
"Begitulah."
Sung Han mengangguk-angguk paham dengan penjelasan yang baru saja nenek itu sampaikan. "Jeiji sudah terlalu berani. Mereka meremehkan Chang."
Nenek pimpinan rombongan biksuni itu menghela napas. "Itu wajar. Beberapa abad silam mereka bahkan pernah hampir menguasai daratan ini."
"Lalu bagaimana dengan jenderal dan pasukan Chang? Apakah mereka hanya berpangku tangan?" tanya Sung Han setelah sekian lama terdiam. "Maksudku, apakah benar-benar tak ada pergerakan dari pihak kekaisaran?"
Nenek itu menggeleng. "Kami tidak tahu banyak. Hanya sepengetahuan kami para penyusup Jeiji itu susah untuk dihalau atau dicegah. Mereka datang ke sini bukan secara kelompok besar. Melainkan beberapa kelompok kecil atau perorangan."
Diam-diam Sung Han merasa heran. Mengapa sang putri tak ambil tindakan? Apakah ini ada campur tangan dengan sang pangeran yang selalu menghalang-halangi putri Song Zhu?
"Apakah ada hubungannya dengan para pemberontak?" Sung Han bertanya lagi.
Nenek itu menggeleng. "Semuanya kacau. Entah siapa yang akan menang dalam kekacauan ini," jawab nenek itu yang sebenarnya lebih tepat sebagai keluhan. Bukan jawaban.
Perasaan Sung Han makin tidak enak. Baru saja dia keluar dari pertapaannya bersama sang guru, harus menghadapi kekacauan yang demikian kacau.
Dia sadar tak bisa bersantai-santai. Dirinya yang memihak pemerintah tak mungkin secara berterang membantu mereka karena semua orang menganggap dirinya sebagai pemberontak. Sedangkan untuk bersekutu dengan pemberontak, itu hanya bahasa halus dari kalimat buang nyawa.
Ketika Sung Han hendak bangkit, dia mendengar satu suara. Lirih saja yang asalnya dari belakang salah satu biksuni. "Kau memang keras kepala."
Sung Han menoleh dan tersenyum. "Yu Ping, aku tak bisa terus berdiam diri dalam pertapaanku."
Yu Ping mengintip dari balik pundak saudarinya. "Beberapa hari lagi rimba persilatan akan geger."
Mata Sung Han membeliak, ini sih berita yang amat penting. Dia mendudukkan diri lagi memandang penuh perhatian. Menanti Yu Ping untuk berkata lagi, namun gadis itu sudah bersembunyi di balik punggung seniornya dan bungkam.
"Pedang gerhana akan diadu," nenek itu melanjutkan. Di mana dia mendapat pelototan dari Yu Ping.
"Pedang gerhana?" seketika Sung Han teringat akan Kay Su Tek dan Chang Song Ci.
Nenek itu mengangguk. "Ya."
"Tapi mengapa?"
"Kami bukan orang-orang persilatan. Hanya itu yang kami ketahui."
Sung Han merenung. Ini sih bukan hanya geger, namun bisa jadi akan timbul perang antara dua pihak raksasa itu. Bagaimanapun juga golongan sesat masih terbagi menjadi dua kelompok. Dan mengingat percakapan terakhir dengan Kay Su Tek, di mana pemuda itu hendak membunuh Chang Song Ci, itu membuatnya resah.
Tanpa sadar ia menghela napas. Agaknya pemuda itu sudah tak tertolong lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba, dirinya teringat akan seseorang dan cepat ditanyakannya kepada nenek itu. "Maaf, apakah anda pernah mendengar kabar tentang Ratu Elang?"
Seketika semua kepala mengangkat dan memandang padanya. Bahkan nenek itu mengerutkan dahinya sampai kedua alis hampir menyatu. Jelas ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan di kepala Sung Han.
"Apa hubunganmu dengan ratu itu anak muda?" tanya nenek ini, seolah seperti merasa iba.
Sung Han memandang penuh selidik. "Memangnya ada apa dengannya?"
Nenek itu menghela napas, menggeleng beberapa kali. "Dia pendekar hebat, sepak terjangnya luar biasa. Namanya melonjak tinggi beberapa tahun terakhir ini." Dia berhenti beberapa saat. Satu hal yang semakin membangkitkan rasa ingin tahu Sung Han. "Jarang ada orang kaum sesat yang baik-baik saja setelah mendengar nama itu. Kalau tidak lari ketakutan, tentu kencing di celana atau sedikitnya tubuhnya menggigil hebat."
"Lalu....lalu apa?" Sung Han mendesak.
Nenek itu menatap pemuda ini iba. "Beberapa bulan lalu, dari yang kudengar, dia terlibat pertarungan dengan beberapa orang golongan hitam," kembali nenek itu menghela napas. "Kau benar-benar ingin tahu?"
"Katakan!" Sung Han semakin khawatir dan tanpa sadar membentak keras.
"Menurut desas-desus, Ratu Elang telah tewas dalam pertarungan itu. Tewas sebagai pahlawan. Tewas sebagai pembela pembenaran. Tewas sebagai penentang kejahatan." ucapan ini terdengar sedikit ragu.
Sung Han membatu, matanya kosong seketika dan dirasakannya seolah jantungnya ditarik oleh sesuatu yang tak nampak. Mungkin selama satu kedipan jantung itu berhenti berdetak.
Mulutnya menggigil, lidahnya kelu dan tenggorokannya bergerak naik turun. Pikirannya kosong.
"Yang membunuhnya, orang-orang golongan hitam kan?" tanya Sung Han seolah baru bangun tidur. Mengambang seperti hanya gumaman semata.
"Hanya itu yang kami tahu," nenek itu berkata. "Tapi itu hanya desas-desus. Kami tak memiliki buktinya."
"Terima kasih."
Pemuda ini mencoba bangkit, seketika ia terhuyung karena melihat ribuan bintang di depan matanya. Yu Ping sudah bangkit hendak menolong namun Sung Han menolaknya.
"Aku pamit," katanya singkat. Mengambil satu batang kayu dari api obor dan berjalan menjauh membelakangi mereka.
Yu Ping berlari mengejar. "Kakak, jangan bilang kau–"
"Ya! Aku akan mencari pembunuh itu. Tunggulah bersama saudari-saudarimu. Sebentar lagi nama Setan Tanpa Wajah akan terdengar ke telingamu!"
Seketika Yu Ping berhenti di tempatnya. Hampir saja dia jatuh berlutut jika tangannya tidak cepat-cepat memegangi batang pohon di sampingnya. Bukan karena apa, namun tatapan dan ucapan Sung Han itu bagaikan ujung pedang yang menikam dadanya. Ini bukan Sung Han ia kenal!
Apalagi mendengar nama julukan itu, sebuah julukan yang baru-baru ini naik daun. Bahkan semua biksuni itu berseru kaget.
"Kakak...?"
__ADS_1
"Jangan pernah mengikutiku!" Sung Han memperingatkan. "Hiduplah yang damai bersama saudari-saudarimu!"
Setelah itu, tanpa mengucap sepatah kata lagi, tubuhnya lenyap di kegelapan malam. Hanya terlihat cahaya kuning terang yang makin jauh sampai menjadi setitik kecil di lembah depan.
Hati Yu Ping terasa hancur. Baru bertemu dengan kakaknya namun harus berpisah lagi. Bahkan dia meragukan apakah di masa depan dia dapat bertemu dengan pemuda itu lagi. Mengingat ini dia menangis.
"Kau baik-baiklah...kakak. Kembalilah, aku akan menunggumu...seumur hidup." gumamnya di sela isak.
...****************...
Di lereng sebuah gunung, nampak satu gubuk reyot yang seolah hampir roboh. Di sebelahnya terdapat kandang kuda yang sudah tak terawat lagi. Di dekat sana, ada sebuah tebing tinggi yang nampaknya sedikit mustahil untuk di daki.
Dari kejauhan, seseorang berjubah hitam dan bercaping lebar berjalan dengan langkah satu-satu menuju bagunan ini. Tubuhnya tegap dan langkahnya teratur.
Angin senja menerpa jubah serta kain tipis di ujung capingnya, membuat dirinya seolah setan yang mengeluarkan aura hitam pekat.
Setibanya di depan gubuk itu, orang ini berlutut. "Guru, aku pulang."
Sung Han, dialah sosok itu. Seorang pemuda yang telah menyempurnakan hampir seluruh ilmunya semenjak menjadi murid Tok Ciauw di Goa Emas. Pemuda yang telah menjadi seorang Setan Tanpa Wajah!
Ia berjalan ke samping gubuk di mana terlihat tanah kosong dengan satu batu tertancap di atasnya. Makam Xiao Shi Yong.
Sung Han berlutut, lalu menggali. Menggali tanah di sebelah makam itu.
Matanya memerah, urat-urat di dahinya menonjol keluar. Gerakannya selama menggali itu jelas sekali bahwa dia sedang amat marah.
Kabar kematian Ratu Elang telah didengarnya sehari yang lalu, namun rasa marahnya belum dapat ia redam.
Apalagi mengingat pembunuh itu adalah anggota golongan hitam. Dia makin murka.
"Kay Su Tek....Kay Su Tek....apa yang kau lakukan?! Bajingan, apa yang telah kau lakukan terhadap wanita yang pernah menjadi calon istrimu!!!" Sung Han meraung. Suaranya bergema ke seluruh penjuru hutan.
Setelah menggali cukup dalam, dengan napas memburu karena amarah dia memandang benda yang telah ia kubur di sana sejak lama. Sebuah benda yang sejatinya tidak ingin ia pegang lagi. Tapi agaknya keadaan memaksa.
"Pedang Gerhana Matahari, mari kita sambut kutukan itu!"
Pemuda ini membungkuk dan meraih, mengamati seluruh badan pedang itu dengan seksama. Mencabut bilahnya dan perasaan nostalgia menghampiri benaknya. Perasaan seperti seseorang yang bertemu kawan lama.
"Kali ini tak ada ampun lagi. Setan Tanpa Wajah akan mencabut nyawamu, Kay Su Tek!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG