
Mendengar suara yang tidak asing ini, Coa Ow yang sebelumnya berusaha menghindari terjangan cakar berasap Ki Yuan melanjutkan gerakannya menggelinding ke belakang. Begitu dia bangkit, matanya melebar.
"Chu'er....."
Sepertinya lupa akan tuan mudanya, Coa Ow lari menghampiri Fang Chu yang tadi dipondong Sung Han dan diletakkannya di dekat pohon, bersebelahan dengan satu wanita lain yang sama-sama pingsan.
"Chu'er!" Coa Ow panik saat mengguncang-guncang tubuh gadis itu. Sung Han melihatnya dan hanya memberi penjelasan singkat.
"Dia baik-baik saja."
Tanpa berlama-lama lagi, ia sudah kerahkan tenaganya dan melesat menuju Kay Su Tek yang hampir saja dadanya kena tampar kalau saja Sung Han tidak lekas menarik kerah belakang pemuda itu untuk kemudian di buang jauh.
"Ini pertarunganku! Kalian jangan ikut campur!" bentaknya saat melihat Kay Su Tek bangkit tertatih dan hendak menerjang lagi.
Sedangkan Ki Yuan wajahnya sudah sulit untuk dijelaskan. Saking pucatnya, wajah itu tak ada ubahnya seperti patung kakek tua yang terbuat dari batu pualam putih.
Ia memandang sepasang mata Ki Yuan, mengirim tekanan intimidasi guna mengecilkan mental kakek itu. Dan sepertinya berhasil. Mata Ki Yuan jelalatan ke sana-sini mencari jalan kabur, sungguhpun ia sadar tak mungkin ada jalan kabur mengingat siapa lawannya.
"Sung Han, engkau pembuat onar!" katanya keras menutupi rasa gentarnya.
"Aku akan sedikit halus kali ini." jawab pemuda itu melirik ke belakang, ke arah dua pemuda lainnya, "Kita tidak sendirian."
Mendengar pengakuan itu jujur Ki Yuan menjadi lega. Ia paham hal itu merujuk pada pedang gerhana, secara tidak langsung Sung Han berkata bahwa pertarungan kali ini ia tak akan menggunakan pedang pusaka itu.
Ki Yuan terkekeh, tidak sadar akan posisinya sekarang yang demikian genting.
"Khehehe....ternyata kau tetap sombong. Yang mengalahkan aku itu senjatamu, bukan kepalan tinjumu!" cercanya menunjuk pedang Sung Han. Matanya berkilat, agaknya keberaniannya sudah bangkit.
Sung Han justru tersenyum miring, "Oh...mari kita lihat, siapa yang sombong?" kemudian ia melanjutkan, "Ini juga untuk pembalasan bagi para pendekar yang sudah engaku binasakan! Bukan aku kan yang pertama kali melakukan hal ini."
Ucapan pembuka, Ki Yuan sadar itu, maka cepat kakek itu meloncat tinggi dan meluncur ke bawah dalam kecepatan luar biasa. Kedua tangan di arahkan menuju kepala Sung Han yang dimana tangan itu penuh dengan hawa racun uap merah. Sangat berbahaya.
"Tahan ini kalau kau punya sedikit kepandaian!!!"
Sung Han menyiapkan kuda-kuda, kemudian mengempos tenaga dalamnya melapisi dua lengan untuk kemudian ia sentakkan ke atas. Tangan Menopang Bulan, jurus ini merupakan jurus pertahanan yang luar biasa ampuh. Menciptakan efek kejut aneh yang dapat membuat lawannya terpelanting, yang paling buruk akan hancur di udara.
__ADS_1
Dapat dibayangkan betapa terkejut Ki Yuan saat asap-asap merahnya seperti menabrak dinding tak kasat mata dan malah menyenar ke mana-mana. Kemudian dada terasa makin sesak seiring luncuran tubuhnya kian dekat pada sosok Sung Han.
"Ahhh!!" ia memekik dan berjungkir balik di udara untuk menghindari serangan aneh Sung Han dan menyelamatkan diri.
"Itu belum apa-apa!" bentak Ki Yuan berbalik, tapi ia malah terbengong mengetahui di sana tidak ada siapa pun.
"Ini baru apa-apa!!!"
Bentakan seseorang yang berasal dari belakang ini menggetarkan jantungnya dan membuat instingnya bekerja. Bahaya mendekat, ia balikkan badan namun satu tendangan keras sudah bersarang pada rusuknya.
"Bugh–kraakk!"
Dapat dipastikan tak kurang dari tiga tulang rusuk telah remuk, suara renyah itu membuktikan segalanya.
"Uuaaghhh!"
Ki Yuan terpental ke samping. Tapi tetap ia dapat mendarat sempurna dalam keadaan berdiri setelah berputaran di udara beberapa kali. Wajahnya sudah pucat dengan darah di ujung bibir, ia terluka luar dan dalam.
"Enam kan?" tanya Sung Han. "Itu masih yang kanan."
"Heyaaaahhh!" ia berseru nyaring dan melakukan serangan aneh. Tangannya berputaran yang menimbulkan angin berpusing hebat. Sung Han tahu serangan itu cukup berbahaya.
Tapi ia masih percaya akan kepandaiannya. Maka ia melompat maju menyambut datangnya Ki Yuan, dengan jurus yang sama seperti sebelumnya.
Ki Yuan girang sekali karena tahu bahwa jurus Sung Han tadi hanya untuk bertahan dan khusus menahan serangan dari atas. Maka ia percepat langkahnya dan memperhebat gerakan putaran tangannya.
"Mati!!"
"Swwuuushhh–swwuuushhh!"
Angin badai tercipta tatkala kedua tangan itu mengehentak kuat menuju Sung Han. Angin berwarna hitam seperti awan mendung itu menyambar tak pandang bulu. Pohon-pohon yang dilalui angin ini dengan cepat rontok semua daunnya, atau berguguran rantingnya.
Akan tetapi, agaknya memang sudah ditakdirkan kalah, ketika angin menyambar tadi Sung Han sudah cepat-cepat mengelak dengan cara yang cukup ganjil.
Ia merebahkan tubuhnya sendiri sampai terlentang. Sehingga angin itu hanya lewat di atasnya. Lalu di bawah Ki Yuan, ia pergunakan ilmunya Telapak Menopang Bulan yang dengan tepat menghantam dada kakek itu.
__ADS_1
"Auuughhh!!"
Dengan kaget Ki Yuan mendapati seluruh isi dadanya telah berpindah tempat dan rasa sakit meradang ke seluruh tubuhnya. Ia memandang Sung Han dengan melotot dan penuh kemarahan. Namun tak lama setelah itu, tubuhnya ambruk dan tak dapat bangun lagi.
Pertarungan yang cukup singkat mengingat seberapa saktinya Ki Yuan. Namun di sini membuktikan bahwasannya murid Xiao Shi Yong itu tidak bisa dianggap remeh.
"Selesai." dengus Sung Han.
...****************...
Di balik semak belukar tak jauh dari tempat Sung Han dan Ki Yuan beradu ilmu, nampak dua pasang mata yang memandang terbelalak ngeri. Wajah mereka pucat pias dengan tubuh gemetaran hebat.
Dua orang lelaki yang masih dapat dianggap muda itu sudah sejak awal menonton di sana, hanya saja karena ilmu kepandaian yang belum setinggi Kay Su Tek atau Coa Ow, mereka tak berani turun tangan menolong.
"Tetua Ki Yuan tewas, apakah aku bermimpi?" gumam salah seorang dari mereka itu.
Satu orang lainnya menggigit jari-jarinya yang gemetar, "Yu....apakah kita telah melakukan kesalahan? Kita telah membunuh tetua!!"
"T-tidak, itu tidak bisa dibenarkan! Yang membunuh pemuda itu!! Benar, pemuda itu, bukan kita. Dialah Sung Han!" kata Yu bersikeras dengan wajah yang makin pucat. "Kita mengarahkan pemuda itu ke mari bukan dengan maksud demikian!"
Keduanya saling pandang dalam diam. Selang beberapa saat, Mi beranjak sambil berkata dengan bisikan, "Kita cari ketua dan nona, bagaimana pun juga harus ketemu. Kita harus laporkan ini."
"Bagaimana cara melaporkannya?" Yu merasa heran dengan rencana seniornya itu.
"Kita bilang saja, anak itu membunuh tetua. Kita sebenarnya hendak mengajaknya bergabung dengan Hati Iblis, tapi ternyata dua orang itu sudah terlanjur bertempur saat kita datang." Mi memandang Sung Han yang sedang menendang-nendang muka Ki Yuan itu dengan ngeri. "Aku yakin, dengan itu kemungkinan akan berhasil dan nyawa kita masih bisa selamat."
"Benarkah itu?" Yu merasa ragu.
"Mengingat nama marganya, semoga saja ketua masih bisa memberi hati pada kita." katanya Mi menyakinkan juniornya.
"Ayo pergi, sekali mereka tahu keberadaan kita, tentu kita akan mampus. Satu dari tiga orang itu saja sudah cukup membinasakan kita!" kata Mi lagi yang nampak buru-buru.
Akhirnya, Yu tak ada pilihan lain, ia mengekor saja kemana seniornya itu pergi. Pagi harinya selepas mereka dapat pergi jauh dari tempat kejadian, barulah dua orang ini bisa bernafas lega dan melanjutkan pencarian ketua mereka dengan tenang. Walaupun rasa was-was terus menyelimuti hati mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG