Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 116 – Sastrawan Pinggir Jalan 2


__ADS_3

Sudah lebih dari tujuh ratus dua puluh hari Sung Han tinggal di rumah gurunya dalam sepi. Sekitar dua puluh empat bulan lebih alias dua tahun telah lewat pemuda itu menghabiskan waktu di sini.


Niat awal, dia ingin mengenal dirinya sendiri berupa keanehan yang terjadi di dalam aliran tenaga dalamnya. Soal pengganjal yang entah apa itu Sung Han tidak tahu.


Maka berlatihlah dia, berlatih terlampau keras bahkan sampai ke tahap menyiksa diri. Seminggu pertama, Sung Han selalu pingsan begitu selesai dengan latihannya.


Akan tetapi semua itu tidak sia-sia, sampai setengah tahun kemudian kekuatannya sudah meningkat jauh. Saat itu porsi latihan ditambah dan makin keras lagi. Hingga satu tahun kemudian kiranya sulit bagi orang lain untuk mengalahkannya. Kecuali tentu saja para pendekar sejati, karena bagaimana pun Sung Han belum mencapai titik itu.


Kekuatannya memang meningkat drastis, tapi ganjalan itu seolah makin besar dan tak mau hilang. Akhirnya Sung Han yang lelah sendiri itu tak mau ambil pusing, menganggap ganjalan itu memang sudah sewajarnya. Suatu hari pasti juga tahu apa itu, pikirnya.


Ketika dia hendak turun gunung lagi, teringatlah akan kutukan pedang gerhana. Selama berdiam diri di sini, lambat laun dia mulai percaya tentang apa itu kutukan pedang gerhana. Terbukti selama dua tahun ini, setiap kali dia menatap pantulan dirinya di cermin, sama sekali tidak ada perubahan.


Yang paling mencolok adalah, selama dua tahun ini tubuhnya sama sekali tidak bertambah tinggi. Padahal menurut pengetahuannya, tinggi seseorang akan mencapai batas kalau dia sudah berumur kurang lebih kepala dua. Dia bahkan masih sembilan belas tahun lebih beberapa bulan. Dan tingginya masih sama semenjak terakhir kali dia melihat gurunya.


Semua itu benar-benar membuat resah hatinya, apalagi soal kutukan yang mengharuskan kedua pemilik untuk saling bunuh jika pemiliknya sesama jenis. Jika mengingat ini sedihlah ia.


Pada suatu pagi, Sung Han duduk di halaman rumah gurunya. Mendeprok di atas tanah tanpa alas sama sekali. Hanya duduk saja sambil menikmati hawa sekitar.


Pikirannya melayang ke pedang pusaka yang kali ini sedang dipangkunya itu. Sudah sejak lama ia ingin turun gunung, namun mengingat kuukan ini membuat niatnya urung dan makin lama membuatnya makin malas pergi meninggalkan tempat ini.


"Hah....." Sung Han menghela napas lelah.


Dia menoleh ke makam gurunya yang berada di taman itu, "Guru, apakah benar aku harus membuang pedang ini sesuai dengan apa yang anda perintahkan?"


Sung Han menatap pedangnya, mencabutnya sedikit dan mengusap bilah itu. Cantik sekali, pikirnya.


Dalam keadaan menunduk ini, matanya menatap tanah di bawahnya. Awalnya tak ada perubahan, makin lama mata itu makin melebar. Sampai membuat seutas senyum merekah di bibirnya.


"Aha...bodohnya aku, kenapa tak terpikirkan sejak dulu? Hahahaha....." dia tertawa bergelak, seakan semua beban hidup di pundaknya lepas. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas itu merupakan hal baik.


...****************...


Dua minggu setelahnya.


Baru saja Sung Han keluar dari toko pandai besi paling hebat di kota itu, telinganya tanpa sengaja menangkap pembicaraan orang yang sedang lewat. Sedikit usil, karena penasaran, dia menguping.

__ADS_1


"Memang mengerikan sekali."


"Hanya tuan putri yang selamat bersama pengawal wanitanya?"


"Benar, sekarang sedang perjalanan menuju kota Zamrud."


"Syukurlah putri selamat."


"Tapi seluruh pasukannya hancur di perjalanan."


Sung Han mengerutkan kening, dari tadi dia memandang ke arah dua orang yang sedang bercakap-cakap itu dan dia melihat satu hal menarik. Bukan terhadap dua orang itu, melainkan kepada seseorang yang di ujung tikungan sana sedang menggelar tikar di pinggir jalan. Menyiapkan berbagai macam alat musik, alat gambar, dan beberapa kaligrafi. Lantas dia meniup sulingnya.


"Takdir kah ini? Cukup untung bagiku." Sung Han tersenyum tipis dan menghampiri orang tersebut. Setibanya di sana, dia menegur, "Paman sastrawan, kita bertemu lagi. Masih ingatkah dengan aku?"


"Tulitt!!" tiba-tiba suara sulingnya menjadi sumbang dan itu membuat telinga Sung Han geli. Kiranya sastrawan itu terkejut sekali.


"Waduh, sial benar, bangsat cilik tak tahu adab!! Jangan ganggu permainan sulingku!" cercanya jengkel bersungut-sungut. Ia mainkan sulingnya lagi sambil melirik Sung Han, setelah beberapa saat meniup suling dia terbelalak dan menghentikan tiupannya. Bertanyalah ia, "Kau...yang di kota raja itu kan?"


"Benar, masih ingat dengan namaku?"


Sung Han tersenyum, sikap sastrawan ini menyenangkan sekali. Selain sikapnya yang wajar tanpa dibuat-buat, juga ramah terhadap orang apalagi dia masih bocah yang biasanya dipandang sebelah mata oleh para orang tua.


"Namaku Sung Han. Aku membutuhkan bantuanmu lagi kali ini, apakah kau keberatan?" katanya sambil duduk di depan si sastrawan itu.


Sastrawan ini nampaknya tertarik, ia letakkan sulingnya. Matanya berbinar ketika berkata, "Bantuan apa? Pembuatan kaligrafi? Puisi? Syair cinta? Suling? Kuas gambar? Alat musik petik, alat musik pukul? Nah, apa, bantuan apa?" dia sudah mempromosikan barang dagangannya.


Sung Han tertawa, "Hahaha....aku hanya membutuhkan beberapa informasi seperti waktu itu. Bisakah?" katanya seraya meletakkan tiga koin perak pada batok kelapa sastrawan itu, "Kali ini aku bayar. Untuk hari ini sekaligus untuk yang dahulu kala itu."


Sastrawan ini tertawa bergelak dan mengangguk-angguk. Tanyanya ramah kemudian, "Nah, informasi apa? Si tua ini sudah berkelana sampai jauh sekali."


"Tentang keadaan di daratan selatan. Ada apakah di sana sampai sang putri sendiri pergi ke utara?"


Sastrawan itu menghentikan tawanya, wajahnya mengeras dan berubah serius. Jika begini, baru tampaklah wibawa dari sosok pria tersebut. Sung Han pun merasa heran dengan perubahan suasana yang tiba-tiba itu.


"Kekaisaran Jeiji sudah menyerbu ke selatan, dan telah menguasai pantai timur wilayah selatan kekaisaran Chang. Keadaan amat gentingnya, invasi kekaisaran itu sangat cepat. Kaisar yang khawatir mengirim titah kepada putri Chang Song Zhu untuk pulang ke mari."

__ADS_1


Sung Han terkejut sekali, terkejut dengan semuanya. Kekaisaran Jeiji, menurut buku yang pernah ia baca, seharusnya kekaisaran itu pernah menjajah kekaisaran Chang ratusan tahun silam di masa Sepasang Naga Putih masih hidup. Dan kali ini kembali lagi.


Kadang kala tak jarang dahulu sewaktu kecil seluruh tubuhnya merinding begitu membaca tentang satu perang besar bernama Perang Sejarah. Perang yang menurut buku sejarah itu merupakan satu perang terdahsyat di dataran Chang ini. Bahkan lebih hebat dari pertempuran legenda, Pertempuran Hitam Putih.


Yang dikuasai memang baru pantainya saja, seolah bukan masalah besar sampai harus membuat sang putri sendiri dilarikan dari sana. Namun jika melihat kilas balik dan sejarah tentang apa itu Perang Sejarah, maka tindakan kaisar sudah sangat benar.


Kekuatan kekaisaran Jeiji sungguh luar biasa. Pasukan mereka terdiri dari para kesatria terhormat yang sangat menjunjung tinggi apa itu kegagahan. Para kesatria itu menamai dirinya sebagai samurai.


Bahkan pada masa Perang Sejarah, ada segolongan orang yang biasa disebut samurai tak bertuan atau ronin. Yang di mana mereka ini juga membantu perjuangan bangsa mereka menaklukkan kekaisaran Chang. Entah bagaimana samurai-samurai tanpa tuan ini bisa bergabung dalam penyerbuan.


Menurut cerita-cerita, kekuatan individu seorang ronin itu sangat mengerikan. Tak kalah dengan pendekar-pendekar Chang sendiri. Bahkan tak jarang yang lebih hebat.


Pedang lengkung mereka yang amat ampuh itu menjadi teror pada masa Perang Sejarah. Pedang khas dari kekaisaran Jeiji itu selain sulit digunakan oleh tangan-tangan orang Chang, juga terlalu berat untuk diangkat satu tangan. Agaknya hanya orang-orang Jeiji saja yang tahu bagaimana cara mengayun pedang itu.


Maka dari itulah pada Perang Sejarah, kekaisaran Chang hampir kalah. Karena memang semangat juang pasukan samurai itu sangat kokoh seperti batu karang, tak tergoyahkan. Sekali tuannya memberi perintah, mereka tak akan kenal mundur sebelum misi berhasil atau nyawa melayang.


"Sekarang putri Song Zhu sedang dalam perjalanan." kata sastrawan itu lagi mengakhiri lamunan Sung Han.


"Apakah Perang Sejarah akan kembali meletus?"


"Entahlah."


"Jika memang demikian, bisakah kita mampu memenangkannya seperti dahulu kala?"


"Entahlah."


"Paman, bagaimana menurutmu, dahulu kala kita berhasil menang atas campur tangannya Sepasang Naga Putih dan tokoh-tokoh lain. Pernahkan paman mendengar di masa ini, orang-orang yang memiliki kesaktian seperti sepasang naga itu?"


"Selama ini belum, entah di masa depan."


Sung Han diam, tenggelam dalam pikirannya. Jika Perang Sejarah kembali meletus, tak ada jaminan untuk kekaisaran Chang meraih kemenangan. Bisa jadi itu menjadi akhir dari riwayat kekaisaran ini!!


"Hah.....menggelisahkan sekali."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2