Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 238 – Keadaan yang Memburuk


__ADS_3

Sudah tiga bulan Sung Han dan Sung Hwa terus berkeliling di wilayah utara untuk menemukan tanda-tanda keberadaan pasukan Jeiji. Namun yang mereka dapatkan hanyalah bekas-bekas perkemahan mereka. Sama sekali tidak menemukan penghuninya. Seolah pasukan Jeiji di utara ini sudah ditelan bumi.


Demikian pula dengan di perbatasan Pegunungan Tembok Surga, pasukan di sana sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keanehan bahwa kekaisaran lawan akan menyerang.


Kemudian pada suatu hari, ada satu berita menggemparkan yang mengatakan bahwa bagian selatan Kekaisaran Chang telah sepenuhnya berada dalam cengkeraman Jeiji. Bahkan seluruh kota sudah mengakui kedaulatan negeri penjajah itu dan menyatakan takluk.


Tentu saja kaisar yang mendengar ini merasa marah sekali. Terhadap Kekaisaran Jeiji dan marah kepada para pembesar di sana yang dengan mudahnya menyatakan menyerah. Selama ini dia belum mau menyerang ke selatan karena harus mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya adalah kekuatan tempur Jeiji yang belum diketahui. Dan tak ada yang memastikan apakah pasukan mereka mendapat bala bantuan dari negara asal.


Segera berkumpulah seluruh pembesar, pejabat, jenderal dan panglima untuk mendiskusikan masalah itu. Banyak pendapat yang diajukan dari masing-masing pihak, namun setelah tiga jam berselang belum juga mencapai jalan keluar.


Hal ini disebabkan karena mayoritas pembesar itu bersikap pengecut. Mereka tak mau melawan Kekaisaran Jeiji untuk merebut kembali tanah air dengan dalih "perdamaian". Inilah yang menyebabkan jenderal Tang naik pitam dan menggebrak meja sampai hancur ketika rapat itu dilaksanakan.


Bahkan kaisar pun marah besar. Kiranya seperti itulah watak para pembesar. Dia tak menjadi heran dan penasaran bila kota-kota di selatan sana menyatakan takluk terhadap para penjajah.


Sampai tiga hari kemudian mereka sama sekali belum menemukan titik terang ketika datang sang pelapor yang mengatakan bahwa blokade di bagian ujung timur Pegunungan Tembok Surga berhasil ditembus oleh sekelompok pendekar.


"Keparat, apalagi ini?" kaisar nampak amat marah.


Pelapor itu gemetar tubuhnya, terlihat takut-takut. Dia melanjutkan laporannya. "Maaf paduka, tapi itulah yang dikatakan para prajurit yang berjaga di Pegunungan Tembok Surga sebelah timur. Mereka melihat sepasukan orang-orang berpakaian hitam, berwajah bengis. Mereka bilang, tak mungkin itu adalah para prajurit biasa karena satu pukulan per orangnya mampu merobohkan sebatang pohon."


Saat itu, kaisar mengumpat panjang pendek sambil membanting-banting kakinya. Masalah satu belum selesai, di mana ancaman Kekaisaran Jeiji masih terus mengintai. Kini muncul lagi adanya sepasukan pendekar misterius.


Mereka semua sama sekali tidak memerhatikan bahwa tiga orang yang duduk berjejer itu mengerutkan kening dan saling lirik. Setiap dari mereka menggerak-gerakkan alis untuk memberi isyarat agar orang lain bicara duluan. Namun tak ada yang mau buka suara.


"Apa yang kalian sembunyikan?" suara kaisar terdengar dan itu berhasil mengejutkan mereka. Kaisar muda itu memandang penuh selidik. "Harap jangan menyembunyikan sesuatu!"

__ADS_1


Nie Chi dan Khuang Peng secara serentak menoleh kepada Gu Ren. Sebagai orang yang paling tua, dan juga menjadi pimpinan para pendekar relawan, ini merupakan tanggung jawab Gu Ren.


Lelaki paruh baya itu menghela napas. "Sebenarnya, ada satu hal yang benar-benar menggelisahkan hati kami bertiga, paduka."


"Tolong katakan."


Gu Ren mengambil napas. "Kita semua tahu bahwa Serigala Tengah Malam memiliki anggota yang banyak sekali. Salah satu tokoh mereka, yang saya cukup kenal karena pernah menjadi kawan dahulu kala, itu adalah sepasang jenderal bertopeng."


"Maksudmu dua orang aneh entah dari mana yang memiliki kepandaian luar biasa itu?" jenderal Tang Lin menyahut setelah mengingat-ingat.


"Benar, mereka itulah."


"Mereka adalah tokoh Serigala Tengah Malam?" tanya jenderal Tang sedikit tak percaya. "Yang benar saja?"


"Saya sendiri yang melihat, ketika memperebutkan sepasang kipas pusaka saya yang dicuri Naga Hitam. Bersama saudara Sung Han dan Sung Hwa, kami berhasil membunuh mereka bertiga ditambah Burung Walet Hitam."


Gu Ren menggerak-gerakkan dua tangan ke depan dada, mengisyaratkan kaisar untuk tenang. "Mohon dengarkan dulu, paduka," katanya halus. "Karena jenderal itu pemberontak dari Serigala Tengah Malam yang menyamar, maka saya berpikir bahwa mayoritas tentara milik pangeran adalah penyamaran dari anggota Serigala Tengah Malam. Saat penyerbuan tuan putri ke istananya waktu itu, saya kira kami telah menghabiskan orang-orang Serigala Tengah Malam. Karena waktu itu banyak sekali tentara pangeran yang jadi korban. Bahkan para tentara yang nekat setelah pihaknya jelas sudah kalah, kupikir mereka itulah anggota Serigala Tengah Malam."


"Jadi intinya, kau berpikir bahwa waktu itu yang kita lawan gabungan tentara pemberontak dan pasukan Serigala Tengah Malam?" tanya putri Song Zhu.


"Benar, paduka."


Kaisar memgerutkan kening, nampak jengkel dengan penjelasan panjang itu. Dia hanya ingin mendengar intinya, bukan kronologi dari awal sampai akhir.


"Jadi intinya?"

__ADS_1


Gu Ren kembali mengambil napas sebelum melanjutkan. "Tapi setelah mendengar penyerbuan di blokade timur Pegunungan Tembok Surga oleh para pendekar misterius, saya menjadi yakin bahwa yang kami serang di Kota Daun itu adalah tentara asli, dan mungkin hanya beberapa dari mereka yang merupakan anggota Serigala Tengah Malam. Sedangkan anggota Serigala Tengah Malam yang lainnya masih berdiam di markas dan kini menyerbu ke blokade timur."


"Apa?" putri Song Zhu terkejut sampai bangkit berdiri. "Kau yakin?"


"Yakin sekali, paduka. Karena markas mereka berada di timur. Tapi sebelum itu ...," ia melirik ke arah si pelapor yang masih berlutut sejak tadi. "Saudara, menurut pengetahuanmu, penyerangan para pendekar itu berasal dari Pegunungan Tembok Surga atau dari wilayah utara sini?"


Dengan cepat dia menjawab. "Serangan datang dari utara tuan. Bukan dari Pegunungan Tembok Surga."


"Nah!" tuan putri itu tersadar. "Berarti benar dugaannya! Aku pernah menyantroni markas mereka dan memang markasnya berada di timur. Jika serangan berasal dari dalam, berarti memang merekalah pelakunya!"


Dia kemudian menoleh kepada kaisar. "Paduka, izinkan aku memimpin pasukan melakukan pembersihan ke markas Serigala Tengah Malam!"


"Lakukan!" perintah kaisar tanpa ragu.


"Maaf," sela si pelapor tadi tiba-tiba. Sebelum ada yang membentaknya, buru-buru ia melanjutkan. "Para pendekar ini menerobos dan pergi ke selatan setelah penyerangan."


Kaisar sudah hendak marah lagi. Akan tetapi putri itu berpikiran lain, dia memiliki rencana yang lebih cerdik. "Tak masalah. Kita bisa menempati markasnya yang seperti benteng itu." Kembali ia menoleh menatap kaisar. "Paduka, mohon persetujuan."


Kaisar nampak lelah dan penat. Ia memijit-mijit kepalanya. "Jenderal Tang, kau temani putri."


"Siap!" jenderal itu bangkit dengan sigap.


"Dan kalian," ucap kaisar seraya menunjuk tiga orang pewaris itu. "Tolong cari di mana Sung Han dan Sung Hwa. Kita benar-benar membutuhkan mereka."


Ketiganya saling pandang dengan ragu, namun kembali Gu Ren mewakili. "Baiklah, paduka. Serahkan pada kami."

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG


__ADS_2