Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 93 – Kebetulan


__ADS_3

Mendengar bentakan Khuang Peng ini, perwira pemimpin rombongan yang sekaligus menjadi tangan kanan pangeran menjadi merah wajahnya. Golok yang sudah tercabut itu bergetar di tangan. Suaranya menggelegar ketika dia membentak.


"Bocah lancang! Kau menantang pemerintah!?"


"Tenang...." suara Chang Song Ci itu berhasil mengatasi gema suara si perwira. Ia menggerakkan tangan agar terlepas dari cekalan Wan Jin, lalu dia melompat mundur. Gerakannya ringan dan gesit sekali.


Wan Jin menghembuskan asap setelah menghisap cangklongnya. Dia kelihatan gusar. Begitu pula dengan Khuang Peng yang sudah siap sedia. Berbeda dengan si kusir tua yang makin gemetaran.


Sedang di sisi lain pangeran Chang Song Ci merasa kaget sekali. Jelas tadi tangannya telah terlindungi dengan tenaga dalam. Sejak awal dia memang tahu bahwa pria bercaping itu pasti akan menahannya, namun jauh di luar perkiraan jika cekalan tangan Wan Jin akan sekuat itu.


Tangan kanan Chang Song Ci gemetaran. Namun pangeran ini cepat-cepat mengerahkan tenaga untuk menetralkan aliran darah di tangannya itu. Ia berusaha sebisa mungkin agar tidak kelihatan kaget.


"Hm....memang hebat anggota kelas atas dari Rajawali Putih..." gumam pangeran ini. Dia menoleh mengamati Wan Jin dan diam-diam mengukur seberapa tinggi kepandaian orang ini. Jelas dari cekalan tangannya saja sudah menjelaskan bahwa kepandaian si cangklong ini bukan lemah.


"Apakah sekarang ini pemerintah sudah bosan dan menjadi tukang rusuh urusan orang lain?" tanya Wan Jin kereng. Bagaimana pun juga dia sama dengan orang-orang lain. Menganggap pangeran satu ini berpotensi besar sebagai pemberontak.


Ditanya dengan sindiran seperti itu, pangeran ini malah tertawa dan menjawab, "Kami hanya ingin bersahabat dengan Rajawali Putih. Kami melihat kalian sedang dalam kesulitan, jadi biarkan kami mengamankan barang itu?"


"Mengapa pula Yang mulia pangeran ingin sekali mengambil benda yang kami bawa ini? Apa pentingnya?"


"Itu tidak penting." kata pangeran itu, "Namun sangat penting untuk kalian. Kalian tentu saja tak ingin terlibat keributan dengan Serigala Tengah Malam kan? Mengingat akan keributan dengan Hati Iblis yang bentrok dengan kalian baru-baru ini." kata pangeran itu percaya diri.


Lalu berkata lagi, "Jika kalian serahkan benda rebutan itu pada kami, maka Serigala Tengah Malam akan menghiraukan kalian dan akan mengincar kami. Tapi mana bisa sekumpulan tikus itu mengancam kami?"


"Tidak masuk akal!! Alasan yang dibuat-buat!!" bentak Khuang Peng tiba-tiba. Lantas dia menoleh kepada Wan Jin dan si kusir, "Paman berdua, pastilah pangeran ini sudah tahu akan sesuatu, kita tak boleh menyerahkannya. Kita harus pergi!"


"Tanpa kau bilang pun aku sudah tahu! Ayo pergi, berlama-lama di sini mau apa lagi?" kata Wan Jin jengkel dan hendak pergi lagi. Akan tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba belasan orang itu sudah bergerak mengurung atas perintah si perwira. Kali ini pangeran itu tidak menahan.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini? Pemerintah hendak mencampuri urusan para pendekar!?" Khuang Peng memanas-manasi. Namun pangeran itu hanya tersenyum dan membiarkan belasan anak buahnya mengeroyok tiga orang itu.


Dibarengi bentakan nyaring mengguntur, Khuang Peng dan Wan Jin menghadapi hujan senjata itu dengan sedikit kerepotan. Bukan kerepotan melindungi diri sendiri, melainkan kerepotan untuk menjaga si kusir agar jangan sampai tertawan lawan.


Karena dua orang ini sadar yang menjadi incaran utama para tentara itu adalah si kusir, maka dua orang itu hanya mampu bertahan sambil terus mengerahkan kepandaian melindungi si kusir.


Yang menggelisahkan hati dua orang ini adalah pangeran, sejak tadi dia belum juga bergerak dari tempat dan hanya mengamati saja. Wan Jin sadar dia itu sedang mencari celah untuk mengambil si kusir, maka dia sedikit terdesak karena perhatiannya terbagi untuk mengawasi pangeran dan menahan serangan.


Betapa kaget Wan Jin pada satu kesempatan pangeran itu telah lenyap dari tempatnya. Begitu berbalik kiranya pangeran itu sudah berhasil meraih kerah baju si kusir itu dan hendak ditariknya. Wan Jin bergerak cepat menggerakkan tangan berupa pukulan telapak tangan kanan.


"Haiiitt!!" bentaknya.


Pangeran ini sadar akan serangan itu maka dia menarik tangannya. Serangan itu luput. Namun dia yang cerdik itu menggerakkan tangan kiri meninju ulu hati Wan Jin.


"Duk! Duk!!"


Lengan kiri Wan Jin berhasil menahan pukulan itu, ia terlempar sejauh dua langkah. Saat itu pangeran ini sudah berhasil mengambil si kusir dan dibawanya lari.


Pangeran Chang Song Ci yang terkejut itu hanya mampu mengelak sedikit. Namun pukulan itu berhasil mendarat di pundak kanannya.


"Akhhh!!" pekik si kusir saat tangan pangeran terlepas dan tubuhnya terlempar ke atas. Celakanya, "sesuatu" yang tadi berada di saku bajunya terlempar tinggi ke atas dan pangeran itu telah melompat mengambil.


"Pantas saja menjadi bahan rebutan." ucapan singkat dan tenang dari pangeran itu berhasil menghentikan pertempuran. Belasan prajuritnya memandang dengan kagum dan wajah girang. Sedangkan tiga orang Rajawali Putih itu memandang terbelalak dengan muka pucat.


Wajah tiga orang itu makin pucat ketika pangeran ini membuka lembar pertama. Dan mata pria berkumis tipis ini menunjukkan kepuasan ketika membaca beberapa kata di halaman pertama buku. Dia tidak terkejut, namun nampak senang.


Akan tetapi pada saat itu, belum juga pangeran ini bereaksi lebih jauh. Tiba-tiba ada suara tawa mengerikan yang datangnya dari jauh. Makin lama makin dekat dan terdengar makin jelas bahwa itu adalah tawa seorang kakek-kakek.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, nampak dua kelebatan bayangan yang macam setan saja. Tahu-tahu di sana sudah berdiri dua orang tua dan muda.


Yang pemuda itu bertubuh tinggi tegap dan tampan. Sebatabg tongkat berada di tangan kanan. Namun kakek itu yang lebih menarik perhatian. Pasalnya tubuhnya yang pendek dengan rambut riap-riapan itu benar-benar membuat orang takut. Wajahnya ngeri apalagi bibirnya selalu menyunggingkan seringaian aneh.


"Wah...wah...pemerintah sekarang sudah mulai berani. Apakah kalian ini hendak membikin ribut di dunia persilatan?" kata kakek itu sembari matanya bergerak-gerak liar. Melirik semua orang yang ada di sana.


Kebetulan yang sangat luar biasa, karena tepat setelah ucapan ini berhenti, dari arah belakang rombongan pangeran sana nampak debu mengepul tinggi. Diiringi suara seruan-seruan banyak manusia dan langkah kaki kuda. Kiranya empat puluhan orang itu adalah para tentara pangeran yang tadinya tak mampu mengejar rombongan belasan pengiring pangeran.


Tak hanya itu saja, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara lengking nyaring yang menggetarkan isi dada. Hanya orang-orang terlatih saja yang masih dapat berdiri tegak. Mereka adalah pangeran Chang Song Ci, Wan Jin dan si kakek cebol aneh.


Setelah hilang gema suara itu, berturut-turut dari arah hutan muncul lima orang tua yang gerakannya ringan dan tangkas. Dipimpin seorang kakek berambut putih panjang dengan jubah lebar warna putih bersih. Orang ini membawa tongkat dari besi.


"Guru..." seru Khuang Peng ketika melihat siapa si pembawa tongkat ini.


Mereka memang rombongan dari Rajawali Putih, dipimpin langsung oleh Sie Kang. Bersama empat orang tua tokoh kelas atas dari Rajawali Putih, ia menjemput Wan Jin dan Khuang Peng di tempat ini.


"Hm....ada apa ini? Pasukan pemerintah?" tegur Sie Kang dengan halus, namun dari getaran suaranya terdengar sedikit ancaman.


"Bwahahahaha.....sekarang di sini sudah berdiri Kakek Pendek Maha Sakti dan Rajawali Si Raja Langit!!" kakek cebol itu tertawa. Agaknya nama julukannya adalah Kakek Pendek Maha Sakti dan julukan Sie Kang adalah Rajawali Si Raja Langit.


Kemudian dia melanjutkan sambil menunjuk wajah pangeran itu yang nampak gusar, "Tak lekas menggelinding pergi, mau apa lagi? Ingin merasakan tinju kami? Hahahaha!!!"


Bagaimana pun juga, nama dua orang tokoh sakti itu cukup tersohor di kalangan rimba persilatan. Dan baru sekali inilah mereka tahu kalau yang namanya Rajawali Si Raja Langit adalah Sie Kang ketua Rajawali Putih, dan Kakek Pendek Maha Sakti adalah si cebol itu.


Pangeran pun, yang memiliki kekuasaan sangat besar di kekaisaran Chang, sangat segan terhadap tokoh-tokoh kosen dunia persilatan. Mereka ini termasuk dua orang itu yang sudah sering ia dengar namanya.


Sekarang menghadapi dua sekaligus, hanya puluhan tentaranya ini saja mana mampu menang? Ini jalan buntu!!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2