
Setelah kejadian lumpur hisap itu, tak ada satu pun dari mereka yang tidak merasa tegang. Mereka semua meningkatkan kewaspadaan dan tenaga dalam sudah memgalir ke sekeliling tubuh, siap melindungi diri kalau-kalau terjadi kejanggalan lainnya.
Pemuda dan gadis yang berdiri paling depan iu berjalan dengan seenaknya. Seolah sama sekali tidak merasa tegang seperti yang lainnya. Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar di hati belasan orang itu, namun mereka justru merasa girang karena dua orang itu sama sekali tidak nampak takut dan bisa diandalkan.
Yang paling heran adalah Gu Ren. Pria ini memiliki pandangan yang cukup tajam sehingga kejadian singkat sebelumnya itu telah membangkitkan kewaspadaannya. Dia merasa heran dengan tingkah dua orang muda yang mengaku kekasih beranak itu.
Sikap mereka sungguh tenang, terlalu tenang untuk seorang yang sedang kehilangan anak. Makin lama dipikir, makin banyaklah kesimpulan-kesimpulan dan perkiraan segala kemungkinan hingga memenuhi kepala Gu Ren.
Bahkan untuk melewati area lumpur hisap itu, dua orang itu terlihat sudah hafal betul. Memang mereka bilang katanya sering lewat derah pinggiran padang rumput ini, namun yang aneh adalah, apa yang membuat mereka mendekat ke pohon besar itu? Cari perkara? Padahal kalau hendak menyeberangi padang rumput ini, tetap bisa lewat pinggir tanpa harus melewati pohon itu. Benar-benar memusingkan.
"Tahan!" seru si pemuda tiba-tiba. Dia lalu menekan-nekan tanah di sekelilingnya menggunakan kakinya. Tentu saja mereka semua menjadi kebingungan.
Salah seorang bertanya, "Saudara, apa ada jebakan lagi di sini?"
"Benar, sebelumnya kami melewati jebakan yang cukup berbahaya. Namun ada pemicunya." jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya, terus menekan sana-sini dengan ujung sepatu.
Hal ini membuat orang yang bertanya sebelumnya mengerutkan kening. Dia mengajukan pertanyaan lain yang masih berhubungan pula dengan pertanyaan pertama, "Saudara, sekarang kau mencari pemicunya?"
"Benar."
"Mengapa dicari?!" seruan ini hampir bersamaan diucapkan oleh setengah dari rombongan itu. "Kalau perlu biarlah jebakan ini tidak aktif!"
Namun sedetik kemudian, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras disusul terpentalnya tubuh si pemuda. Ledakan itu demikian dahsyat sampai menggetarkan seluruh padang rumput. Suaranya memekakkan telinga hingga beberapa orang yang kurang kuat, harus menutup telinga mereka.
"Saudara!!!" orang ini sudah melesat cepat ke arah terpentalnya si pemuda itu. Disusul oleh kekasih si pemuda yang dengan wajah khawatir juga datang menghampiri.
Setengah dari tubuh pemuda itu telah gosong dan mengepulkan uap. Namun ketika diperiksa, beruntungnya dia tidak mengalami luka parah. Hanya luka bakar di bagian luar saja.
Cepat kekasihnya mendekat dan memberikan obat ke seluruh tubuh pemuda yang terbakar. Semacam obat cair yang kental berwarna bening kekuningan. Dioles-oleskan ke semua area yang gosong.
__ADS_1
Dengan bantuan beberapa pendekar lain, mereka mengurut tengkuk dan punggung si pemuda. Tak berselang lama siumanlah ia.
"Hah, berbahaya sekali...." kata pemuda itu dengan raut wajah lega, "Hampir saja aku mati."
"Apa yang kau lakukan?! Jika sudah tahu ada jebakan di sana, mengapa malah diinjak!" bentak salah seorang yang tadi ikut membantu.
Pemuda ini tersenyum tanpa dosa, "Kalau tak kuinjak, akan sanhat gawat bila terinjak yang lainnya." katanya dan tanpa mendengar suara-suara lain lagi yang menegur tindakannya itu, dia sudah bangkit berdiri.
Sedangkan Gu Ren yang dari tadi melihat, merasa heran sampai keningnya berkerut makim dalam. Kecuirgaannya makin besar dan dia merasa was was.
Aneh benar kejadian tadi. Jika memang sebelumnya sepasang kekasih itu sudah melewati jebakan itu dan tahu akan pemicunya, kenapa sekarang malah diledakkan? Jika ketika perjalanan pertama itu mereka tanpa sengaja meledakkan, mengapa tak ada satu pun bekas luka di tubuh keduanya? Lagipula, ledakan sebesar itu pasti meninggalkan bekas di sekelilingnya. Jika tadi mereka sudah meledakkan di perjalanan pertama, kenapa padang rumput itu sama sekali tak ada bekas ledakan?
"Seolah-olah dia sengaja mengaktifkan jebakan itu, apa maksudnya?" gumam Gu Ren seorang diri. Tanpa sadar selama dirinya melamun memikirkan ini dan itu, rombongan itu sudah kembali.
"Mari kita lanjutkan." kata Gu Ren kemudian.
Beberapa waktu berjalan, sampailah mereka di bibir telaga. Kiranya di sekeliling pohon besar itu, memang ada telaga besar yang membatasi pohon dengan daratan. Dari pinggir telaga menuju ke pohon besar itu, mungkin berjarak sekitar dua puluh tombak. Jika untuk menyeberang, harus berenang atau menggunakan rakit.
"Saudara..." panggil seseorang berumur lima puluhan tahun. Gu Ren cepat menoleh untuk menemukan seseorang itu yang datang mendekat padanya.
"Kulihat, engkau cukup awas." kata orang itu dengan mata tajam, "Apa mungkin pemikiranmu dan pemikiranku cukup selaras?"
Gu Ren memandang penuh perhatian. Lelaki ini sudah lima puluhan lebih umurnya, tubuhnya kurus dengan tongkat butut di tangan kanan. Jubahnya lebar sederhana, benar-benar tidak terlihat seperti kaum pendekar. Namun yang seperti ini justru malah yang patut diwaspadai, karena mungkin sekali memiliki kepandaian tinggi.
"Apakah yang menjadi pemikiran anda tuan?" tanya Gu Ren halus disertai senyum tipis.
"Jebakan ledakan tadi cukup aneh." jawab kakek itu singkat, namun tegas. "Seolah pemuda itu sudah tahu letak pemicunya. Kenapa malah dia injak?"
"Saya juga berpikir demikian." kata Gu Ren menimpali. Dia kemudian menoleh ke arah pohon besar di tengah telaga itu, "Kenapa anak mereka bisa sampai ke tengah sana kalau jarak dari sini ke pohon itu demikian jauhnya?"
__ADS_1
Kakek itu berdiri termenung dan memikirkan omongan Gu Ren. Dia mengangguk-angguk tanda setuju. Diam-diam dia mengamati sepasang kekasih itu dari sudut matanya, lalu pandangannya menajam ketika secara tak sengaja si gadis itu juga memandang ke arahnya.
"Di sana itulah anak kami menjadi tawanan siluman." ucapnya menunjuk ke pohon besar tengah telaga itu. Dia menoleh ke arah rombongan dan menjura dalam, "Harap saudara-saudara sekalian sudi menolong."
"Wah, kalau jaraknya sejauh ini kita tak bisa lompat."
"Benar, harus pakai rakit!"
"Di mana ada rakit? Semua ini rumput belaka, bagaimana kita dapat membuat rakit dari rumput?" celetuk Gu Ren yang berhasil mendiamkan mereka semua. "Tak ada pilihan lain, kita harus berenang."
"Tapi tuan, siapa tahu ada bahaya mengintai di dalam air ini?"
"Bahaya apa yang bisa menakuti kita kaum pendekar?" kata pula si kakek lima puluhan tahun itu. Dia sudah melangkah mendekati bibir telaga dan langsung meloncat tanpa keraguan sedikit pun.
"Byuurrr...."
Semua orang terbengong melihat aksi kakek satu itu. Begitu tubuhnya masuk ke dalam air, nampak gelembung-gelembung udara di sana. Sampai lama ditunggu namun kakek itu tak kunjung juga nampak kembali ke permukaan.
"Hei, dia tenggelam!!" seru seorang pemuda yang melihat paling dekat.
Akan tetapi ketika orang-orang itu hendak melompat masuk untuk menolong, terdengar suara dari jauh.
"Cepatlah masuk ke air! Apa yang kalian tunggu!?"
Begitu dipandang, kiranya kakek itu sudah berada di tengah telaga. Entah bagaimana caranya bisa berpindah secepat itu padahal tubuhnya berada di dalam air.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1