasa jeri.


Namun saat mereka mulai jeri, prajurit kerajaan perlahan juga mulai berkurang jumlahnya dan semakin sedikit. Putri Song Zhu yang melihat ini diam-diam menyesal, kenapa tidak membawa lebih banyak pasukan sehingga pasti dalam keadaan seperti ini, setidaknya mereka masih dapat mampu bertahan.


"Mundur!! Lindungi paduka putri!" teriak jenderal Tang Lin membahana.


Terbentuklah pagar manusia di sekeliling putri itu dalam usahanya keluar dari medan tempur ini. Nie Chi dan Khuang Peng yang merasa diacuhkan merasa jengkel dan mulai mengamuk lebih gencar lagi untuk mencegah pasukan lawan mendekati sang putri.


Ketika itu, terdengar pekikan menyanyat disusul teriakan-teriakan penuh kengerian. Jelas hal ini mengejutkan semua orang. Bukan terkejut oleh pekikan-pekikan itu, namun oleh jeritan salah satu orang yang terdengar paling keras dan histeris.


"Ketua!!!!!"


Semua orang Serigala Tengah Malam menoleh dan terkejut melihat itu. Terlihat kepala topeng emas sudah menggelinding berlumuran darah di bawah kaki Gu Ren yang memandang dingin.

__ADS_1


"Pemberontak satu ini telah tewas!!!" seru Gu Ren. Kemudian dia mendekati kepala itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, "Paduka, bukti sudah ada di tangan kita!!"


Pihak kerajaan dan para pendekar menjadi girang sekali. Semangat mereka bangkit dan seolah mendapat kekuatan baru, gerakan dan serangan mereka makin hebat. Sambil bersorak-sorak, mereka terus mengawal sang putri bergerak mundur mencari jalan keluar.


Gu Ren yang memegang kepala itu hendak membuka topeng emasnya. Namun sudah lebih dulu empat orang mengeroyoknya dari kanan dan kiri.


"Bangsat!!"


"Kalian harus mati!!"


Gu Ren mendengus, lantas menggerakkan tangan kirinya melakukan sambaran dan terciptalah angin dahsyat yang menumbangkan mereka semua.


Saat itu, dengan cekatan Nie Chi dan Khuang Peng telah tiba dan membunuh dua orang itu sekaligus dalam sekali serang.


"Tuan, kita harus segera pergi!"


"Ah...benar..." jawab Gu Ren. Dia menoleh ke belakang ke satu arah dan menghela napas panjang. Kemudian dia melesat mengikuti ke arah larinya dua pemuda tersebut.


"Mundur!!!" seru Gu Ren kepada para pendekar yang masih keras kepala untuk menyerang. Karena pemimpin rombongan pendekar itu adalah Gu Ren, maka mereka tak mau membantah lagi.


Kepungan makin ketat ketika rombongan yang mengawal sang putri itu mulai bergerak makin jauh dari benteng. Namun dengan adanya pagar manusia yang demikian kokoh kuat, ditambah bantuan para pendekar yang berkepandaian tidak lemah, repotlah pasukan Serigala Tengah Malam yang sudah menurun semangatnya itu sejak matinya pemimpin mereka.


Maka seberapa keras mereka berusaha, tetap saja siapapun yang mendekati pasukan putri akan celaka. Maka makin lama, makin longgarlah kepungan itu karena mereka tak mau main gila dengan mengirim nyawa secara sia-sia.


Setelah perjuangan beberapa saat kemudian, akhirnya musuh benar-benar menyerah dan membiarkan sang putri lolos bersama sisa prajuritnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2