
Tubuh si brewok ini melesat bagai kilat dan tahu-tahu goloknya telah menyambar menuju kepala. Yu Fei tak sempat menghindar.
Yu Fei terbelalak, senjata sudah tak berada lagi di tangannya semenjak terenggut lepas oleh hentakan telapak Sung Han. Tubuhnya pun sudah terlalu lemah untuk menunjang gerakan menghindar, dan sudah kepayahan jika harus menangkis.
Yu Fei hanya mampu meramkan mata.
Begitu golok sudah berkelebat dekat, dari belakangnya melesat bayangan hitam yang cepat sekali. Bayangan ini juga merobohkan beberapa orang Naga Hitam dan Perguruan Awan saat melewati mereka.
Kemudian terdengar pekik nyaring penuh keterkejutan setelah sebelumnya suara mengaung memekakkan telinga akibat beradunya dua senjata.
"Trang...."
"Aiihhh!!" Bao Leng kaget sekali saat tahu-tahu di hadapan Yu Fei sudah berdiri seorang pria berbaju hitam lain yang telah menahan laju golok dengan sebatang pedang. Yang lebih mengejutkan lagi, pedang itu sudah meneteskan darah segar.
Sontak Bao Leng sedikit miringkan kepala untuk melihat di belakang pria itu. Dan kembali ia berseru mengetahui beberapa orangnya dan Perguruan Awan telah roboh tak bernyawa.
"Bangsat!! Siapa kau, pengacau!!??" serunya dan menarik golok lalu ia hantamkan lagi sekuatnya.
"Tringg–traang!"
Setelah menangkis dua kali, orang yang baru datang ini menarik Yu Fei dan melompat beberapa tombak ke belakang.
"Terima kasih...." lirih Yu Fei saat pertolongan sudah tiba.
Orang ini tak hiraukan itu dan menjawab seruan Bao Leng sebelumnya, "Aku satu kelompok dengan dia." katanya menunjuk Yu Fei yang sudah duduk bersila memulihkan tenaga.
"Hah? Kalian dari mana!!?"
"Itu tak penting. Intinya, ayo kita beradu ilmu barang satu dua jurus. Aku penasaran, kepandaianmu sungguh hebat!"
"Sialan!! Makan ini!!" Bao Leng melesat lagi dan golok terayun cepat.
Orang itu menghindar. Tak hanya menghindar karena sambil mengelak pedangnya berkelebat mengancam lambung kiri lawan.
Bao Leng cepat memutar golok untuk menangkis, dilanjut sebuah tusukan kilat ke arah tenggorokan. Diam-diam tangan kirinya yang tersembunyi di samping pinggang siap mengirim serangan maut berupa tusukan mengarah jantung.
"Tidak buruk!" orang itu melihat pola serangan ini dan mengelak ke kanan. Golok hanya lewat di depannya.
Kemudian saat secara tiba-tiba tangan kiri Bao Leng menuju dada hendak menghancurkan jantung, dia berkelit secara aneh dan serangan itu luput. Lebih-lebih lagi, leher Bao Leng sudah terancam pedang kalau dia tidak cepat menggelinding pergi.
"Cih, kau punya kepandaian!" dengus Bao Leng.
__ADS_1
"Ini akan seru, hehehe...." orang itu bersuara dan kembali melesat diiringi tawa aneh menggelikan.
...****************...
Sung Han mengamati luka-luka di tubuh Kay Su Tek dan dia berhasil bernapas lega. Tidak ada luka yang cukup parah di organ dalamnya, hanya tubuh bagian luarnya saja.
Kecuali tangan yang telah buntung itu, benar-benar membuat Sung Han merasa prihatin. Ia memandang potongan tangan Kay Su Tek yang tergeletak tak jauh di sana, pandangannya menyipit tajam.
"Itu...bukankah ciri-ciri yang sama di tubuh Kay Ji Kun? Jangan-jangan....?"
Sung Han mulai menduga-duga. Ia mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang masih duduk bersila sambil meramkan mata. Seolah tidak melihat pertarungan menegangkan antara Bao Leng dan lawannya.
"Apakah dia...yang meracuni ketua Perguruan Awan?"
"Ugh...."
Cepat Sung Han menengok saat mendapati Kay Su Tek melenguh pendek dan mulai membuka mata.
Hal pertama yang dilihat Kay Su Tek adalah cahaya terang menyilaukan. Ia menyipitkan mata dan mengerjap beberapa kali guna menyesuaikan penglihatannya dengan keadaan sekitar.
Tak berselang lama, telinganya berdengung bercampur suara berisik pertempuran yang masih hebat. Ia melihat Sung Han duduk di sebelahnya.
Kay Su Tek bangun dan duduk, ia segera bersila untuk memulihkan tenaga. Selang beberapa saat, Kay Su Tek menghembuskan napas dan wajahnya tampak lebih cerah.
"Kapan ini akan berhenti? Haruskah aku mengambil pedang itu sekarang?" ujarnya memandang sekeliling, lalu tatapannya terpaku pada sebatang pedang bercahaya di atas gundukan itu.
"Jangan!" ucap Sung Han buru-buru, "Itu palsu! Asli palsunya!"
"Kenapa kau bisa tahu? Kau pernah melihatnya?" Kay Su Tek mengerutkan kening dan memandang curiga.
"Belum pernah kulihat, tapi....ah, menurut keterangan guruku pedang gerhana itu warnanya hitam." Sung Han mencoba mencari-cari alasan.
"Hiraukan itu, tubuhmu perlu istirahat." kata Sung Han mengalihkan topik pembicaraan, "Lihat itu, anggotamu banyak yang sudah roboh." ia menunjuk rombongan Perguruan Awan di jalan masuk. Kay Su Tek memandang sedih.
"Hahahahaha.....!!!"
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari puncak gundukan sana. Tanpa sadar semua orang menghentikan pertempuran dan memandang seseorang yang tengah berdiri di sana.
"Itu...." Kay Su Tek memandang tak percaya, sedang Sung Han hanya menatap datar.
Semua pandangan teralihkan ke arah seseorang yang berdiri tegak di atas gundukan seraya mengangkat "pedang gerhana" tinggi-tinggi. Beberapa langkah di bawahnya, tergeletak lemas tubuh wanita muda yang napasnya terengah-engah. Darah membasahi seluruh tubuh, cadarnya yang putih sudah berubah kemerahan.
__ADS_1
Salah seorang yang juga sudah terluka namun tak cukup parah tergopoh-gopoh menghampiri dengan raut khawatir.
Wanita bercadar dari Putri Elang itu hampir kehilangan nyawa kalau tidak segera ditolong oleh saudara seperguruannya itu.
"Akhirnya aku mendapatkannya, Pedang Gerhana Bulan!!" orang di atas itu berteriak bangga. Disusul sorakan gegap gembita dari partai perwakilannya.
Bao Leng yang melihat ini mengerutkan kening, jelas itu bukan pedang gerhana, ia sudah pernah melihat bagaimana wujud pedang gerhana itu sendiri.
Saking terfokusnya kepada seseorang di atas gundukan itu, sampai dia tidak sadar akan lawannya yang sudah melarikan diri membawa kawannya. Saat ia sadar akan hal itu, cepat Bao Leng berseru.
"Kejar!!" ia berteriak ke arah rombongan Naga Hitam yang masih tersisa.
Cepat mereka membuat benteng barisan guna memblokir jalan keluar dua orang itu. Namun naas, orang yang sambil membawa Yu Fei itu masih mampu melakukan perlawanan dan membuka jalan.
"Berhenti!!!" teriak Bao Leng melemparkan goloknya.
Pria itu berbalik dan mengayunkan tangan. Terdengar suara nyaring saat pedang di tangannya memantulkan balik golok itu ke arah Bao Leng.
"Jangan kejar!!!" Sung Han berteriak lantang ketika Bao Leng sudah sampai ke jalan masuk itu bersama beberapa orang.
Bukan tanpa alasan dia berteriak demikian, hal itu dikarenakan oleh goa-goa di sekitaran jurang itu, yang di mana sebelumnya ia melihat seperti terdapat cahaya obor. Beberapa saat lalu, beberapa orang nampak keluar dari setiap goa.
Tapi Bao Leng tak pedulikan itu, bersama empat orang lain ia terus melakukan pengejaran.
Orang yang membopong Yu Fei tadi tersenyum miring dan mulai merayapi dinding jurang dengan cepat sekali. Sembari merayap mulutnya bersiul-siul nyaring memberi tanda kepada kawan-kawannya.
"Bangsat, apa yang kau lakukan!?" seru Bao Leng yang melihat keanehan dari sikap orang itu. Juga munculnya orang-orang dari balik goa, membuat ia heran bukan main.
Tapi semua sudah terlambat, matanya terbelalak begitu melihat bongkahan-bongkahan batu besar dari dalam setiap goa. Wajahnya memucat.
Sontak dia berseru, "Mundur, mundur....!!! Ini jebakan!!"
"Lempar!!!" entah siapa yang berseru demikian, tapi sesaat setelah itu suara gemuruh terdengar jelas dari setiap goa. Sedetik kemudian, bongkahan-bongkahan batu sebesar perut kerbau terbang bebas meluncur ke bawah.
"Braakkkkk–bruuggg!!"
Darah menyiprat tinggi ketika beberapa orang tergencet di bawahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1