Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 109 – Murid Chunglai [][][]


__ADS_3

Jenderal Pek Kong yang membawa tuan putrinya itu melarikan kuda menuju arah timur. Lalu berbelok ke utara. Sengaja dia mengambil jalan yang sedikit memutar untuk menghindari pertempuran di balik bukit yang tadi dilaporkan oleh anak buahnya.


Saat ini, mereka sedang berada di jalan sunyi yang sedikit jauh dari lokasi pertempuran. Tapi dari jarak yang cukup jauh pun, suara teriakan-teriakan dari pertempuran itu masih jelas terdengar. Tak bisa dibayangkan betapa hebatnya pertempuran itu.


"Aughh...." keluh sang putri yang merasa kesakitan pada pundaknya. Totokan yang tadi dilakukan untuk mencegah pendarahan ternyata sudah terbuka dan membuat darahnya mengucur lagi.


"Tuan putri!" kaget Pek Kong ketika teringat tuan putri yang duduk di belakangnya. Baru dia sadar kalau wanita itu sedang menderita luka di pundak kirinya.


Ia menghentikan kuda dan membantu Chang Song Zhu turun. Setelah itu ia balut luka putri itu dengan sobekan ujung lengan bajunya.


"Hah...mengapa jadi begini....?" gumam Chang Song Zhu yang wajahnya sedikit memucat. Akibat lelah dan lukanya.


"Harap tuan putri jangan terlalu khawatir, saya akan membawa tuan putri keluar dari sini dan bertemu dengan pasukan penjemput." ucap Pek Kong sambil mengeratkan balutan pada luka di pundak Chang Song Zhu, "Lebih baik nona istirahat sebentar. Saya ingin melihat sekitar kalau-kalau ada pasukan manusia gunung di sekitar sini." ujarnya kemudian.


Pek Kong berdiri dan memandang sekeliling, merasa tempat itu aman, dia berkata lagi, "Tuan putri, tempat ini cukup aman untuk bersembunyi. Lebih baik tuan putri jangan bergerak dan terus diam di tempat." ia lalu mengarahkan kudanya di depan Chang Song Zhu untuk menutupi wanita itu agar tidak terlalu nampak dari jauh. Lantas dia pergi dari sana menuju arah pertempuran untuk melihat situasi.


Dalam keadaan sendirian seperti ini, Chang Song Zhu menghela napas panjang. Tubuhnya lelah karena perjalanan yang teramat panjang, sedang pikirannya lelah dengan segala keruwetan di sekelilingnya.


Urusannya dengan para pemberontak belum menacapai titik terang, dan itu sudah harus diganggu dengan invasi kekaisaran Jeiji ke tanah selatan Chang. Belum cukup sampai di sana, ketika dalam usahanya menyelamatkan diri ke utara, dia malah bertemu dengan masalah baru berupa peperangan yang tak ia ketahui apa sebabnya.


Wajahnya makin memucat saking lelahnya. Keningnya berkerut dalam, menambah tua wajah cantiknya. Tanpa terasa, ia menutupkan mata dan kesadarannya hilang. Tertidur di tengah hutan belantara ini ditemani seekor kudanya yang nampak sedikit resah.


...****************...


Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kerajaan manusia gunung? Mengapa mereka saling berperang sedangkan menurut legenda, sudah sejak beratus-ratus tahun lalu kerajaan manusia gunung dapat bersatu. Mengapa hal ini terjadi?


Mari kita ikuti kisah Sung Hwa, seorang gadis cantik yang terpaksa harus menjadi bagian keluarga besar kerajaan manusia gunung karena ambisinya mengalahkan Sung Han.

__ADS_1


Seperti yang sudah dijelaskan, dia bersama Mi Cang dan Yu Nan Sia tinggal di wilayah komplek sekitar istana manusia gunung. Atas perlindungan dan ijin dari raja sendiri, Sung Hwa dan dua kawannya hidup nyaman di sini.


Waktu itu, Sung Hwa akhirnya menjadi murid Chunglai dan diajari bagaimana cara menghimpun tenaga dari dewa, berupa hawa sakti. Sejak hari itu, kepandaiannya terus meningkat.


Dia pun mendapat pelatihan mengenai ilmu tarung yang gerkaannnya cukup aneh. Sung Hwa mengetahui ini sebagai ilmu terung khas manusia gunung.


Tapi walaupun aneh, namun setiap pukulan dan tendangan, bahkan tangkisan, mengandung tenaga yang kuat sekali. Apalagi Sung Hwa memang anak berbakat, maka sebentar saja dia menjadi orang terkuat di antara seluruh pasukan manusia gunung, tentu saja belum sekuat Chunglai.


Ketika pada kemarin malam Sung Hwa bersama dua kawannya melakukan kegiatan rutin, berupa makan malam bersama raja dan permaisuri, ia merasa aneh.


Di kamarnya, dia duduk termenung memandang keluar jendela, keningnya selalu berkerut.


"Aku harus tanyakan padanya!" gumamnya perlahan lalu memakai jubah merahnya dan pergi ke satu tempat. Jubah itu merupakan jubah pemberian Chunglai ketika dia menjadi muridnya. Sepertinya tabib itu terlalu senang sampai rela membuat jubah itu sendiri selama sebulan dan memberikannya kepada Sung Hwa.


Sung Hwa mendatangi satu tempat dan langsung pergi ke halaman belakang. Nampak di sana Chunglai sedang memilah-milah tetumbuhan obat yang baru dikeringkan. Melihat kedatangan Sung Hwa, dia tersenyum.


Sung Hwa duduk di kursi panjang yang ada di sana, "Chunglai, sudah dua tahun lebih aku tinggal di sini. Sejak setiap malam aku diharuskan ikut makan dengan keluarga raja, setelahnya ada perasaan tidak nyaman pada diriku."


"Apa itu?" Chunglai bertanya sambil terus melakukan kegiatannya.


"Setiap kali aku minum arak suguhan Yang mulai raja, tenggorokanku terasa sedikit panas dan tubuhku terasa aneh. Namun jika pada pagi harinya aku selesai berlatih bersamamu, dan minum ramuan obatmu, perasaan aneh itu lenyap."


Chunglai menghentikan kegiatannya dan mengerutkan kening. Dia memandang Sung Hwa penuh perhatian. "Sudah sebulan lalu sejak anda diperintahkan untuk makan malam bersama keluarga raja, kenapa baru bilang sekarang?"


"Kukira itu hanya efek dari minum arak, aku tidak tahu karena mungkin aku sudah lupa dengan rasa arak. Tapi saat aku mencoba arak terbaik di rumah, yang bahan-bahannya sama dengan arak suguhan Yang mulia, aku tak merasakan perasaan aneh itu." jawab Sung Hwa sejujurnya.


Chunglai nampak berpikir sambil mengelus dagunya. Dia bergumam tak jelas saat mencoba menerka-nerka apa yang terjadi dengan diri Sung Hwa itu. Lalu dia menghendikkan bahu.

__ADS_1


"Itu mungkin arak yang terlalu keras, sehingga nona merasa berbagai macam perasaan aneh itu. Tak usah dipikirkan."


"Tapi...."


Chunglai tak mendengar dan masuk ke dalam rumah. Sekeluarnya dia membawa segelas air berwarna coklat tua. Sung Hwa sudah mengenal apa itu.


"Lebih baik nona minum ramuan saya ini untuk menyehatkan tubuh nona. Nah...minumlah." ucapnya sambil tersenyum.


"Bukankah ini harusnya diminum selesai latihan?"


"Ah...sebenarnya tidak ada aturan kapan harus meminum obat ini. Ini hanya obat herbal biasa yang sangat baik diminum setiap hari."


Sung Hwa tak membantah lagi dan meneguknya sampai habis. Seperti hari-hari sebelumnya, perasaan aneh setelah minum arak raja itu lenyap ketika obat Chunglai memasuki tubuhnya.


Diam-diam Sung Hwa melirik Chunglai yang sudah kembali pada aktivitas awalnya.


"Mereka menyembunyikan sesuatu!" batinnya penuh kecurigaan. Andai kata Chunglai tahu, saat ini tatapan Sung Hwa sedang memicing tajam.


Setelah Sung Hwa mengembalikan gelasnya, Chunglai berujar, "Lanjutkan latihan anda yang kemarin. Tendangan putaran di udara masih kurang sempurna."


Sung Hwa menurut saja dan melakukan apa yang diperintahkan gurunya itu. Tapi diam-diam dia selalu melirik gurunya yang masih sibuk dengan tumbuhan obat-obatan. Kali ini wajahnya tidak tenang seperti tadi, penuh kerutan seolah sedang berpikir. Bahkan tangannya di atas nampan itu hanya bergerak seenaknya, jelas sekali bahwa saat ini pikiran Chunglai sedang tidak ada di sini. Pasti dia sedang memikirkan sesuatu.


"Ada sesuatu. Dia menyembunyikan sesuatu!" gumam Sung Hwa dalam hati sambil menghancurkan batu besar untuk menarik perhatian gurunya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2