
Sejak bercakap-cakap dengan pemilik warung makan tadi, setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan Serigala Tengah Malam, orang itu selalu mengait-ngaitkan dengan bukit yang saat ini sedang dituju oleh Nie Chi itu.
Bukit itu letaknya ada di samping desa, mungkin sekitar seratus meter dari desa. Melewati ladang sawah yang cukup luas. Sepanjang perjalanan, Nie Chi tak pernah mampu mengusir rasa penasarannya. Jika Serigala Tengah Malam memang ada di bukit itu, apakah desa ini sudah dekat dengan markas mereka?
Tapi yang jelas, jika kata pemilik warung itu di bukit itu sering terdengar suara pertempuran, berarti memang daerah ini sering kali dilewati oleh orang rimba persilatan.
Saat dia sedang enak-enak berjalan di tengah hamparan sawah itu, menikmati keindahan alam dengan menghirup napas dalam-dalam, tiba-tiba dari samping ada seseorang yang menegurnya.
"Anak muda!"
Nie Chi menoleh dan dia menemukan seorang lelaki tua mengenakan pakaian petani lengkap dengan caping lebarnya, sedang berdiri di pinggiran sawah memandang kepadanya penuh pehartian.
"Hendak ke mana kau?" tanyanya.
Nie Chi menjawab sopan, "Ah, ke bukit depan sana itu."
Lelaki ini menoleh ke arah di mana jari tangan Nie Chi menunjuk. Tiba-tiba pandangannya menyipit dan tangannya terkepal, ia menoleh lagi kepada Nie Chi dan berkata, "Putar balik dan cari jalan memutar jika memang arah tujuanmu harus melalui bukit itu. Jangan lewat sana!"
"Eh, mengapa pula?" Nie Chi timbul rasa penasarannya.
Kakek ini melirik ke kanan dan kiri seperti orang takut-takut. Dia lalu mendekati Nie Chi dan suaranya berbisik, "Sudah, pokoknya jangan lewat sana! Tapi kalau kau terus berkeras, aku tak mampu melarang." Setelahnya, dia kembali lagi ke ladang seolah tak terjadi apa-apa.
Tindakan ini tentu saja memancing rasa penasaran Nie Chi lebih besar lagi. Dengan kening berkerut, ia percepat langkahnya menuju bukit di depan itu. Pasti ada apa-apa, pikirnya.
Kurang belasan tombak lagi dia sampai ke hutan yang berada di kaki bukit itu, kembali langkahnya terhenti karena panggilan seseorang.
"Nak...."
Nie Chi buru-buru menoleh. Mendengar suara tua itu, dia tak enak sebagai seorang yang lebih muda untuk mengacuhkan panggilannya. Sebelum ini, dia tadi melihat ada seorang nenek dan kakek sedang duduk di tepi jalan, di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. Ternyata yang memanggilnya adalah si nenek itu.
Nenek itu melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada Nie Chi untuk datang mendekat. Dengan patuh pemuda ini menghampiri dan berjongkok di hadapan si nenek untuk menyamakan tinggi mereka.
"Ada apa nek?" tanyanya ramah sembari tersenyum.
Nenek itu melebarkan senyumnya dan mengangguk-angguk, "Anak baik...anak baik...hendak pergi ke mana kau?"
__ADS_1
Pertanyaan yang sama seperti orang sebelumnya, maka Nie Chi juga akan menjawab dengan perkataan serupa.
"Ke bukit depan itu." katanya sambil menunjuk ke bukit tak seberapa jauh lagi itu.
"Kembalilah!" kini si kakek yang berkata, ucapannya lebih tegas bahkan keras.
"Mengapa? Ada apa dengan bukit itu?" tanya Nie Chi dengan bingung. Dan kebingungan serta rasa penasarannya bertumpuk-tumpuk setelah menghadapi teguran tiga orang di sawah ini.
"Ada silumannya! Sekarang kembalilah!" kembali kakek itu berkata, memotong omongan si nenek yang sudah membuka mulut.
"Terima kasih, tapi aku ada urusan yang teramat penting di sana. Aku pamit." kata Nie Chi dan berdiri, lalu menjura sebelum benar-benar pergi dari sana.
Langkahnya kian dipercepat, bahkan kini sudah mencapai tahap setengah berlari. Wajah Nie Chi penuh ketegangan dan penasaran. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berlari dan mengacuhkan tatapan heran para petani yang ada di sana.
Ketika sampai di kaki bukit dan masuk beberapa langkah ke dalam hutan, kembali ada suara yang memanggilnya dari belakang. Dia mencebikkan lidah dan berbalik cepat. Kali ini adalah seorang pemuda yang datang memperingatkan.
"Jangan pergi ke sana! Sayangilah nyawamu!" kata pemuda itu yang sedikit berbeda dari tiga orang petani sebelumnya. Kali ini disetiap katanya, dia tanpa sungkan mengatakan seberapa berbahayanya bukit itu.
"Memangnya ada apa? Ada apa dengan tempat ini?" Nie Chi bertanya tak sabar, mengharapkan jawaban dari mulut pemuda ini yang tak ia dapat di tiga orang petani sebelumnya.
"Ah, aku buru-buru. Ketahuilah, aku memasuki bukit ini bukan tanpa tujuan, melainkan untuk suatu tugas yang amat penting!"
Nie Chi segera berbalik pergi tanpa memedulikan teriakan-teriakan pemuda itu yang terus mencegah. Ia terus melarikan kedua kakinya mendaki ke atas, setelah tiba jauh dari lingkup persawahan itu, dia percepat gerakannya dengan ilmu meringankan tubuh.
...****************...
"Ada apa ini?"
Nie Chi terus berlari, sesekali melompat dari pohon ke pohon dengan amat gesitnya sebelum mendarat lagi di atas tanah dan memandabg terbelalak seraya bergumam penuh getaran.
"Ada apa ini?"
Ia melangkahkan kakinya ke depan, belok kanan dan lompat ke atas sebatang pohon besar. Lalu dirinya jatuh lagi disertai teriakan penuh kaget dan ngeri ketika melihat sesuatu di atas pohon itu. Mulutnya kembali bergumam.
"Apa-apaan ini?"
__ADS_1
Mengambil tongkat besi pusaka yang sejak tadi tergantung di punggungnya, bersikap siap siaga dalam keadaan kuda-kuda silat.
Kaki kanannya maju ke depan dan kaki kiri berada sedikit ke belakang. Tongkat besi itu menyilang di depan dada. Kali ini dia melangkah perlahan dengan mata tajam yang awas sekali mengawasi daerah sekeliling.
Apa yang dia lihat? Itu tak lain adalah mayat-mayat manusia yang dugantung di pohon-pohon besar. Mayat-mayat yang melihat dari pakaiannya, tentu berasal dari kaum pendekar, namun mati dalam keadaan mengenaskan.
Ada yang tangannya hilang satu, atau hilang keduanya, atau kaki tangannya hilang semua. Yang jelas mereka semua digantung lehernya menggunakan tali kuat dari akar pohon. Tak jarang terlihat pula ada yang sudah menjadi tengkorak.
Seluruh urat syaraf di tubuh Nie Chi menegang ketika di kejauhan dia melihat adanya bayangan berkelebat cepat sekali, itu berasal dari sebelah belakangnya, dia tadi melihat dari ujung mata. Walau di hutan yang remang-remang saking rapatnya pohon-pohon tinggi besar itu, namun tak membuat pandangan awas Nie Chi menjadi terganggu.
Dia pura-pura tak melihat, namun diam-diam mengokohkan kuda-kudanya. Dia merasa amat kagum dengan bayangan yang sedang melesat cepat menuju ke arahnya itu, cepat sekali tanpa menimbulkan suara.
"Hm...." Nie Chi bergumam ketika orang itu meloncat tinggi ke atas. Lalu mata pemuda ini terbelalak ketika melihat sinar merah berkelebat dan tahu-tahu bayangan itu sudah menerjangnya dengan dahsyat dari atas.
"Haiiitt!!" bentak Nie Chi penuh dengan tenaga dalam, sekedar untuk mengagetkan lawan.
Sambil membentak demikian, kedua tangannya juga bergerak memutar tongkat itu lalu disusul dengan tusukan kilat.
"Trangg!!"
Terdengar suara mengeluh lirih dari penyerang gelap ini yang ternyata memakai topi caping. Orang itu berputaran di udara beberapa kali dan mendarat dengan indah sejauh tiga tombak dari Nie Chi. Namun belum juga ada satu napas kemudian, orang itu sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya.
Nie Chi tak punya pilihan lain, ia putar tongkatnya berupa sinar hitam bergulung-gulung yang mengancam tubuh lawan. Setiap serangan pedang berkilat merah itu dapat dia bendung dengan hebatnya melalui putaran tongkat besi pusaka itu.
"Trang-trang-aiiihhh!!"
Setelah dua kali menangkis, keduanga merasa terkejut ketika mengetahui kekuatan mereka berimbang. Keduanya terhuyung tiga langkah dan merasa dada mereka sedikit sesak.
Keduanya lantas saling pandang, kemudian mata mereka terbelalak penuh kekagetan.
"Saudara Khuang Peng?!"
"Saudara Nie Chi?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG