Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 226 – Hok Liu


__ADS_3

Sebagai pengawal pribadi seorang tuan kota, jelas tiga orang ini tak bisa jauh-jauh dari orang yang harus dilindunginya. Gedung di mana pangeran Chang Song Ci tinggal amat luasnya, sehingga membuat tiga orang pengawal pribadi baru itu tak bisa pergi bahkan untuk keluar dari wilayah komplek gedung itu.


Malam hari itu juga, mereka sudah diberi tugas jaga untuk mengawasi daerah sekeliling gedung pangeran Chang Song Ci. Ketiganya dengan terpaksa harus menghabiskan malam di luar ruangan.


Ketiganya menyalakan obor di belakang pekarangan kediaman Chang Song Ci. Duduk melingkar untuk merasakan hangatnya api obor.


Terakhir kali mereka bicara adalah saat Han Ji meminta tolong kepada Hok Liu dan Xian Fa untuk mencari bakar, sedang dia sendiri memasakkan makanan untuk mereka. Itu sudah terjadi sejak seperempat jam yang lalu dan kini mangkuk sup tempat mereka makan sudah bersih.


"Aku pergi dulu," Hok Liu berkata tiba-tiba sambil mengangkat dirinya bangkit. "Makanannya enak."


Han Ji hanya tersenyum tipis, sedangkan Xian Fa mengangguk kecil. "Mau patroli?"


"Iya," jawab Hok Liu. "Rasanya bosan untuk duduk di sini dalam waktu lama. Ditambah, aku seperti pengganggu saja."


Xian Fa tertawa lepas dan Han Ji menundukkan mukanya malu.


"Baguslah kalau kau sadar," ucap Xian Fa yang segera menerima pukulan di bahu dari Han Ji.


Hok Liu tersenyum tipis, kemudian tanpa berkata-kata lagi dia meninggalkan mereka berdua. Xian Fa dan Han Ji menatap punggung pemuda itu sampai dia menghilang di balik tembok salah satu bangunan.


"Aku merasa ada yang aneh dengan orang itu," kata Han Ji seraya menambahkan satu ranting kecil ke dalam api unggun. "Entah kenapa."


Xian Fa memandang penuh perhatian, matanya menyipit waspada. Sampai lama dia menatap ke arah perginya Hok Liu tadi dan bersikap seolah tidak mendengar perkataan Han Ji.


"Hei, apa kau mendengar?" tuntut Han Ji.


"Hm, kupikir matamu tidak setajam rajawali," pemuda itu menjawab, memberi kritikan. Dia memandang sepasang mata Han Ji serius. "Apa kau pura-pura tidak tahu?"


Han Ji hanya menampilkan ekspresi bingung. "Omonganmu berbelit-belit."


"Dia itu sama seperti kita."

__ADS_1


"Kita ini pria dan wanita. Kau bicara bahwa Hok Liu itu bisa pria bisa juga wanita?" Han Ji tertawa. Menjawab omongan Xian Fa yang ia anggap sebagai kelakar itu. Namun tawanya lambat laun mereda sampai akhirnya berhenti total ketika tidak menemukan perubahan ekspresi apa pun di wajah Xian Fa. "Apa maksudmu?"


"Hok Liu juga menyamar. Dia tidak benar-benar ingin menjadi pengawal pribadi. Sama persis seperti kita."


Perubahan cepat terjadi para ekspresi Han Ji. Jika sebelumnya sisa-sisa keheranannya masih nampak, kini sudah lenyap sama sekali. Berganti dengan wajah datar yang serius.


"Kau yakin?"


Xian Fa mengangguk. "Kulit coklatnya itu palsu. Dan entah apakah wajahnya itu asli atau palsu sekalian." Dia kembali memandang ke arah di mana tadi Hok Liu pergi. "Semoga saja dia memiliki niat yang sama seperti kita. Dan itu artinya, dia bisa dijadikan sekutu.


...****************...


Keaadaan pada masa itu demikian tegangnya, dan semua orang berkepentingan tahu belaka bahwa pangeran Song Ci dan putri Song Zhu hanya tinggal menunggu waktu sampai keduanya bentrok.


Demikian pula yang dirasakan oleh Xian Fa dan Han Ji. Makin banyak pendekar yang direkrut oleh pangeran itu setelah dua minggu berselang. Dan hampir semuanya berasal dari golongan hitam.


Malam hari itu, Xian Fa, Han Ji dan Hok Liu duduk di pondok kecil taman belakang gedung pangeran. Hubungan mereka semakin erat seiring bertambahnya waktu, dan kini untuk kesekian kalinya, mereka bertemu dan bercakap-cakap.


Xian Fa dan Han Ji saling lirik. Lalu terdengar Xian Fa menjawab. "Kupikir kita semua tahu apa tujuan pangeran mengumpulkan kita. Itu adalah untuk melawan putri Song Zhu."


Hok Liu kini diam, bersikap seolah tak mendengarkan.


Xian Fa melanjutkan. "Dan putri itu terkenal dengan patriot. Sekarang kita ini seperti menjajah negara sendiri tahu."


Hok Liu kini menatap mata Xian Fa, demikian pula dengan Xian Fa yang menentang pandang Hok Liu. Lalu dengan anehnya, baik Hok Liu dan Xian Fa atau Han Ji menganggap obrolan tadi itu hanya angin lalu saja. Han Ji mengalihkan.


"Mari kita minum," ia menuangkan teh dari teko ke cangkir masing-masing.


Hok Liu dan Xian Fa segera menyambut itu dan meminumnya. Benar-benar telah melupakan percakapan singkat tadi.


"Baiklah, aku pergi dulu," Hok Liu berkata dan bangkit lalu pergi dari sana.

__ADS_1


Beberapa saat setelah kepergian Hok Liu, Xian Fa dan Han Ji saling lirik beberapa saat, kemudian seperti dikomando, mereka melompat ke atas genteng pondok dan melompat ke gedung lainnya.


Sebelumnya mereka sudah sepakat, bahwa akan memata-matai Hok Liu untuk memastikan dia berdiri di pihak mana. Hampir setiap kali mereka bertemu, Hok Liu pasti pergi lebih dulu. Ini menimbulkan rasa penarasan di hati dua pemuda-pemudi itu.


Keduanya tadi melihat Hok Liu pergi ke kediaman pangeran Song Ci lewat pintu belakang. Maka dari itulah Xian Fa dan Han Ji segera mengikuti melalui jalur atas. Mereka baik ke genteng dan membuka salah satu genteng.


"Lantai satu sepertinya tidak ada," ucap Han Ji. "Lagi pula untuk apa masuk ke gedung ini kalau tidak mencari pangeran. Kalau memang dia mata-mata."


"Ah, benar juga ya." Xian Fa menutupkan genteng itu kembali. "Kalau begitu mari ke kamar pangeran."


Mereka lalu pergi ke laintai paling atas, lantai tiga. Membuka genteng dan segera menyelinap masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


Setibanya di dalam, mereka langsung menuju ke kamar pangeran yang sebenarnya belum mereka ketahui secara pasti karena selama ini tak ada waktu untuk menyelidik.


Akhirnya, setelah beberapa waktu berselang, mereka menemukan sebuah pintu besar dan mewah yang di kanan-kiri dijaga beberapa orang pengawal. Juga terdapat Naga Bertanduk dan Burung Walet Hitam yang memakai pakaian jenderal. Berdiri di depan pintu itu.


Keduanya sama-sama kaget, merasa yakin bahwa itulah kamar pangeran. Namun yang paling membuat mereka terkejut bukanlah para penjaga itu, melainkan sosok lain yang kepalanya terlihat menyembul dari dalam sebuah guci.


"Itu Hok Liu," bisik Han Ji ketika dapat memastikan siapa orang yang dilihatnya itu. "Itu memang dia."


Xian Fa juga melihat itu. Di balik sebuah tikungan, terdapat guci besar yang menjadi dekorasi. Dan di sana nampak sebuah kepala longak-longok dengan lucunya. Dalam keadaan biasa, tentu itu merupakan tontonan yang lucu sekali untuk dilihat.


Keadaan semakin tegang ketika Hok Liu tanpa sengaja bertemu pandang dengan Xian Fa dan Han Ji. Demikian pula dua orang muda itu yang bingung hendak bereaksi seperti apa.


Karena bingung harus bagaimana, Han Ji secara tidak sadar melambaikan tangan dan tersenyum canggung.


"Oh, hai ...," bisiknya. Tentu saja Hok Liu tak dengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2