
Sebutir pil yang sebelumnya dimasukkan secara paksa ke dalam tubuh Chang Somg Zhu itu bukanlah pil biasa. Chang Song Ci bukan sosok pelawak yang akan memasukkan barang tak berguna ke tubuh korbannya.
Itu merupakan sebuah pil buatan Naga Bertanduk yang amat ampuh dan berbahaya, tak lebih berbahaya dari racun pengekang hawa sakti yang telah diminumkan secara paksa pula ke tubuh Sung Hwa.
Pil racun itu entah terbuat dari apa, namun berisfat panas. Saat pil racun masuk ke dalam tubuh dan bercampur dengan alirah darah, maka dia akan melebur dan mengeluarkan uap panas yang menutup sebagian besar otak. Uap inilah yang menghambat sistem kerja syaraf sehingga mengganggu ingatan.
Dengan meminum pil racun ini, bukan berarti Chang Song Zhu benar-benar dalam keadaan lupa total. Hanya saja ingatannya akan masa lalu seperti kabur dan samar, tidak berbeda jauh dengan seseorang yang berusaha mengingat mimpi.
Celakalah bagi Sung Han. Dia yang berniat untuk menolong malah dituduh sebagai pencurinya. Menyebalkannya lagi, yang menuduh itu adalah jenderal bertopeng yang dahulu hampir dikalahkannya dan malah lolos.
Maka di dalam pengurungan dua puluh orang itu, Sung Han sama sekali tidak berani menurunkan tangan maut. Ia menggunakan kekuatannya hanya tiga persepuluh saja. Kecuali untuk menghadapi dua topeng itu, Sung Han tanpa ragu mengrluarkan ilmu tingginya.
Chang Song Zhu yang duduk di pinggiran itu memandang dengan bingung. Pikirannya melayang-layang ke masa lalu mencoba mengingat kejadian-kejadian samar dalam ingatannya. Tapi percuma, seberapa keras pun dia mencoba, hasilnya tetap samar dan buram. Sehingga jika diperhatikan, tampangnya tak lebih baik dari orang linglung.
"Dess-dess-plakk!!"
Dua kali tangan Sung Han mendorong dengan jurus Tangan Panas Inti Matahari, dan saat itu pula tubuh dua orang bertopeng terjajar sejauh lima langkah sebelum terhuyung-huyung.
Tak berhenti sampai di sana, Sung Han melanjutkan dengan gerakan Tangan Menopang Bulan ketika ada serangan dahsyat dari kakek Sie Kang. Orang tua itu terkejut begitu dua lengannya bertemu dengan lengan si pemuda, tangannya serasa seperti kesemutan. Cepat ia bersalto beberapa kali dan mendarat dengan ringan.
"Bocah ini sudah berubah..." desis Sie Kang memandang Sung Han penuh perhatian.
Walaupun sejak tadi sulit sekali untuk mendesak Sung Han, tapi bukan berarti pemuda itu sedang dalam kondisi baik. Dia pun sama sekali tidak menduga jika orang-orang ini serius akan melawannya. Walaupun bukan dengan maksud membunuh, tapi kerepotan juga.
Maka mulailah matanya bergerak-gerak mencari jalan untuk meloloskan diri. Bagaimana pun juga, jika Sung Han ingin jadi pemenang dari pertarungan kali ini, mengingat adanya Sie Kang dan Wan Jin, maka dia tak akan bisa menang tanpa membunuh satu dua orang. Dan Sung Han tak ingin menghendaki itu. Pasti begitulah rencana dua orang bertopeng ini yang memang hendak mencelakakannya.
__ADS_1
Pedang pendek di tangan Khuang Peng bergerak cepat. Sebuah pedang pusaka yang ampuhnya bukan main itu agaknya tak ada satu pun senjata yang dapat melawan kecuali sepasang pedang gerhana. Namun ketika pedang ini mengarah iga Sung Han, pemuda itu sama sekali tak terkejut.
Dengan gerakan yang sulit dimengerti, tahu-tahu Pedang Darah Khuang Peng sudah dikempit pada ketiaknya, disusul dengan dorongan tangan kiri ke dada lawan, membuat Khuang Peng terpental sejauh tiga tombak lebih.
Kesempatan ini digunakan oleh Sung Han untuk melarikan diri. Tempat di mana tadi Khuang Peng terpental kebetulan sekali mengarah dua orang bertopeng. Maka dengan kemarahan, Sung Han melengking nyaring dan kirimkan Badai Salju Pembeku Darah.
Segera saja angin dingin berhembus dan mereka yang terlalu dekat dengan Sung Han akan menggigil kedinginan. Apalagi dua orang itu yang menjadi sasaran, mereka kalang kabut dan berloncatan tak tentu arah.
"Aahhhh!!"
Keduanya memekik nyaring kerika pundak masing-masing berhasil kena sambar hawa dahsyat Badai Salju Pembeku Darah. Seketika darah mereka di bagian itu mengeras hampir beku, membuat tangan mereka lumpuh.
Cepat Sung Han mengambil kesempatan ini untuk pergi jauh. Terdengar seruan-seruan orang mengejar tapi pemuda ini tetap acuh. Dan benar saja, sebentar kemudian Sung Han sudah tiba di tempat jauh dari pengepungan.
Masih dengan berlari, dia berkata dengan pengerahan tenaga dalam, "Akan kuingat ini!"
Walaupun Sung Hwa baru saja menjadi pengawal pribadi putri Chang Song Zhu, namun kesetiaan orang ini tak bisa diragukan. Saat penyerbuan Serigala Tengah Malam terjadi, Sung Hwa ini adalah orang yang paling dekat dengan putri itu.
Putri Chang Song Zhu memang bisa bersilat, namun dibandingkan dengan orang-orang Serigala Tengah Malam, apalagi pengeroyokan, dia tak cukup kuat. Sehingga tanpa bantuan Sung Hwa agaknya putri ini akan kalah cepat.
Maka ketika Sung Hwa mengetahui penolongnya adalah Kay Su Tek dan hanya menolongnya, tanpa menolong putri Chang Song Zhu, dia marah besar.
"Seharusnya kau menyelamatkan dia, bukan aku!" demikian dia membentak setelah tiba jauh dari markas Serigala Tengah Malam.
Kay Su Tek yang bingung hendak menjawab apa, hanya menundukkan kepalanya. Dia berkata lirih, "Dia orang pemerintah. Yang menghancurkan perguruanku."
__ADS_1
"Tolol!!" maki Sung Hwa dan melayangkan tinjunya ke kepala Kay Su Tek. "Yang menyerbu perguruanmu itu pangeran Chang Song Ci, bukan putri. Mengapa seolah kau menyalahkan dia?"
"Sama saja orang pemerintahan. Mereka itu orang-orang licik!" kata Kay Su Tek berkeras.
Sung Hwa tak ada waktu untuk meladeninya lagi, dia khawatir sekali akan keadaan putri Chang Song Zhu. Maka tanpa berkata apa-apa ia sudah melompat berdiri, "Sudahlah, aku akan kembali menyelamatkan putri!"
"Jangan nona!"
Baru saja Kay Su Tek bicara, tubuh Sung Hwa sudah limbung dan jatuh terduduk. Mata gadis ini sedikit berputaran saat kepalanya terasa nyeri sekali. Cepat Kay Su Tek berkata, "Meditasilah cepat untuk memulihkan kondisimu nona."
Sung Hwa menurut dan cepat bersila mengumpulkan hawa sekitar. Bagaimana pun dia sudah dalam keadaan kurang baik selama berada di sana, membuat tubuhnya kelelahan.
Setelah dua jam melakukan meditasi, akhirnya dia membuka mata. "Jadi, mengapa kau tak menyelamatkan putri?" pertanyaan yang sama diucapkannya lagi. Tatapannya sengit.
"Kau tak perlu khawatir nona, setelah aku menotokmu pingsan, aku melihat kamar putri Chang dijebol orang dari dalam. Lalu terlihat ada bayangan cepat sekali sambil memondong putri itu. Ini hanya kebetulan, tapi sepertinya cukup menguntungkan."
Sung Hwa memandang Kay Su Tek penuh selidik, "Mengapa kau sepertinya begitu yakin bahwa orang yang membawa putri adalah orang yang berniat menolongnya?"
"Kalau pun dia bukan menolong, setidaknya saat ini putri itu tidak berada di bawah cengkeraman Serigala Tengah Malam."
Sung Hwa mendelik, bagaimana pun keadaan putri itu kali ini sedang dalam bahaya. Tapi dia sadar tak ada hal yang dapat dilakukannya. Tindakan terbaik adalah mencari cara untuk menemukan penculik putri itu yang menurut cerita Kay Su Tek, dia keluar dari dalam gedung sembari menggendong putri.
Ketika dia sedang melamun, suara Kay Su Tek berhasil mengejutkannya, "Siapa namamu nona?"
"Sung Hwa." balas Sung Hwa singkat tanpa menoleh. Tak sadar jika pemuda lengan satu itu melebarkan matanya lebar-lebar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG