Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 104 – Calon Pasutri [Bagian : 3]


__ADS_3

Setelah perpisahannya dengan Sung Han, Yang Ruan menuruti perkataan pemuda tersebut. Ia lantas kembali ke perguruan Putri Elang untuk memastikan apakah Kay Su Tek datang mencarinya atau tidak.


Sesampainya di sana, dia segera disambut oleh puluhan wanita cantik yang menjadi anggota perguruan tersebut. Masuknya ia dari gerbang utama membikin ribut seluruh perguruan Putri Elang.


Pasalnya Yang Ruan, putri dari guru besar mereka telah hilang selama kurang lebih setengah tahun! Dan kali ini tiba-tiba datang dengan wajah murung tak bersahabat.


"Adik Ruan, ada apakah dengan dirimu?" tanya seorang wanita dua puluh sembilan tahun. Dia merupakan murid kelas atas di perguruan ini.


Yang Ruan menggeleng singkat sembari membuka cadarnya. Ia gunakan cadar itu untuk mengipas-ngipas wajahnya yang penuh keringat akibat perjalanan jauh.


"Tidak apa-apa..."


Jelas jawaban ini membuat mereka semua bingung. Siapa dapat percaya jika selama setengah tahun hilang, dan pulang-pulang hanya mengatakan tidak apa-apa? Seolah dia baru saja kabur selama beberapa jam.


"Aku ingin menemui ibu. Sebelum itu, adakah kakak-kakak sekalian yang menerima tamu seorang lelaki?" tanya Yang Ruan kemudian. Lalu dia menambahkan lagi, "Tangannya hanya tinggal satu."


Orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya itu memandang heran. Mereka saling pandang dan secara otomatis tertuju ke arah murid-murid yang biasa bertugas menjaga gerbang.


Salah satu dari mereka menjawab, "Tidak ada. Bahkan tamu pun tidak ada."


Yang Ruan mengangguk ringan. Sikapnya biasa saja, namun sejatinya di lubuk hati terdalam, dia merasa kecewa sekali. Kecewa karena ternyata Kay Su Tek benar-benar tidak datang mencarinya. Kecewa karena dia semakin yakin akan anggapannya, bahwa Kay Su Tek malu memiliki istri seperti dia, yang tak sekuat suaminya.


Gadis ini lalu pergi ke bangunan paling besar. Di sana dia sudah disambut oleh beberapa orang yang memberi hormat. Dia hanya membalas dengan anggukan singkat.


Cepat dia menuju ruangan ibunya yang berada di sebelah paling belakang. Begitu sampai, dia hendak mengetuk pintu. Namun didahului dengan suara dari dalam.


"Anakku...masuklah..."


Yang Ruan masuk ke dalam. Tak heran jika ibunya sudah tahu, karena pasti tadi ada yang datang melapor. Melihat nenek itu duduk bersila di atas lantai, cepat Yang Ruan menghampiri dan bersujud di hadapannya.


"Ibu...maafkanlah anakmu ini. Yang telah pergi tanpa pamit."


Yang Xue, ketua Putri Elang sekaligus ibu Yang Ruan itu tersenyum tipis. Perkataannya sungguh halus sekali, "Ada apakah anakku? Sampai membuatmu pergi meninggalkan ibumu dan saudari-saudarimu?"


Yang Ruan nampak meragu. Dia masih bersujud, tapi ekspresinya gelisah sekali. Dia bahkan lupa untuk tidak menyiapkan jawaban tentang pertanyaan ini sebelumnya. Akhirnya, hanya terdengar ucapan lirih penuh keraguan yang tidak begitu jelas.


"Aku....aku..."


"Hahaha....masalah asmara ternyata...? Memang anak muda..." kata ibunya tertawa halus. Membuat wajah Yang Ruan memerah sekali.

__ADS_1


"Maaf ibu..."


Sejak hari itu, Yang Ruan kembali tinggal di perguruan Putri Elang dan kembali memperdalam ilmunya. Namun selepas kepergiannya selama setengah tahun itu, hanya ada satu orang yang mampu menandinginya selain Yang Xue. Dia adalah murid kepala yang umurnya sudah tiga puluh dua tahun! Hal ini mengejutkan hati semua orang, namun juga menggembirakan karena nona mereka telah menjadi pendekar kuat.


Akan tetapi tak ada satu pun orang, juga Yang Xue, yang sadar bahwasannya sepasang kipas yang selalu bertengger di pinggang Yang Ruan itu adalah sepasang kipas pusaka warisan Raja Dunia Silat.


...****************...


Bagaimanakah nasib Kay Su Tek? Calon suami Yang Ruan yang gagal menjadi suami itu? Marilah kita ikuti kisahnya, karena sejatinya calon pasutri ini merupakan tokoh yang luamayan penting.


Setelah dia mendatangi Perguruan Awan kala itu, ketika dia bersama Sung Han memberantas pasukan Hati Iblis dan pemerintah yang mendiami tempat itu, pemuda ini pergi tanpa jejak. Bahkan para pelayan dan koki-koki pun hanya pada hari itu terakhir mereka melihat Kay Su Tek. Entah ke mana perginya seolah memang dia tak pernah lahir di dunia ini.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Kay Su Tek pergi ke salah satu gunung di Pegunungan Tembok Surga, memperdalam ilmu di sana berupa hawa sakti.


Terdengar teriakan-teriakan mengguntur yang membahana memenuhi setiap penjuru puncak itu. Kalau saja orang lewat, dia pasti mengira akan adanya iblis gunung yang sedang mengamuk.


Dia lah Kay Su Tek, masih dengan pakaiannya yang dikenakan dua tahun lalu, dia berlatih keras pada pagi hari ini. Melatih pukulan-pukulan hawa sakti yang sudah dikuasainya. Walaupun jika diumpamakan, dia hanya menguasai tak lebih besar dari sebutir debu.


"Susah sekali sialan!!" umpatnya keras begitu selesai. "Dua tahun mengurung diri di sini, tapi hanya ini hasilnya!?"


Kay Su Tek mengingat-ingat materi yang ada pada kitab Auman Harimau. Dan ingatannya yang masih kuat itu berkata kalau cara latihannya selama ini tidak ada kesalahan. Dia menjadi frustasi.


Pada saat itu, tengkuk Kay Su Tek tiba-tiba merinding ketika mendengar suara lengkingan nyaring. Seperti suara setan, entah berasal dari mana namun gema suaranya sangat mengerikan. Seperti seorang gadis yang menangis karena putus cinta, tapi tak jarang pula seperti suara suling yang dimainkan anak kecil, nadanya sembarangan tak enak didengar.


Yang paling membuat merinding yaitu ketika suara itu seperti suara petikan alat musik yang-khim, namun asal petik saja. Sehingga suara yang seharusnya merdu berupa "tring-tring-tring" berubah menjadi "trek-trek-trek."


"Apa itu?" gumam pemuda ini menolah ke kanan dan kiri. Baru sekali inilah dia mendengar dan mengalami kejadian semengerikan itu.


"Apa aku tak salah dengar?" ucapan halus dan merdu, namun juga mendatangkan rasa seram ini terdengar tepat setelah suara berbagai macam lengkingan tadi berhenti.


"Siapa itu!?"


Tiba-tiba, udara sejuk yang memenuhi puncak gunung secara aneh berubah, menjadi hampa, entah bagaimana menjelaskannya. Angin yang bertiup lembut itu berhenti seakan takut bergerak lagi.


Ketika Kay Su Tek memandang ke patahan pohon terakhir yang ia tumbangkan, ia terkejut sekali dengan wajah memucat.


"Siapa....engkau....?" tanyanya tergagap.


Di patahan pohon itu, telah berdiri dengan sikap gagah dan tenang, juga sedikit angkuh, seorang gadis cantik berpakaian mewah. Menggunakan mantel bulu beruang putih yang tebal, menutupi seluruh tubuhnya. Di kedua telinga, terdapat dua anting-anting batu mutiara yang menambah kecantikan gadis ini.

__ADS_1


Sedangkan di kepalanya, tertutup sebuah topi yang indah sekali. Terdapat sulaman-sulaman indah di sekeliling topi. Yang menarik perhatian adalah, adanya tiga batang bulu merak tepat pada bagian tengah topi, di atas dahi.


"Apakah aku salah dengar? Kau hendak meruntuhkan pemerintahan? Bukankah terlalu sombong?"


Kay Su Tek yang sadar orang ini masih manusia, segera bersiap. Ia memasang kuda-kuda. "Siapa adanya dirimu nona? Mengapa menganggu?" Ia mengerutkan kening karena merasa pernah melihat wanita ini di suatu tempat, namun lupa.lagi.


"Hehehe..." kekeh gadis tersebut sedikit angkuh. Ia melayang turun, gerakannya terlalu ringan untuk seukuran manusia. Diam-diam Kay Su Tek berpikir lagi, manusia atau silumankah orang itu.


"Menganggu? Justru akulah yang seharusnya bicara begitu. Ini masih wilayah kekuasaan kami, dan sejak dahulu aku membiarkanmu dengan pura-pura buta. Tapi pagi ini, juga kemarin, lusa dan minggu lusa, setiap pagi kau selalu buat keributan. Tinggalah di sini asal jangan mengacau!" kata gadis itu tegas.


"Ah...!" Kay Su Tek kaget sekali. Sadar akan kelakuannya sebulan terakhir ini, dia selalu berteriak-teriak sambil merobohkan pohon atau batu. Kiranya tindakannya itu telah mengganggu penghuni sini.


Lantas dia menjura hormat, "Kiranya nona adalah penghuni hutan ini. Kalau tidak salah, dari buku-buku yang saya baca atau mendengar cerita orang tua, seharusnya manusia penghuni Pegunungan Tembok Surga ini disebut manusia-manusia gunung. Apakah aku benar?"


"Benar." orang itu menjawab. Namun menggunakan bahasa manusia gunung.


Mendengar itu, walaupun tak paham apa maksudnya, namun Kay Su Tek sudah yakin bahwa gadis itu memang manusia gunung. Apalagi melihat pakaiannya yang demikian mewah, pasti bukan orang bawah.


"Perkenalkan, nama saya Kay Su Tek. Maaf mengganggu tempat tinggal nona. Jika berkenan, dapatkah nona memberitahukan nama?"


"Asal kau dapat menjaga rahasia ini ketika turun ke dataran rendah sana, aku tak hanya akan memberitahu nama, bahkan aku akan suka sekali bersahabat denganmu."


Kay Su Tek menjadi girang bukan main, bersahabat dengan gadis yang demikian cantiknya, siapa yang tidak mau?


"Saya berjanji!"


"Bagus." kata orang itu. Dia lalu tersenyum sambil melepas topinya dan diletakkan di depan dada. Tubuhnya sedikit membungkuk ketika berkata.


"Namaku Songli."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sepasang Pedang Gerhana...


...Bagian 3 : Tokoh-Tokoh Muda...


...Selesai...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2