Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 157 – Jebakan Penyergap


__ADS_3

Gu Ren pun terkejut akan hal ini, ia tahu benar sebagai seorang pendekar, gerakan di air seharusnya lebih berat dan sulit. Walaupun telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh pun, jika orang itu tak pandai dalam ilmu renang, kiranya tak mungkinlah untuk dapat bergerak secepat itu.


Pria paruh baya ini memandang ke tempat di mana tadi kakek itu baru saja menceburkan diri. Kemudian memandang ke tengah telaga di mana kakek itu berada saat ini. Di antara dua tempat itu, sama sekali tiada bekas di air. Gelombang air tetap tenang, hal ini membuktikan bahwa kakek itu bergerak dalam kedalaman yang cukup jauh.


"Hebat..." tanda sadar mulutnya mengeluarkan gumaman memuji.


Gu Ren lantas menoleh ke arah sepasang kekasih itu. Keduanya sedang memerhatikan ke tengah telaga dan pohon raksasa. Gu Ren memicingkan pandangannya, kemudian berkata, "Bagaimana cara kita menyeberang? Bagaimana cara siluman itu mengambil anak kalian jika jarak antara pohon dan daratan sejauh ini?"


Pertanyaan ini merupakan jebakan yang bisa saja membuka rahasia keduanya. Untuk pertanyaan pertama, jika keduanya menjawab menyeberang menggunakan perahu, itu sangat diragukan kebenarannya. Di sini tak ada pohon, dan mana mungkin membawa perahu dari daratan ke tempat ini? Apakah harus memanggulnya dua orang?


Untuk pertanyaan kedua, Gu Ren berpikir jika jawaban mereka tentu karena siluman ular kepala wanita itu bergerak cepat dari daratan tengah atau dari dalam air untuk menyergap tiba-tiba dan menculik anak mereka.


Tapi jawaban dari mereka sungguh tak disangka-sangka dan tak masuk akal. Kiranya keduanya adalah tipe orang yang percaya ketahayulan.


"Kami berada di daratan tengah telaga itu, sedang melakukan ritual." kata si pria, "Kami menyeberang menggunakan bambu kecil yang sudah kami siapkan sebelumnya, dan ketika siluman ular itu tiba-tiba turun dari pohon, ketika kami hendak lari bambu itu sudah menghilang, lenyap ditelan air."


Gu Ren mengerutkan kening, aneh benar cerita orang itu. Kalau memang benar ada bangsa demit di sini, itu cukup masuk akal karena bangsa makhluk halus semacamnya bisa bergerak tanpa dilihat pandang mata manusia. Mungkin saja kawan siluman itu bertugas menyembunyikan bambu yang digunakan untuk menyebera. Namun Gu Ren segera membantah pikiran ini karena semenjak kecil dia tak pernah percaya tentang adanya siluman.


"Sikat saja!" kata seorang yang berdiri di belakang si pemuda, "Jika teralalu lama berpikir, bisa-bisa kita kena sihir siluman!"


"Benar!"


"Hajar sampai mampus!"


"Hei!!" seruan satu orang ini berhasil memberhentikan kegaduhan itu. Serentak semuanya menoleh ke kiri, ke arah seorang pria pendek yang berdiri di sudut paling kiri. Orang ini menunjuk ke tengah telaga, matanya terbelalak, "Mana kakek jago renang tadi?"


"Woaahh!!"


Semua orang terkejut dan cepat-cepat melihat. Kiranya kakek itu sudah lenyap dari tempatnya! Entah pergi ke mana namun yang tersisa hanyalah tongkat bututnya. Mengapung di permukaan telaga.


Entah dorongan dari mana atau hanya insting, setelah melihat tongkat mengapung itu sekilas, secara tiba-tiba Gu Ren melirik dua orang muda-mudi itu. Nampak keduanya pasang ekspresi terkejut, akan tetapi....entahlah, dalam perasaan Gu Ren pun tak mampu menjelaskan ketidak jelasan situasi itu.


"Ayo lihat!"

__ADS_1


"Cepat beri bantuan!"


Berturut-turut belasan orang itu segera menceburkan diri ke dalam air telaga, bergerak cepat menuju ke tengah untuk menolong kakek itu. Ketika mereka menceburkan diri secara bersamaan seperti itu, gelombang air di telaga menjadi berantakan. Saat air bergerak naik turun, nampaklah oleh Gu Ren ada semacam bintik-bintik kecil di sana-sini.


Ketika Gu Ren memandang lebih teliti dengan menyipitkan matanya, ternyata bintik-bintik yang tersebar di permukaan air itu adalah batang alang-alang. Dia mengerutkan kening.


"Untuk apa benda itu tersebar di sana-sini?" batinnya heran.


Karena mengkhawatirkan keadaan si kakek, Gu Ren memutuskan untuk melompat pula. Akan tetapi ketika tubuhnya masih melayang di udara, dia kembali teringat akan batang alang-alang dan kegunaannya. Wajahnya memucat dan segera tubuhnya jungkir balik, mendarat di daratan kembali. Dia baru saja memamerkan aksi yang aneh dan ganjil.


Dia teringat, kalau batang alang-alang itu bisa juga dijadikan sebagai alat bernapas ketika berada di dalam air. Dengan cara menempelkan lubang satu ke mulut dan lubang lainnya ke permukaan.


Adanya banyak batang alang-alang besar itu, juga posisinya yang tenggelam dan hanya keluar sedikit ke permukaan air, tak salah lagi. Pastilah itu....


"Keluar kalian!!!" bentak Gu Ren ketika dia menyadari hal ini dibarengi dengan dorongan tangan kanan ke arah dua batang alang-alang. Segera ombak tercipta dan mengacaukan keadaan telaga.


"Byaaarrr!"


Air yang terkena hawa pukulan Gu Ren itu buyar tak karuan. Akan tetapi yang membuat mereka terkejut adalah, terlemparnya dua orang pakaian hitam-hitam. Tubuh keduanya melambung tinggi dan langsung menggeletak pingsan di permukaan air.


"Ada yang mengintai kita?!"


Gu Ren memandang ke tengah telaga dan berteriak, "Semuanya, mundur!! Ini jebakan!!"


Akan tetapi di saat bersamaan pula, terdengar si pemuda berseru lantang, "Seraaaaangg!!!"


Tentu saja ini membingungkan mereka semua. Mana yang dituruti? Menyerang atau mundur? Menyerang siapa? Mundur dari apa?


Keterkejutan dan kebingungan rombongan ini tak bisa berlama-lama lagi karena dari kanan kiri sudah menerjang belasan orang lain yang pakaiannya hitam-hitam. Tiba-tiba muncul dari air dan menggerakkan senjata mereka. Ricuhlah keadaan di sana.


"Keparat!!!" geram Gu Ren memandang sepasang kekasih itu. Lekas ia cabut salah satu kipasnya dan menerjang.


"Wuuutt!!"

__ADS_1


"Haaappp....plak!"


Secepat kilat si wanita muda cantik itu bergerak. Tiba-tiba tangan Gu Ren sudah kena tangkap sehingga serangan itu berhenti. Gu Ren mengeluarkan seruan tertahan, ia kenal dengan serangannya sendiri, dan tadinya tenaga yang terkandung dalam lengannya tidak sedikit. Dan itu bisa dihentikan oleh gadis ini dengan begitu mudahnya!


Sebelum hilang rasa kagetnya, si pemua sudha bergerak cepat mengulurkan lengan kanan yang mengandung tenaga kuat ke arah dada Gu Ren. Pria paruh baya itu tak mau jadi sasaran empuk, maka dengan tangan kiri ia cabut kipas satunya dan menebas secara mendatar.


"Wuuusss!!"


Serentak kedua orang muda itu melompat mundur karena tak mau ambil resiko. Tebasan kipas itu tak ubahnya seperti sebatang pedang yang diayun kuat, mendatangkan angin kencang dan hawa menggiriskan.


"Siapa kalian?!" bentak Gu Ren naik pitam. Ia melirik ke tengah telaga dan melihat orang-orang itu sedang terdesak oleh pasukan penyergap yang agaknya sudah terlatih baik untuk pertempuran air.


Akan tetapi yang menjadi jawaban atas pertanyaan ini adalah berdesingnya segala macam senjata rahasia dari tanah sebelah kanan. Gu Ren dapat melihat ini dan cepat menggerakkan kipasnya.


"Trang-trang-tring!" semua paku, jarum, golok terbang yang menyergapnya runtuh semua.


Tak berhenti sampai di sana, tiba-tiba wanita cantik itu sudah menerjang lagi. Ketika Gu Ren bergerak hendak menyambut, dia merasa ada angin pukulan kuat dari belakang. Cepat dia menunduk. Namun sedetik kemudian ada sambaran pedang berasal dari kanan. Sampai sini tahulah bahwa dia telah terjebak pula. Kiranya di daratan pun ada pasukan pendam yang cukup banyak orangnya.


"Sialann!!!!"


"Wusss-wusss-wuss!!"


Gu Ren mainkan kipasnya sedemikian rupa dan berterbanganlah orang-orang pemgeroyoknya itu. Sebelum mendapat serangan lagi, dia sudah menerjang lebih dulu dengan ilmunya Gelombang Ombak Samudera. Kembali suara menderu-deru bagai ombak lautan terdengar ketika angin berpusingan menghalau segala serangan susulan.


"Memang hebat...patut menjadi pewaris pusaka keramat."


Gu Ren seketika menghentikan permainan senjatanya dan orang-orang pengeroyoknya itu melompat memjauh. Kiranya jauh di luar pengepungan sembilan orang itu, telah berdiri kakek tinggi besar menyeramkan. Matanya hanya tinggal satu, yang sebelah kanan telah hilang, hanya tinggal kiri. Dia berjalan santai menuju tempat Gu Ren berada.


"Siapa kalian? Apa kehendak kalian menyergapku?!"


Kakek itu berjalan sambil tersenyum, masih dengan senyumnya dia menuding senjata Gu Ren dan berkata, "Itulah tujuan kami."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2