
Dialah Naga Bertanduk, sosok datuk kaum sesat yang belum lama ini muncul di dunia ramai untuk menggabungkan diri dengan Serigala Tengah Malam. Munculnya orang ini berarti tak diragukan lagi siapa adanya para penyergap itu. Tentulah Serigala Tengah Malam itu sendiri.
Pakaian kakek tua itu sederhana, hanya kain hitam kasar dengan lengan lebar. Tidak ada mewah-mewahnya sama sekali. Namun hal inilah yang membuat Gu Ren waspada. Karena bagi pendekar, yanh patut diwaspadai adalah orang-orang yang tampak lemah. Bisa jadi pengemis-pengemis di pinggiran jalanan kota itu adalah seorang pendekar yang menyembunyikan diri? Siapa tahu?
Demikian halnya dengan Naga Bertanduk. Dia tak hanya pendekar tingkat tinggi, melainkan dia sudah termasuk dalam jajaran golongan datuk kaum hitam. Dihormati dan disegani kaum segolongan, ditakuti oleh kaum lawan.
Dia ini merupakan pendekar sejati yang jarang menampakkan diri. Dan memang demikianlah, jika bukan lawan kuat, dia tak mau turun tangan secara langsung.
Gu Ren pun sudah mengenal akan orang ini, karena berita tentang bergabungnya Naga Bertanduk, datuk kaum sesat sebagai antek-antek Serigala Tengah Malam telah menyebar kuas. Namun baru sekali inilah dia bertemu orangnya secara langsung.
"Naga Bertanduk, kau kah itu?" tanya Gu Ren penuh waspada, dia sudah memasang kuda-kuda. Tangan kanan dengan kipas terbuka berada di atas kepala, sedang tangan kiri dengan kipas tertutup melintang di depan dada. Kakinya terpentang dengan lutut sedikit ditekuk.
"Hm, aku merasa terhormat telah dikenal oleh ketua Naga Hitam. Tapi bukan itu yang hendak kubicarakan." jawan Naga Bertanduk. Lalu dia terkekeh seraya mengelus jenggotnya, matanya menatap tajam sepasang kipas itu, "Aku masih mau bicara baik-baik. Jika engkau sudi ikut bersamaku membawa kedua pusaka itu, yakinlah bahwa ketua akan menganggapmu sebagai seorang sahabat."
"Mana aku sudi?!!" bentak Gu Ren.
"Heheheh, sudah kuduha jawabannya memang demikian, benar-benar seorang gagah." katanya dan menghentikan kekehannya. Kakinya terpentang tanda dia telah siap untuk pertarungan, "Kalau begitu....dengan cara paksa!!"
Setelah bentakan ini, tiba-tiba saja tubuhnya telah lenyap dari depan. Gu Ren kebingungan namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak, hanya matanya saja yang melirik ke sana-sini.
Kemudian dia cepat memutsr tubuh seraya merendahkan kuda-kuda. Berbareng dengan gerakan ini, tangan kanannya melakukan gerakan tebasan mengarah perut lawan yang telah berdiri di belakangnya.
"Deeesss!"
Tangan kanan Gu Ren membalik dan terasa nyeri bukan main. Tadi Naga Bertanduk telah mengirim tangkisan berupa tamparan dengan telapak terbuka mengarah pergelangannya.
__ADS_1
Naga Bertanduk sendiri diam-diam juga terkejut. Tangannya terasa tergetar dan sedikit panas. Tahulah jika pendekar ini, sungguhpun bukan pendekar sejati, namun tak bisa dipandang sebelah mata.
"Bagus!!" pujinya dan mengirim serangan sususlan. Berupa dua kali pukulan mengarah kepala dan dada berturut-turut.
Melihat serangan maut yang amat berbahaya ini, Gu Ren tak menjadi gugup. Ia putar kedua kipas di depan dada untuk menangkis dua serangan, lalu balas menyerang berupa totokan kilat mengarah leher lawan menggunakan kipas kiri yang sudah tertutup kembali.
Naga Bertanduk hanya miringkan kepala dan mencengkeran pergelangan lawan. Tindakan ini dibarengi dengan pukulan tangan kiri mengarah lambung lawan.
Hebat sekali, dan pertukaran jurus ini, kaki mereka sama sekali tidak bergerak. Demikian pula saat ini ketika Gu Ren menghadapi serangan susulan dari Naga Bertanduk. Begitu kepalan tangan lawan datang, cepat ia mainkan ilmu warisan gurunya, yaitu Muslihat Siluman Ular. Tangan kanannya bergerak dan seperti gerakan ular, entah bagaimana sudah mengempit lengan kiri lawan dan kipas itu telah bergerak memotong bawah ketiaknya.
Naga Bertanduk terkejut, lebih terkejut lagi ketika tangan kanan yang mencengkeram tangan kiri Gu Ren tadi telah kehilangan benda yang dicengkeramnya. Begitu melihat ternyata tangan itu telah melakukan totokan cepat memgarah mata kirinya.
"Aiiihh!!"
Naga Bertanduk tak mau ambil resiko, dengan tangan kanan ia papaki tangan kiri lawan. Sedangkan dengan lentingan tubuh dia berhasil menghindarkan diri dari tebasan kipas kanan Gu Ren.
"Siapa ketuamu?!"
"Kau tak perlu tahu!!" bentak Naga Bertanduk dan kembali menerjang.
Maka terjadilah pertarungan yang amat sengitnya. Naga Bertanduk si pendekar sejati itu tak mau bertindak sembrono, bagaimanapun orang ini harus dapat diringkusnya hidup-hidup. Sedangkan Gu Ren yang melawan seorang pendekar sejati, tentu saja sedikit banyak mengalami kesukaran dan kewalahan. Maka sebentar saja dia sudha terdesak.
Pertarungan ini ditonton oleh sepasang kekasih dan belasan penyergap itu dengan panuh kagum. Kiranya Gu Ren yang hendak mereka sergap tadi demikian lihainya, tahulah mereka jika Naga Bertanduk sendiri tak turun tangan, bisa-bisa mereka yang tewas.
Sedangkan keadaan di tengah telaga itu semakin kacau seiring berjalannya waktu. Air telaga yang bersih dari segala macam noda itu kini telah berubah warna kemerahan. Darah-darah dari para pendekar itu telah tertumpah sia-sia untuk pertarungan yang sia-sia pula. Mereka telah kena tipu! Dan untuk menyelamatkan diri pun agaknya tak mungkin karena di pinggiran sana telah menanti belasan orang yang dipimpin oleh sepasang kekasih.
__ADS_1
Para penyergap di air itu pun amat mengagumkan, gerakan renang mereka demikian gesit dan membingungkan. Tahulah jika saat ini tak ada kesempatan lolos, maka para pendekar yang sudah kena tipu itu memilih untuk melawan mati-matian dan tak akan berhenti sampai mati betulan.
Keadaan di tengah padang rumput itu kacau balau.
...****************...
Gu Ren rebah terlentang dengan napas terengah-engah. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya yang melihat ribuan bintang itu terbuka sedikit setengah terpejam. Napasnya senin kemis seolah bisa berhenti kapan saja. Sungguhpun begitu, keadaan dua kipas itu masih sehat dan halus, memang kipas pusaka sejati.
Setelah mencapai jurus keseratus, Gu Ren tak mampu menahan terjangan Naga Bertanduk yang datang bagai air bah itu. Bagaimanapun dia tak akan pernah bisa mengalahkan pendekar sejati jika dirinya belum mencapai tingkat itu, sehingga kekalahannya ini tak terlalu membuat dia penasaran.
Belasan orang lainnya yang tadinya ikut bersamanya untuk mencari siluman itu sudah bersih semua. Membuat air telaga itu menjadi merah darah, sungguh memprihatinkan.
Naga Bertanduk menghampiri Gu Ren dengan senyum mengejek dan tatapan angkuh. Dia sedikit lelah juga untuk menundukkan ketua Naga Hitam ini.
"Lekas bunuhlah aku..." kata Gu Ren kepada lawannya itu, "Siapa takut mati....?"
Naga Bertanduk mendengus singkat, seperti mengejek. Berkatalah ia, "Kau tak takut mati, kami sudah tahu. Namun kalau kau mati usaha kami akan sia-sia belaka. Kau harus ikut kami!"
Setelahnya, Naga Bertanduk menghampiri dua kipas itu dan memungutnya. Dia menyimpan di balik saku jubahnya. Kemudian memerintahkan anak buahnya menggotong Gu Ren.
Maka pergilah rombongan ini dari sana, meninggalkan daerah padang rumput itu. Saat seperti ini, Gu Ren merutuki kebodohan sendiri yang memang terlalu bodoh. Mengapa dia sampai tak sadar? Bukankah ledakan yang sengaja dipijak oleh si pemuda tadi merupakan tanda kepada orang-orang ini, jika mangsa telah berada dalam jebakan?
Dia merasa teramat lelah, seluruh tubuh sakit-sakit dan organ dalamnya pun terluka tidak ringan. Namun terlepas dari semua itu, dia tahu hidupnya sama sekali tidak terancam.
Akhirnya, dia memilih memejamkan mata, pasrah terhadap nasib apa saja yang akan dia hadapi nanti.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG