
Yang Ruan, gadis bercadar yang kali ini karena menyamar telah melepas cadarnya itu berdiri pucat dengan seluruh tubuh gemetaran hebat. Bahkan saking kagetnya, selama beberapa saat telinganya berdengung dan pandangannya berkunang.
Awalnya, dia datang ke sini hanya dengan niat untuk unjuk kepandaian. Untuk mengalahkan calon ketua golongan hitam agar nama Ratu Elang bisa semakin dikenal orang. Hal ini sudah jelas untuk menarik Kay Su Tek supaya lelaki itu mencarinya.
Namun pertemuannya dengan Sung Han mematahkan semangatnya itu. Dia tahu jika Sung Han ada di sana, maka tak ada kesempatan bagi dia untuk unjuk kepandaian. Kekuatan Sung Han saja sudah jauh lebih kuat daripadanya. Maka gadis itu melupakan tujuan semula dan hanya mengikut Sung Han saja.
Akan tetapi hatinya seperti diremas-remas ketika Kay Su Tek, tunangannya itu secara tiba-tiba datang dan berkata ingin menjadi pimpinan tokoh sesat. Siapa tidak terkejut dengan hal itu. Seorang Kay Su Tek, tuan muda Perguruan Awan ternyata telah berbelok ke jalan sesat!
Maka dari itulah, Sung Han sudah naik pitam dan langsung menyerang tanpa melihat keadaan lebih dulu. Padahal tindakannya ini bisa dianggap sebagai bunuh diri, karena orang-orang di sana sudah menganggap Kay Su Tek sebagai ketua mereka.
"Apa yang kau lakukan ini!?" bentak Sung Han lagi ketika tidak mendapat jawaban dari Kay Su Tek.
Pemuda lengan satu itu bukannya menjawab, dia justru menoleh ke tempat di mana tadi Sung Han muncul. Matanya menyipit ketika memandang seorang gadis berdiri dengan muka pucat itu. Lalu dia terbelalak.
"Yang Ruan...." gumamnya dengan hati perih.
"Lihat ke mana kau!?"
Sung Han yang sudah berang itu menerjang maju. Di dahului tangan kanan terulur ke depan dengan pengerahan hawa sakti bumi yang tanpa disadarinya. Angin berhembus berputar-putaran di sekeliling Kay Su Tek dan seolah menghimpit pemuda itu di tengah-tengah.
Kay Su Tek terkejut sekali merasakan hawa itu, dia jelas kenal betul. Maka di arahkan tangan kanan ke samping dan menyambarlah hawa sakti bumi. Bahkan lebih kuat.
"Swooss-swoss!!"
Orang-orang yang kurang kuat dan berada terlalu dekat terpaksa harus menelan kenyataan pahit. Mata, hidung, mulut dan telinga mereka kemasukan pasir bercampur kerikil. Belum lagi daya hempas dari tenaga dahsyat dua pendekar itu yang mampu melemparkan mereka.
Dengan adu tenaga ini, Sung Han terhuyung lima langkah dan dari sudut bibir mengalir darah segar.
"Sung Han!!" Kay Su Tek dan Yang Ruan bersamaan berseru.
Ketika Kay Su Tek hendak menolong, lebih dulu Yang Ruan telah melompat dekat dan menopang kepala Sung Han yang akan menghantam tanah jika tangan halus Yang Ruan tak segera menahan.
Sung Han terbatuk-batuk dengan dada bergetar hebat, mukanya langsung berubah pucat.
"Kekuatan....apa itu....mirip kakek peti...." gumam pemuda ini sebelum tersedak darahnya sendiri.
Melihat perlakuan Yang Ruan, juga raut ekspresi cemas di wajah gadis itu, membuat dada Kay Su Tek panas. Bagaimana pun dia tunangannya dan Yang Ruan telah memerhatikan lelaki lain.
__ADS_1
"Sung Han, kukatakan padamu!!" saking marahnya, dia tidak mau menutupi niatnya lagi. "Dengan menjadi ketua kaum hitam, aku akan menggulingkan pemerintahan. Mereka hanya sekumpulan tikus busuk!!"
Kemudian dia menatap Yang Ruan, "Nah, Yang Ruan, aku akan memenuhi janjiku. Ikutlah bersamaku dan kita akan selalu bersama sebagai suami istri."
Gadis itu masih menunduk, dia bahkan dengan tangannya yang halus mengusap darah di sudut bibir Sung Han yang sudah megap-megap. Kemudian, ia letakkan kepala Sung Han ke atas rumput tebal dan dia bangkit. Begitu kepalanya menoleh, terkejutlah Kay Su Tek melihat ekspresi wanita tercintanya itu.
"Tidak!!" tegasnya tanpa ragu, "Aku tidak mau mengikuti Kay Su Tek yang sekarang!! Kau mengecewakan aku! Setelah perjuanganku sekian lama, ternyata kau malah berakhir seperti ini. Kau juga tak segan-segan untuk membunuh sahabatmu, sosok penyelamat perguruanmu!"
Wajah Kay Su Tek mengeras. Tadinya murni tidak sengaja sampai dia melukai Sung Han separah itu, namun karena didorong kecemburuan hebat, maka berkatalah ia.
"Bukankah kaum sesat seperti kami adalah musuhnya? Hei Sung Han, apakah kau setuju jika aku menggulingkan pemerintahan?"
"Uaghk.....akan kubunuh kau kalau lakukan itu!" balas Sung Han walaupun kesulitan.
"Nah, kau dengar sendiri. Sekarang dia musuhku!" seru Kay Su Tek keras kepada Yang Ruan.
"Kalau begitu aku musuhmu pula, lihat serangan!!"
Yang Ruan sudah membentak dan menerjang hebat. Kedua tangan sudah menggenggam sepasang kipas pusaka keramat yang menghasilkan angin badai luar biasa.
Kay Su Tek terkejut melihat ini, namun hanya dengan elakan-elakan saja dia menghadapi terjangan itu. Bagaimana pun dia tak sampai hati untuk melukai tunangannya sendiri.
Pada jurus ke tujuh, kaki Kay Su Tek menendang dan tepat mengenai sepasang lengan Yang Ruan yang disilangkan. Gadis itu terlempar jauh hingga kembali ke tempat Sung Han berada. Sedikit darah mengalir dari mulutnya ketika merasa dadanya sesak bukan main.
"Sebagai ketua kalian, tugas pertama tangkap mereka!" perintah Kay Su Tek yang segera dituruti semuanya. Mereka sudah menubruk Sung Han dan Yang Ruan.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara menyanyat dari salah seorang pengeroyok itu. Kemudian disusul dengan suara jeritan tertahan seorang gadis yang bukan lain adalah Yang Ruan sendiri.
"Tahan serangan!" bentak Kay Su Tek yang wajahnya sudah memucat.
Di sana, Sung Han dengan pedang terhunus telah menempelkan bilahnya tepat pada leher Yang Ruan. Gadis itu gemetaran hebat sampai wajahnya seputih mayat. Dia memandang Sung Han dengan raut kekecewaan.
"Sung...Han....?"
"Lanjutkanlah rencanamu untuk menangkap kami. Itu artinya, calon istrimu ini akan mati di tanganku." kata Sung Han dingin setelah meludah ke samping yang ternyata keluar darah.
"Sekarang sudah jelas, kita berdua musuh. Dengan matinya perempuan satu ini, bukankah penghalang permusuhan antara kita telah lenyap?" kata Sung Han lagi. Lalu dilanjutnya kemudian, "Sekarang aku tahu, inilah yang aku khawatirkan. Kay Su Tek, ini sudah takdir. Lebih tepatnya....sebuah kutukan."
__ADS_1
Kalimat terakhir Sung Han ini sulit dicerna oleh Kay Su Tek. Namun dia lekas menyuruh mundur semua anak buahnya dan berseru, "Pergilah kalian! Kali ini kulepas. Tapi Sung Han, lain kali kau tak akan mampu menggunakan cara pengecut ini. Kita akan bertanding sampai mati!!"
"Pengkhianat negara!!" bentak Sung Han sebelum benar-benar pergi dari sana dengan kecepatan luar biasa.
...****************...
"Nona, kau ampunkanlah aku....tadi itu terpaksa, demi keselamatan kita."
Sung Han berlutut dan mencium ujung sepatu Yang Ruan yang hanya mampu menangis. Sudah seperempat jam mereka berada dalam keadaan seperti ini. Selama itu, wajah Sung Han makin memucat saking menyesalnya.
Tapi Yang Ruan terus menangis dengan memalingkan muka. Melihat ini, makin menyesal hati Sung Han. Kemudian tanpa ragu, dia bangkit di depan Yang Ruan dan mengangkat pedang tadi.
"Kalau begitu, akan kupotong tangan kanan yang tadi telah berani lancang menodongmu." ucap Sung Han sudah siap dengan pedang itu.
"Jangan!! Jangan lakukan itu!!" bentak Yang Ruan spontan. "Aku tahu kau hendak menyelamatkanku karena kakanda Su Tek tak akan dapat melihat aku celaka. Tapi yang kusesali adalah...." dia kembali menangis tak melanjutkan perkataannya.
Sung Han menghela napas, sungguh kecewa sekali hatinya. Bukan hanya menyesal kepada diri sendiri karena telah menggunakan cara curang seperti itu untuk menyelamatkan diri. Juga akan nasib Kay Su Tek yang lebih memilih menjadi golongan sesat hanya untuk membalaskan dendamnya.
Melihat gadis itu mulai terisak lagi, sakit hati Sung Han. Pertikaian ini mungkin terjadi akibat dendam Kay Su Tek. Namun agaknya yang paling besar adalah faktor kecemburuan dari lelaki itu. Jika saja Yang Ruan tadi tak menolong Sung Han, agaknya Kay Su Tek masih mau diajak bicara. Karena Sung Han tadi mendengar sendiri ketika dia terpental oleh serangan Kay Su Tek, pemuda itu juga berseru penuh khawatir.
"Cemburu memang mengerikan...."
Sung Han berlutut di depan Yang Ruan, lalu dia memegang kedua tangan Yang Ruan dengan lembut. Gadis itu tak menolak namun masih menunduk.
"Nona, sekarang aku mohon dengan sangat kepadamu. Kembalikan kitab dan pusaka sepasang kipas itu, lalu bersembunyilah. Terserah ke mana yang penting bersembunyi."
Yang Ruan terbelalak ketika memandang. Ingin dia bertanya namun ucapan Sung Han selanjutnya benar-benar membuat dia ketakutan.
"Kuberitahu engkau, aku sejatinya adalah pewaris Pedang Gerhana Matahari dan dia adalah pewaris Pedang Gerhana Bulan. Kau pasti sudah tahu akan kutukan itu kan? Agaknya, memang sudah begini jalannya."
"Kau....pewaris pedang gerhana?"
Sung Han mengangguk, "Jangan tanya ke mana pedangku untuk saat ini, itu tak penting. Yang jelas, sebentar lagi pertarungan antara dua pewaris pedang gerhana tak akan dapat dihindari. Karena itulah....bersembunyilah ke tempat aman nona. Aku mohon!"
Yang Ruan menjerit lirih dan tanpa mampu dicegah lagi, dia roboh pingsan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG