
Tergeletak di sana-sini, malang-melintang menutupi permukaan tanah yang berselimut rerumputan tebal yang ada di dalam hutan itu. Bau amis darah yang memuakkan mengisi kesunyian hutan itu. Jika orang biasa yang lewat, pasti dia sudah muntah-muntah.
Di salah satu sisi, tepatnya di bawah sebatang pogon besar, terdapat dua orang yang saling hadap. Hanya bedanya seorang berdiri sedangkan seorang lagi duduk dengan muka pucat dan napas terengah. Nampak sebatang pedang lengkung yang sudah patah tertancap di batu sebelah orang itu.
"Kau....kau...." kata orang yang duduk itu dengan tergagap. Tangannya mencoba meraba-raba sekeliling, mencari apapun yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Saking gugupnya sampai tak menyadari pedangnya sendiri yang menancap di sebongkah batu.
"Yah...bukan berarti aku berniat menakut-nakuti kalian," pemuda berjubah hitam itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf saja."
Orang yang jatuh terduduk itu berjengit dengan muka makin pucat. Ketika bicara, mulut pemuda itu demikian menyeramkannya. Bukan. Bukan mulut. Itu lebih tepat disebut, entahlah.
Kiranya pemuda bernama Xian Fa itu sama sekali tak memiliki bibir. Mulutnya seolah pernah terbakar hingga melenyapkan bibir atas dan bawahnya. Menampilkan deretan pagar gigi yang kekuningan dan gusi berwarna merah gelap. Betapa mengerikannya!
Mungkin karena luka inilah maka Xian Fa menutupi mulutnya dengan sebuah kain hitam panjang.
Xian Fan menghela napas. "Aku sedikit lengah sampai ini terlempar," katanya seraya memungut kain hitam itu dari tanah. Lalu ia melibat-libatkannya ke wajahnya seperti semula. "Nah, begini lebih baik kan?"
Orang itu sudah mendapatkan kembali pedang katananya yang patah kemudian dia menodongkannya ke tubuh Xian Fa. "Apapun yang kau inginkan tak akan pernah kau temukan dalam diriku!"
"Wah, sungguh orang gagah. Aku kagum," puji Xian Fa. Namun sikapnya lebih condong ke arah mencela. "Tapi aku sama sekali tidak menginginkan apa-apa darimu. Kalian berpusat di kota kecil sebelah selatan dari sini kan?"
Wajah orang itu memucat. Dan ini menambah keyakinan Xian Fa bahwa tebakannya tepat sasaran. Diam-diam dia bersyukur karena sebelum sampai ke desa ini, dia sudah bertanya-tanya tentang kekaisaran Jeiji di desa-desa sebelumnya.
Orang itu yang sudah terbongkar rahasianya, menjadi nekat dan memaksakan diri untuk bangkit sungguhpun kakinya gemetaran hebat. Disertai lengking panjang penuh kemarahan, dia hendak mengadu nyawa.
"Hayaaaaa....!!"
"Syutt...bresss!!"
Sekali tendang, tubuh samurai yang menyamar sebagai pedagang itu bengkok seketika. Tendangan tepat mengenai tulang rusuknya benar-benar membengkokkan seluruh tata letak di dalam tubuhnya.
"Bruk..."
Tubuh itu jatuh setelah melewati masa sekarat beberapa saat. Xian Fa memandang dingin sebelum angkat kaki dari sana.
...****************...
"Setan Tanpa Wajah? Heh, sungguh menarik," komentar gadis berusia kurang lebih sembilan belas tahun itu. "Jelaskan, jelaskan. Jelaskan lebih rinci," tuntutnya penuh semangat.
Dua pemuda yang ditanyai seperti itu menjadi merah pipinya. Tak dapat disangkal lagi, gadis berpakaian ahli silat ini memang cantiknya bukan kepalang. Setiap ada angin yang bergerak melambai-lambaikan rambut cepaknya itu, tercium aroma mawar yang memabokkan.
Bukan semata-mata gadis berbau wangi itu adalah seorang penggoda kaum pria. Bahkan dia ini tinggal di antara para kaum wanita yang menyucikan diri. Menjauhkan diri dari keduniawian. Para biksuni.
Namun aroma harum wangi yang berasal dari tubuh maupun rambutnya itu hanyalah perwujudan dari sifat alaminya sebagai seorang wanita yang suka berhias diri. Namun hanya sebatas itu saja, gadis ini bukan seorang penggoda.
"Itu hanya rumor nona," kata seorang pemuda. "Jangan anda mengira kami mengetahuinya, karena kami hanya pengembara biasa."
"Apa yang biasa kalian lakukan selama mengembara?" tanya gadis itu yang tak pernah kehilangan sinar semangat di matanya.
"Bertemu pendekar nona!" seru salah satu pemuda lagi. Yang memang sejak awal menunjukkan ketertarikan terhadap gadis ini. "Bertemu tokoh-tokoh persilatan dan kalau beruntung, melihat pertarungan mereka yang amat menegangkan. Tapi kita hanya jadi penonton..." ucapan terakhir ini terdengar lirih.
__ADS_1
"Apa kalian sudah pernah bertemu dengan Setan Tanpa wajah itu?"
Keduanya menjadi kikuk. Lalu pemuda yang terakhir menjawab tadi berkata. "Kami sudah bilang itu hanya rumor."
"Bagaimana rumor itu? Bagaimana ciri-ciri setan satu ini dari rumor yang kalian dengar?"
"Intinya wajahnya tidak kelihatan sama sekali."
"Apakah–"
"Adik Yu, sudah cukup, jangan ganggu orang lain," tegur seorang wanita gundul. Masih berumur kurang lebih tiga puluhan tahun. Walau tanpa rambut, namun wajah itu cantik sekali dengan sedikit warna kemerahan di kedua pipi.
"Eh, kakak, bagaimana pula ini? Kita harus cari informasi sebanyaknya tentang daerah utara. Kau sendiri yang menyuruhku mencari informasi, kenapa sekarang malah–"
"Adik Yu," orang yang dipanggil kakak itu menyentil ujung hidung gadis marga Yu itu. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum kecil. "Sedikit jaga jarak..." bisiknya perlahan.
Gadis sembilan belas tahun itu merengut sebal. "Memang kenapa? Aku bukan biksuni."
"Yu Ping. Sopan santun."
"Baiklah...." gadis yang ternyata adalah Yu Ping itu mengalah. Ia membalik dan tersenyum tipis seraya menjura. "Terima kasih kepada saudara-saudara, saya mohon undur diri."
Rombongan biksuni yang di mana sebelumnya berada di desa alang-alang itu kini melakukan perjalanan menuju utara. Hal ini terpaksa mereka lakukan adalah untuk menghindari invasi Jeiji yang sudah banyak muncul di utara ini.
Para biksuni yang tak mau melibatkan diri dalam perang, memilih untuk mengambil jalur aman, yaitu pindah tempat.
"Katanya Setan Tanpa Wajah itu masih muda," celetuk Yu Ping.
"Lalu?"
Yu Ping mengerucutkan bibir mendengar jawaban seniornya yang tak menaruh sedikit pun ketertarikan. Dia hanya tersenyum geli seolah sedang berbicara dengan anak kecil. Memang Yu Ping masih tergolong kecil di kalangan para biksuni yang memiliki umur paling rendah tiga puluh tahun itu.
"Aku penasaran!" Yu Ping bersikeras.
Wajah biksuni yang menemaninya itu sejenak kehilangan sinarnya. Namun hanya sekedipan mata sebelum kembali seperti semula, "Kenapa penasaran?"
"Nama julukannya setan, pasti dia seorang jahat!" Yu Ping bersungut-sungut.
"Baguslah, setidaknya kau tidak berharap itu dia."
Yu Ping terhenyak, menoleh cepat memandang seniornya yang tersenyum tipis itu. Kemudian menunduk.
Seniornya ini meletakkan tangannya di atas kepala Yu Ping, "Jangan sedih."
"Dia janji untuk kembali," keluh Yu Ping. "Tapi dia...."
"Jangan sedih," kata wanita gundul itu sambil terus mengelus kepalanya. "Itu sudah takdir. Terimalah kenyataan."
Saat itu, ketika mereka hendak menghampiri rombongan biksuni lainnya, mereka dikejutkan dengan pemandangan di depan. Terlihat tokoh-tokoh biksuni senior yang berdiri berkerumun menghadapi beberapa orang asing. Dari pakaian maupun senjatanya, mereka nampak asing. Jumlahnya sekitar dua puluhan orang.
__ADS_1
Yu Ping dan senior wanitanya itu cepat-cepat datang menghampiri. Kiranya biksuni tertua yang menjadi pimpinan mereka, sedang melakukan negosiasi yang nampak makin panas.
"Pokoknya kalian harus ikut!!" bentak pria itu. Yang ketika sudah dekat, baru nampaklah pakaian dan senjata itu adalah yang biasa dipakai para ronin.
Biksuni tua itu menggeleng. "Mohon maaf sebesar-besarnya, tapi tidak ada alasan bagi kami untuk turut serta bersama anda."
"Tentu saja ada," bentak pria itu lagi. "Untuk memancingnya!"
Sekitar dua belas orang biksuni termasuk Yu Ping itu mengerutkan kening. Apa yang dimaksud memancingnya? Siapa dia?
"Siapa yang anda maksudkan? Apakah hubungan kami dengannya?"
"Tidak ada. Mungkin," kata si ronin itu. "Namun dia telah memberantas teman-teman kami. Kalian harus ikut untuk kami jadikan sandera!"
"Hahaha, menyandera para pendeta ini kau hendak apa?" Yu Ping sudah gemas dan meloncat maju kemudian membentak. "Apa urusannya dengan kami?"
"Kalian dalam keadaan terjajah!!" bentak pria lainnya. Yang bertubuh lebih tinggi dari orang pertama. "Katanya dia tak pernah memusuhi bangsa sendiri. Hanya membantai samurai dan ronin!"
Yu Ping mengerutkan keningnya. "Siapa yang kau maksud?"
"Sung Han!!" saking tak sabarnya pria itu membentak. Wajahnya merah padam. "Sung Han namanya! Pemberontak Chang!"
"Sung Han sudah mati!!!" Yu Ping berseru keras. Bahkan saudari-saudarinya sampai kaget. Bukan kaget dengan bentakan gadis yang memang bersuara nyaring itu, melainkan lebih kaget akan suara gadis itu yang sedikit gemetar.
"Sung Han sudah...mati..." lanjut Yu Ping.
"Setannya pasti masih belum mati! Hantunya!"
"Mana ada hantu mati?!" Yu Ping mendebat. "Jika kau hendak menyandera kami untuk memancing setannya, kau pikir kami itu kawannya setan?"
"Bukan," kata pimpinan ronin. Dia menyeringai seram. "Kami bisa bermain dengan kalian, melakukan kegiatan bangsa setan. Dengan begitu, bisa saja dia tertarik dan berkunjung untuk menonton."
"Keparat!!" bentak Yu Ping yang sudah memerah wajahnya. Demikian para suadarinya yang memang masih berwajah cantik itu.
"Kalian punya metode awet muda kan? Nah kegiatan ini merupakan hasil dari tindakan kalian itu, hahaha!!"
Yu Ping naik pitam, ia melompat maju dan menghantamkan tangan kanan dengan telapak miring.
Ilmu meringankan tubuhnya memang luar biasa, demikian pula dengan tenaga dalamnya. Namun gerakan silat para biksuni itu semata-mata hanya untuk olahraga saja, bukan untuk saling gempur. Maka walau seakan serangan Yu Ping berbahaya, akan tetapi sama sekali tidak mematikan.
"Ringkus dia!"
"Hait!!"
Dua orang ronin bergerak maju, memelintir kedua lengan dan menjatuhkannya ke tanah. Yu Ping memgerang. Namun saat itu saudari-saudarinya memekik panjang pendek ketika para ronin itu sudah membekuk mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1